Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gabriel Yang Bijak
Ayara meringis pelan, menatap Guzelar yang kini menunduk lesu dengan bahu merosot. Pemandangan itu sukses mencubit nuraninya, membuatnya dihantam rasa bersalah yang teramat sangat tanpa alasan yang jelas. Rasanya aneh melihat pria setinggi dan setegas itu tampak begitu menyedihkan hanya karena ditepis tangannya.
"Maaf... aku tidak bermaksud menepis tanganmu terlalu keras tadi," ucap Ayara terbata-bata, rasa gugup merayapi tenggorokannya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Lagi pula... aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu digandeng segala," imbuhnya, lalu melangkah mendahului sang suami menuju lantai bawah.
Guzelar hanya bisa menurut dalam diam. Pria jangkung itu melangkah pelan di belakang punggung istrinya, menatap punggung Ayara dengan sorot mata penuh kesedihan dan kebingungan yang belum juga mereda.
Setibanya mereka di ruang makan yang mewah, suasana langsung dipecahkan oleh suara ceria seorang anak kecil. Terlihat Gabriel sudah duduk manis di kursi meja makan dengan piring dan sendok di depannya.
"Mama!" panggil bocah itu heboh sambil melambaikan tangan kecilnya.
"Kenapa lama sekali turunnya? Iel sudah lapar banget, Mama," protes Gabriel dengan pipi menggembung lucu, membuat Ayara mendadak merasa tidak enak pada anak kandungnya sendiri.
"Maaf ya, sayangku yang tampan. Tadi ada sedikit urusan di kamar," balas Ayara dengan nada melembut, lalu bergegas menghampiri meja makan.
Tanpa sadar, Ayara memilih duduk di kursi sebelah Gabriel, tepat di samping anak itu. Tindakan spontan tersebut langsung membuat Guzelar mematung di tempatnya. Sang CEO menatap kosong kursi di samping Ayara yang biasanya selalu menjadi tempat duduk setianya setiap jam makan malam. Rasa cemburu yang tiba-tiba mencuat membuat ekspresi Guzelar semakin terlihat seperti anak anjing yang terlantar.
Gabriel yang baru saja menyadari posisi duduk sang mama langsung mengerutkan keningnya heran. Manik bulatnya menatap bergantian antara Ayara dan Guzelar yang berdiri kaku di dekat meja.
"Kenapa mama duduk di sini?" tanya Gabriel polos.
"Biasanya kan mama duduk di samping papa. Kok pindah?"
Uhuk!
Ayara yang baru saja meneguk air putih langsung tersedak batuk-batuk, wajahnya memerah padam menahan salah tingkah.
"Itu... umm... Mama lagi pengen saja duduk di samping Gabriel malam ini," balas Ayara mencari alasan, tersenyum kaku sembari mengusap dadanya.
Gabriel memiringkan kepalanya, menatap curiga pada gelagat aneh sang ibu. "Mama dan papa lagi bertengkar ya?" tanyanya lugu.
Sebelum Ayara sempat membantah, bocah lima tahun itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan gaya sok tahu yang menggemaskan.
"Kan kata mama sendiri, jadi orang nggak boleh bertengkar, nanti dibenci Tuhan. Papa, ayo minta maaf sama mama, terus cium mama biar baikan!" titah Gabriel menatap Guzelar dengan tatapan menuntut, menjadikannya hakim cilik yang adil.
Mendengar perintah polos dari sang anak, mata Ayara hampir copot dari soketnya. "T... TIDAK PERLU!" potong Ayara setengah berteriak, panik luar biasa hingga suaranya melengking.
"Mama tidak marah kok sama papa... iya kan, Pa?"
Demi menyelamatkan harga diri dan kewarasannya, Ayara terpaksa menyebut kata 'Pa' dengan bibir bergetar hebat. Rasanya seperti menelan duri durian mentah-mentah.
Mendengar panggilan itu, alih-alih merasa senang, Guzelar justru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Pria itu memasang wajah paling melas yang ia miliki, lalu melirik Gabriel dengan ekor matanya.
"Mama bohong, Iel. Mama masih marah sama Papa," adu Guzelar dengan nada merajuk, sengaja mencari kubu dan meminta pertolongan dari putranya sendiri.
"Tadi saja tangan Papa ditepis kuat banget sampai sekarang rasanya masih sakit," adunya lagi, merengek manja.
Ayara terbelalak tidak percaya, matanya melotot tajam ke arah suaminya. "Ya ampun! Sumpah, ini benar-benar gila! CEO berdarah dingin dan angkuh semasa kuliah sekarang berubah jadi pengadu cengeng di depan anaknya sendiri?!" batin Ayara histeris, ingin sekali mencabik-cabik mulut manis suaminya itu.
Benar saja, sebagai anak yang sangat patuh pada ajaran orang tuanya, Gabriel langsung menoleh ke arah Ayara dengan tatapan menceramahi.
"Mama, tidak boleh begitu," ucap Gabriel dengan nada tegas tapi tetap terdengar imut.
"Kan papa sudah kerja banting tulang seharian di luar, jadi mama nggak boleh marah-marah, apalagi bersikap kasar pada papa. Mama sendiri yang sering bilang ke Iel kalau jadi manusia itu harus baik sama semua orang."
Skakmat mutlak.
Ayara terpaku kaku di kursinya, mulutnya terbuka tapi tidak ada satupun suara yang keluar untuk membela diri. Ia kena mental seketika.
"Apa-apaan ini?!" batin Ayara meronta-ronta dalam kebisuan.
"Guzelar tega-teganya mencari sekutu dan bersekongkol dengan anak berumur lima tahun untuk menyudutkan ku? Dan Gabriel... sejak kapan anak ini berubah jadi motivator kehidupan yang menceramahi mamanya sendiri?! Tuhan! Dunia macam apa yang sudah aku masuki ini?!"
Melihat Ayara terdiam salah tingkah dengan wajah memerah masam, Guzelar mengerlingkan sebelah matanya ke arah sang istri, sebuah gerakan kecil penuh kemenangan yang berhasil disembunyikan di balik wajah sedihnya.
"Tuh dengar kata Iel, sayang," bisik Guzelar pelan sambil menarik kursi di sebelah Ayara lalu duduk di sana, akhirnya menyerobot mendekat.
"Anak kita saja tahu kalau Papa ini harus disayang."
Ayara menoleh cepat, menatap suaminya dengan sorot mata yang menyiratkan ancaman pembunuhan tingkat tinggi. Namun, Guzelar justru membalasnya dengan senyuman tulus yang menampilkan lesung pipi samar, membuat ketampanannya berkali-kali lipat terasa menyebalkan di mata Ayara.
"Makan yang banyak, ya, Sayang. Jangan diliatin terus mukaku, aku tahu aku ganteng, tapi kamu bisa terpesona nanti," bisik Guzelar lagi dengan nada rendah yang menggoda, sengaja memancing emosi istrinya.
"Ih! Siapa juga yang terpesona! Pede banget!" balas Ayara sewot, melupakan sejenak rasa bersalahnya tadi dan kembali memasang mode pertahanan diri setinggi langit.
Gabriel yang melihat kedua orang tuanya kembali berinteraksi meskipun bernada ngegas langsung tersenyum lebar memperlihatkan gigi kecilnya yang rapi. Bocah itu dengan riang menyendok makanannya sendiri, merasa misinya mendamaikan mama dan papanya telah sukses besar.
Sementara itu, Ayara hanya bisa menggerutu dalam hati sepanjang makan malam berlangsung, menyumpahi takdir masa depan yang berhasil menjebaknya dalam lingkaran keluarga absurd bersama si mantan musuh bebuyutan yang kini berubah wujud menjadi bucin tingkat dewa.
Bersambung...
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama