NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Kasak-Kusuk di Selasar dan Lembar Pertama

Pagi turun di SMA Bangsa membawa serta hawa dingin sisa embun dan sebuah kasak-kusuk yang merayap cepat dari mulut ke mulut. Dinding-dinding sekolah seolah memiliki telinga dan lisan yang tak henti membicarakan kejadian kemarin petang. Kabar bahwa Sang Panglima, Jenawa Adraw, memilih diam dan berlalu saat diprovokasi oleh komplotan Agam di jalan utama, telah menjadi buah bibir yang hangat di setiap sudut selasar.

Bagi sebagian besar siswa yang mendamba kedamaian, sikap Jenawa dianggap sebagai sebuah kelegaan. Namun, bagi barisan anak-anak keras kepala di bawah naungannya, hal itu adalah sebuah teka-teki yang meresahkan.

Seno berjalan di sisi Jenawa menyusuri koridor menuju kelas mereka. Wajah pemuda itu masih ditekuk masam, tak ayal seperti awan mendung yang menolak bergeser.

"Kau dengar apa yang dibicarakan anak-anak kelas sebelah, Wa?" gerutu Seno dengan suara tertahan. "Mereka bilang nyalimu telah mengkerut. Anak-anak Pelita semakin jemawa menyebarkan bualan bahwa kau tak berani mengangkat wajah saat motor mereka melintas."

Jenawa tetap berjalan dengan ritme yang konstan, raut wajahnya setenang telaga tanpa riak. "Biarkan saja angin yang membawa bualan itu, Seno. Menggonggong adalah kodrat bagi mereka yang tak memiliki nyali untuk menggigit dari jarak dekat."

"Namun ini menyangkut kehormatanmu di mata sekolah ini, Jenawa!"

Jenawa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas. Ia memutar tubuhnya, menatap kawan karibnya itu dengan sorot mata yang tajam, mengingatkan Seno mengapa pemuda di hadapannya ini adalah pemimpin mereka.

"Kehormatanku tidak dibangun di atas dasar pujian mereka, dan tidak akan runtuh hanya karena cemoohan mereka," tegas Jenawa, suaranya rendah namun sarat akan wibawa mutlak. "Simpan tenagamu, Seno. Kita akan membutuhkannya untuk hal yang jauh lebih besar daripada sekadar membungkam kasak-kusuk."

Seno menelan ludah, mengangguk patuh meski hatinya masih diliputi ketidakpuasan. Jenawa kemudian menepuk bahu kawannya itu pelan, lalu melangkah masuk ke dalam kelas.

Waktu bergulir hingga lonceng istirahat pertama berdentang. Alih-alih menuju kantin bersama rombongan Seno, Jenawa melangkah turun menuju lantai satu dengan sebuah buku tebal di tangannya. Itu adalah buku roman sejarah yang dipinjamkan Sinaca kepadanya di perpustakaan kemarin siang.

Instingnya menuntunnya menuju taman samping sekolah, tempat di mana rimbunnya pohon bougenvil memberikan keteduhan yang tak terjangkau oleh bisingnya kerumunan. Dan benar saja, ia menemukan Sinaca Tina di sana, duduk sendirian di atas bangku batu, tengah menulis sesuatu di buku catatannya dengan raut wajah yang amat serius.

Jenawa melangkah mendekat, sengaja mengeraskan sedikit derap langkah sepatunya agar tak mengejutkan gadis itu. Sinaca mengangkat wajahnya, dan sebuah binar halus yang nyaris tak kasat mata melintas di kedua mata kecokelatannya.

"Selamat pagi menjelang siang, Sinaca," sapa Jenawa, berdiri di hadapan gadis itu seraya menyodorkan buku bersampul tebal tersebut. "Aku datang untuk mengembalikan ini. Aksara-aksara di dalamnya memang menarik, namun aku rasa, aku telah menemukan bagian paling berharganya."

Sinaca menerima buku itu dengan kening yang sedikit berkerut. "Kau membacanya dengan sangat cepat. Apakah kau benar-benar menyelami maknanya, atau sekadar membalik halamannya untuk menggugurkan kewajiban?"

"Aku membacanya," kekeh Jenawa, mengambil tempat duduk di ujung bangku batu, menyisakan jarak yang sopan namun cukup dekat untuk menghirup wangi melati yang selalu mengiringi gadis itu. "Namun, fokusku agak terpecah pagi ini."

Sinaca menutup buku catatannya. Ia menatap Jenawa lekat-lekat, raut wajahnya perlahan berubah menjadi lebih pias. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sejenak, kebiasaan kecil yang kini selalu berhasil membuat dada Jenawa berdesir.

"Aku mendengar kasak-kusuk itu di sepanjang koridor, Jenawa," ucap Sinaca, suaranya tak setegas biasanya, melainkan diwarnai oleh nada bersalah. "Tentang bualan anak-anak Pelita, dan tentang kawan-kawanmu yang mulai mempertanyakan nyalimu. Ini... ini semua karena kau menahan diri untuk merespons provokasi mereka kemarin demi diriku, bukan?"

Jenawa tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Sinaca akan memikirkan hal itu hingga sejauh ini. Sebuah kelembutan yang hangat seketika menyelimuti hati pemuda itu.

"Sinaca," panggil Jenawa lembut, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan agar pandangan mereka sejajar. "Telingamu terlalu berharga untuk mendengarkan bualan jalanan semacam itu."

"Namun namamu yang dipertaruhkan di sana," balas Sinaca cepat. "Tidakkah kau merasa dirugikan? Kau mengorbankan kehormatanmu di depan kawan dan lawanmu hanya untuk memenuhi permintaanku yang... mungkin terlalu menuntut."

"Sama sekali tidak," potong Jenawa dengan nada yang amat meyakinkan. "Dengarkan aku baik-baik. Bagiku, kehormatan sejati bagi seorang laki-laki adalah ketika ia mampu menepati janji pada seseorang yang ia hargai. Dan kau, Sinaca... kau pantas untuk dihargai sedemikian rupa."

Keheningan seketika turun menyelimuti bangku batu tersebut. Angin siang berembus pelan, menjatuhkan beberapa kelopak merah bougenvil di sekitar mereka. Mata Sinaca terpaku pada netra kelam Jenawa, mencari setitik kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah hamparan ketulusan yang begitu luas dan tak bertepi.

Pertahanan Sinaca yang selama ini ia bangun setinggi tebing perlahan luruh. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas dengan kalimat-kalimat logis atau argumentasi baku. Ia hanya menunduk, menatap buku roman sejarah di pangkuannya. Saat jemarinya tanpa sengaja menyibak halaman pertama buku tersebut, sebuah lipatan kertas kecil berwarna putih jatuh ke atas pangkuannya.

Sinaca mengernyit. Ia mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Di sana, tertulis sebuah pesan dengan tinta hitam dan tulisan tangan yang tegak bersambung, khas goresan tangan seorang pemuda yang tak terbiasa menulis surat.

"Daripada repot-repot memikirkan kasak-kusuk tentang diriku, maukah kau menemaniku menyusuri jalan utama sore ini? Aku berjanji, tak akan ada debu perkelahian. Hanya kau, aku, dan es krim di ujung jalan raya. — Jenawa."

Sinaca membaca pesan itu dalam hati, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Pipinya kini merona merah sempurna, mengalahkan warna kelopak bougenvil yang berguguran di dekat mereka. Ia menatap Jenawa, yang kini tengah menatapnya dengan senyum miring yang teramat menawan dan penuh harap.

"Sebuah ajakan yang diselundupkan di dalam buku sejarah," gumam Sinaca, berusaha keras menjaga nada suaranya agar tidak bergetar. "Apakah ini siasat barumu, Jenawa?"

"Aku menyebutnya sebagai sebuah undangan perdamaian," jawab Jenawa santai, meski jantungnya sendiri berdegup tak karuan menanti jawaban gadis itu. "Jadi, bagaimana, Sinaca? Apakah kau bersedia?"

Sinaca melipat kembali kertas kecil itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya ke dalam saku seragamnya, seolah benda itu adalah sebuah jimat yang berharga. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Jenawa dengan seulas senyum tipis yang memabukkan.

"Baiklah. Pastikan saja es krim di ujung jalan raya itu sepadan dengan waktuku, Jenawa."

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!