Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Nyawa
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela ruang kerja Asher dengan suara berisik yang monoton. Di dalam ruangan, keheningan yang mencekam kembali berkuasa setelah Kenzo pergi. Asher masih setia di posisinya, bersandar pada kursi kulit besarnya sembari sesekali menyesap cerutu yang kini tinggal separuh. Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke arah pintu ganda ruangan, menunggu mangsa berikutnya yang dibawa oleh sang tangan kanan.
Bagi Asher, waktu malam ini berjalan terlalu lambat, dan dia benci membuang waktu untuk urusan remeh-temeh seperti menagih utang seorang anak buah level bawah. Namun, bisnis tetaplah bisnis. Di dalam organisasinya, membiarkan satu orang lolos dari tanggung jawab finansial sama saja dengan membuka celah bagi pembangkangan yang lebih besar di masa depan. Rasa takut harus tetap ditanamkan, bahkan ke akar rumput sekalipun.
Tepat tiga puluh menit kemudian, pintu ganda kayu ek itu terbuka.
Kenzo melangkah masuk terlebih dahulu dengan ekspresi datar yang biasa. Di belakangnya, dua orang pengawal bertubuh kekar menyeret paksa seorang pria paruh baya yang tampak sangat mengenaskan. Pria itu bertubuh agak kurus, mengenakan kemeja lusuh yang basah kuyup oleh air hujan, dan rambut berubannya tampak berantakan. Wajahnya pucat pasi, matanya merah karena tangis dan ketakutan yang teramat sangat. Kedua lututnya lemas, menyapu lantai marmer karena dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Bugh!
Kedua pengawal itu mencampakkan sang bapak ke atas lantai marmer tepat di depan meja kerja Asher. Pria tua itu tersungkur, napasnya memburu, dan tubuhnya gemetar hebat layaknya selembar daun yang ditiup angin badai. Saat dia mendongak dan tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata kelabu milik Asher yang sedingin es, pria tua itu langsung bersujud, menempelkan dahinya ke lantai yang dingin.
"Bos Asher... ampuni saya, Bos... saya mohon ampun..." suara pria tua itu serak, bergetar menahan tangis yang pecah seketika.
Asher tidak menjawab. Dia bahkan tidak mengubah posisi duduknya. Perlahan, dia mengembuskan asap cerutunya ke udara, membiarkan kabut abu-abu tipis itu melayang di antara mereka, menambah kesan misterius dan mengintimidasi yang begitu pekat. Asher menatap pria di bawahnya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah angka kerugian dalam buku kas organisasinya.
Kenzo melangkah maju satu tapak, memegang sebuah map dokumen kecil. "Namanya haris, Bos. Dia bekerja sebagai kolektor setoran kecil di wilayah barat. Total utang pokok beserta bunga yang dia bawa lari dari kas wilayah mencapai ratusan ribu dolar. Uang itu habis digunakan untuk berjudi di kasino ilegal pelabuhan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir," lapor Kenzo dengan suara baritonnya yang tegas tanpa emosi.
Mendengar rincian kesalahannya dibacakan oleh Kenzo, Haris semakin histeris. Dia memajukan tubuhnya yang berlutut, mencoba meraih ujung sepatu kulit mengilat milik Asher, namun dengan sigap Kenzo menghentikannya. Kenzo menginjak pergelangan tangan Haris dengan tekanan yang cukup kuat, membuat pria tua itu meringis kesakitan tanpa bisa menyentuh sang bos besar.
"Jangan berani menyentuh sepatu Bos jika kau masih sayang dengan jemarimu, Haris," bisik Kenzo dingin, namun penuh ancaman nyata. Kenzo lalu mengangkat kakinya, membiarkan Haris menarik kembali tangannya yang gemetar.
"Saya khilaf, Bos Asher! Saya dijebak di tempat judi itu! Mereka mencurangi saya!" ratap Haris, air matanya kini mengalir deras membasahi lantai marmer. "Saya berjanji akan mengembalikannya. Beri saya waktu satu bulan... tidak, dua minggu! Saya mohon, dua minggu lagi saya akan melunasi semuanya!"
Asher masih bergeming. Dia meletakkan cerutunya di atas asbak kristal, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan setiap jengkal keputusasaan yang dipamerkan oleh Haris. Sifat dingin Asher yang tak tergoyahkan membuat suasana di dalam ruangan itu terasa semakin mencekam. Bagi Asher, ratapan seperti ini adalah lagu lama yang membosankan. Semua orang yang akan mati di tangannya selalu mengucapkan kalimat yang sama: janji, waktu, dan penyesalan. Tapi di dunia bawah tanah, penyesalan tidak bisa digunakan untuk membayar senjata, upeti, atau gaji para pengawal.
"Dua minggu?" Kenzo menyahut, mewakili kebungkamannya Asher. Seringai tipis yang dingin muncul di wajah tangan kanan itu. "Haris, jangankan dua minggu, dalam dua tahun pun dengan upahmu yang sekarang, kau tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Kau pikir kami menjalankan lembaga sosial?"
"Tolong, Kenzo... tolong bicara pada Bos Asher..." Haris beralih memohon pada Kenzo, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Aku sudah setia pada organisasi ini selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah berkhianat pada musuh!"
"Kau tidak berkhianat pada musuh, tapi kau mencuri dari dompet organisasi. Bagi Bos Asher, tingkat kesalahannya sama saja," balas Kenzo datar. Dia kemudian melirik ke arah Asher, menunggu instruksi final dari sang bos.
Asher perlahan menurunkan tangannya dari dagu. Dia memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, menumpukan kedua lengannya di atas meja kerja kayu mahogani tersebut. Gerakan sederhana itu langsung membuat Haris menahan napas, tahu bahwa vonis mati atas dirinya mungkin akan segera dijatuhkan.
"Haris," Asher akhirnya memecah keheningannya. Suaranya yang rendah dan berat bergaung di ruangan itu, membawa aura dingin yang langsung menusuk tulang. "Aku tidak peduli kau berjudi, kau ditipu, atau kau menggunakan uang itu untuk memberi makan keluargamu. Yang aku peduli hanyalah satu hal: uangku harus kembali utuh malam ini."
"Bos... u-uang itu sudah habis..." bisik Haris dengan bibir yang gemetar membiru.
"Jika uangnya habis, maka kau harus membayarnya dengan hal lain yang senilai," lanjut Asher, tatapannya menajam layaknya pisau yang siap menyayat. "Kenzo sudah menghitung nilai organ tubuhmu di pasar gelap. Jantung, ginjal, kornea mata, dan beberapa bagian lainnya. Sayangnya, karena usiamu yang sudah tua dan gaya hidupmu yang buruk, total harganya bahkan tidak mencapai setengah dari utangmu."
Mendengar kata 'organ tubuh' dan 'pasar gelap', Haris merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajahnya yang semula pucat kini benar-benar kehilangan warna, tampak seperti mayat hidup. Dia tahu Asher tidak sedang menggertak. Di bawah kendali Asher, Sterling Group menguasai segala lini bisnis haram di kota ini, termasuk jalur perdagangan organ bagi para miliarder yang membutuhkan donor instan.
"T-Tidak... jangan, Bos Asher! Saya mohon jangan bunuh saya!" Haris merangkak mundur sedikit, namun kedua pengawal di belakangnya langsung mencengkeram kedua bahunya, menahannya agar tetap berlutut menghadap Asher. Pria tua itu menangis sejadi-jadinya, dadanya sesak oleh rasa takut yang luar biasa akan kematian yang sudah berada tepat di depan matanya.
Asher menatap pemandangan menyedihkan itu dengan pandangan muak. Dia melirik arloji mewah di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk drama murahan ini.
"Kenzo, bawa dia ke ruang bawah tanah. Selesaikan malam ini juga," perintah Asher dengan nada suara yang begitu santai, seolah dia baru saja memerintahkan bawahannya untuk membuang sebungkus sampah.
"Baik, Bos," jawab Kenzo patuh. Dia langsung memberi isyarat mata kepada kedua pengawal untuk menyeret Haris keluar dari ruangan.
"Tidak! Lepaskan! Bos Asher, tunggu! Tunggu sebentar!" Haris berteriak histeris saat kedua pengawal mulai menarik tubuhnya dengan kasar. Dia meronta-ronta dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, menendang-nendangkan kakinya di atas lantai. Teror kematian yang nyata membuat otaknya bekerja dua kali lebih cepat untuk mencari cara apa saja—apa saja yang bisa menyelamatkan nyawanya malam ini.
"Saya punya sesuatu yang lain! Sesuatu yang jauh lebih berharga dari organ tubuh saya!" teriak Haris dengan suara melengking di tengah keputusasaannya, tepat sebelum tubuhnya melewati ambang pintu.
Mendengar kalimat itu, Asher mengangkat sebelah tangannya sedikit. Gerakan kecil itu langsung membuat kedua pengawal menghentikan tarikan mereka. Ruangan kembali senyap, hanya menyisakan suara deru napas Haris yang tersengal-sengal dan detak jarum jam dinding yang besar.
Asher menyipitkan matanya, menatap Haris dengan pandangan penuh selidik dan sedikit rasa sinis. "Sesuatu yang berharga? Apa yang dimiliki oleh seorang tikus jalanan seperti dirimu yang bisa menarik perhatianku, Haris?" tanya Asher dengan nada meremehkan.
Haris menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya adalah sebuah dosa besar sebagai seorang ayah, sebuah tindakan terkutuk yang akan mengubah hidup putrinya selamanya. Namun, egoisme dan rasa takut mati yang teramat sangat telah membutakan mata hatinya. Baginya, keselamatan nyawanya sendiri adalah yang utama saat ini.
Dengan tubuh yang masih gemetar di bawah cengkeraman para pengawal, Haris mendongak, menatap langsung ke arah sepasang mata kelabu Asher.
"Anak gadis saya, Bos..." ucap Haris dengan suara bergetar, setengah berbisik namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Saya memiliki seorang anak gadis. Dia... dia masih sangat muda, sangat cantik, dan murni. Dia belum pernah disentuh oleh pria mana pun di dunia ini."
Kenzo yang berdiri di samping meja Asher sedikit menaikkan alisnya, merasa terkejut dengan kelancangan dan keegoisan pria tua di depan mereka. Namun, Kenzo tetap diam, menunggu bagaimana reaksi dari bosnya.
Haris menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan Asher dengan sisa-sisa keberaniannya. "Ambil dia, Bos Asher. Jadikan dia milik Anda. Nikahi dia, jadikan dia pelayan Anda, atau lakukan apa saja yang Anda inginkan padanya. Saya memberikan hak penuh atas hidupnya kepada Anda, asalkan... asalkan Anda menghapus semua utang saya dan membiarkan saya tetap hidup malam ini. Saya mohon... ambillah putri saya sebagai tebusannya."
Suasana di dalam ruangan langsung membeku. Tawaran liar yang keluar dari mulut seorang bapak yang tega menjual darah dagingnya sendiri demi seonggok nyawa yang tak berguna, menggantung di udara malam yang dingin. Asher terdiam, tatapannya lurus mengunci wajah Haris yang penuh harap dan ketakutan, menimbang-nimbang nilai dari sebuah penawaran yang tak terduga ini.