NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 kembali ketumu

Hujan di luar sana mulai mereda, menyisakan gerimis halus dan jalanan yang licin berkilau. Arjuna Adhitama masih berdiri kaku di pinggir jalan, menatap ke arah kegelapan tempat sosok Kirana menghilang tadi. Suara deru motor tuanya sudah lama lenyap, tapi kalimat terakhir gadis itu masih bergaung jelas di telinganya, seolah dia sedang berbisik tepat di samping telinga.

"Montir jalanan yang nggak mau di bayar sama uang, Tuan Dingin!"

Arjuna mengeratkan rahangnya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Belum pernah ada satu manusia pun, entah laki-laki, perempuan, tua, atau muda yang berani bicara padanya dengan nada meremehkan seperti itu. Semua orang selalu tunduk, bahkan mereka rela mencium telapak kakinya, demi uang dan kekuasaan.

Tapi gadis itu?

Dia memandang rendah mobil miliarannya, mengacuhkannya. Dan yang paling gila ... dia menolak dibayar pakai uang.

Arjuna tertawa sinis, suara tawanya berat dan dingin memecah kesunyian malam. Ia berbalik badan, masuk ke dalam mobilnya yang kini sudah kembali prima.

"Menarik," gumamnya pelan, matanya yang tajam berkilat penuh ambisi. "Kau pikir kau bisa lari begitu saja, Kirana? Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa aku miliki. Termasuk kau."

Bagi Arjuna, ini bukan soal cinta atau rasa suka. Ini soal gengsi. Ini soal harga diri yang baru saja diinjak-injak oleh seorang gadis montir yang penuh oli. Dan Arjuna Adhitama tidak pernah membiarkan siapa pun lolos begitu saja setelah membuatnya merasa kalah.

Ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin yang menderu halus dan bertenaga. Tapi anehnya, saat ia hendak menginjak gas, matanya tak sengaja jatuh ke cermin spion. Bayangan wajahnya sendiri terlihat jelas di sana. Wajah tampan yang selalu kaku dan dingin itu ... terlihat berbeda. Ada jejak kebingungan, ada jejak rasa penasaran yang belum pernah ada sebelumnya.

Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghilangkan bayangan senyum nakal Kirana yang terus saja melintas di kepalanya.

"Gila. Aku pasti sudah gila," umpatnya kesal pada dirinya sendiri.

Malam itu, perjalanan pulang Arjuna terasa paling panjang dalam hidupnya. Jalanan sepi, tapi pikirannya penuh sesak. Sepanjang jalan, dia tidak memikirkan rapat besar besok pagi, ataupun saingan bisnisnya, tidak memikirkan proyek pembangunan village yang sedang dia tangani.

Dia hanya memikirkan satu hal. Siapa sebenarnya gadis yang baru saja mengusik ketenangannya itu?

_______________________________________

Keesokan harinya, matahari bersinar terik menyinari gedung pencakar langit milik Grup Adhitama. Di ruangan kantor teratas yang luas, mewah, dan berbau mahal, suasana terasa jauh lebih menegangkan dari biasanya.

Para karyawan dan pejabat tinggi perusahaan menundukkan kepala, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Semua tahu, Tuan Muda mereka, Arjuna Adhitama, sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Bahkan lebih buruk daripada saat dia memecat tiga orang manajer sekaligus bulan lalu karena kesalahan kecil.

Di balik meja besar dari kayu mahoni yang mengkilap itu, Arjuna duduk diam. Wajahnya kaku, matanya menatap tajam ke luar jendela kaca raksasa yang menghadap ke seluruh kota. Di tangannya, dia memutar-mutar pulpen emas dengan gerakan cepat dan tidak sabar.

Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya berpakaian rapi, berkacamata, dengan berkas-berkas dokumen tebal di tangannya. Itu Pak Hendra, sekretaris pribadi Arjuna yang sudah bekerja puluhan tahun dan satu-satunya orang yang berani bertahan saat Arjuna sedang dalam mode singa.

"Maaf, Tuan muda Arjuna ... apakah ada yang salah dengan laporan keuangannya? Angkanya sudah kita periksa sampai tiga kali, semuanya aman dan menguntungkan," ucap Pak Hendra dengan suara hati-hati, sedikit gemetar.

Arjuna tidak menjawab. Dia masih menatap kosong ke luar sana. Di kepalanya malah terbayang wajah Kirana saat sedang berlutut di di aspal basah kemarin malam, rambutnya basah, dan bibirnya berbicara pada mesin mobil seolah itu benda hidup.

"Dasar mesin manja, kekurangan kasih sayang ..."

Arjuna hampir saja mendengus keras. Apa-apaan omongan gadis itu?!

"Tuan muda Arjuna?" panggil Pak Hendra lagi pelan.

Arjuna tersentak, kembali sadar ke dunia nyata. Dia menoleh tajam ke arah sekretarisnya itu. Tatapannya mengintimidasi, membuat Pak Hendra menelan ludah dengan susah payah.

"Laporan?" tanya Arjuna dingin, suaranya berat dan datar. "Bapak saja yang urus!"

Pak Hendra tertegun, matanya terbelalak kaget. "Ta-tapi Tuan ... ini laporan kuartal tahunan ..."

"Aku bilang urus saja!" potong Arjuna ketus, lalu berdiri tegak. Jas hitamnya yang sempurna menambah wibawa menakutkan yang memancar dari tubuhnya. Dia berjalan mengelilingi meja, mendekati Pak Hendra. "Ada hal lain yang jauh lebih penting harus kamu cari tahu."

Mata Arjuna menyipit, seolah sedang melihat sesuatu yang jauh. Di sudut bibirnya, terbit senyum tipis yang ... aneh. Senyum yang bikin bulu kuduk Pak Hendra berdiri.

"Dengar baik-baik," perintah Arjuna pelan namun tegas. "Cari informasi tentang seorang gadis. Umurnya sekitar dua puluh dua tahun. Bekerja sebagai montir. Biasanya berkeliaran di jalanan pinggir kota sebelah barat. Wajahnya ... cantik, kulit putih bersih. Rambutnya panjang di bawah bahu dan sedikit bergelombang. Namanya ... Kirana."

Pak Hendra mengerutkan kening bingung, mencoba mencatat semua keterangan itu di kepalanya. Montir? cantik? Sejak kapan Tuan Muda Adhitama tertarik pada orang-orang macam itu?

"Maaf Tuan ... cuma itu saja keterangannya? Tuan muda tahu nama bengkelnya? Atau nama belakangnya?" tanya Pak Hendra hati-hati.

Arjuna terdiam. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa soal Kirana. Tidak tahu nama belakangnya, tidak tahu di mana tinggalnya, tidak tahu bengkel apa tempatnya bekerja. Dia hanya tahu nama depan dan kelakuan nyeleneh gadis itu.

Wajah Arjuna memerah karena kesal, kali ini kesal pada dirinya sendiri. Dia mengusap tengkuknya dengan kasar.

"Tidak! Cari saja! Kau sekretarisku yang paling hebat, bukan? Kau bisa cari data latar belakang orang terkaya di negara ini dalam hitungan jam, masa mencari satu gadis montir saja tidak bisa?!" bentak Arjuna, emosinya meledak begitu saja.

"Dia memperbaiki mobilku yang mogok kemarin malam. Dan dia menolak di bayar sama uang," tambah Arjuna pelan, hampir bergumam, tapi nadanya penuh rasa tidak percaya.

Mata Pak Hendra semakin terbelalak. Menolak bayaran dari Tuan Muda Arjuna Adhitama? Itu mustahil! Itu hal yang paling gila yang pernah dia dengar seumur hidupnya. Dunia ini berputar karena uang, dan gadis itu menolaknya?

"Ba-baik, Tuan. Saya akan cari. Segera," jawab Pak Hendra cepat, berniat keluar secepatnya sebelum Tuan mudnya itu makin marah.

"Tunggu!" cegah Arjuna lagi tepat saat Pak Hendra memutar badan.

Pria tua itu berhenti, menoleh ragu. "Ada lagi, Tuan?"

Arjuna berdiri diam. Dia menatap jendela kaca lagi, kali ini tatapannya jauh lebih lembut, meski masih terlihat bingung.

"Dan ... jangan pakai kekerasan. Aku ingin bicara secara pribadi dengannya."

Pak Hendra mengangguk patuh, meski di dalam hatinya dia makin bingung setengah mati. Tuan mudanya yang biasa dingin dan tidak peduli sekitar, tiba-tiba mengeluarkan perintah aneh demi seorang gadis bengkel.

"Siap, Tuan. Segera saya kerjakan."

Setelah Pak Hendra keluar menutup pintu besar itu, ruangan mewah itu kembali sepi dan sunyi. Arjuna berjalan perlahan kembali ke mejanya, duduk di kursi besar berputarnya. Dia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, menatapnya lama.

Bayangan Kirana saat menoleh ke belakang di tengah hujan itu kembali berputar di kepalanya. Senyum nakal itu, mata berkilat itu, dan kepercayaan diri yang tidak masuk akal itu.

"Kau pasti punya niat lain, kan?" gumam Arjuna sendiri, suaranya rendah dan penuh tantangan. "Tidak mungkin ada manusia yang tidak mau uang. Kau pasti sedang merencanakan sesuatu. Kau pasti ingin perhatianku. Kau ingin aku terobsesi padamu, ya? Hahaha ... permainan apa pun yang kau mainkan. Aku pastikan, akulah yang akan jadi pemenangnya."

Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arjuna tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Dia marah, dia kesal, tapi yang paling besar ... dia ingin bertemu gadis itu lagi. Bukan untuk menghukum, bukan untuk membayar, tapi hanya untuk mendengar suara renyah itu lagi, mendengar omongan-omongan aneh yang bikin darahnya mendidih tapi bikin dia lupa semua beban berat di pundaknya.

Siang itu berlalu lambat sekali bagi Arjuna. Dia tidak bisa fokus bekerja. Setiap kali ponselnya berdering, dia langsung menyambarnya dengan cepat, berharap itu laporan dari Pak Hendra. Tapi nihil.

Hingga sore menjelang malam, saat matahari mulai terbenam melukis langit dengan warna jingga kemerahan, pintu ruangannya terbuka. Pak Hendra masuk dengan napas sedikit terengah dan wajah berseri, tanda dia berhasil menemukan sesuatu.

"Tuan Muda! Saya mendapatkan informasinya!" seru Pak Hendra sambil berjalan cepat mendekati meja.

Arjuna langsung berdiri, mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias, ekspresi yang sangat jarang terlihat di wajah dingin itu.

"Bagus? Di mana dia?!" tanyanya cepat.

"Nona Kirana ada di bengkel tua di daerah pinggiran kota sebelah utara. Warga sekitar menyebutnya Bengkel pasir. Tempatnya agak kumuh, di pinggir kali. Tapi katanya ... dia memang montir andalan di sana. Semua orang segan sama dia karena pintar dan berani," jelas Pak Hendra beruntun.

Arjuna langsung meraih jasnya yang tergantung di belakang kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat dan rapi. Dia melangkah lebar menuju pintu keluar, wajahnya penuh tekad.

"Siapkan mobilku! Cepat!" perintahnya.

"Ta-tapi Tuan ... matahari sudah mau tenggelam. Itu daerah agak jauh dan ... kurang aman. Apakah Tuan Muda mau ke sana sendiri? Tanpa pengawalan?" tanya Pak Hendra khawatir. Dia tahu betapa berbahayanya daerah pinggiran itu bagi orang sekelas Arjuna.

Arjuna berhenti sejenak, menoleh sambil menyeringai miring, senyum arogan khasnya yang kembali muncul.

"Aku tidak takut apa pun, Pak Hendra. Apalagi hanya sekadar jalanan sepi dan bengkel kumuh itu." Arjuna melangkah keluar, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu yang besar.

"Aku harus pastikan ... apakah gadis itu masih berani mengoceh dan bersikap tidak sopan saat tahu siapa aku sebenarnya?" gumamnya dalam hati.

Bersambung ....

 

1
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ita Xiaomi
Menguasai martial arts.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!