Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
Mobil sedan mewah milik Nadia berhenti tepat di depan sebuah rumah kolonial berarsitektur megah di kawasan Menteng. Papan nama kuningan kecil di depan pagar bertuliskan sebuah nama perancang busana eksklusif yang biasa menangani pakaian para pejabat dan konglomerat ibu kota. Tempat itu tampak sangat sunyi dan privat, sengaja disewa penuh oleh Nadia malam ini agar tidak ada mata publik yang melihat aktivitas mereka.
Mari masuk, Andra, ucap Nadia sembari membuka pintu mobil.
Andra melangkah turun, merapikan kemeja kerja sederhananya yang mulai agak kusut setelah seharian duduk di balik meja administrasi. Menapakkan kaki di lantai marmer butik mewah ini membuatnya merasa seperti alien yang tersesat di planet lain.
Seorang pria paruh baya dengan gaya pakaian yang sangat modis menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar. Selamat malam, Ibu Nadia. Suatu kehormatan besar Anda berkunjung malam ini. Jadi, ini pria muda yang Anda ceritakan di telepon tadi? tanya desainer tersebut, matanya langsung menilai postur tubuh Andra dengan tatapan profesional yang kagum.
Iya, Edward. Tolong buatkan setelan jas paling sempurna untuknya. Besok malam dia akan mendampingi saya di acara tahunan perkumpulan pengusaha, jawab Nadia, suaranya terdengar sangat bangga saat memperkenalkan Andra.
Edward berjalan mengitari tubuh Andra, sesekali mengetukkan pita ukurnya ke dagu. Postur tubuhnya luar biasa, Ibu Nadia. Tinggi seratus delapan puluh sentimeter, bahunya bidang, dan proporsinya sangat maskulin. Jarang sekali ada pria kota yang memiliki proporsi tubuh sekokoh ini tanpa rekayasa olahraga berlebih. Kulit sawo matangnya juga memberikan kesan jantan yang sangat kuat. Ini akan menjadi kanvas yang luar biasa untuk setelan jas potongan klasik saya.
Andra hanya bisa berdiri tegak sesuai instruksi, sementara Edward mulai melingkarkan pita ukur di dada, pinggang, hingga panjang lengannya.
Nadia duduk di sebuah sofa beludru merah di sudut ruangan, menopang dagunya dengan tangan kanan sembari memperhatikan setiap proses pengukuran. Pandangan mata Nadia tidak lepas sedikit pun dari tubuh Andra. Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hatinya melihat bagaimana pemuda desa yang awalnya berpakaian kusam ini perlahan-lahan mulai bertransformasi di bawah kendalinya.
Edward, saya ingin bahan wool terbaik berwarna hitam pekat, dengan kemeja putih berkerah kaku di dalamnya. Pastikan potongannya pas di badan namun tetap memberikan ruang agar dia bisa bergerak nyaman, pesan Nadia, ikut campur dalam setiap detail kecil penampilan Andra.
Baik, Ibu Nadia. Semuanya akan beres besok siang dan langsung diantar ke lantai tujuh belas, jawab Edward sigap.
Setelah proses pengukuran selesai, Edward pamit ke ruangan belakang untuk menyiapkan draf potongan kain, meninggalkan Andra dan Nadia berdua di ruang tengah yang luas dan dikelilingi cermin besar.
Andra berdiri di depan salah satu cermin setinggi langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sendiri dalam bayangan kemewahan Menteng. Di sampingnya, Nadia bangkit dari sofa dan berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang bahu kanan Andra. Bayangan mereka berdua di dalam cermin terlihat sangat kontras namun entah mengapa tampak begitu serasi, seorang wanita matang yang sangat anggun dan berkuasa, bersanding dengan pria muda yang maskulin dan perkasa.
Nadia mengulurkan kedua tangannya, meraih kerah kemeja biru murah milik Andra yang agak melintir, lalu merapikannya dengan gerakan yang sangat lambat dan intim. Jari-jari tangan Nadia yang halus dan dingin sempat bersentuhan langsung dengan kulit leher Andra yang hangat, menciptakan sengatan listrik emosional yang membuat napas Andra tertahan seketika.
Kamu sangat tampan, Andra. Jauh lebih tampan dari yang kamu sadari, bisik Nadia, matanya menatap bayangan mata Andra di dalam cermin. Besok malam, saya ingin semua orang di gedung itu tahu bahwa asisten pribadi saya adalah pria yang paling mengagumkan di ruangan tersebut.
Andra membalikkan tubuhnya perlahan, membuat jarak di antara mereka kini terkikis hingga menyisakan beberapa puluh sentimeter saja. Aroma parfum melati Nadia kembali menyerang seluruh kesadarannya.
Bu Nadia... ini semua terlalu berlebihan untuk saya, ujar Andra, nadanya terdengar bergetar rendah, sarat akan gejolak batin yang menahan diri agar tidak menyentuh wanita di hadapannya.
Nadia mendongak, menatap bibir Andra yang tegas sebelum kembali mengunci tatapan mereka. Tidak ada yang berlebihan untuk pria yang sudah menyelamatkan hidup saya kemarin, Andra. Malam ini, lupakan sejenak tentang kantor. Panggil saya seperti malam itu.
Andra menelan ludah, dadanya naik turun memburu karena tarikan magnet asmara yang kian tak terbendung. Mbak Nadia... bisik Andra akhirnya.
Nadia tersenyum sangat manis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sekaligus penyerahan emosional. Pertahanan moral Andra yang dibawa dari desa malam itu kembali retak satu langkah lagi, tepat di bawah temaram lampu gantung butik Menteng, bersiap menuju malam penentuan yang akan membuka gerbang hubungan mereka yang sesungguhnya.