Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi Darah
Angin di Makam Pedang Awan Jatuh berhembus membawa suara siulan tajam, terdengar seperti ratapan jutaan pedang patah yang menancap di bumi gersang tersebut. Udara di tempat ini begitu berat, dipenuhi oleh untaian Niat Pedang kuno dan Qi kekacauan yang akan mengiris meridian kultivator biasa jika dihirup secara sembarangan.
Namun, di mata Lin Ye, tempat ini adalah surga yang telah lama ia nantikan.
Lin Ye menoleh menatap Su Yue yang masih berlutut dengan kepala menunduk. "Berdirilah. Menjauh sejauh lima puluh tombak dan berjaga. Jangan biarkan apa pun mendekatiku selama aku... makan."
Su Yue mengangguk cepat. "Baik, Senior. Junior akan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga batas formasi." Ia segera bangkit, menarik pedang es kristalnya, dan melesat mundur tanpa berani bertanya apa yang dimaksud sang Senior dengan kata "makan" di tengah kuburan purba ini.
Setelah Su Yue berada di jarak yang aman, Lin Ye mengalihkan pandangannya ke arah sebuah bukit kecil di depannya. Bukit itu terbentuk dari tumpukan ribuan pedang berkarat. Kabut kelabu yang merupakan perwujudan nyata dari Niat Pedang Kuno paling pekat berkumpul mengelilingi bukit tersebut.
Lin Ye melangkah maju. Tanpa menggunakan perlindungan Qi apa pun, ia berjalan lurus ke tengah kabut kelabu tersebut. Begitu tubuh fananya bersentuhan dengan kabut Niat Pedang, suara robekan pelan terdengar. Jubah pelayan abu-abunya yang lusuh langsung terkoyak di puluhan tempat, memperlihatkan kulit perunggunya.
Jika itu manusia fana biasa, tubuh mereka sudah terpotong menjadi dadu daging. Namun kulit Lin Ye yang telah mencapai Puncak Tingkat Ketujuh Bina Tubuh hanya tergores tipis, meninggalkan garis-garis putih tanpa mengeluarkan darah.
"Sangat tajam. Tapi justru ketajaman inilah yang kubutuhkan untuk membersihkan darah fanaku," gumam Lin Ye dengan mata berbinar buas.
Ia duduk bersila tepat di puncak bukit pedang tersebut, memejamkan mata, dan langsung memutar Sutra Kekosongan Penelan Bintang hingga ke batas maksimalnya.
Seketika, Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya meledak dengan daya hisap yang mengerikan. Bayangan sebuah pusaran hitam pekat berukuran sepuluh tombak mendadak muncul secara samar di atas kepala Lin Ye.
WUUUSSS!
Kabut kelabu Niat Pedang yang liar dan tak terkendali itu tiba-tiba tersedot dengan ganas. Bagai air bah yang menemukan lubang pembuangan raksasa, energi purba yang mematikan itu merangsek masuk melalui hidung, mulut, dan jutaan pori-pori kulit Lin Ye.
Rasa sakit yang jauh lebih mengerikan dari Racun Api Belerang atau Sumsum Es Hitam langsung meledak di dalam tubuh Lin Ye.
Niat Pedang bukanlah elemen alam biasa; itu adalah kehendak membunuh murni yang ditinggalkan oleh para ahli pedang zaman dahulu. Saat Niat Pedang itu memasuki aliran darahnya, rasanya seperti ada jutaan pisau cukur yang teramat halus berenang di dalam nadinya, memotong dan mencabik-cabik pembuluh darahnya dari dalam ke luar.
"Argh!" Lin Ye menggeram tertahan. Otot-otot di seluruh tubuhnya mengejang hebat. Pembuluh darah di pelipis dan lehernya menonjol keluar, berwarna kehitaman karena darah kotornya sedang digerus secara paksa.
Namun, di dalam Dantian-nya, Kuali Bintang bekerja layaknya batu kilangan kosmik. Kuali itu melahap Niat Pedang liar tersebut, menghancurkan sisa-sisa kehendak membunuh para ahli kuno, dan memurnikannya menjadi energi penempa tubuh yang luar biasa tajam namun murni. Energi murni ini kemudian dipompa kembali ke dalam jantung Lin Ye.
Ini adalah proses untuk menembus Tingkat Kedelapan Alam Pengumpulan Qi (Bina Tubuh): Transformasi Darah.
Darah fana Lin Ye yang lemah, kotor, dan rentan terhadap penyakit perlahan-lahan dikeluarkan. Dari pori-pori kulitnya, merembes keluar cairan darah yang berwarna merah gelap nyaris hitam, berbau sangat amis dan bercampur dengan racun sisa makanan dunia fana.
Sebagai gantinya, sumsum tulang Lin Ye yang telah ditempa oleh es dan api, kini menyerap energi Niat Pedang dan mulai memproduksi darah baru. Darah baru ini tidak lagi berwarna merah biasa, melainkan merah rubi yang memancarkan kilau emas samar. Darah ini membawa energi kehidupan yang sepuluh kali lipat lebih berat dan lebih kental dari darah manusia normal.
Di kejauhan, Su Yue berdiri mematung. Matanya yang indah terbelalak lebar menatap pemandangan ganjil di atas bukit pedang tersebut.
Melalui Mata Es Spiritualnya, ia bisa melihat pusaran Niat Pedang Kuno yang biasanya sangat ditakuti oleh para Tetua Pembentukan Fondasi sekalipun, kini sedang ditelan hidup-hidup oleh siluet pria berbaju compang-camping itu.
"S-senior... benar-benar menelan Qi kekacauan secara langsung?" bibir Su Yue bergetar. Pemahamannya tentang kultivasi benar-benar hancur. Kultivator menyerap Qi murni langit dan bumi, lalu menolak energi kotor. Tapi pria ini melahap energi paling kotor dan paling mematikan seolah itu adalah air minum suci.
"Metode kultivasi macam apa ini? Auranya sangat purba, buas, dan... mendominasi hukum alam. Dia pasti berasal dari Alam Atas yang legendaris, menyegel dirinya karena suatu alasan," Su Yue semakin meyakinkan dirinya sendiri, rasa hormat dan ketakutannya mengakar semakin dalam.
Dua jam berlalu. Kabut Niat Pedang dalam bentangan seratus tombak dari bukit itu telah disapu bersih, mengembalikan kecerahan langit merah kelabu di area tersebut.
Lin Ye masih duduk bersila. Tubuhnya kini terbungkus oleh kerak darah hitam yang mengering. Namun, di bawah kerak kotor itu, terdengar detak jantung yang sangat lambat namun menggelegar, bergema seperti dentuman genderang perang raksasa: Dug... Dug... Dug...
Tiba-tiba, dari arah hutan kayu mati di sebelah timur, terdengar suara gerusan logam yang sangat cepat.
Su Yue seketika kembali ke alam sadarnya. Ia menoleh dan melihat sesosok bayangan raksasa melesat merobek semak belukar. Itu adalah seekor Macan Tutul Tulang Pedang!
Binatang iblis mutasi ini memiliki panjang tiga tombak. Kulitnya bukan ditutupi bulu, melainkan sisik baja, dan dari punggungnya menonjol deretan tulang yang telah bermutasi menyerupai bilah pedang tajam. Matanya merah menyala, menandakan ia telah kehilangan akal sehatnya akibat meminum Qi kekacauan tempat ini. Binatang ini setara dengan kultivator Pengumpulan Qi Tingkat Kedelapan akhir!
Target macan tutul itu jelas: pusaran energi raksasa yang berpusat di bukit tempat Lin Ye duduk.
"Berhenti di sana, Binatang Buas!" teriak Su Yue. Ia melompat maju, memutar Qi elemen esnya ke tingkat maksimal. "Teratai Es Penghancur Jiwa!"
Su Yue menebaskan pedangnya, melepaskan gelombang energi dingin yang membekukan udara di lintasan macan tutul tersebut.
Namun, Binatang Iblis di Makam Pedang memiliki ketahanan fisik yang mengerikan. Macan tutul itu tidak menghindar. Ia mengaum marah, menggunakan cakar depannya yang menyerupai pedang lebar untuk mencabik gelombang es Su Yue.
KRAAAK!
Teratai es kebanggaan Su Yue hancur berkeping-keping. Hantaman balik dari kekuatan fisik macan tutul itu membuat Su Yue terlempar ke udara. Ia jatuh berguling di atas tanah berbatu, memuntahkan seteguk darah, jubah putihnya robek di bagian bahu. Perbedaan antara Tingkat Keenam dan binatang menyimpang Tingkat Kedelapan di wilayah rahasia ini terlalu besar.
Macan tutul itu bahkan tidak melirik Su Yue lagi. Ia melompat tinggi ke udara, cakar pedangnya terentang, bersiap menancap dan mencabik-cabik Lin Ye yang masih duduk bersila bagai patung.
Tepat saat cakar logam macan tutul itu berjarak kurang dari satu jengkal dari kepala Lin Ye...
Krak.
Mata Lin Ye terbuka.
Tidak ada cahaya ungu kali ini. Yang ada hanyalah sepasang mata hitam pekat yang di dalamnya memancarkan kilatan bilah pedang yang teramat tajam.
Kerak darah hitam di sekujur tubuh Lin Ye seketika hancur berkeping-keping.
Lin Ye tidak bangkit berdiri. Ia bahkan tidak menggunakan teknik memutar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang kini bersih, memperlihatkan otot yang terbentuk sempurna dengan rona perunggu yang sangat kental, dan meninju lurus ke atas.
Tidak ada Qi spiritual. Hanya kekuatan fisik murni dari Puncak Alam Tingkat Kedelapan, ditambah dengan Niat Pedang yang baru saja ia serap dan satukan ke dalam tulang-tulangnya.
BAM! BOOM!
Suara benturan fisik yang memekakkan telinga bergema, disusul oleh suara ledakan udara yang terbelah saat tinju Lin Ye melesat.
Tinju daging Lin Ye membentur langsung cakar baja macan tutul yang sedang meluncur turun. Bagi kultivator normal, tangan mereka akan terbelah dua. Namun bagi Lin Ye, tinjunya tak tergoyahkan seperti gunung besi.
Sebaliknya, kekuatan puluhan ribu kati dari tinju Lin Ye meledak menembus cakar macan tutul itu.
KRAAAK! SPLAASH!
Lengan depan macan tutul itu remuk seketika, tulangnya hancur menjadi serpihan. Kekuatan tinju Lin Ye tidak berhenti di situ; daya dorongnya terus melaju, menghantam dada binatang raksasa tersebut.
Macan tutul itu bahkan tidak sempat mengeluarkan lolongan kesakitan. Dada berpelindung sisik bajanya amblas ke dalam. Organ dalamnya hancur menjadi bubur. Tubuhnya yang seberat dua ribu kati terpental ke atas belasan tombak, sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah dengan suara debuman keras, mati seketika.
Hening. Makam Pedang itu kembali dicekam kesunyian.
Su Yue yang baru saja memaksakan diri untuk berdiri, menahan napasnya hingga nyaris pingsan. Ia menatap bangkai macan tutul raksasa yang dadanya hancur hanya dengan satu pukulan tangan kosong, tanpa seutas Qi pun!
Satu pukulan... membunuh Binatang Buas Tingkat Kedelapan dalam satu pukulan santai... Su Yue menelan ludah. Hatinya bergetar hebat. Seberapa kuat tubuh fisik Senior ini? Apakah dia dewa perang yang bereinkarnasi?
Lin Ye perlahan berdiri. Tubuhnya kini bersih dari kotoran. Tinggi badannya bertambah sedikit, dan bahunya tampak lebih lebar. Meski ia tidak memancarkan Qi magis, berdiri di sana dengan jubah pelayan yang robek, ia memancarkan aura seorang tiran yang tak tertandingi di dunia fana.
Ia berjalan santai mendekati bangkai macan tutul tersebut. Tangannya masuk ke dalam luka hancur di dada binatang itu, dan dengan satu tarikan keras, ia menarik keluar sebuah Inti Iblis seukuran kepalan tangan. Inti iblis itu unik, tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan bersudut tajam dan memancarkan Qi Niat Pedang.
Kuali Penelan Bintangku menginginkan ini, batin Lin Ye.
Tanpa mempedulikan tatapan ngeri Su Yue, Lin Ye menggenggam inti iblis itu, memutar Sutra Kekosongan, dan langsung menyerapnya di tempat. Inti iblis itu melebur menjadi cahaya keperakan, masuk ke tangannya, memberikan asupan energi yang padat untuk menstabilkan darah barunya.
Lin Ye kemudian menoleh ke arah Su Yue yang masih memegangi bahunya yang berdarah.
"Kau ceroboh, tapi kau tidak berlari saat melihat ancaman," ucap Lin Ye dengan nada dalam dan berat yang mendominasi. "Itu patut dipuji untuk ukuran semut."
Ia menjentikkan jarinya, mengirimkan seutas kecil energi kehidupan murni dari sisa inti iblis tadi ke arah Su Yue. Energi itu menyelimuti luka bahu Su Yue dan menyembuhkannya dalam hitungan detik, bahkan menyegarkan kembali Dantian-nya yang kelelahan.
"T-terima kasih, Senior!" Su Yue langsung bersujud hormat, matanya memancarkan kesetiaan yang semakin fanatik.
Lin Ye menatap jauh ke kedalaman Makam Pedang, di mana energi kekacauan terasa puluhan kali lebih pekat dan auman-auman binatang purba terdengar sayup-sayup.
Sebuah seringai tipis, dingin, dan penuh kehausan terukir di wajah Lin Ye.
"Pinggiran ini hanya untuk pemanasan," ucapnya pelan, suaranya mengandung hasrat yang buas. "Su Yue, pimpin jalan. Bawa aku ke pusat makam ini. Aku ingin melihat apa yang disembunyikan oleh para leluhur sektemu dari dunia luar."