NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Dantian Yang Dijahit

Waktu di luar ruang bedah Tabib Gila Gu Mian terasa merayap layaknya siput yang berjalan di atas pedang.

Di ruang tunggu yang berdebu dan dipenuhi aroma obat penenang, hari ketiga baru saja menjemput senja. Sinar matahari jingga menembus celah jendela kayu yang lapuk, menyoroti debu yang melayang di udara.

Qian Fugui sedang duduk berjongkok di sudut ruangan, memanggang ubi di atas anglo kecil milik sang tabib. Kantung matanya hitam dan menebal. Meskipun ia adalah kultivator yang malas, selama tiga hari tiga malam ini ia tidak berani tidur lelap. Insting penakutnya takut jika tiba-tiba Tabib Gila itu keluar dan memotong perutnya untuk dijadikan bahan obat.

"Gadis Perak," panggil Fugui dengan suara serak, menyodorkan sebuah ubi panggang yang mengepul ke arah Zhao Ying. "Makanlah sedikit. Kau belum menelan apa pun sejak kita tiba. Percayalah pada petuah Daoist gagal ini: jika pemuda gila di dalam sana mati, kau butuh tenaga ekstra untuk menggali kuburannya dan menangis. Jika dia hidup, kau butuh tenaga untuk merawatnya. Berlapar-lapar tidak mengubah takdir."

Zhao Ying, yang duduk mematung di atas kursi kayu sejak hari pertama, perlahan menoleh. Tatapannya kosong, namun ada kelelahan yang luar biasa di balik mata jernih itu.

Gadis itu terdiam sejenak, lalu dengan anggun menerima ubi tersebut. Panas dari ubi itu sedikit menghangatkan jemarinya yang sedingin es. "Terima kasih, Paman Fugui."

Fugui mendengus, menggigit ubinya sendiri dengan rakus. "Jangan panggil aku Paman, aku baru berumur—yah, lupakan saja. Lagipula, anak itu... Niu-bro... dia monster. Tidak ada jeritan selama tiga hari. Bahkan babi hutan pun akan menjerit jika dikuliti."

Di balik pintu kayu tebal yang menjadi pusat kecemasan mereka, kenyataan yang terjadi jauh lebih mengerikan dari sekadar dikuliti.

Di dalam ruangan itu, udara terasa sangat panas dan dipenuhi bau darah bercampur racun kalajengking.

Zeng Niu masih terikat di atas ranjang bambu. Tubuhnya tidak lagi pucat, melainkan memerah seperti besi yang baru diangkat dari tungku tempa. Ratusan jarum emas menancap di sepanjang jalur meridian utamanya, berpusat di area perutnya.

Gu Mian, sang Tabib Gila, terlihat sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya yang tipis lepek oleh keringat, dan napasnya tersengal. Tangan keriputnya yang biasanya luar biasa stabil, kini sedikit bergetar saat ia memegang jarum terakhir yang paling panjang.

"Hari ketiga," bisik Gu Mian parau. Matanya yang buta sebelah membelalak dengan obsesi gila. "Meridianmu telah rajut ulang. Saraf spiritualmu telah terhubung. Sekarang... saatnya memetik bayarannya."

Gu Mian menusukkan jarum terakhir itu tepat ke pusat Dantian Zeng Niu yang hancur.

Zeng Niu membuka matanya lebar-lebar. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol hingga nyaris pecah. Rasa sakit yang selama tiga hari ini ia tahan dalam diam, kini mencapai puncaknya. Sebuah tarikan yang melampaui rasa sakit fisik tarikan pada esensi jiwanya.

"Keluarlah, Biji Dao!" raung Gu Mian, memutar jarum emas itu dan menariknya perlahan.

Bersamaan dengan ditariknya jarum tersebut, setitik cahaya pucat tak berwarna perlahan merembes keluar dari perut Zeng Niu. Cahaya itu tidak memancarkan hawa panas maupun dingin, hanya kehampaan dan kesepian yang sangat pekat.

Itulah Biji Dao Kehidupan dan Kehampaan yang lahir dari keputusasaan Zeng Niu di Desa Ujung Sungai.

Saat benih itu keluar sepenuhnya dan ditangkap oleh Gu Mian menggunakan botol giok khusus, Zeng Niu memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar. Tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya jatuh kembali ke atas ranjang, napasnya memburu lemah.

Gu Mian memegang botol giok itu dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Matanya memancarkan ekstasi. "Luar biasa... Sangat berat! Hanya sebuah benih, tapi memiliki beban pemahaman yang bisa meruntuhkan gunung! Dengan ini... aku bisa menembus kutukan kultivasiku!"

Sang Tabib Gila dengan cepat mencabut sisa jarum emas dari tubuh Zeng Niu.

Zeng Niu terbaring lemah. Di dalam tubuhnya, sebuah sensasi yang sudah lama hilang kembali muncul. Udara di ruangan itu tidak lagi terasa kosong. Ia bisa merasakan titik-titik kecil Qi spiritual di sekitarnya.

Meridiannya telah tersambung. Dantiannya tidak lagi berbentuk pusaran sempurna seperti dulu, melainkan menyerupai cawan porselen yang retak namun direkatkan kembali menggunakan "benang emas" dari sisa energi racun kalajengking. Dantian itu lebih rapuh, namun berhasil menahan Qi.

"Bangunlah," ucap Gu Mian sambil menyeka darah dari tangannya menggunakan kain kotor. "Transaksi kita selesai. Tubuhmu sudah seperti kapas kering. Kau harus memulai kultivasi dari tahap Pengumpulan Qi lagi, tapi karena fondasi fisik Tulang Besimu masih ada, kecepatan penyerapanmu akan seratus kali lebih cepat dari pemula."

Zeng Niu perlahan menggerakkan tangannya. Tali urat naga yang mengikatnya telah dilepaskan. Ia memaksakan dirinya untuk duduk.

Sebuah perasaan aneh menyelimuti hatinya. Ada kekosongan spiritual yang mendalam. Kebijaksanaan tenang yang ia rasakan beberapa hari lalu lenyap, digantikan oleh naluri algojo yang dingin, tajam, dan pragmatis. Ia telah menukar pencerahannya dengan alat untuk membunuh.

Zeng Niu menatap Gu Mian tanpa emosi, lalu turun dari ranjang. Kakinya sedikit goyah, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia meraih jubah hitamnya yang compang-camping dan mengenakannya.

"Tabib Gu," suara Zeng Niu sangat serak, namun sedingin kiamat. "Jaga Biji Dao itu baik-baik. Jika kau mati sebelum aku sempat merebutnya kembali di masa depan, aku akan sangat kecewa."

Gu Mian tertawa gila. "Bocah sombong! Jika kau bisa mencapai Inti Emas dengan Dantian cacat itu, kau boleh mencariku lagi!"

Zeng Niu tidak menjawab. Ia melangkah menuju pintu kayu tebal dan mendorongnya terbuka.

KRIEET...

Suara pintu yang terbuka membuat Qian Fugui menjatuhkan ubi panggangnya. Zhao Ying langsung berdiri dari kursinya.

Zeng Niu berdiri di ambang pintu. Wajahnya sangat pucat, dan tubuhnya berbau darah kental. Namun, hal pertama yang disadari oleh Zhao Ying dan Qian Fugui adalah: mata hitam pemuda itu tidak lagi mati. Sebuah pusaran Qi yang sangat tipis, setara dengan Pengumpulan Qi Tahap 1, perlahan berputar di sekeliling tubuhnya.

"Zeng Niu..." Zhao Ying melangkah maju, suaranya sedikit bergetar. Tangannya terulur menyentuh lengan pemuda itu, memastikan bahwa ini bukanlah ilusi.

"Aku belum mati," Zeng Niu mengukir senyum tipis di wajah perunggunya, menatap gadis itu. "Dan aku siap mengantar pulang Sang Bintang Putih."

Mendengar itu, pertahanan emosional Zhao Ying yang selama tiga hari ini ia bangun akhirnya runtuh sedikit. Ia tidak memeluk pemuda itu, karena harga diri dan sifat canggungnya, namun ia menundukkan kepalanya, membiarkan poni peraknya menutupi air mata kelegaan yang jatuh di pipinya.

"Ah! Syukurlah!" Qian Fugui berseru, mengusap dadanya lega. "Kukira Daoist ini harus mencari pekerjaan menggali kubur! Selamat, Niu-bro! Kultivasimu baru tahap pertama, tapi melihat tampangmu saja siluman pasti sudah lari ketakutan!"

Zeng Niu melirik pria gemuk itu. "Fugui. Kerja bagus menjaga pintunya."

Fugui membusungkan dadanya bangga. "Tentu saja! Tidak ada nyamuk yang berani lewat... Hei, tunggu, bajingan tua Gu itu keluar!"

Gu Mian melangkah keluar, melemparkan sebuah botol kecil berisi pil hijau murahan ke arah Fugui yang langsung menangkapnya dengan panik.

"Beri dia makan Pil Pemulih Darah itu sehari sekali," perintah Gu Mian ketus. "Sekarang enyahlah dari tempatku. Bau kemiskinan dan drama fana kalian membuat ramuanku basi. Pergi ke pusat Kota Daun Gugur sana!"

Malam itu, mereka bertiga menyewa sebuah kamar sederhana di sebuah penginapan di pinggiran Kota Daun Gugur. Penginapan ini jauh lebih beradab dibandingkan Penginapan Tulang Hitam di Kota Reruntuhan, membuktikan bahwa kota ini memiliki aturan yang ditegakkan oleh faksi lokal.

Zeng Niu duduk bersila di atas ranjang, matanya terpejam. Ia sedang memutar Sutra Bencana di dalam Dantian jahitannya. Benar kata sang Tabib, karena tubuhnya sudah pernah mencapai Puncak Foundation Establishment, meridiannya sangat lebar.

Hanya dalam waktu dua jam menyerap Qi alam, kultivasinya melesat menembus Pengumpulan Qi Tahap 2, Tahap 3, dan stabil di Tahap 4. Ini adalah kecepatan iblis!

Di meja tengah ruangan, Fugui sedang asyik menghitung kepingan tembaga dari sisa uang saku tabungannya, sementara Zhao Ying membersihkan debu dari pakaiannya.

"Niu-bro," Fugui membuka suara, memecah keheningan malam. Ia menyesap tehnya. "Kau sekarang punya Qi, tapi kau tidak punya senjata. Golok karatanmu patah di lembah, dan bertarung dengan tangan kosong melawan monster atau kultivator di kota ini adalah tindakan bunuh diri."

Zeng Niu membuka matanya secara perlahan, menghembuskan napas keruh. "Kau punya informasi?"

Mata sipit Fugui berkedip licik, sebuah senyum khas pedagang penipu muncul di wajahnya.

"Kebetulan sekali!" seru Fugui semangat, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Besok lusa, Paviliun Seratus Pusaka di pusat kota ini akan mengadakan lelang besar tahunan! Mereka mengundang banyak kultivator dari sekte-sekte luar. Kudengar, ada banyak senjata spiritual tingkat bumi yang akan dilelang. Dan... puncaknya, ada sebuah pedang kuno yang digali dari reruntuhan Benua Selatan yang katanya menolak semua pengguna!"

Zhao Ying mengerutkan alisnya. "Paman Fugui. Kita hanya punya tiga keping perak dan beberapa keping tembaga kotor di mejamu itu. Bagaimana caranya kita membeli senjata di pelelangan tingkat tinggi?"

Fugui tersenyum penuh misteri. Ia merogoh sesuatu dari dalam balik jubah kuningnya, lalu meletakkannya ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.

Zeng Niu dan Zhao Ying membelalakkan mata.

Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah Cincin Spasial berwarna hitam pekat yang dihiasi ukiran tengkorak kecil.

"Dari mana kau mendapatkan cincin itu?" tanya Zeng Niu, instingnya langsung mengenali fluktuasi kematian pada benda tersebut.

"Hehehe... Ingat mayat Pendeta di Kuil Ular yang kepalanya putus oleh tali kalian?" Fugui terkekeh bangga, menggosok hidungnya. "Saat kalian berdua sibuk bermesraan maksudku, berbincang serius di depan kuil, Daoist ini diam-diam memeriksa abu mayatnya. Mayat hidup tidak butuh harta, bukan? Jadi aku 'mengamankan' cincin ini dari jari kelingkingnya yang tersisa."

Zeng Niu mendengus tak percaya. Di saat genting seperti itu, keparat gemuk ini masih sempat menjarah mayat!

"Cincin itu tersegel oleh Yin Qi," ucap Zhao Ying, menganalisis cincin tersebut. "Tapi pemiliknya sudah mati. Dengan Qi yang Niu miliki sekarang, segel itu bisa dibuka paksa."

Zeng Niu mengambil cincin itu. Ia menyalurkan Qi tahap 4-nya secara kasar, mendobrak sisa-sisa energi mayat pendeta.

TAK!

Segelnya terbuka. Zeng Niu memasukkan kesadarannya ke dalam ruang penyimpanan cincin tersebut. Detik berikutnya, wajah datar nya berubah menjadi sedikit terkejut.

Dengan satu jentikan jari, Zeng Niu mengeluarkan isi cincin itu ke atas ranjang.

Ratusan Batu Spiritual tingkat rendah yang memancarkan cahaya biru terang, belasan botol pil penambah Qi, dan sebuah gulungan peta kuno yang terbuat dari kulit binatang siluman.

Mata Qian Fugui nyaris melompat keluar dari rongganya melihat tumpukan harta itu. Ia meraup beberapa Batu Spiritual dengan napas tersengal. "K-Kaya... Kita kaya mendadak! Pendeta sialan itu rupanya menimbun harta dari para kultivator malang yang disesatkan ke kuil itu!"

Zeng Niu mengambil gulungan peta kulit itu dan membukanya. Matanya menyipit membaca rute yang digambar menggunakan tinta merah darah.

"Ini bukan sekadar kekayaan," ucap Zeng Niu pelan, suaranya mengandung nada yang sangat serius. "Peta ini mengarah ke sebuah reruntuhan kuno di Hutan Pemakaman Dewa. Tempat yang sama dari mana pedang di pelelangan itu berasal."

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Arinto Ario Triharyanto: keturunan Tiran dinasti klan bintang harusnya ngga ecek2 sih sekalipun kena kutukan
total 1 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!