Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Rahasia yang Tersobek
BAB 34: Rahasia yang Tersobek
Hening yang mencekam seketika merayap di dalam kamar utama penthouse mewah tersebut. Luna Maharani masih terduduk kaku di atas ranjang king size yang luas. Kedua tangannya yang masih menyisakan rasa lemas pasca-demam tampak bergetar hebat, mencengkeram selembar kertas hasil tes DNA usang yang baru saja dia keluarkan dari kotak kayu tua peninggalan almarhum ayahnya.
Manik mata bulat Luna bergerak cepat, membaca baris demi baris karakter medis yang tertulis di sana. Fokusnya langsung terkunci pada baris kesimpulan di bagian paling bawah dokumen: Persentase kecocokan probabilitas garis keturunan: 99,9%.
Dokumen itu menyatakan dengan mutlak adanya hubungan darah antara seorang pria bernama "Pradipta Adijaya"—nama yang sangat Luna kenal sebagai mendiang sahabat karib almarhum ayahnya sekaligus rekan bisnis masa lalu keluarga Devano—dengan seorang anak. Namun, tepat di kolom nama sang anak, kertas itu telah disobek secara paksa, menyisakan robekan kasar yang menghilangkan identitas anak tersebut.
"Pradipta Adijaya...?" gumam Luna lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata kebingungan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Ayah menyimpan hasil tes DNA ini di dalam kotak rahasianya? Dan... siapa nama anak yang disobek ini?"
Sebagai wanita yang berjiwa tangguh, Luna tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kepanikan atau rasa penasaran yang melumpuhkan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu. Dengan gerakan taktis, Luna melipat kembali kertas usang itu, menyisipkannya dengan aman di bagian paling dalam tas kain miliknya yang usang, lalu menutup kembali kotak kayu berdebu itu ke tempat semula.
Luna melirik mangkuk bubur ayam yang ditinggalkan Devano di atas meja nakas. Walau hatinya sedang berkecamuk dan tenggorokannya terasa kering, Luna memaksakan dirinya untuk menyendok bubur hangat itu hingga habis. Dia tahu, dia butuh energi. Dia harus tetap kuat secara fisik jika ingin bertahan di bawah kungkungan Devano dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu keluarganya.
Sementara itu, di gedung kantor pusat Adijaya Group yang megah, suasana rapat direksi terasa sangat tegang. Di ujung meja panjang, Devano duduk dengan setelan jas formalnya yang rapi, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinannya, fokus sang CEO tidak sepenuhnya berada di dalam ruangan.
Setiap kali para direktur memaparkan laporan grafik keuntungan, bayangan malam panas di penthouse justru berputar secara acak di kepala Devano. Dia teringat bagaimana pasrahnya Luna di bawah kungkungannya semalam, bagaimana lembut kulit gadis itu, dan bagaimana air mata ketegaran Luna mengalir di sela-sela penyatuan mereka yang membara. Ada rasa posesif yang mendalam yang tiba-tiba mengakar di dada Devano, menggeser paksa rasa dendam yang selama dua tahun ini dia agungkan.
Cklek.
Pintu ruang kerja privat Devano terbuka sesaat setelah rapat selesai. Siska melangkah masuk dengan senyum manis yang mengembang, membawa sebuah paper bag berisi makan siang.
"Mas Devano, cape ya habis rapat?" Siska langsung berjalan mendekat, berniat meletakkan tangannya di bahu Devano dengan manja. "Aku bawakan makan siang kesukaanmu, lho. Nanti malam jadi kan kita—"
"Siska," potong Devano, suara baritonnya terdengar teramat dingin dan tajam, membuat gerakan tangan Siska seketika membeku di udara. Devano menatap Siska dengan pandangan mata elang yang tidak bersahabat. "Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk pintu? Dan sejak kapan kamu bisa melompati izin sekretarisku?"
Siska tersentak, wajah cantiknya yang dipoles riasan mahal mendadak pucat. "M-Mas... aku kan calon istrimu. Kenapa sekarang kamu formal sekali padaku?"
"Keluar, Siska. Aku sedang banyak pekerjaan," usir Devano tanpa perasaan, bahkan tanpa sudi melirik makanan yang dibawa wanita itu.
Siska menggigit bibir bawahnya dengan perasaan dongkol dan cemburu yang membakar dada. Insting wanitanya berbisik bahwa jarak yang membentang di antara dirinya dan Devano saat ini pasti ada hubungannya dengan keberadaan Luna Maharani. Dengan langkah kaki yang dihentak kesal, Siska terpaksa berbalik dan keluar dari ruangan.
Sore harinya, jarum jam baru menunjukkan pukul empat sore, namun mobil sport mewah Devano sudah membelah jalanan kota, melaju kembali menuju penthouse pribadinya. Pria itu pulang jauh lebih cepat dari jadwal biasanya, digerakkan oleh rasa tidak tenang yang terus mengusik benaknya tentang kondisi Luna.
Begitu pintu lift privat terbuka, keheningan penthouse menyambutnya. Devano melangkah lebar menuju dapur setelah mendengar suara dentingan pisau yang beradu dengan talenan kayu.
Di sana, Luna sedang berdiri dengan tenang, mengenakan pakaian santai yang longgar, sedang memotong beberapa sayuran hijau untuk membuat sup. Wajahnya masih tampak agak pucat, namun binar matanya memperlihatkan ketangguhan yang luar biasa.
Melihat hal itu, guratan amarah tipis muncul di dahi Devano. Dia berjalan mendekat, dan tanpa peringatan, tangan kekarnya langsung merebut pisau dapur dari genggaman Luna, menyimpannya jauh-jauh di atas meja konter.
"Tuan Devano?" Luna terkejut, melangkah mundur satu langkah karena kedatangan pria itu yang tiba-tiba.
"Apa aku kurang jelas mengatakannya padamu tadi malam, Luna?" desis Devano, menundukkan tubuhnya hingga netra mereka beradu dalam jarak dekat. Aroma maskulin bercampur angin sore dari tubuh Devano seketika mengurung indra penciuman Luna. "Aku menyuruhmu istirahat dan memulihkan dirimu, bukan bertingkah sok rajin menjadi pelayan di dapurku."
Luna tidak menunduk takut. Dia menatap lurus ke dalam manik mata pekat Devano dengan ketegaran khasnya. "Saya sudah jauh lebih baik, Tuan. Dan seperti yang saya katakan, saya tidak bisa hanya duduk diam menerima fasilitas Anda tanpa melakukan apa pun. Ini harga diri saya."
Devano menggerakkan rahangnya, menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh ramping wanita keras kepala ini ke dalam pelukannya. Tarikan magnetis di antara mereka pasca-malam panas itu terasa semakin kuat dan menyiksa. "Cukup. Masuk ke ruang makan. Makanan ini akan diurus oleh orang lain."
Malam kembali menjelang, membawa kesunyian yang intim di meja makan marmer hitam tersebut. Mereka makan dalam diam, namun ada ketegangan romantis yang terselubung di antara setiap gerakan mereka.
Setelah selesai makan, Devano mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari saku jasnya yang diletakkan di kursi, lalu menggesernya di atas meja ke hadapan Luna.
"Buka," perintah Devano pendek.
Luna membuka amplop tersebut dengan ragu. Sepasang mata bulatnya seketika melebar saat melihat sebuah anak kunci kuno beserta selembar surat pernyataan resmi dari lembaga keuangan. Itu adalah sertifikat dan kunci rumah lama almarhum ayahnya.
"Ini... rumah Ayah?" Luna mendongak, menatap Devano dengan pandangan tidak percaya. "Bukankah rumah ini harus disita oleh rentenir siang ini?"
"Aku sudah melunasi seluruh sisa utang Mahardika pada rentenir itu siang tadi," ujar Devano datar, mencoba menyembunyikan fakta bahwa dia melakukannya murni karena tidak ingin melihat Luna bersedih atau kehilangan peninggalan terakhir ayahnya. "Rumah itu tetap menjadi milikmu. Anggap saja itu... bonus karena kamu sudah menuruti perintahku semalam."
Mendengar kalimat terakhir Devano yang mengungkit malam panas mereka, wajah Luna seketika memerah sempurna. Ada rasa haru yang teramat dalam yang membuncah di dadanya. Luna meremas kunci itu erat-erat di dadanya. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Devano."
Di saat atmosfer di antara mereka mulai melunak dan dipenuhi oleh binar kehangatan yang romantis, tiba-tiba saja ponsel pintar milik Devano yang tergeletak di atas meja bergetar pendek.
Bzzzt.
Devano mengalihkan pandangannya, menyambar ponsel tersebut dan membuka layar kuncinya. Sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal—nomor pribadi misterius yang kemarin mengirimkan foto masa lalu—kembali masuk.
Alis tebal Devano seketika bertaut erat. Udara di sekeliling meja makan mendadak berubah menjadi sangat dingin saat Devano membaca baris kalimat pendek yang tertulis di layar ponselnya:
"Jangan terlalu cepat terbuai oleh kelembutan wanita di hadapanmu, Devano. Tanyakan pada wanitamu, siapa sebenarnya anak rahasia yang tertulis di lembaran kertas tes DNA yang sengaja disobek dan disembunyikan oleh Mahardika di dalam kotak kayu itu."
Deg!
Jantung Devano berdegup kencang. Pria itu seketika mendongakkan kepalanya, mengarahkan pandangan mata elangnya yang mendadak menajam setajam silet, mengunci lurus ke arah wajah Luna yang masih tampak haru menggenggam kunci rumah.
Selubung misteri masa lalu dan benih keraguan baru kini kembali menghantam benak Devano, meretakkan momen kehangatan yang baru saja tercipta di antara mereka!