NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Macaron dan Mata Hazel yang Dingin

Suara denting alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menciptakan simfoni bising di dalam kantin Le Cordon Bleu siang itu. Udara terasa berat dan lembap, sarat akan aroma kaldu sapi yang gurih, uap mentega yang pekat, dan aroma kopi espresso yang baru saja digiling.

Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang sibuk berdiskusi soal teknik braising atau suhu oven, Kiandra Zanitha justru merasa dunianya sedang membeku.

Ia duduk mematung di meja panjang, menatap piring saladnya dengan tatapan kosong. Garpu plastiknya hanya mengaduk-aduk potongan selada tanpa minat.

Pikirannya tidak ada di sini. Pikirannya masih tertinggal di dapur apartemen Rue de Rivoli, tepatnya pada momen di mana tangan besar Enzo Romano membungkus jemarinya di atas pisau filleting.

"Sialan. Kenapa panasnya masih kerasa sampai sekarang?" batin Kiandra merana.

Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Sensasi kulit kasar Enzo yang bergesekan dengan kulitnya, hembusan napas pria itu di tengkuknya, dan tatapan lapar yang sempat ia tangkap di mata hazel itu... semuanya menempel ketat di retina matanya seperti tato permanen. Ikan Bar semalam benar-benar membawa sial bagi konsentrasi belajarnya hari ini.

"Ki! Salad kamu nggak bakal berubah jadi pasta kalau cuma dipelototin begitu!"

Suara cempreng Mei Ling memecah lamunan Kiandra. Sahabatnya itu menepuk meja dengan cukup keras, membuat Kiandra tersentak hingga garpunya nyaris melompat dari piring.

"Hah? Apa, Mei?" Kiandra mengerjap, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang berceceran.

"Kamu itu yang apa! Dari tadi dipanggil nggak nyahut," Mei Ling mendengus, lalu menyuap potongan besar Croque Monsieur-nya.

"Muka kamu itu lho, Ki. Kayak adonan yang kelupaan dikasih ragi. Bantat!"

Jaxson Cole, yang duduk di seberang mereka, menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya yang kontras dengan kulit gelapnya. Ia baru saja menghabiskan porsi besar steak-nya dan sekarang sedang sibuk mengelap mulut dengan serbet.

"Dia lagi bayangin kencan Michelin jilid dua sama si Pangeran British itu, Mei. Makanya jiwanya lagi terbang ke London," goda Jaxson sambil terkekeh.

Louis Barbier, yang duduk di ujung meja, memotong dagingnya dengan presisi milimeter—sebuah kebiasaan aristokrat yang tidak bisa hilang meski di kantin kampus yang bising. Ia melirik Kiandra sekilas melalui mata abu-abunya yang dingin.

"Harrington memang punya selera yang bagus soal restoran," ucap Louis datar. "Tapi dia terlalu... ekshibisionis. Dia suka pamer, dan itu terkadang sangat melelahkan bagi orang yang menghargai privasi."

Kiandra hanya bisa tersenyum canggung. "Nggak ada kencan jilid dua, Jax. Aku cuma lagi capek saja."

"Capek atau lagi baper?" Mei Ling menyikut rusuk Kiandra, matanya berkilat nakal.

Baru saja Kiandra hendak membalas, suasana di dalam kantin mendadak berubah. Pintu kaca otomatis di depan terbuka dengan desis pelan yang hampir tidak terdengar, namun dampaknya luar biasa. Volume kebisingan di ruangan itu mendadak mereda, seolah-olah ada seseorang yang memutar turun tombol volume radio secara serentak.

Kiandra menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Blake Harrington melangkah masuk. Tanpa jas formalnya, ia hanya mengenakan kemeja biru pucat yang disetrika sangat sempurna hingga tidak ada satu pun kerutan yang terlihat. Lengan kemejanya digulung rapi hingga ke siku, memamerkan jam tangan mewah yang berkilau tertimpa lampu kantin.

Ia berjalan lurus, membelah kerumunan mahasiswa dengan kepercayaan diri seorang penakluk. Blake tidak melirik mahasiswi lain yang mulai berbisik-bisik heboh atau para senior yang menatapnya dengan tatapan iri. Matanya yang biru es terkunci pada satu titik: meja Kiandra.

"Ki! Pangeranmu datang! Siapkan jantungmu!" Mei Ling berbisik histeris, menyikut Kiandra dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang rusuk.

Kiandra segera menegakkan punggungnya. Ia meremas garpu plastiknya hingga benda itu melengkung sedikit. "Blake? Ngapain dia ke sini?"

Blake berhenti tepat di samping kursi Kiandra. Ia meletakkan sebuah kotak kecil berwarna hijau pastel dengan pita emas yang terikat cantik di atas meja, tepat di depan piring salad Kiandra.

"Bonjour, Kiandra. Aku harap harimu secerah wajahmu hari ini," sapa Blake. Suaranya jernih, dengan aksen British yang kental dan sangat berkelas.

"Blake? Kamu sedang apa di sini? Ini kan area mahasiswi kuliner, bukan Sciences Po," ucap Kiandra, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil meski ia merasa seluruh mata di kantin sedang menghujam punggungnya.

Blake tersenyum halus, sebuah senyum porselen yang sangat menawan namun terasa sangat terukur. "Aku hanya ingin mengantarkan ini. Aku lewat di depan butik Pierre Hermé tadi dan teringat padamu."

Jaxson bersiul nyaring, matanya melotot menatap kotak hijau itu. "Gila! Itu macaron Pierre Hermé! Satu bijinya saja bisa buat aku makan siang tiga hari di sini!"

Louis memperhatikan kotak itu, lalu memberikan anggukan kecil yang sangat formal. "Pilihan yang sangat... layak, Harrington. Koleksi musiman mereka memang tidak pernah mengecewakan."

"Aku ingat kamu bilang suka rasa yang autentik," Blake mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Kiandra, membuat jarak di antara mereka menipis.

"Ini koleksi terbatas mereka, Rose and Lychee. Aku pikir ini akan cocok dengan seleramu yang unik."

"Ini terlalu berlebihan, Blake. Kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini cuma buat antar macaron," Kiandra berujar pelan, merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian publik yang begitu masif.

"Untukmu, tidak ada istilah repot, Kiandra," bisik Blake.

Jeda tiga detik yang penuh ketegangan emosional menyelimuti mereka. Kiandra bisa merasakan tatapan tajam dari mahasiswi senior di meja sebelah yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Ia merasa ingin menghilang saja ke dalam lubang wastafel dapur sekarang juga.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu pantofel yang berat dan ritmis terdengar dari arah pintu masuk khusus staf.

Duk... duk... duk...

Suara itu begitu berwibawa, begitu dominan, hingga mampu memecah pesona yang baru saja dibangun oleh Blake. Seluruh saraf di tubuh Kiandra mendadak siaga satu. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma sandalwood yang dingin dan tajam itu sudah lebih dulu memberikan sinyal bahaya.

Enzo Romano melangkah masuk ke area kantin. Ia tidak mengenakan topi Chef-nya, hanya setelan jas hitam formal yang membalut bahu lebarnya dengan sangat sempurna.

Kehadiran Enzo seketika mengubah suhu ruangan menjadi lebih dingin dan mencekam. Ia berjalan menuju mesin kopi, melewati meja Kiandra tanpa berhenti. Namun, tepat saat berada di samping Blake, Enzo memperlambat langkahnya.

Ia berhenti sejenak, melirik kotak macaron hijau pastel di atas meja dengan tatapan yang sangat meremehkan. Lalu, mata hazel-nya yang tajam beralih menatap Blake dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas bahan makanan yang tidak layak masuk ke dapurnya.

Blake menegakkan tubuhnya, menatap Enzo dengan tatapan menantang khas aristokrat yang tidak mau kalah. Dua dominasi pria dengan kasta yang berbeda itu beradu di udara, menciptakan tensi yang sanggup membuat mangkuk sup di meja retak.

"Monsieur Harrington," suara Enzo berat, dalam, dan sarat akan otoritas yang menghimpit. "Aku tidak tahu Sciences Po memindahkan kelas Politik ke kantin kami."

Blake tersenyum tipis, tidak gentar sedikit pun. "Hanya kunjungan diplomatik singkat, Chef Romano."

Enzo mengangguk datar, wajahnya kaku seperti pahatan marmer yang dingin. Ia tidak membalas ucapan Blake, melainkan beralih menatap Kiandra selama dua detik penuh.

Mata hazel-nya berkilat dingin, mengirimkan pesan peringatan yang hanya dipahami oleh Kiandra—sebuah tatapan yang mengingatkan Kiandra pada kejadian di dapur semalam.

"Mademoiselle Zanitha," ucap Enzo rendah. "Pastikan kadar gulamu tidak berlebihan. Itu merusak sensitivitas lidahmu untuk ujian teknik saus besok. Aku tidak mau melihatmu gagal hanya karena sepotong kue manis."

"I-iya, Monsieur," jawab Kiandra refleks, suaranya sedikit bergetar.

Enzo tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju area dosen tanpa menoleh lagi.

Mei Ling menahan napasnya yang sedari tadi tertahan. "Gila... tensinya barusan bisa buat manggang daging sampai medium rare tanpa perlu kompor."

"Chef Romano kelihatan kayak mau telan si Blake bulat-bulat, tapi tetap sok cool," Jaxson menimpali sambil menggelengkan kepala tak percaya.

Blake kembali memusatkan perhatiannya pada Kiandra, seolah gangguan Enzo barusan hanyalah angin lalu yang tidak penting. Ia mengabaikan tatapan dingin Enzo yang masih terasa di ruangan itu.

"Abaikan dia. Dia hanya dosen yang terlalu serius," ucap Blake sambil mengusap punggung tangan Kiandra sekilas dengan ibu jarinya—sebuah sentuhan yang terasa sangat posesif di depan umum.

"Jadi, jam tujuh malam nanti? Aku jemput?"

Kiandra tersentak, segera menarik tangannya dengan halus. "Malam ini? Aku... aku harus belajar, Blake. Ujian besok benar-benar berat."

"Hanya sebentar, Kiandra. Ada pameran seni kecil di Le Marais yang sangat eksklusif. Aku tidak menerima penolakan kedua," Blake berujar dengan nada yang sangat percaya diri, lalu berdiri tegak.

"Aku tunggu di depan gedungmu jam tujuh."

Blake berbalik dan pergi dengan langkah penuh kemenangan, meninggalkan kotak macaron hijau itu sebagai penanda wilayahnya di atas meja.

Kiandra menatap kotak macaron itu, lalu beralih menatap pintu kaca tempat Enzo menghilang tadi. Di dalam kepalanya, sebuah peperangan batin sedang berkecamuk hebat.

"Kenapa tatapan Enzo tadi kerasa lebih panas daripada macaron mahal ini?" batin Kiandra merana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!