Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Skenario yang Terlampaui
"Tiga, dua, satu... Action!"
Lampu kilat studio foto langsung menyambar bertubi-tubi. Sienna berdiri di tengah set dengan latar belakang kain beludru hitam yang elegan. Sebagai supermodel papan atas, tubuh semampainya tampak luar biasa mengenakan gaun malam backless satin hijau tua yang mengekspos punggung mulusnya, serta potongan dada yang cukup rendah untuk memamerkan kalung berlian yang sedang dia promosikan.
Di sudut studio, Declan duduk di kursi lipat bersama kru produksi. Alih-alih membaca naskah, mata tajam pria itu terus tertuju pada Sienna. Rahangnya mengeras, dan tangannya tanpa sadar meremas botol air mineral sampai penyok setiap kali fotografer pria di depan sana menginstruksikan Sienna untuk memiringkan tubuhnya.
"Sienna, tolong bahunya agak diturunkan sedikit ya? Ya, bagus! Dorong dadanya ke depan sedikit agar siluet kalungnya lebih menonjol," teriak sang fotografer.
"Heh." Declan mendengus keras, suaranya yang berat langsung memutus keheningan studio. Dia berdiri dari kursinya, membuat asisten sutradara WGM di sebelahnya kaget.
Declan melangkah lebar memasuki area set pemotretan, mengabaikan kamera WGM yang terus rolling merekam reaksinya. Dia menyambar sebuah jas hitam panjang milik kru yang tergantung di dekat sana, lalu dengan gerakan cepat menyampirkannya ke bahu Sienna, menutupi punggung dan bagian depan gaun seksi cewek itu.
"Eh? Declan? Ini belum selesai loh pemotretannya," protes sang fotografer kebingungan.
"Udah cukup. Kalungnya udah kelihatan jelas dari tadi," sahut Declan dingin, matanya menatap tajam fotografer itu seolah siap mengajak duel. Dia kemudian menoleh ke arah Sienna, merapatkan jas itu di tubuh Sienna dengan protektif. "Lo bisa nggak sih, kalau milih kerjaan itu bajunya yang bener sedikit? Kurang bahan banget."
Sienna cengo, menatap Declan dengan mata melotot. Sifat cegilnya langsung terusik di depan banyak orang. "Dec, ini namanya profesional kerja! Ini gaun haute couture, bukan kurang bahan! Lagian kamera WGM lagi nyala, lo ngapain sih posesif banget?!" bisik Sienna ketus dengan gigi rapat.
"Gue nggak peduli. Di depan kamera atau nggak, gue nggak suka aset... maksud gue, pacar gue dilihatin banyak cowok kayak gini," gertak Declan, telinganya mendadak memerah setelah hampir keceplosan.
Di balik monitor, sutradara WGM justru kegirangan. "Bagus! Tahan kamera di muka posesif Declan! Ini dinamika real-life pasutri yang dicari netizen!"
@luna_slay: GILA DECKAN POSESIF PARAH!!! Gak rela punggung Sienna dilihatin kru cowok wkwkwk.
@supermodel_id: Muka Declan pas masangin jas itu ganteng banget, auranya dapet banget kayak CEO pelindung istrinya!
"Oke, sesi selanjutnya! Karena kemistri kalian di WGM lagi naik daun, pihak brand perhiasan minta foto couple dadakan untuk majalah! Tolong Declan ganti baju pakai setelan tuksedo hitam!" teriak pengarah gaya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sudah berada di atas set yang sama. Declan mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya kelihatan sepuluh kali lipat lebih berkarisma, sementara Sienna tetap mengenakan gaun hijau tuanya, namun kali ini Declan diizinkan berada di dekatnya.
"Oke, posisinya sangat dekat ya. Declan, tolong peluk pinggang Sienna dari belakang. Dagumu sandarkan di bahunya. Sienna, dongakkan kepalamu sedikit menatap Declan," instruksi fotografer.
Sienna menelan ludah. Begitu tubuh tinggi Declan merapat di punggungnya, rasa gugup yang luar biasa langsung menyerang. Tangan kekar Declan melingkar erat di pinggang rampingnya, menarik tubuh mereka tanpa jarak. Sienna bisa merasakan deru napas Declan yang hangat di ceruk lehernya, membuat seluruh bulu kuduknya meremang.
"Dec... lo jangan erat-erat peluknya, gue gak bisa napas," bisik Sienna gagap, tubuhnya mendadak kaku tidak seperti supermodel profesional biasanya.
"Diam, Rose. Gue juga lagi nahan grogi di sini. Badan lo wangi banget, bikin pusing," balas Declan berbisik lirih di telinga Sienna, suaranya terdengar sangat berat dan serak, membuat wajah Sienna langsung merona merah sempurna tanpa perlu blush-on.
"Satu, dua... ya! Tahan! Kontak matanya dapet banget! Sekarang adegan video pendek untuk teaser digital!" seru fotografer. "Kalian berdua saling berhadapan, Declan pegang dagu Sienna, tatap matanya, lalu ucapkan skrip yang ada di kertas ya!"
Mereka berputar saling berhadapan. Tangan Declan yang hangat perlahan naik, menyentuh dagu Sienna, memaksa cewek itu untuk menatap langsung ke dalam manik mata indahnya. Jarak wajah mereka hanya tersisa lima senti. Napas mereka saling berembusan. Sienna bisa melihat dengan jelas bagaimana jakun Declan naik turun karena ikut gugup.
Sesuai skrip di kertas, Declan seharusnya mengucapkan: "Kamu adalah wanita tercantik yang pernah mendampingiku."
Declan menarik napas dalam-dalam. Dia menatap mata kucing Sienna yang polos, cantik natural tanpa makeup tebal. Di dalam otaknya, bayangan tentang Edrick yang akan kembali merebut Sienna, dan ketakutannya akan kehilangan cewek ini untuk kedua kalinya mendadak membuncah. Declan tidak ingin menggunakan kata-kata di kertas itu. Dia ingin ego lelakinya didengar oleh dunia, dan terutama oleh Sienna.
Declan mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat mata Sienna dengan tatapan yang teramat dalam, tulus, dan penuh dengan kepemilikan yang mutlak.
"Sienna... dari dulu sampai sekarang, kau adalah satu-satunya wanita yang ku cintai," ucap Declan dengan nada suara yang bergetar penuh perasaan.
Studio mendadak senyap total.
Sienna membeku, matanya membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Itu... itu tidak ada di dalam skrip! Skripnya tidak sekasar dan sejujur itu! Kalimat 'dari dulu sampai sekarang' dan 'wanita yang kucintai' itu terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang keluar dari lubuk hati Declan yang paling dalam.
"Dec... lo..." Sienna terbata-bata, seluruh tubuhnya gemetar karena terlalu syok dan grogi dihantam kalimat sakti tersebut.
"Cut! Oh my god, itu... itu keren banget! Declan improvisasinya gila parah!" teriak sutradara WGM memecah keheningan dengan heboh. "Kalimatnya dapet banget! Netizen pasti bakal jantungan dengernya!"
Sementara itu di layar monitor penonton, server live stream pemotretan di balik layar itu benar-benar lumpuh total selama dua menit karena jutaan orang menjerit histeris secara bersamaan di seluruh dunia digital.
@pencinta_sweet_banget: GUE MATI!!! DECKAN NGOMONG GITU TANPA SKRIP!!! KAU ADALAH SATU-SATUNYA WANITA YANG KU CINTAI!!!
@netizen_pingsan: Muka Sienna yang syok dan grogi itu beneran real kaget wkwkwk, gemes banget mukanya langsung merah padam sampai ke leher!
@wgm_shipper_gariskeras: Fix ini mah deklarasi perang buat siapa pun yang mau misahin mereka! Declan beneran cinta mati sama Sienna luar dalam!
Declan langsung melepaskan tangannya dari dagu Sienna begitu kata cut terdengar. Dia berbalik dengan kaku, berjalan terburu-buru menuju ruang ganti tanpa menoleh lagi, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah kepalang merah menahan malu dan gugup karena telah melanggar aturan skenario manajemennya sendiri demi sebuah kejujuran.
Sienna masih berdiri mematung di tengah set, memegangi dadanya yang bergemuruh hebat, menatap pintu ruang ganti tempat Declan menghilang dengan perasaan yang benar-benar runtuh. Skenario pernikahan palsu ini sudah terlampaui oleh rasa yang sesungguhnya.