NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Bayang Maut yang Mengintai

Sore itu, sinar matahari mulai meredup, melemparkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh penjuru taman belakang kediaman Aditya. Udara terasa sejuk dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh pula dari kegelapan dan kejahatan yang bersembunyi di balik tembok megah keluarga Tanudjaya. Luna duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu mahoni, di bawah naungan pohon rindang yang daun-daunnya bergoyang pelan tersapu angin sore.

Di tangannya, ia memegang secarik kertas berisi catatan singkat mengenai riwayat hidup Kakek Arthur yang telah disusun oleh Pak Herman. Ia membacanya berulang kali, hatinya terasa perih namun sekaligus penuh kekaguman. Di matanya, sosok kakeknya kini bukan lagi sekadar nama yang terdengar angker dan misterius, melainkan sosok pahlawan yang teguh memegang prinsip meski harus membayarnya dengan kesepian dan penderitaan seumur hidup.

"Kau terlihat sangat tenggelam dalam pikiranmu, Luna."

Suara berat dan rendah itu terdengar dari arah samping, memecah keheningan sore itu. Luna mendongak dengan cepat, menutup kertas di tangannya dan segera berdiri tegak saat melihat sosok Aditya berjalan mendekat dengan langkah tenang namun berwibawa. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh, dan wajahnya yang tampan namun selalu dingin itu kini terlihat sedikit lebih santai, meski sorot matanya tetap tajam dan waspada.

"Tuan..." sapa Luna pelan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Maafkan aku, aku hanya sedang membaca kembali catatan tentang Kakek Arthur. Aku hanya ingin memahami lebih dalam perjuangan beliau, agar aku bisa menjadi kuat seperti beliau."

Aditya berhenti tepat di samping Luna, matanya menatap lekat wajah gadis itu, lalu perlahan ia duduk di bangku panjang itu, memberi isyarat agar Luna kembali duduk di sebelahnya.

"Kau tidak perlu meminta maaf. Itu hal yang sangat baik," jawab Aditya tenang. Ia menatap ke arah taman yang luas dan tertutup pagar tinggi itu, namun pandangannya seolah menembus jauh melewati batas kediaman itu, menuju tempat di mana musuh mereka bersembunyi. "Arthur Tanudjaya adalah pria yang luar biasa, teguh, dan mulia. Dan melihatmu sekarang... aku yakin sekali, kau mewarisi semua kebaikan dan kekuatan jiwa beliau. Kau jauh lebih kuat dari yang kau duga, Luna."

Wajah Luna sedikit memerah mendengar penilaian itu, namun rasa haru perlahan menyelinap di dadanya. Mendapatkan pujian dan pengakuan dari Aditya—pria yang begitu hebat, cerdas, dan sulit dipuaskan—adalah hal yang sangat berharga baginya.

"Terima kasih, Tuan. Semua kekuatan yang aku miliki sekarang, semuanya berkat bimbingan, perlindungan, dan kepercayaan yang Tuan berikan kepadaku. Tanpa Tuan, aku hanyalah gadis malang yang tak berdaya dan tidak tahu apa-apa," jawab Luna dengan tulus, matanya menatap wajah samping Aditya dengan penuh rasa hormat dan ketulusan.

Aditya menoleh, menatap mata gadis itu dalam-dalam. Untuk sesaat, ada kilatan emosi yang sulit diartikan melintas di manik matanya yang gelap itu, namun secepat kilat ia kembali menutupnya rapat, kembali menjadi sosok yang dingin dan penuh perhitungan. Ia berdeham pelan, lalu mengubah topik pembicaraan menjadi hal yang jauh lebih serius dan berat.

"Luna, ada hal penting yang baru saja aku terima informasinya," ucap Aditya dengan nada yang berubah drastis menjadi tegas dan penuh kewaspadaan. Wajahnya yang tenang kini kembali berubah serius, bahkan sedikit mengerikan namun bukan untuk Luna, melainkan untuk ancaman di luar sana. "Informasi dari orang dalam kita menyebutkan bahwa Reynold dan Julian sudah mendengar kabar tentang pertemuan kita di kantor hukum kemarin. Mereka sudah tahu bahwa kau memiliki bukti sah, bahwa kau adalah pewaris tunggal, dan bahwa kau didukung penuh olehku."

Jantung Luna seketika berdegup kencang, rasa dingin perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia teringat kata-kata Aditya sebelumnya, bahwa musuh mereka adalah orang yang kejam dan tidak memiliki belas kasih sedikit pun.

"Mereka sudah tahu..." gumam Luna pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tegar. Ia menatap Aditya dengan pandangan cemas. "Jadi... apa yang akan mereka lakukan, Tuan? Apakah mereka akan datang ke sini? Apakah mereka akan mencoba mengambil paksa bukti-bukti itu dari tangan kita?"

Aditya menggeleng pelan, lalu ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Luna, matanya menatap tajam namun berusaha menenangkan gadis itu. Ia meraih kedua tangan Luna yang dingin dan menggenggamnya erat di antara telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Mereka tidak akan datang secara terang-terangan, karena mereka tahu mereka tidak akan mampu melawan kekuasaanku maupun hukum yang ada di pihak kita," jawab Aditya dengan nada rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. "Tapi... Reynold adalah pria yang gila kekuasaan, serakah, dan sangat kejam. Dia tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang dan merebut apa yang dia anggap miliknya. Sumber informasi kita menyebutkan... Reynold sudah mengeluarkan perintah gelap. Dia tidak akan berusaha melawan hukum atau membantah kebenaran itu lagi. Dia memilih cara yang jauh lebih kotor, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mematikan."

Aditya berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap masuk ke dalam benak Luna, sebelum ia melanjutkan dengan suara yang semakin berat dan dingin.

"Dia berniat menyingkirkanmu, Luna. Selama kau masih hidup dan bernapas, kau adalah ancaman terbesar bagi mereka. Jadi, satu-satunya cara menurut mereka agar masalah ini selesai selamanya... adalah dengan membuat kau tidak ada lagi di dunia ini. Dia mengirim orang-orang bayaran, penjahat profesional yang bekerja dalam kegelapan, untuk membunuhmu."

Darah seolah berhenti mengalir di pembuluh darah Luna. Tubuhnya kaku, matanya terbelalak menatap Aditya dengan rasa tak percaya sekaligus ngeri yang luar biasa. Ia tahu mereka jahat, ia tahu mereka tidak menyukainya, tapi ia tidak menyangka bahwa kebencian dan keserakahan mereka sedemikian rupa hingga rela merenggut nyawa darah daging sendiri demi kekayaan semata.

"Mereka... mereka ingin membunuhku?" tanya Luna berbisik, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya bukan karena ketakutan, tapi karena rasa sakit hati mendalam mengetahui betapa busuk dan jahatnya isi hati keluarga besar itu. "Padahal aku tidak pernah mengganggu hidup mereka, aku tidak pernah meminta apa-apa dari mereka... Aku hanya ingin hakku, aku hanya ingin kebenaran..."

"Kejahatan tidak butuh alasan yang masuk akal, Luna. Mereka jahat hanya karena mereka ingin memiliki segalanya sendirian," jawab Aditya tegas, ia mengusap pelan lengan Luna berusaha mengembalikan keberanian gadis itu. "Tapi dengar aku baik-baik. Selama aku bernapas, selama aku masih berdiri di dunia ini, dan selama kau berada di bawah perlindunganku... tidak ada satu pun orang jahat, tidak ada kekuatan apa pun, dan tidak ada ancaman apa pun yang mampu menyentuh rambut kecilmu saja. Mengerti?"

Nada suara Aditya begitu tegas, begitu berwibawa, dan begitu meyakinkan hingga rasa takut yang sempat merayap perlahan menghilang digantikan oleh rasa aman yang besar. Luna mengangguk perlahan, menatap wajah Aditya yang begitu tampan namun mengerikan bagi musuh-musuhnya itu.

"Aku mengerti, Tuan. Aku percaya sepenuhnya pada Tuan. Aku tahu Tuan tidak akan membiarkan sesuatu buruk terjadi padaku," jawab Luna dengan suara yang kembali mantap.

Aditya menghela napas panjang, lalu ia berdiri tegak, kembali menjadi sosok pemimpin yang mengatur segala strategi pertahanan. Ia menatap ke arah sekeliling taman itu, ke arah pagar tinggi, ke arah menara pengawas, dan ke arah para pengawal yang berpatroli dengan senjata ready di tangan.

"Karena bahaya sudah terbuka dan ancaman nyawa sudah di depan mata, maka keamananmu akan dinaikkan ke tingkat tertinggi, Luna," ucap Aditya dengan perintah yang tegas. "Mulai detik ini, kau tidak boleh keluar dari lingkungan rumah ini kecuali aku yang mengantarmu sendiri. Di dalam rumah pun, kau tidak boleh berjalan sendirian. Dua pengawal wanita akan selalu ada di dekatmu, bahkan saat kau tidur sekalipun. Gerbang rumah ini dikunci ganda dan dijaga ketat dua puluh empat jam. Tidak ada makanan, minuman, atau barang apa pun yang boleh masuk ke dalam rumah ini tanpa diperiksa dan dicoba keamanannya terlebih dahulu. Aku tidak akan memberi mereka celah sekecil apa pun untuk mendekat atau melukaimu."

Luna mendengarkan semua aturan itu dengan patuh, ia paham bahwa ini bukanlah pemborosan atau ketakutan berlebihan, melainkan langkah mutlak demi keselamatan nyawanya. Musuhnya bermain kotor dan curang, maka mereka pun harus bertindak seketat dan secepat mungkin untuk mengantisipasi segala serangan.

"Baik, Tuan. Aku akan menuruti semua perintah Tuan dengan patuh. Aku tidak akan kemana-mana tanpa izin dan tanpa pengawalan. Aku berjanji akan menjaga diriku sendiri sebaik mungkin agar tidak menyusahkan Tuan," janji Luna dengan sungguh-sungguh.

Aditya mengangguk puas. Ia berjalan mendekati pagar pembatas taman, menatap ke arah jalan raya yang terlihat samar dari kejauhan. Di luar sana, di balik keramaian kota, mata-mata Reynold pasti sudah bersembunyi, mengawasi setiap gerak-gerik, menunggu celah, dan merencanakan serangan maut yang mematikan.

"Reynold mengira dengan menyingkirkanmu, dia akan memenangkan segalanya dan hidup tenang dengan segala kekayaannya," gumam Aditya pelan, namun senyum tipis yang mengerikan dan penuh ancaman mengembang di bibirnya. "Dia salah besar. Dia tidak tahu bahwa dengan berani mengancam nyawamu, dia tidak sedang melawan seorang gadis pewaris saja... tapi dia sedang membangunkan amarahku, amarah Aditya Pratama. Dan saat aku marah, saat orang yang aku lindungi disakiti atau diancam... aku tidak akan berhenti sebelum aku menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, sampai mereka menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini."

Suasana di sekitar mereka terasa mendadak lebih dingin dan mencekam. Aura kejam dan berkuasa yang terkenal dari Aditya Pratama kembali terpancar kuat. Bagi dunia bisnis, Aditya adalah CEO yang cerdas dan tak terkalahkan. Namun bagi musuh-musuhnya, Aditya adalah maut yang berjalan, sosok yang harus dihindari mati-matian karena tak ada yang selamat setelah menjadi lawannya.

Aditya berbalik menatap Luna kembali, tatapannya kembali lembut namun tetap penuh kewaspadaan.

"Malam ini akan ada perubahan penjagaan dan pengamanan tambahan. Jangan khawatir dengan apa pun, cukup istirahat dan tenangkan pikiranmu. Perang ini baru saja memasuki babak yang paling berbahaya, tapi percayalah... akhiran dari cerita ini adalah kejatuhan mereka dan kemenangan kita."

Luna mengangguk mantap, ia berdiri dan berjalan mendekat ke sisi Aditya, merasa sangat kecil namun sangat terlindungi di samping tubuh kokoh lelaki itu. Ia menatap langit senja yang mulai gelap, di mana bintang-bintang mulai bermunculan. Di balik kegelapan itu, bahaya mengintai, namun di sampingnya ada cahaya pelindung yang paling kuat.

"Siap atau tidak, bahaya itu sudah ada di depan mata, Tuan. Aku siap menghadapi apa pun bersama Tuan," ucap Luna tegas.

Aditya tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk perlahan. Tangannya bergerak perlahan, menepuk pelan bahu Luna sebagai isyarat dukungan dan perlindungan, sebelum akhirnya ia membimbing gadis itu masuk kembali ke dalam rumah yang aman itu.

Di kejauhan, di balik rimbunan pepohonan di seberang jalan, sosok bertudung gelap mengamati kediaman mewah itu dari balik lensa teropong. Di tangannya, pesan singkat baru saja masuk: Tunggu perintah selanjutnya. Segala cara boleh dilakukan. Pastikan target tidak selamat.

Perang nyawa telah dideklarasikan. Di satu sisi ada kejahatan yang licik dan mematikan. Di sisi lain ada kebenaran, keadilan, dan perlindungan kekuatan terbesar. Malam itu, pertarungan untuk bertahan hidup dan merebut hak milik akan segera memasuki babak yang paling gelap dan berdarah.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!