Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Layar dan Di Dalam Hati
Sejak hari itu, dunia di kediaman besar itu berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak lagi ada kebisuan yang menyesakkan, tidak lagi ada tatapan dingin atau ejekan pedas. Yang ada hanyalah kehangatan yang perlahan namun pasti memenuhi setiap sudut ruangan.
Choi Heesung—atau lebih tepatnya Zee Chou—menjadi sosok yang benar-benar baru. Ia menepati janjinya. Ia mulai memperlakukan Hye-ri bukan lagi sebagai istri kontrak, melainkan wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
Pagi hari, Hye-ri tidak lagi bangun sendirian. Ia akan terbangun karena aroma kopi dan suara langkah kaki pelan di dekat tempat tidurnya. Membuka mata, ia akan mendapati Heesung sudah berdiri di sana, menatapnya dengan senyum lembut yang membuat jantungnya berdebar kencang.
"Bangun, Nyonya Chou. Sarapan sudah siap. Dan hari ini aku tidak punya jadwal pagi, jadi aku akan menemanimu makan," ucap Heesung sambil duduk di pinggir kasur, menyisir lembut rambut Hye-ri yang berantakan dengan jari-jarinya.
Hye-ri yang masih mengantuk akan tersenyum malu-malu, menutup wajahnya dengan selimut. "Kau itu ya... kemarin saja masih musuhan, sekarang kok manis sekali? Apa ada obatnya kalau tiba-tiba berubah begini?"
Heesung tertawa renyah, suara tawanya yang lepas dan bahagia sering terdengar mengisi rumah itu sekarang. Ia menarik selimut perlahan, menatap wajah Hye-ri lekat-lekat.
"Aku sedang menebus kesalahanku, Sayang. Menebus waktu-waktu bodoh di mana aku menyiksamu dengan sikap burukku. Dan percayalah... ini bukan perubahan tiba-tiba. Perasaan ini sudah ada sejak lama, hanya saja aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Momen-momen sederhana seperti itu kini menjadi makanan hati mereka berdua. Di meja makan panjang yang dulu terasa sepi dan dingin, kini dipenuhi obrolan ringan, canda tawa, dan tatapan mata yang penuh arti. Heesung akan bercerita tentang hal-hal konyol yang terjadi di agensi, tentang anggota grupnya yang kacau, atau tentang kelelahan latihan tari. Dan Hye-ri akan mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan tanggapan atau sekadar mengusap punggung tangan suaminya itu sebagai tanda dukungan.
Namun, perubahan terbesar justru terlihat saat Heesung harus kembali menjadi Choi Heesung sang idola.
Di depan publik, di atas panggung, di depan kamera... ia tetaplah bintang bersinar jutaan watt. Ia tetap memancarkan pesona, keramahan, dan kesempurnaan yang diharapkan penggemarnya. Tapi sekarang, ada yang berbeda di matanya. Tatapannya tidak lagi kosong atau lelah. Di setiap senyum yang ia berikan, ada kilatan kebahagiaan rahasia yang hanya dimengerti oleh satu orang saja: Hye-ri.
Setiap kali ada momen wawancara di mana pewawancara bertanya tentang cinta atau tipe wanita ideal, Heesung akan tersenyum misterius, menatap lensa kamera seolah menembus jauh ke belakang layar tempat istrinya menonton.
"Tipe ideal saya? Hmm..." jawab Heesung dengan suara lembut namun penuh penekanan. "Saya menyukai wanita yang tenang, wanita yang tulus, wanita yang bisa membuat rumah menjadi tempat paling nyaman di dunia. Wanita yang mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi bagiku... dia adalah satu-satunya hal yang paling luar biasa."
Jawaban itu selalu membuat penggemarnya berteriak histeris, namun di rumah, di depan layar televisi, Hye-ri akan merasakan pipinya memanas dan hatinya berbunga-bunga. Ia tahu kata-kata itu untuknya. Semua itu untuknya.
Suatu sore, Hye-ri sedang berjalan-jalan santai di taman belakang, menikmati udara sore yang sejuk, saat ponselnya berdering. Nama peneleponnya tertulis: Si Paling Populer 🎤
Hye-ri tersenyum sendiri melihat nama kontak yang ia buat, lalu mengangkatnya dengan nada ceria.
"Halo? Bukannya kau sedang ada syuting iklan di Pulau Jeju? Kenapa menelepon? Apa sudah selesai?"
Suara Heesung terdengar di seberang sana, agak berisik karena latar belakang keramaian, namun suaranya terdengar manja dan rindu.
"Belum, masih istirahat sebentar. Tapi aku rindu. Aku tidak bisa fokus kalau tidak mendengar suaramu dulu," keluh Heesung pelan. "Hye-ri... di sini indah sekali. Lautnya biru, langitnya cerah. Tapi sayang sekali..."
"Sayang kenapa?" tanya Hye-ri sambil duduk di bangku taman.
"Sayang sekali... kamu tidak ada di sini di sampingku. Seharusnya kita berdua yang ada di sini, berjalan berdua, memandang laut berdua. Bukan aku sendirian di sini, dan kamu di sana."
Hye-ri tertawa kecil, hatinya terasa hangat sekali. "Dasar manja. Kau kan sedang bekerja. Nanti kalau ada waktu libur panjang, kita ke sana berdua. Kita akan pergi ke tempat yang indah, tempat di mana tidak ada siapa pun yang mengenalmu. Di mana kau bisa menjadi Zee Chou sepenuhnya."
"Janji ya?" suara Heesung terdengar berbinar. "Kalau begitu aku akan bekerja keras, supaya bisa cepat selesai dan pulang ke pelukanmu. Ingat ya, jangan tidur duluan malam ini. Aku akan pulang larut, tapi aku ingin melihat wajahmu sebelum aku tidur. Jangan kunci pintu kamarmu... aku ingin masuk."
Hye-ri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum malu-malu. Percakapan manja itu menjadi makanan rindu mereka berdua. Namun, mereka lupa... bahwa di dunia hiburan, dinding punya telinga, dan mata ada di mana-mana.
Dua hari kemudian.
Berita utama di semua portal berita hiburan meledak dengan judul besar yang mencolok:
"BENARKAH CHOI HEESUNG SEDANG MENJALIN HUBUNGAN RAHASIA? FOTO BERSAMA WANITA ASING DI PULAU JEJU BOCOR!"
Jantung Hye-ri seolah berhenti berdetak saat membaca berita itu di ponselnya. Tangannya gemetar hebat. Di layar, ada sebuah foto kabur yang diambil dari kejauhan. Di sana terlihat sosok Heesung yang sedang berdiri di pinggir pantai, memegang ponselnya dan tersenyum sangat lebar—senyum yang begitu bahagia, begitu tulus, senyum yang jarang ia perlihatkan di depan umum.
Dan di keterangan beritanya tertulis: "Saksi mata mengatakan, Tuan Choi terlihat sedang menelepon seseorang dengan sangat mesra. Di akhir percakapan, ia sempat berbisik kata 'Aku cinta kamu' ke ponselnya. Diduga kuat ada wanita misterius yang menjadi kekasih rahasia sang idola. Siapakah dia?"
Kondisi agensi langsung kacau balau. Telepon berdering terus-menerus, wartawan berteriak minta konfirmasi, dan komunitas penggemar terbelah menjadi dua kubu: ada yang marah dan kecewa, ada pula yang berharap itu hanya fitnah.
Malam itu, Heesung pulang dengan wajah lelah dan tegang. Begitu masuk ke rumah, ia langsung ditarik oleh Hye-ri ke ruang tengah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hye-ri cemas, matanya memerah karena menahan tangis. Ia memegang kedua lengan suaminya, memeriksa apakah ada luka atau masalah. "Maafkan aku... ini semua karena aku. Kalau saja kita tidak saling menelepon dengan nada seperti itu... kalau saja kita lebih berhati-hati... karirmu jadi terancam karena aku."
Heesung justru tersenyum tipis, lalu menarik tubuh Hye-ri masuk ke dalam pelukannya yang erat dan hangat. Ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut, menenangkan hati istrinya yang sedang kacau.
"Jangan bicara begitu, Sayang. Ini bukan salahmu. Dan aku sama sekali tidak menyesal," bisik Heesung di telinga Hye-ri. Ia mundur sedikit, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Matanya yang indah itu berkilat penuh tekad.
"Berita itu benar. Aku memang sedang berbicara dengan wanitaku. Aku memang tersenyum bahagia karenanya. Dan aku memang mengatakan aku mencintainya. Semua itu benar, dan aku tidak akan menyangkalnya."
"Tapi Heesung! Kalau kau mengakuinya, semuanya akan hancur! Kontrakmu, gambarmu, posisimu..." potong Hye-ri panik, air matanya akhirnya jatuh juga.
Heesung mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, lembut dan penuh kasih sayang.
"Biarkan saja. Biarkan mereka bicara apa saja. Dengar aku, Hye-ri..." nada suaranya menjadi serius dan berat. "Dulu aku berpikir bahwa karir, ketenaran, dan sorakan penggemar adalah segalanya. Aku rela melepaskan apa saja demi itu. Tapi sekarang... aku sadar. Apa gunanya menjadi bintang terbesar, dicintai ribuan orang, kalau saat pulang ke rumah aku sendirian? Apa gunanya punya segalanya, kalau aku tidak punya kamu?"
Heesung menggenggam tangan Hye-ri, menempelkannya ke dadanya, tepat di jantungnya yang berdetak kencang.
"Mereka mencintai Choi Heesung di atas panggung. Tapi kamu... kamu mencintai Zee Chou yang biasa saja, yang punya banyak kekurangan. Dan cintamu itu jauh lebih berharga bagiku daripada jutaan pujian sekalipun. Kalau aku harus memilih antara dunia dan kamu... aku memilihmu. Selamanya aku memilihmu."
Hye-ri terisak dalam pelukan suaminya, perasaan bahagia dan takut bercampur aduk. "Tapi aku tidak mau menjadi penghancur mimpimu, Heesung. Aku tidak mau orang-orang menyalahkanmu, atau menyalahkanku."
Heesung tersenyum miring, senyum gagah dan penuh percaya diri. Ia mengusap pipi istrinya, lalu mengecup keningnya lama.
"Kau bukan penghancur, Sayang. Kau adalah kekuatanku. Dan tenang saja... aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak akan sembarangan bertindak. Tapi satu hal yang harus kau tahu... aku sudah lelah menyembunyikanmu. Aku sudah lelah menyembunyikan kebahagiaanku. Aku ingin suatu hari nanti, berdiri di depan dunia, dan dengan bangga mengatakan: 'Wanita inilah yang membuatku bertahan. Wanita inilah yang aku cintai. Dan wanitaku inilah yang paling hebat.'"
Malam itu, mereka berdua duduk berpelukan di ruang tengah, di tengah kegelapan yang tenang. Di luar sana, badai sedang bergemuruh. Isu, gosip, dan tekanan semakin kuat mendekat. Agensi mengancam, investor khawatir, publik bertanya-tanya.
Tapi di dalam rumah itu, ada cinta yang kokoh seperti karang.
Keesokan harinya, Heesung dipanggil mendesak oleh pimpinan agensi. Sebelum pergi, ia berpamitan pada Hye-ri dengan mencium kening, bibir, dan kedua tangan istrinya dengan penuh hormat dan cinta.
"Tunggu aku pulang. Apa pun yang terjadi hari ini, ingatlah satu hal... kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Tidak ada yang bisa mengubah itu," ucapnya tegas.
Hye-ri mengangguk, menatap suaminya pergi dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, hari ini adalah pertempuran terbesar mereka. Pertempuran antara cinta dan dunia, antara rahasia dan kebenaran.
Apakah Heesung akan mengalah dan kembali menyembunyikan segalanya? Atau akankah ia berani mengambil risiko terbesar dalam hidupnya demi mempertahankan wanita yang dicintainya?