Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Gavin
Marta mengerang. Karena mendadak Azalia tidak bisa dihubungi. Tuan Mahesa yang merupakan ayah tiri Azalia ikut marah.
"Jika kita tidak bisa membawa Azalia ke tangan Tuan Rafi, kita benar-benar akan tinggal di kolong jembatan!"
"Aku juga sudah berusaha mencarinya selama ini, tapi tidak ketemu, Mahesa!" Marta mendengus, melipat tangannya di dada.
"Mencari satu orang saja kau tidak becus! Aku sibuk mengurus perusahaan, apa harus aku juga yang mengurus anak sialan mu itu, hah?!"
"Mana yang kau sebut mengurus perusahaan?Mengurus apa hah? Selama ini kau hanya membuat masalah saja di perusahaan. Kau hanya membuat perusahaan terus merugi. Selalu aku yang mencari dana untuk menutupi kerugian yang kau buat. Jangan hanya bisa menyalahkan ku, jika dirimu pun tidak becus."
"Berani sekali kau mengatakan itu?" Mahesa menggeram marah, ia menunjuk tepat di wajah Marta. "Selama ini aku juga berusaha untuk memenuhi gengsimu yang luar biasa itu! Jika saja kau bisa sedikit berhemat, kita masih punya dana untuk menutup masalah sekarang."
Martha melengos dengan kesal, duduk di sofa, menelan kebenaran itu.
"Sekarang kita tidak punya pilihan selain menikahkan anakmu itu dengan Tuan Rafi. Jika tidak, kita akan hancur, Marta!"
Marta meremas tangannya. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus tinggal di rumah sempit nanti. Lalu dia tiba-tiba berkata, "Kenapa tidak kau saja yang mencarinya, koneksimu lebih banyak."
"Kau bercanda?"
"Kita tidak punya pilihan lain, kan?"
"Aku sama sekali tidak mengenal anakmu itu, bagaimana mungkin aku mencarinya?"
"Sial!" Martha kembali meledak. Baru saja dia merasa bisa bernapas, sekarang gurat wajahnya menegang lagi.
"Aku juga tidak tahu siapa saja teman Azalia, selama ini aku tidak memperhatikannya."
Mahesa merasa kepalanya akan meledak sekarang. Ia berteriak dengan keras, "Ya ingat-ingat lagi, Marta..!"
"Aku tidak tahu, bagaimana aku bisa mengingatnya? Lagi pula... Selama Azalia belum menikah, dia hanya sibuk dengan sekolahnya, mana kutahu dia punya kenalan diluar sana."
Tiba-tiba Mahesa menarik vas bunga di sisinya, membantingnya ke lantai. "Kau saja tidak tahu menahu soal anakmu! Apalagi aku."
Marta tersentak. Wajahnya berubah suram.
Mahesa pergi meninggalkannya.
"Azalia sialan! Kalau saja anak itu tidak melarikan diri, tidak mungkin keributan ini terjadi. Bahkan sekarang Azalia juga berani mematikan ponselnya sampai dia tidak bisa menghubunginya lagi.
Benar-benar brengsek. Martha membanting ponselnya ke lantai.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Gavin baru menemukan tempat kost Azalia setelah 2 hari berlalu. Tempat kost itu sudah kosong, tidak ada barang-barang Azalia yang tersisa.
Kasur yang tergeletak di lantai tanpa ranjang itu juga sudah bersih. Meja kayu kecil di sisinya tidak ada satu pun barang.
Jadi selama ini Azalia tinggal di kamar kos sempit ini?
Gavin terduduk di atas kasur berpola kotak-kotak itu, menatap semua bagian kamar itu dengan satu kali pandang. Lalu pandangannya berhenti di permukaan bantal tepat di samping telapak tangannya.
Mata Gavin menyipit, seperti melihat sesuatu yang samar.
Noda....
Darah?
Noda berwarna merah. Meski samar, tapi itu masih bisa ia lihat, Gavin memperhatikannya lebih seksama.
Memastikan noda di bekas bantal Azalia adalah darah.
Kenapa ada noda darah di bantal bekas Azalia?
Jantung Gavin berdebar dengan debaran aneh. Ini bukan sekali dua kali dia melihat noda darah, di tempat tidur Azalia dirumah, dia juga melihat bekas serupa.
Bukan hanya itu, tong sampah di kamar Azalia, selain penuh dengan robekan kertas, juga ada banyak tisu bekas darah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Gavin meremat bantal itu dengan kuat, membuangnya ke lantai.
Dia harus segera menemukan Azalia.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pintu ruangan Dokter Wahyu dibuka tiba-tiba. Pria paruh baya itu sedikit terkejut melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Sebagai seorang pebisnis muda yang sering dipublikasikan media, Dokter Wahyu mengenali wajah Gavin.
"Pak Gavin?"
"Aku ingin tahu kondisi pasien Anda." Suara Davin dalam dan tegas, "Azalia, dia istriku."
Dokter Wahyu tidak segera menjawab. Ia menutup berkas yang sedang ia baca, lalu menatap Gavin dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Maaf, sesuai prosedur, saya tidak bisa memberikan informasi pasien tanpa persetujuan pasien itu sendiri."
Gavin sudah menduga jawaban itu, tapi tetap saja hal itu memantik emosinya. Rahangnya mengeras.
"Aku suaminya, apa itu belum cukup?"
Dokter Wahyu menghela napas. "Saya tahu, tetapi tetap ada aturan yang harus saya patuhi."
Gavin menatap tajam. Ia tidak pernah suka dipersulit, terutama dalam keadaan seperti ini. "Aku tidak ingin bermain-main, Dok."
"Saya juga tidak." Dokter Wahyu bersandar ke kursinya. "Informasi pasien bersifat rahasia, dan saya tidak bisa memberikannya begitu saja, meskipun Anda adalah suaminya."
Gavin mengepalkan tangan. Kesabarannya kian menipis. "Lalu bagaimana aku bisa tahu apa yang terjadi padanya?"
Dokter Wahyu menatap Gavin dalam-dalam sebelum akhirnya menghela napas. "Ada banyak hal yang seharusnya Anda sadari sejak awal, pak Gavin. Jika anda benar-benar peduli, seharusnya anda memperhatikannya sebelum terlambat."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Gavin perkirakan. Ia menahan diri untuk tidak bereaksi. Matanya tetap tajam, tetapi sesuatu di dalam dirinya mulai bergetar.
Ia harus segera cari cara lain, dokter Wahyu tidak bisa diajak kompromi.
"Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres." Suara Gavin sedikit lebih tenang. "Aku menemukan bekas darah di kamarnya. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, tapi sekarang dia menghilang. Dan dokter ingin aku hanya diam?"
Dokter Wahyu tidak langsung menjawab. Sorot matanya berubah lebih lembut, seolah menimbang sesuatu.
Akhirnya, ia menurunkan sedikit pertahanannya. "Saya tidak bisa memberikan dokumen medisnya. Tapi..." Ia menarik napas pelan. "Saya hanya bisa mengatakan bahwa kondisi Azalia... Lebih buruk dari yang anda kira."
Dunia Gavin terasa berguncang sesaat.
"Seberapa buruk?"
Dokter Wahyu menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, " Azalia tidak memiliki banyak waktu."
Jantung Gavin berdetak kencang. Apa makna tidak memiliki banyak waktu?
Sebuah kenyataan yang tidak pernah ia pertimbangkan kini menghantamnya dengan keras.
Azalia sedang sakit parah, tapi setiap hari hanya mengkonsumsi mie instan? Apa gadis itu gila?
Detik itu juga Gavin menghubungi anak buahnya lagi, meminta dia mencari Azalia sampai mereka mendapatkannya. Gavin juga tidak peduli jika mereka harus mengobrak abrik rumah keluarga Azalia.
Hingga tengah malam Gavin menunggu kabar mereka. Saat ponselnya berdering, Gavin segera mengangkatnya.
"Bicara!"
"Tuan, kami belum menemukan keberadaan istri anda. Tapi saya membawa kabar kalau ternyata keluarga Sanjaya sudah merencanakan pernikahan istri anda dengan seorang pengusaha kelapa sawit, dari pulau Kalimantan."
Raut wajah Gavin berubah. Seluruh wajahnya memerah dan menegang.
Berani sekali keluarga Sanjaya? Di saat status mereka belum sah bercerai, keluarga Sanjaya sudah merencanakan pernikahan untuk Azalia.
"Dalam waktu satu jam, aku ingin mendengar perusahaan Sanjaya hancur total." Ucap Gavin dingin, giginya gemeretak marah.
########
Sesuai janji ya....
Mencapai target, update langsung author hari ini...
Happy Reading..
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...