Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pintu akhirnya terbuka, dimana Kay segera bergegas menghampirinya. Dokter kemudian keluar. “Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan sedikit pendarahan akibat benturan dan sedikit tergores. Tidak ada luka serius.”
Kay menghela napas panjang, hampir terhuyung karena lega. “Apa aku bisa masuk menemuinya?”
“Bisa. Tapi jangan membuatnya stress, dia butuh istirahat sekarang.”
Kay mengangguk dan melangkah masuk. Dimana Axlyn sudah duduk bersandar, wajahnya masih pucat namun tersenyum tipis saat melihatnya.
“Kau membuatku takut,” Kay mendekat, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kupikir kau terluka parah.”
Axlyn menatapnya dalam-dalam. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, terutama tentang dua detak kecil yang kini menjadi rahasia di antara dirinya dan Tuhan. Tentang dua anak yang mungkin akan mewarisi mata lelaki itu.
“Aku tidak apa-apa,” jawabnya pelan. “Hanya sedikit lelah dan mungkin… sedikit tergores.”
“Sedikit tergores katamu?” Kay sedikit menggeram kesal, “Memangnya kau tidak lihat bekas darahmu di pakaianku ini, Hah?”
Axlyn hanya menunduk, memilih diam menerima kemarahan Kay. Ia pikir Kay terlihat marah dan kesal saat ini karena dirinya yang menodai kemeja mahal yang Kay kenakan dengan darahnya. Padahal Kay marah dan kesal, sebab ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada wanita itu. Jika ditanya alasannya, Kay jelas tidak mengetahuinya. Yang pasti ia benar-benar merasa takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Axlyn.
“Maaf, karena aku kemeja mahal anda….”
“Apa sebuah kemeja yang sedang aku perhitungkan?” sela Kay kesal sendiri melihat Axlyn yang seperti salah tangkap dengan ucapannya barusan.
“Lalu apa yang—"
Perkataan Axlyn seketika terhenti ketika tak lama kemudian, suara langkah kecil terdengar di lorong. Gadis kecil itu, Hezlyn muncul di ambang pintu. Rambutnya berantakan, matanya sembab. Ia seharusnya berada di ruangan Ceo, tapi kabar tentang Axlyn yang terluka sampai juga ke telinganya melalui salah satu pengawal lainnya yang tak sengaja melihat kepergian Kay dengan membawa Axlyn menuju ke klinik perusahaan. Disusul dengan kedatangan Noah dan beberapa pengawal lainnya yang ingin memastikan keadaan Axlyn.
“Papah Kay…” suaranya gemetar. “Kak Alyn… apa benal Kak Alyn terluka karena Elyn?”
Mata Hezlyn sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. Kay pun segera menoleh. Hatinya seperti diremas melihat kesedihan dan rasa bersalah di wajah gadis kecil itu. Memang benar Hezlyn adalah alasan Axlyn berdiri di garis depan. Gadis kecil yang harus Axlyn lindungi sebagai pengawal pribadi, target kedua yang diincar musuh karena masalah besar yang tengah keluarga Gustavo hadapi saat ini.
Kay lantas berlutut di depan Hezlyn, menyamakan tinggi mereka. Ia ingin terlihat kuat, tapi matanya yang memerah mengkhianatinya. Anak sekecil dan semanis ini harus menjadi bahan taruhan orang dewasa yang menginginkan kekuasaan.
“Bukan,” kata Kay tegas, meski suaranya masih bergetar. “Dia terluka karena memilih melindungi yang ia anggap penting. Itu bukan salahmu.”
“Tapi Kak Alyn—”
“Cukup, Hezlyn.” Kay memegang bahu kecil itu dengan hati-hati. “Kalau ada yang harus disalahkan, itu aku. Aku yang tidak bisa melindungimu maupun Kak Alyn-mu dengan baik.”
Noah sedikit terkejut melihat sikap protektif yang Kay tunjukan kepada Axlyn. Bahkan sempat terlintas dibenaknya, kalau Kay mulai mengingat tentang wanita itu. Sebab biasanya Kay akan menyuruh orang lain untuk mengurus pengawal yang terluka, tetapi terhadap Axlyn ia sendiri yang menggendongnya dan bahkan menemaninya sampai pemeriksaan serta perawatannya selesai. Kay masih berdiri di sisi Axlyn.
“Axlyn, bagaimana keadaanmu?” tanya Noah. “Apakah lukamu parah?”
“Aku sudah baik-baik saja… hanya luka gores,” jawab Axlyn lirih.
“Setelah membaik, kembali ‘lah ke Mansion. Istirahatkan tubuhmu sampai kau benar-benar siap untuk kembali melanjutkan tugasmu,” perintah Kay dengan nada bicara seolah tak terbantahkan.
“Ba-baik, Tuan Kay!” Axlyn hanya pasrah.
Setelah mendengarkan jawaban yang ia tunggu, Kay lalu beralih menatap Noah seraya berkata, “Noah, bagaimana dengan persiapan rapatnya? Kita tidak terlambat untuk melangsungkan rapatnya, bukan?”
“Semuanya sudah siap! Karena itulah aku datang ke sini, selain memastikan keadaan Axlyn aku juga ingin menyampaikan padamu kalau rapatnya akan segera di mulai,” jelas Noah.
“Kalau begitu, ayo pergi membereskan para sampah itu sekarang!” ujar Kay yang berniat mengangkat tubuh Hezlyn untuk ikut dengannya.
“Papah, Elyn ingin tetap di cini menemani Kak Alyn… boleh ‘kan?” pinta gadis itu dengan tatapan memohon.
“Baiklah, tapi jangan ganggu Kak Alyn beristirahat ‘yah?” Kay mengijinkan.
“Mmm, tentu Papah! Elyn janji ndak akal!” balasnya penuh semangat.
“Kalian tetap berjaga di sini. Jika terjadi sesuatu segera beritahu kami,” pesan Kay pada para pengawal yang lain.
“Baik, Tuan! Kami mengerti.” Sahut mereka serentak.
...****************...
Tanpa buang waktu lagi, Kay dan Noah berjalan menuju lantai tertinggi gedung kaca yang menjulang angkuh, suasana ruang rapat utama terasa seperti medan perang tanpa senjata. Logo perusahaan terpampang besar di dinding sebagai simbol kejayaan yang kini tercoreng oleh pengkhianatan.
Kay duduk di kursi utama, setelan hitamnya rapi sempurna, wajahnya tak menunjukkan emosi sedikit pun. Di hadapannya, belasan direksi dan manajer duduk dengan punggung kaku. Laporan kerugian terpampang di layar proyektor dimana angka-angka merah yang mencolok. Namun, semua itu masih belum ada apa-apanya dengan berkas yang kini berada di tangan Noah.
“Hampir setara satu triliun,” suara Kay datar, namun tajam seperti pisau. “Informasi penting dalam perusahaan ini bocor hanya dalam tiga bulan terakhir.”
Tak seorang pun berani mengatakan sesuatu. Jangankan bicara, sekadar menatap matanya saja mereka sudah merasa seperti sedang dikuliti. Kay menutup map di depannya dengan suara tegas.
“Aku—Tidak, lebih tepatnya Tuan Leon sudah memberi kesempatan baik untuk kalian mengaku dan memperbaiki diri. Namun, apa yang kalian lakukan padanya, hmm?”
Sunyi, suasana bahkan semakin menegang dibandingkan pertama kali Kay masuk ke dalam ruangan rapat itu. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Selain itu, tidak ada yang berani bicara atau bahkan sekadar bernapas pun mereka rasanya kesulitan.
“Sekarang bahkan ada beberapa kursi yang telah kosong. Kalian pikir bisa melarikan diri dengan mudah setelah membuat masalah di perusahaan ini?” Kay kemudian menoleh sedikit ke arah pintu.
“Suruh mereka masuk.”
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌