NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Orang yang Berdiri di Belakangku

Are menatap dokumen itu sekilas, lalu kembali menatap Atyasa. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang untuk orang baru yang jadi pusat perhatian seisi ruangan.

“Pertama,” katanya pelan, “saya akan berhenti bernegosiasi dari posisi defensif.”

Beberapa direksi langsung saling pandang. Atyasa tidak bergerak.

Are melanjutkan. “Orion menahan valuasi karena mereka tahu kita terlalu butuh merger ini. Jadi selama posisi itu tidak berubah, angka tidak akan pernah bergerak.”

Suasana mulai berubah.

“Solusinya?” tanya salah satu direktur tanpa sadar.

Are menjawab tanpa ragu. “Ciptakan ilusi bahwa kita punya opsi lain.” Ia menambahkan dengan nada tetap datar, “Pasar selalu menghargai pihak yang bisa berjalan pergi.”

Beberapa orang terlihat benar-benar terkejut. Salah satu direktur keuangan bahkan perlahan mengangguk.

Atyasa tidak tersenyum lagi. Tatapannya menajam. Dan sejak rapat dimulai, kali ini ia terlihat benar-benar memerhatikan.

Ruangan masih sunyi beberapa detik sebelum akhirnya suara berdeham terdengar.

Direktur senior membuka catatannya. “Itu… sebenarnya pendekatan yang masuk akal.”

Zelia menghembuskan napas yang baru ia sadari sejak tadi tertahan.

Beberapa direksi saling bertukar pandang. Kali ini bukan meremehkan… tapi menilai.

Direktur senior sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kalau begitu,” katanya pelan, “apa langkah berikutnya setelah menciptakan ilusi opsi lain?”

Pertanyaan itu bukan jebakan. Tapi jelas ujian.

Zelia ikut menatap Are, menunggu.

Are menjawab tanpa terburu-buru. “Bangun tekanan waktu,” katanya tenang. “Pihak yang merasa waktu bukan miliknya akan mulai membuat konsesi lebih cepat.”

Direktur keuangan mengangguk pelan tanpa sadar. Lalu ia bertanya, kali ini lebih tajam dari pertanyaan yang lain. “Anda pernah menangani negosiasi M&A sebelumnya?”

Ruangan langsung hening lagi. Semua mata tertuju pada Are, tak terkecuali Zelia.

Are tidak terlihat berpikir lama. Wajahnya tetap datar. “Saya pernah berada di sisi yang berlawanan.”

Kalimat itu sederhana, tapi efeknya langsung terasa.

Beberapa direksi saling pandang. Mereka semua paham arti kalimat itu tanpa perlu penjelasan.

Artinya:

• Saya tahu cara menghancurkan negosiasi.

• Saya tahu cara berpikir lawan.

• Saya pernah menang dari posisi sulit.

Atmosfer ruangan berubah tipis… tapi jelas.

Tatapan Atyasa menyempit sedikit. Ia bersandar, berusaha terlihat santai. “Banyak orang merasa pernah berada di sisi berlawanan,” katanya ringan, nada meremehkan yang dibuat-buat. “Tapi tidak semua benar-benar mengerti permainan di meja ini.”

Beberapa direksi menahan napas, menunggu respon.

Jemari Zelia mengencang di sekitar pena, sedikit lebih kuat dari yang ia sadari. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi jelas ia tidak suka mendengar nada meremehkan itu ditujukan pada Are.

Are menatap Atyasa tanpa emosi, lalu berkata pelan. “Saya pernah berada di sisi yang menentukan harga.”

Ruangan langsung terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Kalimat itu seperti batu yang jatuh ke permukaan air tenang.

Direktur senior berhenti menulis. Direktur keuangan menatapnya lebih lama. Beberapa direksi yang tadi meremehkan… kini jelas mulai berhitung ulang.

Levelnya berbeda.

Zelia bisa merasakan perubahan atmosfer itu dengan sangat jelas.

Sementara Atyasa tidak lagi tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya perlahan. Tatapannya tetap pada Are. Tidak lagi meremehkan, tapi menilai. Ada kewaspadaan yang tersirat di matanya.

“Sepertinya,” katanya akhirnya pelan, “rapat hari ini akan lebih menarik dari yang saya perkirakan.”

Are mundur setengah langkah kembali ke posisi semula di belakang Zelia, tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apa pun. Tapi ruangan sudah berubah. Dan semua orang tahu itu.

Ruang rapat kembali dipenuhi suara diskusi, tapi bagi Zelia, semuanya terdengar sedikit jauh.

Angka. Grafik. Proyeksi. Semua bercampur menjadi satu.

Ia menatap berkas di depannya, berusaha menangkap alur pembicaraan, namun tekanan di ruangan itu terasa semakin berat. Tatapan para direksi. Ekspektasi. Dan bayangan kegagalan yang diam-diam masih menghantui.

Semua itu membuat napasnya terasa sempit, seolah udara di ruangan tiba-tiba berkurang.

Di belakangnya, Are memerhatikan tanpa mengganggu. Ia bisa melihat perubahan kecil itu. Cara bahu Zelia sedikit menegang, jemarinya yang terlalu lama diam di atas kertas.

Tanpa menarik perhatian siapa pun, Are sedikit menunduk mendekat. “Lihat halaman tiga,” bisiknya pelan, cukup untuk hanya didengar Zelia. “Margin distribusi mereka turun dua persen. Itu titik tekanmu.”

Suara itu rendah. Stabil. Seperti jangkar di tengah arus. Zelia menoleh sekilas, lalu mengikuti arah yang dimaksud. Dan benar. Sesuatu langsung terasa lebih jelas.

Ia menarik napas perlahan, lalu mengangkat kepalanya. “Kalau kita fokus pada valuasi tanpa melihat efisiensi distribusi,” suaranya terdengar lebih tenang sekarang, “kita akan terus berada di posisi defensif.”

Beberapa direksi langsung menoleh.

Zelia melanjutkan, kali ini lebih mantap. “Margin mereka turun dua persen dalam dua kuartal terakhir. Itu berarti mereka butuh stabilitas operasional lebih dari yang mereka akui.”

Direktur keuangan mengangguk kecil, mulai benar-benar mendengarkan.

“Jadi,” lanjut Zelia, “kita tidak perlu mengejar angka mereka. Kita cukup mengubah arah negosiasi ke stabilitas jangka panjang. Itu posisi yang lebih kuat bagi kita.”

Ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Sunyi yang berbeda. Bukan karena ragu… tapi karena mempertimbangkan.

Direktur senior perlahan menutup pulpennya. “Pendekatan yang solid.”

Yang lain mulai mengangguk.

Dan sejak rapat dimulai, Zelia bisa merasakan atmosfer ruangan berubah. Bukan lagi penuh penilaian, tapi perhatian.

Di sisi meja, Atyasa menatapnya tanpa ekspresi. Namun sorot matanya menunjukkan sesuatu yang tipis, pengakuan yang tak ingin ia tunjukkan.

Zelia tidak menoleh ke belakang, tapi ia bisa merasakan kehadiran Are di sana.

Tenang, stabil, seolah berkata tanpa kata: lanjutkan.

Dan pada akhirnya, Zelia tersenyum tipis. “Baik,” katanya tegas. “Kita ubah strategi negosiasi.”

Nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menunjukkan satu hal. Ia memimpin ruangan ini.

Di belakangnya, sudut bibir Are terangkat nyaris tak terlihat. Bukan karena strategi itu berhasil, tapi karena akhirnya… Zelia mulai percaya pada dirinya sendiri.

Rapat akhirnya ditutup.

Suara kursi bergeser dan berkas ditutup memenuhi ruangan, tapi Zelia baru sadar satu hal ketika ia berdiri. Tangannya gemetar. Halus… tapi jelas.

Ia menarik napas pelan, lalu tanpa banyak bicara berjalan keluar ruang rapat.

Are mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Di dalam ruangan, Atyasa tetap duduk. Tatapannya mengikuti punggung Are yang menjauh. Rahangnya mengeras samar.

"Dia… lebih berbahaya dari yang aku duga."

Tatapannya lalu beralih ke arah pintu tempat Zelia keluar.

"Dan anak itu… Tak kusangka bisa memimpin rapat sebaik itu.

Matanya menyempit tipis.

"Apa memang dia punya kemampuan itu… atau karena pria itu?"

Beberapa direksi masih duduk, suara percakapan mulai muncul.

“Pendekatannya tajam.”

“Lebih tenang dari yang saya kira.”

“Tapi pria itu… siapa sebenarnya?”

“Kalau dia ada di belakangnya, posisi kekuasaan bisa berubah cepat.”

Suasana politik di ruangan itu perlahan memanas, dipenuhi analisa dan spekulasi. Beberapa orang mulai mempertimbangkan satu kemungkinan baru. Zelia bukan lagi sekadar pewaris.

Atyasa berdiri perlahan. Dalam diam, ia menyadari sesuatu yang tak ia duga sebelumnya. Putri yang dulu penurut… yang mudah ia arahkan, kini berdiri sebagai seseorang yang berbeda. Lebih tajam. Lebih tenang. Lebih berbahaya.

Sementara itu…

Zelia melangkah masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup di belakang Are, ia langsung berbalik. Tatapannya tajam.

Are mengangkat sedikit sebelah alis. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Siapa kau?” tanya Zelia langsung.

 

...✨“Beberapa orang berbicara untuk didengar. Beberapa lainnya cukup berbicara sekali… dan seluruh ruangan berubah.”...

...“Kekuasaan tidak selalu duduk di kursi utama. Kadang ia berdiri diam di belakangnya.”...

...“Orang paling berbahaya bukan yang paling keras suaranya… tapi yang paling tenang saat semua orang gugup.”...

...“Kesalahan terbesar dalam perang bukan memilih musuh yang kuat… tapi meremehkan yang diam.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
rencana apa lagi nih, yang sedang dimainkan Atyasa , Dian,dan Desti,,
Kyky ANi
bagus Are,, berikan bukti yang lebih kuat lagi,,
abimasta
belum terima juga kekalahannya fero
Kyky ANi
semoga Zelia, bisa menang dalam kasus ini,,
Anitha Ramto
sayangnya Zelia dan Are hanya Akting karena ada si Desti yang ngintip,,terobsesi kamu Desti sama Are..

Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Cicih Sophiana
hati hati Zelia ada dua manusia licik bersatu jgn lengah sedikit pun...
love_me🧡
iya orang yg percaya diri mudah dijatuhkan & contohnya itu seperti kalian 😀
Cicih Sophiana
Are mulai menelan ludah nya tuh... saking gemes nya mau gigit bibir Zelia 🤭😂😂
Cicih Sophiana
Desti iri dengki akhir nya memfitnah...
Dek Sri
tetap waspada ya zelia dan are
love_me🧡
gantung terus thooorrr gantuuuuuung, udah gak Imlek iniiih udah panas gak hujan lagi jemurannya tolong jangan digantung mulu 😀😀
abimasta
gagal lagi rencana atyasa
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
Are akankah kamu tega meninggalkan istri mu
Anitha Ramto
sepertinya Are sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap bibirnya Zeliaa wkwkwkwk🤣
tse
aduh apa yang di lakukan Are ya.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
phity
hati2 dian lgi merekam
Puji Hastuti
Dan..... Zelia tidak jadi tanda tangan.
abimasta
desti mau ngerayu are
Anitha Ramto
diiih si Desti niatnya mau jelekin Zelia dan menarik Perhatian Are tapi nyatanya Are tidak peduli huh dasar wanita murahan

Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!