Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Suasana di ruang makan Mansion Lopez pagi itu terasa lebih dingin dari es di dalam gelas jus jeruk milik Logan. Meja panjang dari marmer Carrara itu biasanya dipenuhi oleh percakapan ringan antara Zion dan Cassie, namun hari ini, ada sebuah anomali yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Issaura sudah membuang kacamata berbingkai besar yang membodohinya kemarin. Ia berdiri tegak dengan seragam pelayan yang pas di tubuhnya, menampilkan wajah aslinya yang luar biasa cantik namun ketus. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menonjolkan leher jenjang dan garis rahang yang tegas. Ia tahu ia tidak bisa keluar dari mansion ini. Tempat ini adalah benteng pertahanan terakhirnya. Keluarga Lopez adalah satu-satunya entitas yang membuat ibu tiri dan ayahnya yang gila itu gemetar ketakutan. Jadi, jika ia harus terjebak di sini, ia akan melakukannya dengan harga diri yang utuh, tanpa penyamaran konyol lagi.
Bi Minah, yang menyadari ketegangan itu, mencoba menyambarnya dengan bisikan peringatan. "Non, tolonglah... jangan menatap Tuan Muda seperti itu. Kau bisa diusir," bisiknya cemas sambil meletakkan piring roti.
"Biarkan saja, Bi. Dia yang mulai duluan," sahut Issaura tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Logan.
Di sisi lain meja, Logan sama sekali tidak menyentuh omelet di piringnya. Matanya yang tajam terus mengamati pelayan kurang ajar itu. Ia merasa tertantang. Belum pernah ada orang yang melempar baju kotor ke wajahnya dan tetap berani berdiri tegak di depannya keesokan harinya.
"Zion, kau lihat itu?" bisik Cassie sambil menyesap kopinya, matanya melirik ke arah Logan dan Issaura secara bergantian. "Putramu sepertinya lupa cara mengunyah makanan."
Zion tertawa kecil, menikmati drama pagi itu. "Kurasa dia sedang mencoba menghitung berapa banyak helai rambut pelayan baru kita itu dengan tatapannya, Cass."
Logan akhirnya angkat bicara, suaranya dingin dan penuh sindiran. "Bibi Sumi, tolong beri tahu pelayan baru ini... di rumah ini, tugas pelayan adalah melayani, bukan berdiri seperti patung es yang sedang mengawasi narapidana."
Issaura, tanpa diminta oleh Bi Sumi, langsung menjawab. "Tuan Muda, tugas pelayan memang melayani, tapi bukan berarti harus tuli saat mendengar instruksi yang tidak jelas. Dan setahu saya, patung es biasanya jauh lebih tenang daripada orang yang terus-menerus mengeluh di pagi hari."
Deg.
Zion hampir menyemburkan kopinya. "Wow, dia berani juga," gumam Zion pada Cassie.
Logan meletakkan garpunya dengan denting keras di atas piring porselen. Ia berdiri, merapikan jas kampusnya, lalu melangkah mendekati Issaura. Suasana mendadak senyap. Bi Minah sudah hampir pingsan karena ketakutan.
"Kau sangat cerewet, Issa. Kau tahu itu?" desis Logan tepat di depan wajah Issaura. "Setiap kata yang keluar dari mulutmu hanya membuat telingaku panas."
Issaura tidak mundur selangkah pun. "Mungkin karena telinga Tuan Muda terlalu terbiasa mendengar pujian palsu dari fans fanatik di kampus. Kebenaran memang terkadang terdengar panas."
Logan merasa emosinya memuncak. Ia tidak tahu mengapa gadis ini bisa memancing sisi nya begitu dalam. Tanpa pikir panjang, dan tanpa menyadari makna provokatif di balik kata-katanya, Logan membungkuk sedikit hingga napasnya menerpa bibir Issaura.
"Berhentilah bicara. Kau sangat cerewet, Issa... nanti kugigit bibirmu itu biar kau tahu rasa dan diam selamanya," ancam Logan dengan nada rendah yang sangat gelap.
Cassie yang sedang minum teh langsung tersedak. Zion membelalakkan matanya, menatap putranya seolah Logan baru saja menumbuhkan kepala kedua. Logan sendiri terdiam setelah kata-kata itu meluncur. Ia tidak bermaksud memberikan godaan seksual, ia hanya ingin memberikan ancaman fisik yang paling ekstrem agar gadis ini diam, namun ia tidak sadar betapa intim dan berbahayanya kalimat itu di telinga orang dewasa.
Issaura mematung. Pipinya yang tadi putih pucat kini memerah hebat sampai ke telinga. Ia ingin membalas, namun lidahnya mendadak kelu. Atmosfer di antara mereka berubah dari kemarahan menjadi sesuatu yang jauh lebih mencekam dan membingungkan.
"Zion... apa anakmu baru saja mengancam pelayannya dengan... gigitan?" tanya Cassie dengan suara pelan namun penuh selidik.
Zion berdehem keras, mencoba mencairkan suasana. "Ehem! Logan, kurasa kau sudah terlambat ke kampus. Dan... kurasa cara mengancam mu perlu diperbaiki. Itu terdengar sangat... liar."
Logan berdehem, wajahnya yang dingin mendadak tampak salah tingkah meski ia berusaha menutupinya. Ia segera meraih kunci mobilnya di meja. "Aku pergi. Pastikan saat aku pulang, dia sudah belajar caranya tutup mulut."
Logan melangkah pergi dengan langkah cepat, hampir setengah berlari menuju garasi. Di dalam kepalanya, ia merutuki dirinya sendiri. Apa yang baru saja kukatakan? Menggigit? Astaga, aku pasti sudah gila karena kurang tidur!
Sementara itu, Issaura masih berdiri di tempat yang sama, memegang nampan perak dengan tangan bergetar. Ia menatap punggung Logan yang menghilang di balik pintu besar mansion.
"Non... apa kau baik-baik saja?" tanya Bi Minah cemas.
Issaura menarik napas panjang, mencoba menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena kaget—atau mungkin hal lain. "Dia benar-benar gila, Bi. Benar-benar gila."
Cassie berdiri dari kursinya, menghampiri Issaura dengan senyum misterius yang dulu sering ia berikan pada Zion saat mereka mulai jatuh cinta. "Issa, jangan masukkan ke hati. Logan memang kadang bicara tanpa disaring saat dia merasa terpojok. Tapi kurasa kau baru saja mencetak sejarah di rumah ini."
"Sejarah apa, Nyonya?" tanya Issaura bingung.
"Sejarah menjadi orang pertama yang membuat Logan Mateo Lopez kehilangan kendali atas kata-katanya sendiri," jawab Cassie sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan pergi mengikuti Zion.
Mansion itu kembali tenang, namun sisa-sisa ancaman gigitan itu masih menggantung di udara. Issaura kembali bekerja dengan pikiran yang kacau. Di satu sisi ia merasa terancam, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa sang Pangeran Es yang sombong itu ternyata memiliki celah yang bisa ditembus dengan keberaniannya.
Dan di kampus, sepanjang hari itu, Logan tidak bisa fokus pada kuliahnya. Bayangan bibir Issaura yang merengut kesal terus muncul di benaknya, membuat sang Pangeran Es itu merasa bahwa ancaman sembrononya pagi tadi mungkin adalah awal dari badai yang jauh lebih besar di dalam hatinya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.