NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Ayah Langit

Semua orang masih mengelilingi box kecil itu, seakan tidak puas memandangi makhluk kecil yang bahkan belum berusia 24 jam. 

“Mama papamu pasti bahagia melihat dia,” Bude Anita menoleh pada Ishani, tersenyum.

Ishani mengangguk, balas tersenyum.

“Mau kamu kasih nama siapa?” Kali ini pakde Handoko yang berbicara.

Ishani menatap Langit. 

Langit berjalan mendekat. “Rayyan Arkanandra Wicaksana.”

Mata Ishani dan Bu Maura membesar. 

Pasalnya, hanya nama Rayyan Arkanandra yang diberikan Biru. Dia sendiri sudah lama tidak menyandang nama Wicaksana di belakang namanya. 

Biru Satria, bahkan hanya nama itu yang yang tertulis di nisannya. 

“Dia anakku juga,” ujarnya singkat menjawab tatapan Ishani dan ibunya.

Pakde Handoko menganggukkan kepalanya, “Namanya bagus,” ujarnya tanpa menyadari arti nama Wicaksana. 

“Panggilannya siapa, Mas?” celetuk Ilham.

“Iyan,” jawab Ishani dan Langit bersamaan. 

*********

Malam di rumah sakit selalu terasa berbeda. Sunyi.

Di dalam kamar, hanya terdengar suara detak jam dan napas kecil bayi. 

Ishani terbangun, menoleh memastikan napas kecil itu masih teratur di dalam box bayi. Lalu matanya beralih pada sosok yang sedang tertidur di atas sofa. 

Langit.

Selimutnya melorot, satu kakinya menjuntai ke bawah. Terlihat lelah tapi tenang. 

Ishani tersenyum kecil. 

Iyan bergerak, meringis pelan. Tangis kecil mulai terdengar.

Langit langsung terbangun seolah ada alarm yang tidak terlihat. 

“Kenapa?” bisiknya panik. 

“Lapar kayaknya,” jawab Ishani lirih. 

Langit berdiri, ragu sesaat. “Aku gendong dulu?”

Ishani mengangguk. 

Langit mengangkat Iyan pelan-pelan. Gerakannya kaku, terlalu berhati-hati. 

Ishani tertawa kecil. “Tenang, Kak. Dia nggak akan pecah.”

Langit tidak menjawab, terlalu fokus pada mahluk kecil di tangannya. 

Ia menyerahkan Iyan pada Ishani, lalu bernapas lega, seolah dari tadi menahan napas. 

Ishani membuka kancing atas. 

Seperti menyadari sesuatu, pipi keduanya memerah. Langit langsung membalikkan badannya. 

“Ehem…” Ia berdehem. 

Aura kecanggungan, dan detak jantung yang cepat terasa. Mereka terdiam sesaat, bingung. 

Karena sejak Ishani mulai menyusui Iyan, mereka tidak pernah berdua. Selalu ada perawat atau kerabat yang menemani. Langit juga selalu keluar kamar saat jam menyusui. 

“A-aku keluar dulu…,” ucap Langit, gugup.

“Nggak usah, Kak,” cegah Ishani cepat. 

Tangisan Iyan mulai seperti tidak sabar. 

“Di tas bayi ada epron menyusui. Tolong ambilkan.”

Langit membuka tas di samping tempat tidur. 

“Yang mana?” Ia mengeluarkan isi tas satu per satu.

“Seperti selimut tapi ada kancingnya.”

Langit memilih dan mengangkat satu kain yang mirip selimut. “Yang ini?”

Ishani mengangguk. “Tolong pakaikan, Kak.”

Langit berdiri di samping Ishani.

“Bagian lubangnya tolong dilingkarkan di leherku lalu kancingkan,” tutor Ishani. 

“Iyan-nya ketutup?” tanya Langit yang tengah mengancingkan epron di lehernya. Degup jantungnya kembali liar, tanpa sengaja jemarinya menyentuh kulit leher Ishani yang lembut. 

“Nggak betul-betul ketutup, kok.”

Tidak berapa lama, terdengar suara bayi berdecap menyesap ASI. 

“Sepertinya lapar sekali,” ujar Langit, duduk di kursi agak jauh dari ranjang, meluruskan kaki, tangannya terlipat di dada.

“Kata Bude, kalau anak laki-laki biasanya nyusunya kuat.”

Langit menganggukkan kepalanya, tatapannya masih pada Iyan yang tubuhnya full tertutup selimut.

“Kak…,” Ishani membuka epronnya. “kayaknya sudah.”

Langit berdiri, siap membaringkan Iyan kembali di box-nya. 

“Iyan, sekarang sama ayah Langit lagi ya,” bisik Ishani sambil mencium pipi gembul itu.

Deg.

Langit membeku.

Kata itu seperti berhenti di udara sebelum akhirnya benar-benar sampai ke telinganya.

“Ayah…,” panggil Ishani karena Langit terdiam. Tangannya yang menggendong Iyan terjulur. 

“A-apa…?” suaranya hampir tidak keluar. 

“Iyan mau bobo,” Ishani tersenyum.

Langit menelan ludah. Matanya berkaca-kaca. Kata itu terasa asing…

tapi juga terasa seperti sesuatu yang selama ini diam-diam ia tunggu. 

Ia menerima Iyan, mendekapnya ke dada. 

Iyan merengek kecil. “Tenang ya…,” 

Langit refleks menepuk-nepuk lembut punggungnya. “A-ayah di sini.”

Iyan berhenti menangis, seolah mengenali suara Langit. Mata kecilnya terbuka, menatap wajah di atasnya. Tangan kecilnya menggenggam jari Langit. Sekecil itu… tapi cukup kuat membuat sesuatu di dada Langit runtuh.

“Dia lihat dan pegang aku…,” Langit menoleh pada Ishani. Ia seperti tidak percaya.

Langit senyum-senyum. Sesuatu yang jarang terjadi. Ia menggoyangkan tubuhnya pelan, mengikuti ritme yang entah dipelajari dari mana. 

Ishani memperhatikan. Dadanya hangat. Ia menatap tangan itu, besar, kokoh. Tangan yang pernah memeluknya agar hidupnya tidak berakhir mengikuti Biru. Kini, tangan itu memegang hidup kecil dengan kelembutan yang tak terduga.

Saat Iyan terlelap, Langit mengembalikannya ke boks. Ia menarik napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan tugas besar.

“Tidurlah lagi,” ucapnya pada Ishani, merebahkan diri di sofa.

“Kakak juga,” balas Ishani menarik selimut.

Keduanya terpejam dengan dada yang sesak dengan kehangatan. 

**********

Ishani dan Langit baru selesai belajar memandikan Iyan dari perawat saat Bu Maura datang bersama Bu Yani. Seperti biasanya, saat ada keluarga atau kerabat yang datang, Langit memilih untuk menjauh. 

Ting…

Langit membuka ponsel. Ada pesan masuk dari ayahnya. 

“Ayah dengar perempuan itu sudah melahirkan. Kamu mau Ayah yang datang ke rumah sakit, atau kamu pulang?”

Langit menarik napas panjang. Matanya melihat lurus melihat Ishani yang sedang tersenyum bahagia sambil menggendong Iyan. Ibunya tidak habis-habis menciumi cucunya .

“Shani…” Langit berjalan mendekat. “Kamu nggak apa-apa aku tinggal sebentar? Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Iya, Kak. Kan ada Ibu sama  Bi Yani.”

“Bu, titip Shani.”

Bu Maura mengangguk. 

Langit keluar kamar dan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah gontai.

**********

Matahari bersinar tinggi saat mobil Langit berhenti di depan rumah besar dan mewah. Pintu pagar tinggi terbuka, seorang security memberi hormat pada Langit. Ia menginjak gas dengan perasaan setengah hati. 

Langit membuka pintu kayu jati besar, masuk ke dalam. Langkahnya menggema ke seluruh ruangan. Ia berjalan menuju ruang tengah, di mana pertemuan keluarga biasa diadakan. Langit tahu keluarganya ada di sana. 

“Akhirnya, kamu datang!” suara Pak Rama yang dalam menyambut Langit. 

Langit mengedarkan pandangannya. Semua orang ada di sini. Ayah, Ibu tiri, nenek, dua adik ayahnya, dan tiga orang sepupunya. 

Semua melihatnya dengan tatapan menusuk. Langit merasa udara sangat dingin menusuk tulang. Tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada senyum. Hanya tatapan yang menunggu kesalahannya. Tanpa sadar Langit menggosok-gosokkan telapak tangannya. 

“Duduk!” kali ini neneknya Langit yang bicara, Nenek Haura. 

Wajahnya yang menua tidak menghilangkan garis ketegasan yang menggurat. Bibir tipisnya membentuk garis tipis yang menandakan ia sedang menahan marah. 

Bulu kuduk Langit berdiri. Dari semua orang yang ada di keluarga, Langit paling takut dengan neneknya. 

Nenek Haura duduk di kursi kayu besar, punggungnya lurus, tongkatnya terpegang erat. Tatapannya tajam. Tatapan seseorang yang terbiasa ditaati, bukan dibantah. 

“Jadi, betul yang dikatakan Rama?” suara nenek Haura rendah, tapi menggetarkan. “Kamu menghamili perempuan tidak jelas.”

Langit mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. “Dia perempuan baik-baik.”

Ibu tiri Langit, Bu Lusy, yang duduk di sebelah nenek Haura, tertawa sinis. “Mana ada perempuan baik-baik yang mau tinggal satu rumah sebelum menikah. Dihamili pula.”

“Dia sudah melahirkan,” Pak Rama menyambung pembicaraan. “Kasih uang yang banyak lalu tinggalkan. Kalau dia macam-macam, cari kelemahannya lalu hancurkan.”

Langit menoleh pada Pak Rama. Sorot matanya menampilkan kelebatan masa lalu. “Aku bukan Ayah. Aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku.”

Pak Rama berdiri sambil menggebrak meja. “Kurang ajar!” teriaknya. 

“Lalu, tunanganmu, Meilina?” nenek Haura memberi kode agar Rama duduk lagi. “Apa yang akan kamu lakukan sama dia?”

“Pernikahan itu bukan keinginanku,” Langit menatap semua orang di sana. “Itu murni perjodohan karena bisnis.”

“Dengan menikahi Meilina, lo juga akan diuntungkan Langit,” Zaka, adik sepupunya berbicara. 

Langit tertawa pelan. “Gue atau lo yang diuntungkan?” memberikan tatapan ancaman pada Zaka.

“Lo yang mengacau,” lanjutnya. “Wicaksana Insurance hampir bangkrut karena ulah lo. Kenapa gue yang harus ngeberesin?”

“Gue bisa ngeberesin sendiri. Kalau aja…” Zaka membela diri. 

“Kalau aja apa?” tanya Langit dingin.

“Kalau aja Meilina mau nikah sama gue. Masalahnya dia maunya sama lo,” mata Zaka berapi-api. 

Langit tertawa kecil.

“Dengan Meilina jadi istrimu. Kedudukanmu di depan dewan direksi dan pemegang saham akan lebih kuat, Langit,” kata nenek Haura. “Semuanya akan memihakmu.”

Langit menatap lurus ke arah netra tua itu. “Nenek sudah janji padaku,” ucap Langit pelan. “Aku sudah menemukan wanita yang ingin kunikahi.”

Semua orang di dalam ruangan menatap nenek Haura. Sorot mata mereka mengatakan ‘apa maksudnya?’.

Nenek Haura mengetukkan tongkatnya. “Siapa sebenarnya perempuan itu?”

“Dia…,” Langit membulatkan tekadnya. “Istrinya almarhum Biru, adik kembarku. Dan anak yang dikandungnya adalah anak Biru.”

Ruangan itu hening. Seolah semua orang membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja mereka dengar. Semuanya terperangah. Mulut Pak Rama dan Bu Lusy bahkan terbuka. 

“Tidak bisa!” teriak Bu Lusy. “Ini aib! Di keluarga ini tidak ada kakak yang menikahi adik iparnya.”

“Apalagi…,” lanjut Bu Lusy, dadanya naik turun. “Meskipun si Biru sudah meninggal, tapi darah perempuan itu masih ada. Aku nggak bisa terima!”

“Darah mereka sama seperti darahku,” dada Langit terasa panas. 

“Diam!” bentak nenek Haura. “Ibumu benar. Adat keluarga kita tidak boleh mengambil bekas istri adiknya. Itu aib.”

“Lucu,” Langit tertawa lagi. “Sejak kapan kalian menganggap Biru sebagai bagian dari keluarga ini. Sebagai adikku.”

Langit mengangkat wajahnya. Wajahnya merah tapi rahangnya mengeras. 

“Kalian membuang seseorang yang  mempunyai darah keluarga ini. Apa itu juga bagian dari adat?” lanjutnya tajam.

Tongkat nenek Haura terangkat tinggi, lalu jatuh keras ke lantai. 

“Kamu berani mengajariku tentang adat?” suara nenek Haura bergetar, antara marah dan terluka. Baru kali ini, Langit berani mendebatnya. 

“Aku yang membesarkanmu dengan aturan ini. Aku yang menjaga nama keluarga ini tetap bersih,” lanjutnya. 

“Lalu…,” Langit memandang lurus ke arah neneknya. “Apa ibu dan adikku itu kotoran hingga harus dibersihkan?” Suara Langit tidak keras. Tapi setiap katanya terasa seperti pisau.

Nenek Haura baru akan membuka mulutnya, saat Pak Rama menyentuh lengannya. 

“Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahinya?” tanya Pak Rama. 

“Biru yang memintaku,” lirihnya. “Dia tidak mau anak dan istrinya hidup tanpa perlindungan.”

Pak Rama, menyandarkan punggungnya. Matanya terpejam. 

“Aku menyanggupi. Aku akan menjalankan amanah Biru. Dan, nenek…” Langit kembali menoleh pada nenek Haura, “Nenek janji akan membiarkanku memilih wanita yang akan kunikahi.”

Semuanya terdiam. Hening. 

“Baiklah,” ucap nenek Haura setelah beberapa saat. “Lakukan apa yang kau mau.”

“Bu…,” protes bu Lusy.

Nenek Haura mengangkat tangannya. “Tapi setelah menikah, nenek mau kau dan istrimu tinggal di sini.”

Mata Langit membesar. 

“Itu syaratku. Pikirkan baik-baik.” Nenek Haura bangkit meninggalkan mereka semua. 

Mata Langit membesar. Ia tahu betul apa arti tinggal di rumah itu. Neraka yang dulu pernah menelan ibunya… dan dirinya. Sekarang menunggu Ishani.

1
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
@dadan_kusuma89
Langit, dengan kau menjawab "iya" meski dipanggil Biru, ini menandakan kau bukan orang yang egois.
Xlyzy
faham pak buk tapi gimana ga mungkin ishani di tinggal sendiri kan kondisi nya lagi ga baik loh
Xlyzy
bude Ama pade ngapa loh baru juga bukak pintu belom lagi duduk
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
😭 bisa-bisanya ada barang pemberian yang dipersiapkan begini. bahkan sebelum anaknya membuka mata. sedih aku seolah jadi istrinya 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!