NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bunga Lili di Atas Tanah Basah

Matahari baru saja naik sepenggalah, menyinari halaman belakang Adhitama Estate yang masih basah oleh embun pagi. Udara terasa segar, diisi oleh suara kicauan burung gereja yang lincah melompat di antara dahan pohon beringin tua.

Namun, ketenangan pagi itu dipecahkan oleh suara napas terengah-engah dan bunyi berdebum tubuh yang jatuh ke atas matras.

Nala terbaring telentang di lantai ruang olahraga, menatap langit-langit dengan pandangan berkunang-kunang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat pakaian olahraganya menempel lekat di kulit. Dadanya naik turun dengan cepat, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Bangun, Nyonya," suara Sera terdengar datar namun tegas dari sisinya. "Musuh tidak akan menunggu Anda mengatur napas."

Nala mengerang pelan, memaksakan otot-ototnya yang menjerit protes untuk bekerja. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping, bertumpu pada siku, lalu perlahan bangkit berdiri. Lututnya gemetar, tapi tatapan matanya tajam, tidak ada tanda-tanda menyerah di sana.

"Lagi," ucap Nala singkat.

Sera mengangguk kecil, sebuah tanda persetujuan yang langka.

Mereka kembali mengambil kuda-kuda. Sera melancarkan serangan tangan kosong, simulasi jika ada orang yang mencoba menampar atau memukul wajah. Nala dengan sigap menangkis menggunakan lengan kirinya, lalu memutar tubuh untuk menghindar ke sisi kanan, persis seperti yang diajarkan Sera kemarin.

Gerakannya masih belum sempurna, masih sedikit kaku, tapi refleksnya sudah jauh lebih baik dibandingkan tiga hari yang lalu. Nala belajar dengan kecepatan yang menakjubkan, didorong oleh rasa takut dan keinginan kuat untuk tidak lagi menjadi korban.

"Cukup," suara berat dari arah pintu menghentikan latihan mereka.

Nala dan Sera serentak menoleh.

Raga berada di sana, duduk di kursi rodanya dengan penampilan yang sudah rapi. Ia mengenakan kemeja linen berwarna putih gading dan celana chino berwarna cokelat muda, sebuah gaya yang lebih santai dari biasanya. Topeng peraknya berkilau terkena cahaya lampu ruangan.

"Tuan," sapa Sera sambil membungkuk hormat, lalu mundur beberapa langkah memberi ruang.

Nala menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Selamat pagi, Tuan. Apakah saya terlalu berisik?"

"Tidak," jawab Raga sambil menjalankan kursi rodanya masuk. "Tapi kau sudah berlatih dua jam tanpa henti. Sera mungkin robot yang tidak kenal lelah, tapi kau manusia biasa. Mandilah dan bersiap. Kita akan pergi."

Nala mengerutkan kening. "Pergi? Ke mana, Tuan? Apakah ada acara lelang lagi?"

"Tidak ada lelang. Tidak ada pesta. Hanya kita berdua," jawab Raga misterius. "Pakailah baju yang nyaman dan sopan. Dan bawa jaket, udara di sana mungkin agak dingin."

Nala ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia tahu Raga tidak akan menjawab. Suaminya itu gemar sekali memberikan kejutan yang membuat jantungnya berdebar, entah karena takut atau karena senang.

"Baik, Tuan. Beri saya waktu tiga puluh menit."

Perjalanan kali ini terasa berbeda.

Mobil yang mereka gunakan bukan Rolls-Royce atau Mercedes sedan yang biasa, melainkan sebuah SUV hitam besar yang kokoh, jenis mobil yang biasa dipakai untuk menempuh medan berat. Sopir pribadi Raga mengemudi dengan tenang membelah kemacetan Jakarta, mengarahkan kendaraan menuju jalan tol jagorawi.

Nala duduk di samping Raga di kursi tengah. Ia menatap pemandangan di luar jendela yang perlahan berubah. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh perlahan berganti menjadi perumahan padat, lalu berganti lagi menjadi hamparan sawah dan pepohonan hijau yang rimbun.

Mereka menuju ke arah Bogor.

Jantung Nala berdegup lebih kencang. Ia kenal jalan ini. Ini adalah jalan menuju kampung halaman ibunya, tempat di mana ibunya dimakamkan.

Nala menoleh pada Raga. Pria itu sedang memejamkan mata, seolah sedang tidur, namun tangannya menggenggam tangan Nala erat di atas jok mobil.

"Tuan..." panggil Nala pelan.

"Tunggu sampai kita sampai," potong Raga tanpa membuka mata.

Satu jam kemudian, mobil berbelok masuk ke sebuah jalan kecil yang berbatu. Kanan kirinya dipenuhi pohon bambu yang melambai-lambai tertiup angin. Di ujung jalan, terlihat sebuah gerbang pemakaman umum yang tua dan agak tidak terawat. Rumput ilalang tumbuh tinggi di mana-mana, menutupi sebagian batu nisan yang sudah lumutan.

Namun, mobil tidak berhenti di gerbang utama. Mobil terus melaju pelan, menyusuri jalan setapak di pinggir pemakaman, menuju sebuah area di atas bukit kecil yang lebih terpencil.

Saat mobil berhenti, Nala melihat pemandangan yang membuatnya menahan napas.

Area makam ibunya yang biasanya tertutup semak belukar setinggi pinggang, kini terlihat bersih. Rumput-rumput liar sudah dipangkas rapi. Gundukan tanah makam ibunya yang dulu rata dengan tanah, kini sudah dipugar sederhana namun rapi dengan rumput jepang yang hijau segar. Batu nisannya yang dulu retak dan miring, kini sudah diganti dengan batu marmer putih yang kokoh, bertuliskan nama ibunya dengan tinta emas yang indah.

Di sekeliling makam itu, ditanami bunga lili putih yang sedang mekar, bunga kesukaan ibunya.

Nala membuka pintu mobil dengan tangan gemetar. Ia turun, kakinya terasa lemas saat menginjak tanah merah yang basah.

Raga turun dibantu oleh sopir dan pengawal yang mengikuti dengan mobil lain di belakang. Raga kemudian menyusul Nala, menjalankan kursi rodanya di atas jalan setapak yang sudah diratakan khusus untuknya.

"Ibu..." bisik Nala, air mata langsung tumpah membasahi pipinya tanpa bisa dibendung.

Ia berlari kecil, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di samping makam itu. Ia meraba batu nisan yang dingin dan halus itu.

Siti Aminah. Ibunda Tercinta.

Sudah dua tahun Nala tidak bisa mengunjungi makam ini karena tidak punya ongkos dan dilarang oleh Nyonya Siska. Terakhir kali ia ke sini, makam ini hampir hilang tertutup longsoran tanah dan sampah. Ia ingat betapa hancur hatinya saat itu, merasa menjadi anak durhaka yang tidak bisa merawat tempat peristirahatan terakhir ibunya.

Tapi sekarang... tempat ini terlihat seperti taman surga kecil.

"Tuan..." Nala menoleh pada Raga yang berhenti di sampingnya. "Tuan yang melakukan ini?"

Raga menatap nisan itu dengan pandangan hormat.

"Aku mendengar kabar bahwa ayahmu berniat menjual tanah pemakaman ini kepada pengembang perumahan," kata Raga pelan. "Dia butuh uang cepat. Dia tidak peduli kalau makam ini harus digusur dan tulang-belulang ibumu dibuang entah ke mana."

Nala menutup mulutnya karena kaget. Kekejaman ayahnya ternyata tidak memiliki batas. Menjual makam istri sendiri demi uang? Itu perbuatan iblis.

"Jadi..." Raga merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan sebuah map dokumen berwarna biru. Ia mengulurkannya pada Nala. "Aku membelinya."

Nala menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya. Di dalamnya ada sertifikat tanah yang sah. Bukan hanya tanah makam ibunya, tapi seluruh area bukit kecil seluas dua hektar itu. Dan di kolom nama pemilik, tertulis nama: Nala Adhitama.

"Aku membeli seluruh bukit ini atas namamu," jelas Raga. "Mulai hari ini, tidak ada satu orang pun, termasuk ayahmu atau pengembang mana pun, yang bisa mengusik ketenangan ibumu. Tanah ini milikmu selamanya."

Nala tidak sanggup berkata-kata. Tenggorokannya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa besar. Ia mendekap sertifikat tanah itu di dadanya, lalu menunduk mencium nisan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.

"Terima kasih, Bu," isak Nala. "Ibu tidak akan digusur. Ibu aman sekarang. Ada orang baik yang menolong kita."

Raga membiarkan Nala menangis sepuasnya. Ia tahu istrinya butuh pelepasan. Ia memberi isyarat pada para pengawal untuk mundur menjauh, memberikan privasi pada Nala.

Raga memandangi Nala yang terlihat rapuh namun lega. Ia teringat ibunya sendiri yang meninggal dalam kesepian di rumah sakit yang dingin. Saat itu, Raga masih kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang, ia memiliki kekuatan untuk memastikan hal yang sama tidak terjadi pada orang yang ia pedulikan.

Setelah beberapa menit, tangis Nala mulai mereda. Ia menghapus air matanya, lalu menatap Raga dengan mata yang bengkak dan merah, namun bersinar penuh rasa terima kasih.

"Tuan," ucap Nala parau. "Tuan tidak hanya menyelamatkan hidup saya. Tuan menyelamatkan kematian ibu saya. Hutang budi ini... saya tidak tahu harus membayarnya dengan apa. Nyawa saya pun rasanya tidak cukup."

"Aku tidak butuh nyawamu," jawab Raga lembut. Ia mengulurkan tangan, mengusap sisa air mata di pipi Nala dengan ibu jarinya. "Aku butuh kau hidup dengan bahagia. Itu bayaran yang cukup untukku."

Nala memegang tangan Raga yang ada di pipinya, menempelkan wajahnya ke telapak tangan pria itu yang hangat.

"Saya akan bahagia, Tuan. Bersama Tuan," janji Nala.

Suasana di pemakaman itu terasa begitu damai. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga lili dan tanah basah.

Tiba-tiba, ponsel Raga bergetar di saku celananya. Raga mengambilnya, melihat nama yang tertera di layar. Bramantyo Aristha.

Raga tersenyum sinis. Rupanya berita tentang tanah ini sudah sampai ke telinga ayah mertuanya yang serakah.

"Halo," sapa Raga dingin saat mengangkat telepon.

Suara teriakan Bramantyo terdengar nyaring, bahkan Nala bisa mendengarnya samar-samar dari jarak dekat.

"Apa-apaan ini, Raga?! Orang suruhanku bilang tanah di Bogor sudah dijual ke pihak lain! Kau tahu sesuatu soal ini? Kau yang memblokir aksesku ke pembeli, kan?!"

Raga menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak, lalu menekan tombol loudspeaker agar Nala bisa mendengar betapa menyedihkannya ayahnya saat ini.

"Benar, saya tahu," jawab Raga santai. "Tanah itu sudah dibeli. Oleh istri saya."

Hening sejenak di ujung telepon. Lalu suara Bramantyo terdengar bingung dan tergagap. "A-apa? Nala? Dari mana anak ingusan itu punya uang miliaran untuk membeli tanah?!"

"Dari suaminya yang kaya raya, tentu saja," jawab Raga, nadanya penuh ejekan. "Bukankah Bapak sendiri yang menjualnya pada saya? Saya hanya memberikan uang saku pada istri saya, dan dia memutuskan untuk menyelamatkan makam ibunya dari keserakahan Bapak."

"Kau... kau tidak berhak! Itu aset perusahaan!" teriak Bramantyo putus asa.

"Itu aset pribadi yang Bapak gadaikan," koreksi Raga tajam. "Dan sekarang sudah sah menjadi milik Nala. Jadi, berhentilah mengganggu ketenangan orang mati demi menutupi kegagalan bisnis Bapak. Atau saya akan pastikan bukan hanya tanah kuburan yang Bapak kehilangan, tapi juga rumah tempat Bapak tidur malam ini."

Tanpa menunggu jawaban, Raga memutus sambungan telepon itu. Ia mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke saku.

Nala menatap Raga dengan kagum. Suaminya baru saja menghancurkan arogansi ayahnya hanya dengan satu panggilan telepon.

"Dia tidak akan mengganggu lagi," kata Raga pada Nala.

"Tuan benar-benar menakutkan," ucap Nala jujur, tapi ada senyum di bibirnya.

"Hanya pada orang jahat," balas Raga.

Mereka menghabiskan waktu satu jam lagi di sana. Nala bercerita banyak hal di depan nisan ibunya, seolah memperkenalkan Raga secara resmi. Raga mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk atau menimpali.

Saat matahari mulai meninggi dan udara menjadi panas, Raga mengajak pulang.

"Ayo, Nala. Kita tidak boleh terlalu lama di tempat terbuka. Matahari tidak bagus untuk kulitmu, dan untuk lukaku," alasan Raga, padahal sebenarnya ia khawatir Nala kelelahan.

Nala bangkit berdiri, membersihkan lututnya yang kotor oleh tanah. Ia menatap makam itu sekali lagi, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan sementara.

"Sampai jumpa, Bu. Nala akan sering datang sekarang."

Nala kembali mendorong kursi roda Raga menuju mobil. Langkahnya terasa sangat ringan. Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya setiap kali teringat nasib makam ibunya telah hilang tak berbekas.

Di dalam mobil perjalanan pulang, Nala terus memandangi sertifikat tanah di pangkuannya. Ia merasa memiliki akar yang kuat sekarang. Ia punya tanah. Ia punya tempat untuk pulang jika suatu saat dunia menolaknya.

"Tuan," panggil Nala.

"Ya?"

"Bolehkah saya meminta satu hal lagi?"

"Katakan."

"Tuan bilang saya boleh melukis apa saja," kata Nala. "Saya ingin melukis Tuan. Tapi bukan lukisan abstrak seperti kemarin. Saya ingin melukis potret wajah Tuan. Wajah asli Tuan, tanpa topeng."

Raga menoleh, menatap Nala dengan kening berkerut. "Kenapa? Wajahku tidak indah untuk dijadikan objek seni. Orang akan ketakutan melihatnya."

"Tidak," bantah Nala lembut. "Saya ingin melukisnya agar Tuan bisa melihat apa yang saya lihat. Saya ingin Tuan melihat bahwa di balik luka itu, ada keindahan yang kuat. Saya ingin Tuan berdamai dengan wajah Tuan sendiri, seperti saya berdamai dengan masa lalu saya hari ini."

Permintaan itu terdengar tulus dan penuh harap. Raga teringat bagaimana Nala memijat kakinya, bagaimana Nala membela namanya, dan bagaimana Nala menerima semua kekurangannya tanpa syarat.

Mungkin Nala benar. Mungkin sudah waktunya ia berhenti bersembunyi dari cermin.

"Baiklah," jawab Raga akhirnya, suaranya serak. "Tapi hanya untuk koleksi pribadi. Jangan dipajang di galeri. Aku belum siap satu Indonesia melihat wajah asliku."

"Janji," Nala tersenyum lebar, mengangkat jari kelingkingnya.

Raga menatap jari kelingking mungil itu. Dengan ragu, ia mengaitkan jari kelingkingnya yang besar dan kasar ke jari Nala.

"Janji," ucap Raga.

Di luar jendela mobil, pemandangan sawah berganti kembali menjadi gedung-gedung tinggi Jakarta. Mereka kembali ke medan perang, kembali ke sarang ular. Namun kali ini, Nala tidak takut. Ia tahu, selama tangan Raga menggenggam tangannya, ia bisa menghadapi badai apa pun.

Dan di dalam hati Raga, sebuah tekad baru terbentuk semakin kuat. Ia akan menyembuhkan kakinya. Ia akan berdiri. Ia akan menjadi pelindung yang sempurna bagi wanita yang telah mengembalikan jiwanya yang hilang ini. Ia akan berjalan lagi, demi Nala.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!