"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Hujan, Tangis, dan Taksi Online
"Copot."
Suara Elio terdengar dingin, lebih dingin dari air hujan yang mengguyur tubuh kecilnya. Tanpa menunggu persetujuan, tangan mungilnya terulur kasar, menyentak topi ulang tahun berwarna pink dari kepala Elia.
"Elio! Jangan!" pekik Hara, berusaha menahan.
Terlambat.
Plung.
Topi kerucut dengan renda manis itu mendarat di genangan air keruh bercampur lumpur di depan pos satpam. Elio menatap topi adiknya yang kini basah dan kotor itu dengan tatapan kosong, setelah dia melakukan hal yang sama pada topinya sendiri. Topi gambar roket itu menyusul nasib saudaranya, mengapung menyedihkan di air comberan.
"Buat apa pakai topi?" tanya Elio datar, menatap ibunya yang basah kuyup. "Papa nggak datang. Papa bohong. Pesta bubar."
"Elio..." Suara Hara tercekat. Hatinya remuk redam melihat sorot mata putranya. Itu bukan tatapan anak lima tahun. Itu tatapan orang dewasa yang dikhianati.
Elia menatap topinya yang kotor, bibirnya bergetar hebat, tapi dia tidak menangis meraung. Dia hanya menunduk, membiarkan air hujan menyamarkan air matanya. "Topi Elia... kotor..."
"Nanti Mami belikan yang baru ya. Yang lebih bagus," Hara berusaha membujuk, tangannya gemetar memegang ponsel yang layarnya basah. Aplikasi taksi online akhirnya mendapatkan pengemudi setelah sepuluh menit mencari.
"Ayo, mobilnya sudah sampai. Masuk, cepat."
Sebuah mobil MPV abu-abu berhenti di depan mereka. Hara buru-buru membuka pintu, mendorong kedua anaknya masuk agar tidak makin kedinginan.
Di dalam taksi yang ber-AC dingin, suasana terasa mencekam. Supir taksi melirik lewat spion, melihat kondisi penumpangnya yang basah kuyup dan berantakan.
"Mbak, ac-nya perlu dikecilin? Kasihan anaknya gigil," tanya supir itu sopan.
"Tolong dimatikan saja, Pak," jawab Hara lemas. Dia merogoh tasnya, mengambil tisu, berusaha mengeringkan rambut Elia.
Tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan. Elio membuang muka ke jendela, menatap jalanan Jakarta yang macet. Elia bersandar di bahu Hara, memejamkan mata. Tidak ada nyanyian ulang tahun. Tidak ada tawa. Hanya suara ban mobil membelah genangan air.
Sampai di Mansion Alger, mereka disambut oleh Bu Marta yang terkejut melihat kondisi tiga majikannya.
Belakangan Bu Marta mulai baik ke mereka karena melihat Hara adalah ibu yang baik.
"Ya ampun, Nyonya! Den Elio! Non Elia! Kok basah kuyup begini? Bukannya Tuan Cayvion jemput pakai mobil?" Bu Marta tergopoh-gopoh membawa handuk kering.
"Jangan sebut nama dia," potong Elio tajam. Dia menyambar handuk dari tangan Bu Marta, lalu berjalan lurus menaiki tangga tanpa menoleh.
Hara menghela napas panjang, mengambil handuk untuk Elia. "Bu Marta, tolong jangan tanya apa-apa dulu. Dan tolong... jangan masak makan siang. Kami mau makan di kamar saja."
"Tapi Nyonya, saya sudah siapkan soto ayam spesial ulang tahun..."
"Nggak usah, Bu. Kami mau mie instan. Tolong bawakan tiga cup ke kamar atas. Pakai air panas mendidih."
Hara menuntun Elia naik ke lantai dua, meninggalkan Bu Marta yang bengong di lobi.
Lima belas menit kemudian, di dalam kamar yang lampunya sengaja diredupkan, pesta ulang tahun yang seharusnya meriah itu digantikan oleh pemandangan miris.
Tiga orang duduk bersila di atas karpet. Di tengah mereka, bukan kue tart tingkat tiga, melainkan tiga cup mie instan yang asapnya mengebul.
"Makan, Sayang. Nanti sakit," bujuk Hara, mengaduk mie milik Elia.
Elia menyuap satu sendok kecil. Dia mengunyah pelan sekali.
"Asin, Mi," gumam Elia.
"Masa sih? Perasaan bumbunya pas."
"Asin..." Elia menunjuk pipinya. "Kena air mata Elia."
Hara meletakkan garpunya. Dia tidak kuat lagi. Dia menarik Elia ke pelukannya, mencium puncak kepala anaknya yang bau sampo stroberi campur bau hujan.
"Maafin Mami ya. Mami gagal bikin pesta buat kalian."
"Bukan salah Mami," Elio bicara sambil menatap mie-nya yang mulai mengembang karena tidak disentuh. "Salah Papa. Papa lebih sayang kertas-kertas di kantor daripada kita. Papa jahat."
Sementara itu, di lantai 50 gedung Alger Corp.
"Selamat, Pak Cayvion! Kesepakatan ini brilian!"
Mr. Robert menjabat tangan Cayvion dengan erat. Rapat lima jam yang melelahkan itu berakhir sukses. Kontrak kerja sama triliunan rupiah sudah di tangan.
Cayvion tersenyum puas, melonggarkan dasinya. Adrenalin kesuksesan masih memompa darahnya. Dia merasa menjadi raja dunia.
"Terima kasih, Robert. Senang berbisnis dengan Anda. Silakan nikmati fasilitas hotel, kita bertemu lagi nanti malam saat dinner," kata Cayvion ramah.
Setelah rombongan delegasi keluar, Cayvion kembali ke mejanya. Dia meregangkan otot lehernya yang kaku.
"Nadia!" panggilnya.
Sekretaris baru itu masuk dengan langkah takut-takut, membawa nampan berisi ponsel Cayvion.
"Ini ponsel Bapak. Maaf Pak, tadi saya simpan di laci sesuai instruksi Bapak supaya tidak ada gangguan suara getar sedikitpun."
"Bagus. Kerja kamu efisien," puji Cayvion, mengambil ponsel mahalnya. Dia menekan tombol power.
Layar menyala.
Senyum kemenangan di wajah Cayvion lenyap dalam sepersekian detik. Matanya membelalak, pupilnya mengecil.
Di layar kunci, berderet notifikasi merah yang menumpuk seperti gunung berapi siap meletus.
52 Panggilan Tak Terjawab: Hara (Istri)
15 Pesan WhatsApp: Hara
Dan yang paling membuat jantungnya berhenti berdetak adalah jam digital di pojok kanan atas layar.
14:15
Jam dua lewat lima belas menit.
"Sial..." desis Cayvion, suaranya bergetar. Wajahnya yang tadi merah merona karena bangga, kini memucat seputih kertas HVS.
Dia membuka pesan terakhir Hara. Foto topi ulang tahun yang kotor di genangan air. Tanpa caption.
Darah Cayvion berdesir hebat. Kakinya lemas. Ingatannya berputar kembali ke janjinya sendiri.
Jam 11. Jemput. Makan siang.
Dia melewatkannya tiga jam lebih.
"Nadia!" bentak Cayvion, membuat gadis itu melompat kaget. "Kenapa kamu tidak mengingatkan saya jam sebelas tadi?!"
"Ta-tapi Pak... Bapak bilang prioritas utama adalah rapat ini... dilarang ada gangguan... dan di kalender Bapak jam sebelas kosong..." Nadia membela diri dengan suara mencicit, air mata mulai menggenang.
"ARGH!"
Cayvion tidak sempat mendebat. Dia menyambar kunci mobil dan jasnya, lalu berlari keluar ruangan seperti orang kesetanan. Dia mengabaikan sapaan direktur lain, mengabaikan lift yang lambat, dan memilih lari menuruni tangga darurat dua lantai sebelum masuk ke lift khusus CEO.
Dia memacu mobil sport-nya membelah jalanan Jakarta yang basah sisa hujan. Dia menerobos lampu merah, menyalip bus, tidak peduli klakson orang-orang yang memaki.
Pikirannya cuma satu: Tamat riwayatku.
Cayvion membanting pintu mobilnya di halaman mansion. Dia berlari masuk ke dalam rumah.
Lobi rumah tidak gelap gulita, tapi suasananya aneh.
Sunyi. Senyap.
Lampu kristal menyala remang-remang, tapi tidak ada suara TV, tidak ada suara lari-lari anak kecil, tidak ada bau masakan.
Hanya ada Bu Marta yang berdiri di ujung tangga dengan wajah pucat dan tatapan... kecewa? Ya, pelayan setia itu menatap tuannya dengan tatapan menghakimi.
"Tuan sudah pulang?" sapa Bu Marta kaku. Tidak ada senyum ramah seperti biasa.
"Di mana mereka?" tanya Cayvion, napasnya memburu. Dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Di mana anak-anak? Di mana Hara?"
Bu Marta menunjuk ke lantai atas dengan dagunya.
"Di kamar, Tuan. Tapi..." Bu Marta ragu sejenak, lalu melanjutkan dengan nada memperingatkan. "Nyonya mengunci pintu dari dalam. Dan Den Elio... dia membuang semua mainan robot pemberian Tuan ke tempat sampah dapur."
Cayvion terpaku. Jantungnya mencelos jatuh ke lantai.
"Dia bilang... dia tidak butuh mainan dari pembohong."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri