NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Perjuangan Zahra dan Aura

Beberapa hari berlalu seperti kabut yang perlahan menipis. Kabar gembira datang saat dokter akhirnya mengizinkan Bunda Syakirah pulang ke rumah. Kehadiran Bunda di rumah memberikan sedikit rasa lega bagi Aura, suasana rumah kembali hangat, meski bayang-bayang Arfan belum sepenuhnya hilang dari ingatan.

Seiring berjalannya waktu, ujian akhir sekolah pun berakhir. Aura merasa beban di bahunya terangkat satu per satu. Selama hari-hari itu, ia tidak lagi melihat sosok Arfan di sekolah maupun di sekitar rumah sakit. Pesan-pesan gelap itu pun berhenti sejak Aura mematikan ponsel lamanya dan menggantinya dengan nomor baru yang hanya diketahui oleh keluarga dan teman nya.

"Alhamdulillah, ujian sudah selesai," bisik Aura sambil menatap tumpukan buku di meja belajarnya.

Namun, ia tahu ia tidak boleh lengah. Aura kini memiliki satu tujuan besar, Beasiswa ke London.

Setiap malam, ia tenggelam dalam formulir aplikasi, esai motivasi, dan latihan bahasa Inggris. Baginya, London bukan hanya sekadar kota untuk menuntut ilmu, tapi sebuah pelarian yang aman. Jarak ribuan kilometer antara Jakarta dan London adalah benteng yang ingin ia bangun untuk menjauh dari jangkauan Arfan.

"Aku harus pergi," tekad Aura dalam hati. "Aku harus menjauh sejauh mungkin sebelum Kak Arfan melakukan hal yang lebih gila lagi."

Bima yang melihat adiknya begitu ambisius belajar, sering membawakan susu hangat ke kamarnya. Ia tidak banyak bertanya, namun dukungannya terlihat jelas. Bima ingin Aura terbang tinggi, jauh dari segala ancaman yang bahkan Aura sendiri belum sanggup ceritakan kepadanya secara jujur.

Malam itu udara terasa dingin karena hujan belum juga reda. Di dalam kamarnya, Aura lagi duduk gelisah di depan laptop, mencoba fokus tapi pikirannya sering teralihkan. Sampai akhirnya, suara ketukan pintu yang agak berisik membuyarkan lamunannya. Begitu dibuka, Zahra sudah berdiri di sana dengan tas ransel penuh buku dan wajah yang kelihatan capek banget.

"Ra, gue nggak bisa kalau sendirian. Bisa gila gue di rumah," kata Zahra langsung nyelonong masuk, napasnya agak memburu.

Aura menutup pintu kamarnya rapat-rapat. "Kenapa lagi, Zah? Lo kayak habis dikejar apa aja."

Zahra meletakkan tasnya di lantai dengan bunyi berat. "Bukan dikejar orang, tapi dikejar deadline. Gue buka buku latihan soal tadi sore, dan sumpah, gue nggak paham satu pun. Gue butuh lo, Ra. Gue mau nginep di sini ya? Kita harus beresin ini bareng-bareng. Gue nggak mau impian kita ke London hancur cuma gara-gara gue nggak bisa ngerjain soal logika."

Aura melihat kesungguhan di mata sahabatnya itu. Dia juga butuh teman supaya nggak terus-terusan mikirin Arfan. "Ya udah, lo tenang dulu. Taruh tas lo. Kita beresin satu-satu ya."

Besoknya, pas hari libur, kamar Aura benar-benar berubah jadi markas tempur. Mereka berdua nggak keluar kamar sama sekali. Suasananya penuh ambisi tapi juga berantakan. Kertas esai berceceran di lantai, laptop panas karena nggak dimatikan, dan mereka berdua benar-benar dalam kondisi kacau.

"Zah, lo udah cek lagi bagian grammar di esai lo? Ini ada yang agak aneh," tanya Aura, matanya merah karena kurang tidur. Rambutnya cuma diikat asal-asalan, dan karena merasa di dalam rumah sendiri, dia bahkan nggak sempat memakai jilbabnya.

"Sini gue liat. Aduh, kepala gue udah kayak mau meledak, Ra," keluh Zahra sambil menggeser duduknya mendekat ke Aura. "Tapi demi London, gue rela deh nggak mandi seharian."

"Sama, gue juga belum mandi dari pagi," sahut Aura pelan, kembali fokus ke layar.

Sampai akhirnya Bunda masuk membawakan nampan makanan. Bunda tertegun di ambang pintu, melihat kamar yang sudah kayak kapal pecah.

"Aura, Zahra... kalian ini keterlaluan ya. Sudah jam berapa ini? Belum mandi, belum makan, kamar sudah nggak berbentuk," tegur Bunda sambil geleng-geleng kepala. Bunda mendekati Aura dan mengusap pundak anaknya itu. "Aura, pakai jilbabnya, Sayang. Biarpun di rumah ada Kak Bima, tetap harus dibiasakan rapi. Malu kalau nanti kakakmu tiba-tiba masuk."

Aura tersadar dan langsung meraba kepalanya yang polos. "Eh, iya, Bun. Sori banget, Aura beneran lupa karena saking fokusnya."

"Ya sudah, makan dulu ini. Jangan sampai kalian sakit sebelum sempat berangkat ke London," pesan Bunda sebelum keluar lagi.

Aura segera mengambil jilbab instannya dan memakainya dengan cepat. Ada rasa hangat sekaligus sedih di hatinya. Dia berjuang sekeras ini bukan cuma buat sekolah, tapi buat kabur. Buat menjauh sejauh mungkin dari bayang-bayang Arfan yang selalu mengintai.

"Ra," panggil Zahra pelan, membuat Aura menoleh. "Lo yakin kan kita bakal lolos bareng?"

Aura terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap. "Harus, Zah. Kita harus lolos."

Detik jam dinding di kamar Aura terdengar begitu nyaring, memecah keheningan malam yang baru saja usai dari riuhnya perdebatan panjang. Di atas tempat tidur yang berantakan dengan tumpukan buku, Aura dan Zahra terpaku menatap layar laptop. Sebuah kalimat singkat di sana, 'Your application has been successfully submitted,' seolah menjadi titik akhir dari segala peluh mereka.

"Gila... selesai juga akhirnya," bisik Zahra parau. Ia menjatuhkan punggungnya ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, seolah seluruh tenaganya baru saja tersedot habis. "Ra, kita beneran udah kirim. Nasib kita sekarang ada di tangan orang-orang London sana, deh."

Aura menutup laptopnya perlahan, gerakan jemarinya masih menyisakan getaran halus. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena lega, tapi karena rasa takut yang masih membayang.

"Sekarang tinggal satu hal yang paling susah, Zah," sahut Aura pelan, matanya menatap nanar ke arah jendela yang gelap.

"Apaan?" tanya Zahra tanpa merubah posisinya.

"Nunggu," jawab Aura singkat. Satu kata itu terasa begitu berat, karena di dalam waktu yang berjalan lambat itu, ada ketidakpastian yang siap menerkam mereka kapan saja.

Zahra memaksakan sebuah tawa kecil, berusaha mengusir suasana kaku yang mulai merayap. "Kita udah lakuin yang terbaik, Ra. Sampai nggak mandi, telat makan, bahkan lo ditegur Bunda gara-gara jilbab. Pokoknya doa kudu dikencengin. Kita harus lolos bareng-bareng, ya! Jangan sampai ada yang ketinggalan."

Aura hanya mengangguk pelan, meski pikirannya melayang jauh melampaui batas kota. Baginya, London adalah sebuah benteng pelarian. Semakin cepat surat panggilan itu datang, semakin cepat ia bisa membangun jarak antara dirinya dan obsesi Arfan yang semakin menyesakkan dada.

"Iya, Zah. Semoga London manggil kita," gumam Aura.

Malam itu, mereka berdua tenggelam dalam mimpi yang sama di bawah naungan atap yang sama. Namun di balik tenangnya napas mereka, ada doa-doa yang dipanjatkan Aura agar selama masa penantian ini, tak ada satu pun bayangan masa lalu yang berani menyentuh hidupnya kembali.

Bersambung.......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!