Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan
Raka terbaring dengan infus di lengan, demamnya naik turun, dan mata setengah tertutup. Ibu Rini duduk di samping, menggenggam tangannya, berdoa hampir setiap hari. Laras datang membawa makanan yang tidak disentuh, duduk diam sampai sampai jam besuk habis. Maya tidak datang—tidak setelah pergi, tidak setelah memilih dirinya sendiri.
Tapi Raka tidak melihat mereka didalam kenangan hanya siluet melambai di pelupuk mata tersenyum kepadanya," Sini sayang."
\=\=\=
Ibu Rini merasakan jantungnya berdebar tidak menentu beberapa hari, ini tidak bisa dijelaskan secara sains, tidak tercatat di buku kedokteran, tidak bisa diukur dengan alat apa pun hanya firasat seorang ibu
Raka masih terbaring di ruang rawat inap Infus masih menetes, monitor berbunyi. Dokter jaga baru saja keluar setelah mengatakan, "Kondisinya stabil, Bu, Pneumonia nya sudah mereda."
Tapi Ibu Rini tidak percaya melihat di
arena matanya berubah, biasanya, saat sadar ia akan menoleh, mencari ibunya, tersenyum tipis meski lemah. Tapi pagi ini berbeda, matanya terbuka menatap langit-langit tidak berkedip
"Raka," panggil Ibunya pelan. "Nak, Ibu di sini."
Perempuan itu meraih tangannya tidak merespon lemas. Ibu Rini mengusap mencari sisa-sisa kehidupan di ujung jari anaknya.
"Raka, jawab Ibu, Nak. Raka?"
Ia berkedip perlahan bergerak, mencari bukan Ibunya tapi sesuatu di dalam ruangan putih di kejauhan tempat yang tidak terlihat.
"Bu," bisiknya serak, hampir tidak terdengar. "Kinan... Kinan datang, Bu."
Ibu Rini membeku bulu kuduknya merinding bukan karena takut pada arwah menantunya yang sudah pergi. Tapi karena kata-kata itu, cara Raka mengucapkannya seperti seseorang sudah setengah jalan menuju pintu keluar.
"Tidak ada Kinan, Nak," kata Ibunya tenang. "Sudah dua tahun lalu. Ini Ibu, Laras, Maya. Mereka di luar jagain kamu."
Ia menggeleng lemah. "Kinan di sini, Bu, Raka melihatnya, dia... dia tunggu Raka."
Ibu Rini menelan ludah. Dadanya sesak memencet tombol memanggil perawat.
Perawat datang dalam hitungan detik.
memeriksa tanda-tanda vital, tekanan darah turun drastis, jantung melemah saturasi oksigen anjlok.
"Bu, kami harus pindahkan ke ICU," kata perawat, berusaha tenang tapi terburu-buru. "Bapak butuh pengawasan ketat."
Ibu Rini hanya bisa mengangguk tangannya masih menggenggam tidak mau lepas.
\=\=\=
Raka masuk ICU, dokter mengatakan bukan karena pneumonia. Pneumonia sudah reda, paru-paru sudah lebih bersih, demam sudah turun. Tapi sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kesehatan, kedokteran, rontgen darah atau urine.
"Stres ekstrem," kata dokter muda pada Ibu Rini, dengan kacamata tebal dan suara yang terlalu sering digunakan untuk berita buruk. "Fisiknya membaik, tapi mental... mentalnya menyerah seperti ada sesuatu yang ingin ia kejar, ia tunggu, dan tidak datang."
Ibu Rini menatap anaknya di tempat tidur ICU—dikelilingi mesin, dengan selang di hidung, mata sedikit terbuka tapi tidak melihat.
"Dia menunggu," bisiknya pada dokter, dirinya sendiri. Atau mungkin, pada sesuatu yang tidak bisa didengar dokter.
\=\=
Maya datang datang terburu-buru. Rambutnya basah oleh air hujan, mata merah berhenti di pintu ICU melihat Ibu Rini duduk dengan Quran di pangkuan, Laras di sudut dengan kopi dingin yang tidak disentuh.
"Kenapa nggak ada yang bilang?" tanyanya hampir menangis. "Kenapa nggak ada yang telepon ?"
"Gue telepon," kata Laras tenang, " Tiga kali. Lo nggak angkat."
Maya menatap ponselnya ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor sengaja ia abaikan, karena diantara mereka sudah selesai tanpa jawaban dan solusi
"Gue... gue lagi ada urusan," balasnya berbohong dan mereka semua tahu itu.
"Maafkan Raka May" kata Ibu Rini berkaca kaca, "Ia terlalu lelah mencari cintanya.
Maya duduk di lantai dingin, mengusap wajah dengan kedua tangannya ketakutan, ..sangat takut.
\=\=
Ruang tunggu ICU seperti sengaja diciptakan untuk menunggu kematian, Mereka duduk berdua tidak punya kekuasaan, jawaban, hanya menunggu sesuatu yang tidak bisa mereka kontrol.
"Lo cinta dia," kata Maya bukan sebuah pertanyaan.
"Gue cinta dia," jawab Laras jujur tanpa pertahanan.
"Gue juga."
Diam.
Dua wanita satu pria satu ruangan yang memisahkan hidup dan mati.
" Mengapa Lo tanyakan itu disaat situasi genting begini ?"
" Gue hanya memastikan, sebelum semuanya usai."
" Maksudnya?"
"Gue benci lo, tapi gue juga mengerti karena kita sama sama menunggu yang tidak pasti, menunggu diwaktu dan kesempatan yang salah ketika pintu telah ditutup."
Laras menatapnya sungguh, sesuatu yang berbeda dari wanita di kafe—rapuh, jujur, lebih... lebih mirip dirinya sendiri.
"Gue pernah benci lo juga, karena lo mirip dia. lo yang selalu ada, sementara gue pergi, tapi ternyata kehadiran juga bukan pilihan, keberanian dari diri gue nggak punya."
Maya tersenyum pahit"Keberanian? Gue? Gue lari? Itu bukan lari tapi menghindar, gue nggak bisa melihat situasi baru dirumahnya.
"Tapi waktu dia butuh, jatuh, Lo kembali, Itu sebuah keberanian lebih dari yang gue punya."
Maya menatap lantai dingin tempat yang pantas untuk dua orang mencintai, tapi tidak bisa memiliki, " Biarlah gue mengalah, gue akan pulang kampung ke tempat Ibu, memulai hidup baru."
"Jangan...May, gue saja, gue akan menembus semua kesalahan selama ini, Lo yang lebih berhak."
" Mengapa kita membicarakan ini Laras? Sementara Raka sekarang sedang berjuang."
" Maafkan gue, May. Gue takut akan kehilangan dia," bisiknya, "Gue takut."
Laras tidak menjawab. Karena jawaban sama dipikirkan oleh dokter, perawat, Ibu Rini yang terus mengusap Quran. Ya atau tidak adalah sebuah kemungkinan terlalu nyata untuk diucapkan.
---
Situasi semakin memburuk, mereka berjaga bergantian masuk ke ruangan ICU—lima menit setiap jam, aturan rumah sakit yang kaku tapi tidak bisa dibantah.
Ibu Rini pulang sebentar memberi tahu kepada suaminya yang sakit stroke, adik perempuan Raka satu satunya.
Maya masuk melihat Raka yang terbaring mesin yang berbunyi—detak jantung, napas, hidup dipaksakan teknologi.
"Ra," bisiknya menyentuh tangan yang dingin. "Gue di sini. Lo denger?Gue di sini karena... Ia terdiam, air matanya jatuh dengan cepat ia hapus.
Mesin berbunyi teratur tidak peduli dengan kata-kata, dengan cinta.
"Gue nggak minta balas atau apapun dari lo, gue hanya .... gue takut Ra, Lo pergi menyusul Kinan. Please Ra, tinggal disini , lihatlah orang orang yang lo sayangi, lo cintai, untuk ibu Lo, untuk semuanya.
Lima menit habis tak lama Maya keluar, Laras masuk duduk di samping tempat tidur tidak menangis, atau berbicara banyak, hanya menatap seolah dengan kekuatan pandangan membangunkan sesuatu di dalam jiwanya
"Gue tahu lo di sana, Ra," katanya pelan. "Bersama orang yang Lo cintai, gue tahu itu, tapi gue gak mau Lo ikut dengannya, gue masih ingin melihat Lo tersenyum, tertawa bersama dengan siapapun itu, dengan orang orang yang mencintai.
Laras tersenyum getir, " Gue rasa cukup, gue gak mau lebay ternyata cinta bukan tentang memiliki. Tapi melepaskan, lepaskan gue, Ra, lepaskan gue didalam kehidupan Lo."
Mesin berbunyi teratur, detak jantung lebih cepat dan kuat, Laras tidak melihat, tidak mengerti.
mampir 🤭