Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pulang bareng yang menyiksa
"Bara..." panggil Aluna pelan, suaranya hampir hilang.
Bara tersentak. Ia menoleh dengan tatapan yang liar dan kacau, sebelum akhirnya meredup saat melihat siapa yang berdiri di sana. Ia segera menyembunyikan tangannya yang berdarah ke belakang punggung, berusaha kembali memasang wajah dingin.
"Ngapain kamu di sini? Ini toilet cowok, Lun. Keluar," usir Bara, suaranya parau.
Aluna tidak bergerak. Matanya tertuju pada tetesan darah yang masih jatuh ke lantai.
"Tangan kamu... itu berdarah, Bar."
"Bukan urusan kamu," sahut Bara ketus, meski matanya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. "Balik ke kelas sana. Brian pasti nyariin kamu. Lagian kamu udah dapet cokelat sama bunga, kan? Kurang apa lagi?"
Aluna merasakan dadanya seperti ditusuk. Ia melangkah maju satu langkah, tidak peduli lagi dengan ucapan Bara. "Kenapa kamu harus nyiksa diri kayak gini? Kamu yang buat keputusan itu, kamu yang bilang kita nggak ada apa-apa di depan Brian! Terus sekarang kamu marah sama siapa?"
Bara tertawa miris, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia mengeluarkan tangannya yang hancur dan berdarah, menunjukkannya tepat di depan wajah Aluna.
"Aku marah sama diri aku sendiri, Lun! Aku marah karena aku pengecut! Aku marah karena harus ngeliat dia kasih mawar itu ke kamu sementara aku cuma bisa diam!".
Aluna terdiam, air matanya jatuh tanpa permisi. Di ruangan yang pengap itu, kemarahan mereka luluh menjadi kesedihan yang sama. Aluna meraih tisu di dekat wastafel, mencoba mendekat untuk meraih tangan Bara, namun Bara menarik tangannya menjauh.
"Jangan, Lun. Jangan peduli lagi sama aku," bisik Bara, kali ini suaranya pecah. "Anggap aja darah ini bayaran karena aku udah bohongin kamu. Pergi, sebelum Brian curiga."
Aluna, menatap kehancuran di mata Bara, yang sama besarnya dengan apa yang ia rasakan. Dengan tangan gemetar, Aluna meletakkan tumpukan tisu itu di pinggir wastafel.
"Sandiwara kamu hebat, Bar!. Brian percaya. Tapi liat kita sekarang... kita berdua hancur," ucap Aluna lirih sebelum akhirnya berbalik dan lari meninggalkan Bara yang kembali jatuh terduduk di lantai toilet, memandangi darahnya sendiri yang mulai mengering.
Bel pulang sekolah berbunyi ,biasanya menjadi melodi yang paling dinanti, namun bagi Aluna dan Bara, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan diantara mereka.
Parkiran sekolah sudah mulai lengang saat Brian menghentikan langkahnya di depan mobil. Ia menoleh ke belakang, menatap Bara yang sejak tadi berjalan tertinggal beberapa langkah dengan wajah yang sulit dibaca.
"Ayo lah Bar, pulang bareng gue. Lo kan juga gak bawa motor hari ini," ajak Brian santai sambil membuka kunci mobilnya.
Bara berhenti, ia sempat melirik Aluna yang berdiri di samping pintu mobil dengan kepala menunduk. "Tapi Brian.... gue bisa naik ojek," tolak Bara halus. Ia hanya ingin menjauh, ia tidak sanggup jika harus berada di satu ruang sempit dengan mereka berdua.
"Udah, pokoknya lo ikut gue titik! Aluna juga ya," potong Brian dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Bara hanya bisa menghela napas pasrah. Ia masuk ke kursi belakang, sementara Aluna duduk di kursi depan tepat di samping Brian. Bunyi pintu mobil yang tertutup rapat seolah mengunci semua oksigen di dalam sana.
Brian mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan. Ia tampak sangat ceria, sesekali bersiul pelan, sangat kontras dengan suasana di dalam kabin yang terasa mencekam. Di spion tengah, mata Bara tak sengaja bertemu dengan mata Aluna. Hanya sedetik, namun tatapan itu penuh dengan luka, sebelum Aluna segera membuang muka ke jendela.
"Kalian kenapa sih? Kok dari tadi diam-diaman terus?" tanya Brian sambil melirik Aluna. "Biasanya kalian berdua yang paling ribut kalau ketemu."
Aluna tetap bungkam. Ia hanya meremas tasnya kuat-kuat di pangkuan.
"Bar?" panggil Brian lagi karena tidak ada jawaban.
Bara berdehem, mencoba menormalkan suaranya yang terasa tercekat. "Lagi capek aja, Bri. Pengen istirahat."
Tiba-tiba, Brian meraih tangan kiri Aluna. Ia menggenggam jemari gadis itu dengan erat di atas gear box. "Sabar ya, cantik. Habis ini kita cari makan dulu biar capeknya hilang."
Bara yang melihat itu dari belakang merasa jantungnya seperti diremas. Pemandangan itu tepat berada di depan matanya. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku jaket sampai luka di buku jarinya berdenyut hebat dan darah kembali merembes membasahi perban.
Aluna tidak menarik tangannya, tapi ia juga tidak membalas genggaman itu. Tangannya terasa dingin dan lemas di tangan Brian, sementara matanya terus menatap kosong ke luar jendela.
Setelah sampai di depan rumah Aluna, Brian menghentikan mobilnya. Suasana masih tetap kaku, bahkan saat mesin mobil sudah mati.
Mobil Brian berhenti tepat di depan pagar rumah Aluna. Keheningan yang menyiksa selama perjalanan tadi akhirnya menemui titik henti, namun beban di dada mereka belum juga berkurang.
"Udah sampai, Lun," ucap Brian lembut sambil melepaskan genggaman tangannya.
Aluna menarik napas panjang, seolah baru saja mendapatkan oksigen setelah tenggelam dalam waktu lama. "Makasih ya, Brian."
"Sama-sama. Istirahat ya, jangan dipikirin lagi masalah kemarin," Brian mengusap rambut Aluna sekilas.
Aluna hanya mengangguk kecil. Sebelum turun, matanya sempat melirik spion tengah untuk terakhir kalinya. Di sana, Bara masih mematung, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Bara sejak tadi.
Begitu Aluna keluar dan menutup pintu mobil, Brian menoleh ke belakang.
"Bar, lo kenapa sih? Dari tadi diem doang kayak patung," tanya Brian sambil mulai menjalankan mobilnya lagi.
Bara tersentak dari lamunannya. "Hah? Oh, nggak apa-apa, Bri. Gue cuma... pusing aja, beneran."
"Lo berdua kompak banget pusingnya," Brian tertawa kecil, tidak menyadari nada suaranya seperti pisau bagi Bara. "Tapi syukur deh kalau semuanya udah jelas. Gue nggak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara salah paham soal Aluna."
Bara hanya bisa tersenyum miring, senyum yang dipaksakan hingga wajahnya terasa kaku. "Iya, Bri. Semuanya udah jelas banget."
Brian terus bercerita tentang rencananya mengajak Aluna jalan-jalan di akhir pekan nanti, sementara Bara hanya menatap tangannya yang diperban di dalam saku.
Darahnya sudah berhenti merembes, tapi rasa perihnya seolah menjalar ke seluruh tubuh.
Bersambung.........
Jangan lupa like dan kasih rating lima ya kak 🙏🙏 Terimakasih