NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Dari Orang Asing

Tiga bulan telah berlalu sejak insiden di Gedung Arsip B-12. Jakarta tetaplah Jakarta; bising, panas, dan tidak peduli pada satu nyawa yang baru saja kehilangan jiwanya. Kala Danuarta kini bekerja di sebuah toko reparasi jam kecil di pinggiran kota. Ia ahli dalam membetulkan roda gigi yang aus, tapi ia gagal membetulkan otaknya yang kosong.

Setiap pagi, Kala bangun di sebuah apartemen sempit yang terasa seperti museum milik orang asing. Ada foto-foto di dinding, tapi ia tidak mengenali orang-orang di dalamnya. Ada baju-baju di lemari, tapi ia merasa tidak pernah membelinya.

Pagi itu, saat ia sedang membersihkan laci meja yang terkunci, ia menemukan sebuah amplop cokelat kusam. Di atasnya tertulis: "Untuk Diriku yang Sudah Lupa."

Tangan Kala gemetar saat membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil dan selembar kertas dengan tulisan tangan yang berantakan, seolah ditulis dengan terburu-buru di tengah badai.

"Kala, jika kamu membaca ini, artinya aku sudah berhasil. Kamu menyelamatkannya. Tapi harganya adalah semua yang kita miliki. Jangan mencoba mengingat 'dia'. Setiap kali kamu mencoba mengingat, kepalamu akan sakit, dan itu adalah tanda bahwa realitas sedang mencoba menolakmu.

Pergilah ke loker stasiun nomor 109. Di sana ada sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh mesin waktu manapun. Bukan memori, tapi bukti bahwa kamu pernah mencintai seseorang melebihi nyawamu sendiri."

Kala terdiam. Dadanya sesak, sebuah sensasi fisik yang aneh karena pikirannya tidak menemukan alasan untuk merasa sedih. Ia merasa seperti sedang membaca naskah film yang tidak ia perankan.

Ia segera mengambil jaketnya dan menuju stasiun. Di sepanjang jalan, ia merasa diawasi. Di antara kerumunan orang yang memakai kemeja kantor, ia melihat kilatan perak dari kejauhan—sosok tinggi tanpa wajah yang pernah ia lihat di mimpinya yang kabur. Pemulih. Mereka masih ada.

Sampai di loker 109, Kala memasukkan kuncinya. Pintu loker berderit terbuka. Di dalamnya, tidak ada emas atau senjata. Hanya ada sebuah payung kuning yang sudah agak pudar warnanya dan sebuah pemutar musik tua (MP3 player).

Kala memasang earphone ke telinganya dan menekan tombol play.

Suara petikan gitar yang lembut terdengar, disusul oleh suara tawa seorang gadis yang sangat jernih.

"Kala! Berhenti merekam, aku sedang jelek karena kehujanan!" suara itu berkata.

Lalu suara seorang pria—suara Kala sendiri, tapi terdengar jauh lebih bahagia—menyahut, "Kamu nggak pernah jelek, Arumi. Bahkan kalau dunia ini kiamat besok, kamu tetap hal terindah yang pernah aku lihat."

Kala jatuh terduduk di lantai stasiun yang dingin. Suara itu... ia tidak mengingat wajahnya, tapi suara itu memicu getaran di pergelangan tangan kirinya—tempat jam itu dulu berada. Meski jamnya sudah hancur, bekas lukanya mulai berpendar biru.

Seketika, orang-orang di stasiun berhenti bergerak. Waktu membeku. Tetesan air dari atap stasiun menggantung di udara. Di ujung peron, sosok pria tua berbaju abu-abu (dari Bab 2) muncul lagi.

"Suara itu adalah sauhmu, Kala," ucap si pria tua. "Tapi hati-hati. Membuka kotak pandora ini berarti mengundang 'mereka' kembali. Garis waktu yang stabil adalah kebohongan yang manis. Apa kamu siap menghadapi kebenaran yang pahit?"

Kala berdiri, menggenggam payung kuning itu erat-erat. "Siapa saya sebenarnya?"

Pria tua itu tersenyum sedih. "Kamu adalah satu-satunya orang yang selamat dari kiamat yang belum terjadi. Dan Arumi... dia sedang menunggumu di detik yang hilang."

Tiba-tiba, waktu bergerak kembali dengan sentakan keras. Pria tua itu hilang, meninggalkan Kala dengan rekaman suara yang terus berputar di telinganya. Arumi. Nama itu kini bukan lagi sekadar tinta di buku catatan. Nama itu mulai berdenyut di nadinya.

Kala tahu, pekerjaannya sebagai teknisi jam belum selesai. Ia harus mencari "jam" yang lain. Jam yang tidak menghapus memori, tapi menyimpannya.

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!