Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emily Bingung
Emily tidak ingat sudah berapa lama dia menangis. Dia menangis begitu lama hingga air matanya mengering, meninggalkan matanya terasa perih.
Kemarahan terhadap situasi itu membuatnya sulit untuk menenangkan diri. Liam berhasil merusak suasana hatinya hari ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa pada Liam sialan itu, dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan petir dan membakarnya menjadi abu.
Emily tidak ingin kesedihan dan kejengkelan menguasainya. Dia memaksa dirinya untuk menyingkirkan urusan Liam ke sudut pikirannya.
Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Merasa tubuhnya seakan akan meledak karena marah, dia memutuskan untuk mandi air dingin agar bisa menenangkan diri dan menghilangkan amarahnya.
Berdiri di bawah pancuran, dia bisa merasakan air dingin menenangkan sarafnya dan perlahan meredakan kemarahannya.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan jubah mandi putih, lalu mulai mencari pakaian bersih. Namun, sebelum dia sempat membuka lemari, ponselnya berdering.
Gelombang kegugupan menghantamnya ketika dia melihat nama penelepon.
Emily segera mengangkat panggilan itu.
"Tuan Rogers, aku sudah mencoba menghubungimu. Aku minta maaf jika pesan singkatku mengganggumu, tetapi ada sesuatu yang perlu aku tanyakan kepadamu, dan ini penting. Yah, ini penting bagiku," katanya tanpa menyapanya terlebih dahulu.
Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa pria yang murah hati ini tiba tiba mengubah tarif sewa rumah ini? Alih alih menaikkannya, dia justru menurunkannya. Pria ini agak aneh.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, Emily berpikir Tuan Rogers mungkin pernah bolos pelajaran matematika di sekolah, dia tidak pandai berhitung.
"Selamat pagi, Nona Emily," suara Rogers terdengar tenang. Dia tidak terburu buru menjawabnya. "Aku sangat minta maaf, Nona... tadi aku ada rapat mendesak, jadi baru bisa meneleponmu sekarang."
"Ah, aku minta maaf telah mengganggu pekerjaanmu yang sibuk, Tuan." Emily diam diam menghela napas dalam saat berjalan ke sofa dan duduk. "Tuan Rogers, aku hanya ingin menanyakan tentang revisi kontrak sewa."
Keheningan menggantung di udara. Rogers tidak mengatakan apa apa.
Emily bertanya tanya apakah sambungannya masih tersambung. Dia menjauhkan ponselnya dan melihat bahwa Rogers belum mengakhiri panggilan. Tetapi mengapa dia tidak mengatakan apa apa?
"Halo, Tuan Rogers? Apakah kau masih di sana? Apakah kau bisa mendengarku?"
"Ya, ya, aku mendengarmu, Nona Emily. Aku minta maaf, tetapi aku harus merevisi kontrak itu. Aku sangat senang kau sudah menandatangani kontrak yang telah direvisi. Begini, sekretarisku membuat beberapa kesalahan dalam kontrak lama mengenai aturan rumah, jadi aku merevisinya," jelasnya.
"Oh, begitu. Tapi, Tuan, itu bukan yang ingin aku tanyakan. Yang ingin aku tanyakan adalah kenapa kau menurunkan tarif sewa? Apakah sekretarismu juga melakukan kesalahan pada bagian itu?" tanyanya.
Terdengar tawa kecil dari seberang telepon, yang justru membuat Emily semakin bingung. Sebelum dia sempat bertanya, Rogers kembali berbicara:
"Tidak, Nona Emily, tarif sewa yang direvisi itu bukanlah sebuah kesalahan," jawab Rogers.
Emily terengah, tetapi tidak ada kata kata yang keluar dari bibirnya. Mengapa dia melakukan itu?
"Aku sudah memberikan Ruben pengembalian dana atas kelebihan pembayaranmu. Apakah kau sudah menerimanya?"
Tersentak oleh pertanyaan Rogers, Emily segera melihat kontraknya tetapi tidak menemukan amplop uang itu.
"Tidak, aku belum menerima uang apa pun dari Ruben. Dia hanya memberiku kontrak yang telah direvisi. Tetapi, Tuan, pertanyaanku bukan tentang uangnya, pertanyaanku adalah kenapa kau menurunkan tarif sewa. Meskipun aku menghargai kemurahan hatimu karena tarif yang murah, aku merasa ini tidak benar, Tuan. Tolong jangan kembalikan uangku. Aku tidak masalah dengan tarif sewa awalku."
Emily merasa tidak nyaman menerima kebaikannya karena dia tidak mengenalnya. Bagaimana jika pria ini memiliki motif tersembunyi atas tindakannya itu? Apakah itu akan menimbulkan masalah baginya di masa depan?
Lebih baik dia memperjelasnya sekarang daripada menyesal nanti.
"Nona Emily," suara Peter terdengar tertekan. "Apakah kau akan percaya padaku jika aku mengatakan bahwa pemilik rumah yang sebenarnya ingin memasukkanku ke penjara karena aku menyewakan rumah itu kepadamu?"
"Apa? Kenapa pemilik rumah melakukan itu?" Emily terkejut. Dia tahu bahwa Tuan Rogers juga telah menyewa tempat ini selama lima tahun. Dia bukan pemiliknya.
"Yah, aku melanggar kontrak. Seharusnya aku tidak menyewakan tempat itu kepadamu. Namun, aku tidak bisa membatalkannya karena kau sudah membayar dan menandatangani kontrak selama satu tahun. Aku tidak punya pilihan selain memohon kepada pemilik agar mengizinkanmu tetap tinggal."
Emily kehilangan kata kata ketika mengetahui bahwa Tuan Rogers berada dalam masalah serius karena dirinya. Dia merasa sangat bersalah padanya. "Aku minta maaf telah merepotkanmu, Tuan," katanya dengan lemah.
"Tidak, tolong, Nona Emily. Jangan menyebutnya begitu!" dengan tergesa gesa Rogers menyela. "Nona Emily, ini adalah kesalahanku sendiri. Kau adalah korban di sini. Seharusnya kau tidak menyewa tempat itu. Tetapi karena kita sudah menandatangani dokumen, dan pemilik rumah merasa kasihan padamu jika kau harus pindah lagi, dia mengizinkanmu tetap tinggal di sana. Namun, dia memintaku untuk tidak menagihmu apa pun," lanjut Rogers.
"Apa? Jadi, pemilik rumah memutuskan untuk menurunkan tarif sewa menjadi segitu?" tanya Emily untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Sulit baginya untuk mempercayai kata kata Rogers.
"Kau keliru, Nona Emily, pemilik rumah tidak menagihmu apapun karena aku sudah membayar sewa rumah itu. Dan, dia tidak mengizinkanku menerima satu sen pun darimu..."
Emily merasa lelah berbicara dengannya. Pria ini membuatnya merasa seperti telah memasuki labirin, berjuang mencari jalan keluar. Dia merasa sulit memahami kata katanya.
"Tuan Rogers, aku ingat kau mencantumkan dalam kontrak bahwa aku harus membayarmu segitu, benar!?" tanyanya dengan bingung.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk