Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: AMPLOP NAVY BLUE
Aroma khas pendingin ruangan bercampur wangi *popcorn* menyambut Keyla dan Dinda begitu mereka melangkah masuk ke lobi Tunjungan Plaza. Kontras dengan panasnya Surabaya yang mencapai 34 derajat Celcius di luar sana, udara dingin di dalam mal terbesar ini terasa seperti surga duniawi. Bagi remaja Surabaya, "ngadem di TP" bukan sekadar aktivitas, melainkan kebutuhan biologis.
"Ya ampun, Key, Gusti Allah... kakiku rasane mau copot!" keluh Dinda, menyeret langkahnya di lantai marmer yang mengkilap. "Kita parkir di TP 6, jalan ke Gramedia di TP 1. Ini namanya olahraga terselubung."
Keyla terkikik pelan, membetulkan letak tas ranselnya. "Jangan lebay deh, Din. Itung-itung bakar kalori habis makan pentol tadi depan sekolah."
"Pentol itu sumber kebahagiaan, bukan lemak!" Dinda mendengus, tapi tetap mengekor sahabatnya menaiki eskalator. Meski mulutnya tak berhenti menggerutu dengan logat Suroboyoan yang kental, Dinda adalah orang pertama yang pasang badan jika Keyla butuh sesuatu.
Sesampainya di Gramedia, suasana tenang toko buku itu langsung meredam kebisingan mal. Keyla berjalan lurus ke lorong *stationery*. Matanya memindai deretan kertas surat mewah dan amplop berbagai warna. Jika surat-surat sebelumnya ia tulis di kertas binder biasa atau kertas HVS yang dilipat origami, kali ini harus beda. Balasan *sticky note* dari Bintang kemarin telah mengubah segalanya. Bintang tidak sekadar membaca; dia merespons. Ada dialog yang terjadi di antara kebisuan mereka.
Jari telunjuk Keyla berhenti pada satu set kertas surat berwarna *navy blue* dengan tekstur *matte* yang elegan, lengkap dengan amplop senada. Di ujung kertasnya, terdapat aksen *foil* emas berbentuk rasi bintang kecil.
"Wah, larang iki (mahal ini)," komentar Dinda, mengintip label harganya. "Yakin, Nona Cassiopeia? Uang jajanmu aman?"
"Aman," jawab Keyla mantap, mengambil set itu. "Ini investasi perasaan, Din."
"Investasi perasaan..." Dinda memutar bola matanya jenaka. "Awas aja kalau sahamnya anjlok gara-gara Vanya si nenek lampir itu intervensi."
Nama Vanya membuat senyum Keyla sedikit pudar, tapi ia buru-buru menepis bayangan wajah angkuh ketua *cheerleader* itu. Malam ini, ia akan menulis mahakarya.
***
Kamar Keyla hening, hanya ditemani suara *playlist* Lo-Fi dari laptopnya. Di atas meja belajar, lembaran *navy blue* itu terhampar. Pena gel tinta putih sudah siap di tangan. Keyla menarik napas dalam-dalam. Menulis untuk Bintang biasanya terasa seperti melarung harapan ke laut lepas, tapi kali ini rasanya seperti mengirim pesan ke tetangga sebelah rumah. Dekat, namun mendebarkan.
*Untuk Rigel,*
*Terima kasih sudah membalas. Menemukan tulisanmu di sana membuatku merasa seperti astronom yang baru saja menemukan sinyal kehidupan di planet lain. Kaget, tapi bahagia luar biasa.*
*Kamu bilang kamu merasa 'dilihat'. Tahukah kamu? Dalam astronomi, ada istilah 'Bintang Biner'. Dua bintang yang saling mengorbit pada satu titik gravitasi yang sama. Meski terlihat satu dari kejauhan, sebenarnya mereka berdua, saling mempengaruhi, saling menjaga keseimbangan tanpa perlu bersentuhan.*
*Mungkin kita seperti itu sekarang. Berputar dalam orbit rahasia di antara riuh rendah SMA Cakrawala. Kamu dengan duniamu yang silau, dan aku dengan duniaku yang sunyi.*
*Jangan khawatir, aku tidak akan pergi. Selama Rigel bersinar, Cassiopeia akan selalu ada di langit utara, mengawasimu.*
*P.S. Kertas ini warnanya seperti langit pukul tujuh malam, saat aku biasa memikirkanmu.*
*- Cassiopeia*
Keyla membaca ulang tulisan itu. Tinta putih di atas kertas biru tua terlihat sangat cantik, seolah kata-katanya benar-benar melayang di angkasa. Ia melipat surat itu dengan presisi, memasukkannya ke dalam amplop, dan menempelkan stiker bintang kecil sebagai segel.
***
Keesokan harinya di SMA Cakrawala Terpadu.
Lorong kelas XI IPA 1 masih sepi saat Keyla menyelinap masuk. Jam menunjukkan pukul 06.15. Satpam sekolah bahkan baru saja membuka gerbang utama. Jantung Keyla berdegup kencang, sebuah ritme yang sudah menjadi soundtrack rutin paginya. Dengan gerakan terlatih, ia berjongkok di samping meja Bintang.
Tangannya meraba bagian bawah laci meja. Kosong. *Sticky note* kemarin sudah tidak ada, tentu saja. Keyla menyelipkan amplop *navy blue* itu jauh ke dalam laci, di bawah tumpukan buku paket Fisika, memastikan sudut birunya tidak mengintip keluar secara sembrono.
"Misi selesai," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, saat ia hendak berdiri, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah pintu. Keyla membeku. Itu bukan langkah Pak Budi si *cleaning service*. Itu langkah sepatu basket.
Keyla panik. Ia tidak mungkin keluar lewat pintu depan tanpa berpapasan. Matanya menyapu ruangan. Lemari alat kebersihan di pojok belakang kelas sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, Keyla melesat ke sana dan menutup pintunya, menyisakan celah sekecil lidi untuk mengintip.
Sosok itu masuk. Jantung Keyla serasa berhenti. Itu Bintang Rigel.
Cowok itu datang jauh lebih pagi dari biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, seragamnya dikeluarkan, dan wajahnya terlihat lelah namun tampan—sebuah kombinasi yang selalu membuat lutut Keyla lemas. Bintang berjalan langsung menuju mejanya. Ia tidak menaruh tas, melainkan langsung merogoh lacinya, seolah-olah ia *tahu* ada sesuatu yang menunggunya.
Saat tangan Bintang menarik keluar amplop *navy blue* itu, mata Keyla melebar. Bintang tidak sekadar mengambilnya; ia tersenyum. Senyum yang benar-benar lepas, menampakkan lesung pipi yang jarang dilihat warga sekolah.
Bintang duduk di kursinya, membuka segel stiker itu dengan hati-hati agar tidak merobek amplopnya. Ia membaca surat Keyla dalam diam. Satu menit. Dua menit. Keyla bisa melihat bahu tegap itu rileks, seakan beban kapten basket yang ia pikul luruh seketika.
Lalu, Bintang melakukan sesuatu yang membuat Keyla menahan napas. Ia mengambil selembar kertas dari buku catatannya—bukan *sticky note* kecil lagi—dan mulai menulis. Pena Bintang menari cepat di atas kertas. Ia menulis cukup panjang, mungkin tiga atau empat paragraf.
Setelah selesai, Bintang melipat kertas itu menjadi bentuk persegi kecil yang rapi. Ia mengambil selotip, lalu dengan gerakan santai namun pasti, ia menempelkan lipatan kertas itu di *bawah* permukaan mejanya. Tempat persembunyian rahasia mereka.
Keyla harus membekap mulutnya sendiri agar tidak memekik. Bintang membalasnya lagi. Dan kali ini, dia meninggalkan balasan itu di sana, menunggu Keyla mengambilnya.
"Woi, Tang! Tumben pagi amat!"
Suara Aldi yang menggelegar dari pintu membuat Bintang tersentak. Dengan cepat, Bintang memasukkan surat *navy blue* Keyla ke dalam saku celananya.
"Eh, Di. Iya nih, mau ngerjain PR Fisika Pak Bambang yang kemarin," elak Bintang santai, wajahnya kembali datar, topeng 'Cool Captain' kembali terpasang sempurna.
"Halah, alasan. Bilang aja lagi nungguin Vanya," goda Aldi sambil melempar tasnya ke meja sebelah.
"Dih, ogah," gumam Bintang pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Keyla yang masih gemetar di dalam lemari sapu.
Keyla menunggu sampai kelas mulai ramai dan Bintang serta Aldi keluar menuju kantin untuk sarapan, baru ia berani keluar dari persembunyiannya. Kakinya gemetar, tapi hatinya meledak-ledak. Ia menatap meja Bintang dari kejauhan. Di bawah sana, ada surat untuknya. Surat dari Bintang Rigel.
"Ayo, Keyla. Sabar," bisiknya. "Ambil pas istirahat nanti."
Saat ia berjalan keluar kelas dengan langkah mengendap-endap, ia tidak menyadari sepasang mata tajam yang mengawasinya dari balik majalah dinding di seberang koridor. Vanya Clarissa berdiri di sana, memegang kotak susu stroberi yang sudah penyok karena diremas terlalu kuat. Matanya menyipit curiga menatap punggung Keyla yang menjauh.
"Keyla Aluna?" gumam Vanya, keningnya berkerut. "Ngapain si *invisible girl* itu keluar dari kelas Bintang pagi-pagi buta?"