Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dua Langkah Lebih Dulu
Pintu mobil Zelia tertutup. Ate duduk di kursi kemudi. Mesin menyala, dan seolah dunia luar tidak ada.
Zelia menahan napas beberapa detik.
Lalu—
Ia tertawa. Bukan tawa elegan. Bukan tawa terkontrol. Tawa puas yang nyaris kekanakan. Sisi lain dari Zelia yang hanya dilihat Are.
“Kamu lihat wajahnya tadi?” katanya cepat. Ia tanpa sadar meraih lengan Are. Erat.
“Dia pucat sekali. Dan Papa, dia berusaha terlihat tenang tapi rahangnya kaku.”
Are hanya menoleh sedikit.
Zelia bahkan tidak sadar jaraknya terlalu dekat. Ia bersandar di bahu Are. Ringan. Tanpa izin. Tanpa perhitungan.
“Aku hampir kasihan… hampir,” gumamnya, lalu terkekeh lagi.
Mobil melaju stabil. Ate pura-pura fokus ke jalan.
Zelia mengangkat wajahnya sedikit, masih di bahu Are.
“Semua karena kamu,” katanya, nadanya berubah pelan. Lebih jujur. “Kalau kamu tidak membaca ulang kontraknya… aku mungkin cuma marah. Bukan menang.”
Are tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap di stir. Tidak mendorong. Tidak juga menarik lebih dekat.
“Ini bukan tentang menang,” katanya akhirnya. Tenang seperti biasa. “Ini tentang menutup celah.”
Zelia menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum lebar. “Ya, ya. Tetap rasional. Membosankan sekali.”
Bibirnya mengerucut, tapi ia tidak menjauh. Dan seperti biasanya saat bersama Are, ia terlihat seperti perempuan seusianya.
Bukan CEO. Bukan tergugat. Bukan simbol harga diri keluarga. Hanya seseorang yang lega. Terlalu bahagia untuk menjaga jarak.
Dan Are sadar, dinding yang ia bangun bertahun-tahun, sedikit demi sedikit mulai retak.
***
Pukul 22.14.
Sebuah video berdurasi 47 detik diunggah oleh akun anonim.
Judulnya sederhana.
“Suami Dadakan Intervensi Warisan?”
Awalnya tidak banyak yang memperhatikan.
Tiga menit pertama, hanya 112 tayangan. Lima menit kemudian, angka itu melonjak.
22.19.
Potongan gambar memperlihatkan ruang kerja Atyasa. Sudutnya miring, seolah direkam diam-diam dari celah pintu.
Suara Are terdengar jelas. “Pengamanan atau pengambilalihan terselubung?”
Potongan berikutnya, Zelia dengan pulpen di tangan. “Aku tanda tangan saja kalau begitu.”
Lalu suara Atyasa: “Kamu menikahinya terlalu cepat.”
Cut.
Frame terakhir menampilkan Are berdiri lebih tinggi, lebih dominan. Tanpa konteks. Tanpa pasal jebakan. Tanpa reaksi panik Atyasa.
Narasi sudah terbentuk bahkan sebelum video selesai diputar.
22.26.
Komentar mulai mengalir.
— Jadi ini alasan nikahnya?
— Dari awal kelihatan manipulatif.
— CEO boneka?
— Harta keluarga jatuh ke tangan orang asing?
22.31.
Satu akun media gosip membagikan ulang. Lalu akun berita bisnis. Lalu akun analis hukum.
Judul berubah.
“Are Diduga Kendalikan Keputusan Warisan Zelia.”
22.47.
Tagar mulai muncul.
#SuamiKontrak
#WarisanDirebut
#ZeliaBoneka
Di kamarnya, Dian tertawa puas.
Di kamar lain, Desti awalnya terkejut. Lalu membaca komentar netizen.
“Tuh 'kan, cowoknya cuma mau harta.”
“CEO boneka.”
Perlahan wajah Desti berubah.
"Ini kesempatan. Aku gak perlu mendekati Are lagi. Cukup merusak reputasinya."
Ia tertawa, tidak lagi cemburu. Tapi ambisius.
--
Atyasa di ruang kerjanya melihat video itu dalam diam. Sangat diam. Ia tahu itu potongan. Ia tahu siapa yang merekam. Tapi, ia tidak menghentikannya. Ia membiarkan narasi itu tumbuh.
Karena sejak Zelia memberikan rekaman video sebagai bukti di pengadilan, baru kali ini opini publik berpihak padanya. Dan ia hanya berkata pelan:
“Kadang musuh terbaik adalah kesalahan kecil yang diperbesar.”
Sudut bibirnya tertarik ke atas. Senyuman terbit di bibirnya. Bukan senyum hangat, tapi dingin.
--
Fero di ruang kerjanya tertawa kecil saat melihat berita itu.
“Lihat?” katanya. “Pahlawan keluarga ternyata oportunis.”
Ini membuatnya merasa tidak sendirian dalam jatuhnya. Dan ia mulai berpikir:
"Kalau reputasi Are hancur, Zelia akan goyah. Dan kalau Zelia goyah, perusahaan goyah."
Ia makin tertawa saat membayangkan semua hal buruk itu menimpa Are.
***
Di kamar apartemen, ponsel Zelia bergetar tanpa henti. Satu notifikasi. Dua. Sepuluh. Tiga puluh.
Ia mengerutkan kening. “Apa lagi ini…”
Layar menyala. Ia membuka salah satu kiriman yang ditandai ribuan kali. Video itu langsung terputar otomatis.
Suara Are memenuhi ruangan. Zelia membeku.
“Pengamanan atau pengambilalihan terselubung?”
Potongan berikutnya, dirinya sendiri.
“Aku tanda tangan saja kalau begitu.”
Video berhenti tepat sebelum ia menghentikan tanda tangan. Tidak ada bagian di mana Atyasa maju refleks. Tidak ada bagian di mana mereka meminta revisi. Tidak ada jebakan pasal. Hanya narasi yang dipilih.
Wajah Zelia perlahan berubah. Bukan takut. Tapi marah.
“Ini dipelintir.”
Zelia buru-buru keluar dari kamarnya ingin menemui Are. Ia buru-buru menghampiri saat melihat Are yang duduk di sofa.
"Are, kau sudah lihat video itu?" ia duduk di sebelah Are. "Video saat kita di ruang kerja papaku tadi."
Are tidak langsung bereaksi. Ia sudah melihat notifikasi yang sama dua menit lalu.
Ia memutar ulang video itu tanpa suara. Mengamati sudutnya. Durasi. Potongan.
“Dari luar pintu,” gumamnya pelan.
Zelia menoleh cepat. “Kamu tahu?”
Are meletakkan ponselnya.
“Ini bukan kebocoran,” katanya tenang. “Ini framing.”
Ponsel Zelia kembali bergetar. Kali ini pesan dari tim PR perusahaan.
Reputasi Anda sedang diserang. Perlu pernyataan resmi segera.
"Lihat ini." Zelia menunjukkan pesan itu pada Are, "Kita harus gimana?”
Are tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya. Layar menyala. Bukan video yang sedang viral. Video lain.
Rekaman sejak ia pertama kali melangkah masuk ke ruang kerja Atyasa. Sudutnya stabil. Jelas. Semua terdengar utuh.
Kalimat tentang wali keluarga. Bahasa samar. Langkah refleks Atyasa saat Zelia hampir menandatangani. Nada suaranya yang berubah.
Tanpa potongan. Tanpa framing.
Zelia terpaku. “Kamu… merekam?”
Are menghentikan video tepat di momen Atyasa maju setengah langkah.
Ia menoleh pelan. “Aku tidak pernah masuk ruang musuh tanpa saksi.”
Kalimat itu bukan pembelaan. Itu prinsip.
Zelia menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena terkejut. Tapi karena baru sadar, Are tidak pernah benar-benar berada satu langkah di belakang. Ia selalu dua langkah lebih dulu.
Dan—
“Are! Aku makin suka padamu!”
Tanpa aba-aba, Zelia menubruknya. Pelukannya spontan. Erat. Hampir menjatuhkan.
Are menumpukan tangannya di sofa untuk menjaga keseimbangan.
“Zelia—”
“Aku serius!” potong Zelia cepat. Wajahnya menempel di dada pria itu. “Kamu selalu punya rencana cadangan. Selalu tenang. Selalu tahu harus apa. Aku bisa stres sendiri kalau tanpa kamu.”
Ia mendongak. Matanya berbinar tanpa malu. “Kamu tahu gak? Kamu itu bikin aku merasa aman.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bukan kalimat ringan.
Are terdiam. Tangannya sempat terangkat, berniat melepaskan pelukan itu. Tapi tidak jadi.
Ia hanya duduk kaku.
Zelia tersenyum lebar. “Aku beruntung banget nikah sama kamu.”
“Kita hanya kontrak,” jawab Are pelan. Nada suaranya datar. Tapi tidak setegas biasanya.
Zelia mengerucutkan bibir. “Kamu ini ya. Selalu merusak suasana.”
Ia tetap tidak melepas.
“Kalau kontraknya habis…” lanjutnya santai, seolah hanya bercanda, “…aku gak mau cari suami lain.”
Are menegang.
...✨“Fitnah paling berbahaya adalah yang terdengar masuk akal.”...
...“Opini publik bergerak cepat. Tapi kebenaran selalu punya waktu.”...
...“Mereka memotong video. Ia menyiapkan akhir cerita.”...
...“Ia berdiri di belakangnya. Tapi ia selalu berada di depan bahaya.”...
...“Di luar sana, namanya diseret. Di dalam sini, pertahanannya runtuh.”...
...“Mereka pikir ia terpojok. Padahal ia sedang menunggu.”✨...
.
To be continued
Are punya Bukti Vidio yang sangat akurat dan jelas...
Are belum melihat tanda lahir yang ada di tubuhnya Zelia...bagaimana mau lihat,,tidur saja terpisah
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan