Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Masa Lalu yang Panik
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Zelia akhirnya tiba di rumah sakit tempat ibu Are dirawat.
Lorong rumah sakit terasa tenang sore itu.
Saat Zelia masuk ke kamar perawatan, seorang perawat baru saja selesai mengecek kondisi pasien.
“Bu,” sapa Zelia lembut dengan senyum hangat.
Wina menoleh. Wajahnya yang pucat langsung melembut.
“Zelia…” gumamnya pelan, senyum tipis terbit di bibirnya.
Zelia menarik kursi ke samping ranjang lalu duduk. Tatapannya lembut. Hangat. Tidak lagi sebagai CEO. Tidak lagi sebagai istri kontrak.
Hanya sebagai seseorang yang ingin mengenal pria yang terlalu banyak menyimpan rahasia.
“Gimana kondisi Ibu?” tanya Zelia pelan sambil menggenggam tangan keriput itu dengan hangat.
“Sudah lebih baik,” sahut Wina dengan senyum lembut. “Dokter bilang respons obatnya bagus.”
“Syukurlah.” Zelia mengangguk. “Ibu harus cepat sembuh supaya bisa pulang.”
“Kenapa buru-buru sekali?” Wina menggoda ringan.
“Aku ingin Ibu mengajariku masak makanan kesukaan Are,” ujar Zelia polos.
Senyum Wina melebar. “Are nggak rewel soal makan.”
Zelia menyipitkan mata sedikit. “Nggak punya makanan favorit?”
Wina menggeleng pelan.
“Dia nggak pernah menunjukkan suka sesuatu secara khusus. Dan dia juga nggak pernah minta Ibu masakkan apa pun. Apa pun yang ada di meja, dia makan.”
“Kenapa?” Zelia bertanya pelan.
“Karena dia nggak pernah mau merepotkan orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Zelia terasa hangat sekaligus sesak.
Ia menunduk sebentar.
“Tapi aku nggak bisa masak, Bu,” katanya setengah bercanda. “Are nggak bakal ninggalin aku cuma karena itu, 'kan?”
Wina terkekeh kecil.
“Kamu ini.” Ia mengusap punggung tangan Zelia. “Kamu satu-satunya perempuan yang pernah ada di sisinya.”
Zelia terdiam.
“Bahkan kamu membuat dia mencukur rambut dan brewoknya. Ibu suruh berkali-kali, nggak pernah mau. Tapi begitu menikah denganmu…” Wina tersenyum penuh arti. “Dia berubah.”
Zelia ikut tersenyum. Tapi senyum itu tipis. Karena di dalam hatinya ada suara kecil yang berbisik.
"Dia menikah denganku bukan karena ingin berubah. Dia menikah karena harus. Demi biaya rumah sakit ini. Demi Ibu."
Senyumnya goyah sepersekian detik. Tangannya masih menggenggam tangan Wina, tapi pikirannya mulai terasa berat.
Kalau semua ini hanya kontrak…
Kenapa setiap kalimat tentang dirinya terasa seperti harapan?
"""
Zelia berdiri di depan jendela ruangannya. Kota masih menyala, tapi layar di belakangnya memantulkan grafik sentimen yang terus bergerak.
“Dia tidak membalas,” katanya pelan.
Are berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Karena Papamu tidak pernah bereaksi. Dia selalu reposisi.”
Zelia tersenyum tipis. “Dalam dua hari media sudah menulis tentang reformasi tata kelola.”
“Percepatan laporan kuartal,” tambah Are tenang. “Dan review independen.”
Zelia menoleh. “Publik melihatnya sebagai langkah dewasa.”
“Memang itu tujuannya,” jawab Are. “Menggeser konflik pribadi menjadi stabilitas perusahaan.”
Zelia menatapnya lebih lama. “Dan itu berhasil.”
Are menggeleng tipis. “Tidak sepenuhnya.”
Zelia mengernyit.
“Semakin dia terlihat sebagai sistem… semakin kontrasnya terlihat.”
“Kontras apa?”
“Kamu dan dia.”
Ruangan terasa lebih sunyi.
“Ayahmu sekarang berdiri sebagai struktur. Kontrol. Tata kelola.” Are berhenti sepersekian detik. “Dan kamu berdiri sebagai legitimasi.”
Zelia menarik napas dalam. “Legitimasi yang ditantang enam bulan.”
Are melangkah mendekat.
“Kalau review berjalan dan publik terus menekan,” lanjutnya pelan, “pembicaraan yang tak terhindarkan bukan lagi soal video.”
Zelia tahu kelanjutannya. “Apakah Presiden Komisaris masih figur paling aman untuk perusahaan,” ia menyelesaikan kalimat itu sendiri.
Are tidak menjawab. Karena jawaban itu terlalu jelas.
Zelia tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Lucu, ya.”
“Apa?”
“Perusahaan ini milik keluarga Ibu. Dari orang tua Ibu. Tapi setiap kali Ayah melihatku…” suaranya merendah, “…ia tidak melihat putrinya.”
Are diam.
“Ia melihat Ibu.”
Ruangan seperti menyempit.
“Dan setiap orang yang dulu berbisik bahwa ia hanya suami numpang nama… masih ada di kepalanya,” lanjut Zelia pelan. “Setiap. Kali.”
Are akhirnya berbicara, nadanya tetap stabil. “Itu sebabnya ini bukan soal saham.”
Zelia menatapnya.
“Ini soal posisi yang dulu tidak pernah ia miliki. Ayah ingin menguasai perusahaan ini,” kata Zelia lirih, “bukan untuk uang.”
“Tapi untuk menghapus bayangan," sambung Are.
Zelia menutup mata sesaat. “Dan aku adalah bayangan itu.”
Beberapa detik berlalu sebelum ia bertanya, suaranya lebih rendah.
“Kalau enam bulan ini aku gagal?”
Are menatapnya tanpa ragu. “Kamu tidak akan gagal.”
“Kamu terlalu yakin.”
“Karena aku tidak melihat ini sebagai kompetisi antara kamu dan dia.”
“Lalu?”
“Ini kompetisi antara masa lalu dan masa depan.”
Zelia terdiam.
Are melangkah lebih dekat, cukup dekat untuk membuat napas mereka hampir bersentuhan.
“Dan masa lalu selalu lebih panik ketika mulai kehilangan kendali.”
Kali ini, Zelia benar-benar menatapnya, bukan sebagai asistennya. Bukan sebagai suami kontrak dadakan.
Tapi sebagai seseorang yang berdiri terlalu tenang di tengah badai sebesar ini.
“Kamu bicara seperti pernah ada di posisi itu,” katanya pelan.
Are tersenyum tipis. “Aku hanya tidak suka melihat orang pintar bermain terlalu defensif.”
Zelia menyipitkan mata. “Kamu ini sebenarnya siapa, Are?”
Sepersekian detik. Cukup lama untuk membuat jantung bergetar.
Tapi Are mundur setengah langkah. “Hanya seseorang yang berdiri di sisi CEO,” katanya ringan. “Terutama ketika kursi itu mulai goyah.”
Zelia tahu itu bukan jawaban penuh. Dan justru itu yang membuatnya semakin berbahaya.
Karena sekarang konflik bukan lagi soal siapa benar. Bukan lagi soal siapa bersih. Tapi siapa yang bertahan paling lama.
Dan Zelia mulai menyadari satu hal yang lebih mengganggunya dari semua grafik sentimen: Jika kursi itu benar-benar goyah…
Siapa yang akan lebih dulu ia pilih?
Ayahnya.
Atau pria misterius yang terlalu tenang untuk sekadar tukang parkir.
***
Zelia memindahkan semua barang-barang Are ke kamarnya. Hari ini Wina sudah diizinkan pulang, dan sesuai kesepakatan sepihak Zelia, wanita itu akan tinggal bersama mereka.
Are duduk santai di sofa kamar Zelia, mengawasinya seperti pengamat yang tidak punya pilihan.
“Kau terlihat senang sekali. Seolah-olah yang akan pulang itu ibumu,” ujarnya.
“Tentu saja,” sahut Zelia ringan sambil menyusun pakaian Are ke dalam lemari. “Kalau aku baik pada ibumu, beliau pasti akan menyayangiku juga.”
Gerakannya lincah. Terlalu bersemangat. Namun sesaat kemudian ia berhenti. Ragu. Lalu menoleh.
“Apa ibumu punya kriteria menantu idaman?”
Are mengangkat alis. “Tentu.”
Zelia langsung mendekat. Wajahnya serius, penuh rasa ingin tahu. “Apa?”
“Tanya saja pada ibuku.”
“Are!”
Zelia memukul ringan dada Are. Tidak keras. Lebih seperti protes manja. Bibirnya mengerucut kesal.
Dan itu kesalahan besar.
Are refleks memalingkan wajah. Ia terlalu sadar jarak mereka sekarang hanya sejengkal. Aroma sampo Zelia tercium jelas. Ekspresi kesalnya… terlalu menggemaskan.
Ia tidak ingin kehilangan kendali hanya karena senyum yang salah tempat.
Zelia mendengus pelan lalu berbalik hendak kembali ke lemari.
Namun—
“Akh!”
Kakinya tersangkut kaki sofa.
“Hei!” seru Are.
Semuanya terjadi cepat.
Zelia kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks mencari pegangan, tapi kosong.
Are bangkit dalam satu gerakan.
Dan sebelum tubuh itu menyentuh lantai, ia sudah menangkapnya.
Namun posisi mereka…
Zelia jatuh setengah terduduk di pangkuan Are, sementara satu tangan Are melingkar kuat di pinggangnya, menahannya agar tidak benar-benar terjatuh.
Satu tangan Zelia refleks melingkar di leher dan satu-satunya lagi berttumpu di dada Are.
Jarak mereka... Terlalu dekat.
Wajah Zelia hanya beberapa senti dari wajahnya. Napas mereka bertabrakan.
Deg.
Zelia membeku. Are juga.
...✨"Ini bukan kompetisi antara ayah dan anak. Ini kompetisi antara masa lalu dan masa depan."...
..."Ia tidak pernah meminta apa pun....
...Karena sejak kecil ia belajar, mencintai tanpa merepotkan adalah satu-satunya cara bertahan."...
..."Ada jarak yang lebih berbahaya daripada kebencian, jarak ketika napas sudah bertabrakan, tapi hati masih menolak mengakuinya."...
..."Jika kursi itu goyah, siapa yang lebih dulu akan ia selamatkan, warisan keluarga, atau pria yang tak pernah ia rencanakan untuk dicintai?"✨...
.
To be continued
Masih mau cari cara lain apa Fero. Gak bakal menang melawan Are.
Yang bermasalah itu kalian berdua - Atyasa dan Fero.
Sekarang pun Atyasa ambisius - ingin menguasai perusahaan yang bukan haknya.
Sayangnya fondasinya terlalu kuat, Atyasa. Mana mungkin bisa menghancurkan Are.
Atyasa, Dian, Desti, dan Fero barisan orang-orang licik.
Atyasa mau mencari celah di Gala dinner.
Fero - Galacdinner mau dijadikan ajang menjatuhkan seseorang. Jatuh sendiri kau Fero.
Dian ini seorang Ibu bisa punya pemikiran jahat begitu.
Pantes Desti sebelas dua belas kelakuannya sama dengan Emak-nya, Dian.
Zelia seperti biasa, kalau sudah merasa lega dalam menghadapi peliknya pekerjaan dengan bantuan Are, tanpa aba-aba ia meloncat ke tubuh Are.
Are sudah siap, sepertinya Are sudah hafal apa yang bakal terjadi. Are menangkap tubuh Zelia tanpa goyah.
Zelia semakin berani - mengecup pipi Are.
Presentasi yang sangat baik - begitu ucap salah satu direktur sambil bertepuk tangan pelan. Beberapa lainnya ikut mengangguk.
Komentar-komentar positif dibalas Zelia dengan menunduk ringan dengan mengucapkan teima kasih.
Are juga mendapat pujian dalam kemampuannya berbahasa Jepang.
Atyasa no comment. Hanya menatap putrinya lalu berpindah ke Are.
Zelia pamit, bersama Are keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Komentar-komentar positif untuk Zelia dan Are masih berlanjut.
Mereka saling melengkapi.
Bahkan semua setuju kecuali Atyasa - kalau duet seperti itu dipertahankan, target enam bulan bukan hal mustahil.
Penerjemah yang seharusnya mendampingi meeting tidak bisa datang.
Klien Jepang menolak menggunakan penerjemah daring.
Klien Jepang hanya ingin berdiskusi dalam bahasa Jepang.
Are menguasai bahasa Jepang.
Zelia tidak menyerahkan meja negoisasi pada Are, tapi menjalankan bersama.
Zelia mempertaruhkan reputasinya pada pria yang menikahinya tanpa cinta.
Zelia memilih percaya pada Are.
Are dan Zelia sudah duduk di ruang meeting.
Atyasa terlalu banyak bicara - sepertinya meragukan meeting berjalan tanpa kehadiran translator.
Semua perkataan Atyasa jelas ditujukan pada Zelia.