NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANGUN DI TUBUH LADY CATHARINA

"Yang Mulia, apakah Anda merasa tidak enak badan?"

Seorang pelayan perempuan paruh baya dengan seragam hitam putih rapi masuk ke dalam kamar. Wajahnya penuh kekhawatiran saat melihat Catharina yang masih berdiri di depan cermin dengan ekspresi bingung.

Catharina... atau Sania di dalam tubuh Catharina, langsung memutar otaknya. Ia harus bersikap natural. Tidak boleh ketahuan kalau jiwa di dalam tubuh ini sudah berganti.

"Aku... baik-baik saja, Martha," jawabnya pelan.

Martha? Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Ternyata ingatan asli Catharina memang menyatu dengan kesadarannya. Pelayan setia ini sudah mengurus Catharina sejak kecil.

"Tapi tadi Yang Mulia berteriak. Hamba sangat khawatir."

"Hanya mimpi buruk. Tidak perlu dipikirkan."

Martha mengangguk, meski matanya masih menatap Catharina dengan was-was.

"Baiklah, Yang Mulia. Sarapan sudah siap di ruang makan. Duke Raphael juga sudah menunggu."

Deg!

Jantung Catharina langsung berdegup kencang. Duke Raphael? Sekarang? Pagi-pagi begini?

Dari ingatan Catharina yang asli, Duke Raphael jarang sekali sarapan bersama. Pria itu sibuk dengan urusan duchy-nya dan hanya datang sesekali sebagai formalitas tunangan. Hubungan mereka dingin, tanpa cinta, hanya pengaturan keluarga.

Tapi kenapa sekarang dia di sini?

"Katakan padanya aku akan turun sebentar lagi," ujar Catharina sambil berusaha menenangkan diri.

Martha membungkuk sopan lalu keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup, Catharina langsung berlari ke lemari besar yang ada di sudut kamar. Ia membukanya dengan tergesa dan ternganga melihat isinya.

Ratusan gaun mewah dengan berbagai warna dan model tergantung rapi. Ada yang berenda, ada yang bersulam emas, ada yang penuh permata. Semua terlihat mahal dan berkelas.

"Anjir... ini kayak toko butik!" decaknya kagum.

Ia mengambil salah satu gaun berwarna biru langit dengan aksen putih di bagian lengan. Simple tapi tetap elegan. Catharina tidak mau terlihat terlalu effort di hadapan Duke yang bahkan tidak ia cintai.

Saat mengenakan gaun itu dengan bantuan Martha yang kembali masuk, Catharina merasakan betapa berbedanya tubuh ini. Pinggang ramping, kulit mulus tanpa selulit, rambut pirang yang berkilau. Semua yang dulu hanya ia impikan di kehidupan lamanya sebagai karyawan kantoran yang stress.

"Sempurna, Yang Mulia. Duke pasti akan terpesona," puji Martha sambil merapikan rambut Catharina.

Catharina cuma tersenyum tipis. Terpesona? Dia peduli setan. Yang penting sekarang adalah bagaimana cara menghadapi Duke tanpa terlihat mencurigakan.

Sambil berjalan menuju ruang makan, Catharina terus menggali ingatan Catharina yang asli. Ia butuh informasi sebanyak mungkin.

Duke Raphael Ascania von Nightshade. Usia 29 tahun. Penguasa wilayah Nightshade yang terkenal kaya dan berpengaruh. Wajahnya tampan dengan rambut hitam legam dan mata abu-abu yang dingin. Sikapnya selalu formal, jarang tersenyum, dan sangat... membosankan.

Catharina yang asli sebenarnya mencintai Duke ini. Gadis malang itu selalu berusaha mendapat perhatian Duke, tapi pria itu hanya menganggapnya sebagai kewajiban. Dan di plot asli novel, Duke akan jatuh cinta pada pelayan bernama Elise yang bekerja di mansion-nya.

"Elise si pickme," gumam Catharina pelan sambil berjalan di koridor megah yang penuh lukisan.

Ia ingat betul karakter Elise di novel. Gadis dengan rambut cokelat, mata hijau, dan wajah polos yang selalu terlihat seperti anak ayam kehujanan. Tipikal female lead yang lemah lembut, selalu bilang "tidak apa-apa" meski jelas-jelas terluka, dan entah kenapa semua cowok jatuh cinta padanya.

"Gue benci banget karakter kayak gitu," desisnya kesal.

Sampai di depan pintu ruang makan, dua pelayan langsung membukakan pintu untuknya. Catharina menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

Dan di sana, duduk di ujung meja panjang dengan postur tegap, adalah Duke Raphael.

Pria itu mengenakan kemeja putih dengan vest hitam. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya... memang tampan, Catharina harus mengakui itu. Rahang tegas, hidung mancung, dan mata abu-abu yang tajam.

Tapi ekspresinyaa? Datar. Dingin. Seperti patung es yang diberi nyawa.

"Selamat pagi," sapa Catharina sambil duduk di kursi yang sudah disiapkan pelayan.

Duke Raphael mengangguk sedikit. "Pagi."

Hening.

Canggung.

Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

Catharina menatap sarapan di depannya. Roti panggang, telur, bacon, salad buah, jus jeruk segar. Semuanya tertata indah di piring porselen bermotif emas.

Ia mulai makan sambil sesekali melirik Duke yang juga makan dengan gerakan sangat sopan dan... kaku.

"Kamu terlihat berbeda pagi ini."

Suara Duke tiba-tiba memecah keheningan. Catharina nyaris tersedak jus jeruknya.

"Berbeda bagaimana?" tanyanya hati-hati.

"Biasanya kamu akan langsung bertanya kapan kita menikah atau mengajakku jalan-jalan." Duke meletakkan garpunya. Matanya menatap Catharina dengan tatapan menyelidik. "Tapi pagi ini kamu diam saja."

Catharina menelan ludah. Sial. Ternyata Catharina yang asli memang tipe cewek yang clingy dan cegil. Pantas saja Duke bosan.

"Aku hanya sedang tidak mood," jawabnya sambil berusaha terdengar santai.

"Tidak mood?" Duke menaikkan satu alisnya. "Kamu sakit?"

"Tidak. Hanya... memikirkan banyak hal."

"Hal apa?"

Catharina menatap Duke dengan serius. Di dalam hatinya, ia sudah muak dengan sikap dingin pria ini. Kenapa harus buang-buang waktu dengan laki-laki yang bahkan tidak menganggapnya?

"Aku memikirkan tentang pertunangan kita," ujarnya jujur.

Duke terdiam. Wajahnya masih datar, tapi ada kilatan sesuatu di matanya. Terkejut? Atau tertarik?

"Ada masalah dengan pertunangan kita?"

"Jujur saja, Raphael." Catharina meletakkan garpunya dan menatap Duke langsung. "Apa kamu mencintaiku?"

Pertanyaan itu membuat Duke benar-benar diam. Pria itu terlihat tidak siap dengan pertanyaan blak-blakan seperti itu.

"Cinta adalah konsep yang rumit untuk pernikahan bangsawan," jawabnya diplomatis.

Catharina tertawa sarkastik. "Jadi jawabannya tidak. Oke, aku mengerti."

"Catharina..."

"Dan aku juga tidak mencintaimu."

Kali ini Duke benar-benar terkejut. Matanya membelalak sedikit, satu-satunya ekspresi yang paling emosional yang pernah ditunjukkannya pagi ini.

"Apa?"

"Kamu dengar aku, Raphael. Aku tidak mencintaimu. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?" Catharina berdiri dari kursinya. "Aku pikir kita perlu bicara serius soal masa depan pertunangan ini."

Duke juga ikut berdiri. Tingginya hampir satu kepala lebih tinggi dari Catharina. Tatapannya masih dingin, tapi sekarang ada sesuatu yang lain di sana. Kebingungan.

"Kamu... benar-benar berbeda hari ini."

"Mungkin aku hanya mulai jujur pada diriku sendiri," balas Catharina. "Dan aku harap kamu juga bisa jujur. Kalau kamu tidak bahagia dengan pertunangan ini, katakan saja. Aku tidak akan memaksa."

Sebelum Duke bisa menjawab, pintu ruang makan terbuka. Seorang pelayan muda dengan rambut cokelat dan mata hijau masuk sambil membawa nampan.

Catharina langsung tahu. Ini dia. Elise.

Gadis itu cantik dengan cara yang natural. Wajahnya lembut, gerakannya anggun tapi juga terlihat rapuh. Tipe cewek yang bikin cowok pengen melindungi.

"Permisi, Yang Mulia. Hamba membawakan teh," kata Elise dengan suara lembut sambil membungkuk sopan.

Tapi saat matanya bertemu dengan Duke, Catharina melihat kilauan di sana. Ketertarikan. Kagum. Dan saat Duke menatap balik, ada hal yang sama.

"Terima kasih," ujar Duke dengan nada yang... lebih lembut?

Catharina ingin muntah.

Jadi ini yang namanya love at first sight versi novel toxic? Memuakkan.

Elise meletakkan cangkir teh di depan Duke dengan tangan yang sedikit gemetar. Entah karena gugup atau memang acting. Catharina tidak peduli.

"Kamu pelayan baru?" tanya Duke.

"Ya, Yang Mulia. Hamba baru bekerja di sini seminggu," jawab Elise sambil tersenyum malu-malu.

Oh my God. Catharina ingin teriak. Ini persis seperti di novel. Duke yang dingin tiba-tiba perhatian sama pelayan baru yang lugu.

"Namamu?"

"Elise, Yang Mulia."

"Elise..." Duke mengulang nama itu seperti sedang merasakan setiap hurufnya.

Oke, cukup!

Catharina bertepuk tangan keras, membuat Duke dan Elise tersentak kaget.

"Wah, menarik sekali," ujarnya dengan senyum manis tapi sarkastik. "Tapi sepertinya aku tidak lapar lagi. Permisi, Duke. Aku ada urusan."

Tanpa menunggu jawaban, Catharina berbalik dan berjalan keluar ruang makan dengan langkah anggun tapi cepat.

Di belakangnya, ia bisa mendengar Duke memanggil namanya. Tapi ia tidak peduli.

Begitu sampai di taman belakang mansion, Catharina berhenti dan mengambil napas panjang.

"Okay, Sania... eh, Catharina. Kamu bisa ini," gumamnya pada diri sendiri. "Plot novel emang lagi jalan. Duke ketemu Elise, mereka bakal jatuh cinta, dan aku bakal jadi villain kalau ngikutin script."

Ia menatap langit biru yang cerah.

"Tapi siapa bilang aku harus ngikutin script? Gue udah mati sekali gara-gara biji salak. Gue nggak bakal buang kesempatan hidup kedua buat jadi villain di cerita orang lain!"

Catharina tersenyum lebar. Rencana sudah mulai terbentuk di kepalanya.

Langkah pertama: batalkan pertunangan dengan Duke secepat mungkin.

Langkah kedua: bangun kehidupan sendiri yang nggak bergantung sama laki-laki.

Langkah ketiga: cari pria yang jauh lebih baik dari Duke Raphael sialan itu.

"Dan bonus," tambahnya sambil menyeringai, "ngeroasting habis-habisan Duke sama Elise kalau mereka mulai toxic."

Catharina berbalik dan berjalan kembali ke dalam mansion dengan penuh percaya diri.

Hidup keduanya baru saja dimulai.

Dan kali ini, ia yang akan menulis ending-nya sendiri.

***

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!