Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Baby Axellino Abraham
Bayi laki-laki yang diberi nama Axellino Abraham, kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah tiga hari berada di rumah sakit. Namun, Vania belum sadarkan diri. Gio selalu setia menemani Vania, jika wanita itu sadar dan pulih, dia berjanji akan menikahinya.
Saat ini Gio berada di rumah sakit, ini hari keempat Vania koma. Pria itu menggenggam jemari Vania, meletakkan bunga tak jauh dari ranjang wanita tersebut. Matanya menatap wajah teduh Vania, dia mengelus pucuk kepala Ibu dari anaknya itu.
"Cepat sadar, Vania. Anak kita membutuhkanmu,"
Dibawah alam sadar, Vania bisa mendengar ucapan Gio. Namun, sulit baginya untuk membuka mata dan menjawab.
"Mau berapa lama lagi kau tertidur seperti ini?" Gio menghela napas panjang. "Tapi tenang saja, aku, Gio Abraham akan selalu menemanimu. Axel, nama anak kita. Wajahnya mirip sepertiku, tapi senyumnya sama sepertimu." ucapnya berbicara dan tertawa sendiri. Tetapi terdengar ada kesedihan dibalik tawanya itu.
"Maafkan aku, maaf karena sudah membuatmu dalam kesulitan. Semoga setelah sadar nanti kau tidak membenciku.
*****
"Pulanglah, Nak." ucap seorang wanita berpakaian putih panjang menatap Vania dengan sendu.
Vania menoleh, dia sangat mengenali suara dan wajah itu. "Mama," gumamnya pelan.
"Kembalilah, Vania. Mereka membutuhkanmu. Belum waktunya kau ikut bersama dengan Mama," ucap Ibu Vania memandangi putrinya yang terlihat bingung.
"A—aku ada dimana? Dan Anakku?" Vania melihat ke sekeliling.
"Anakmu membutuhkanmu, pergilah, Nak!" wanita paruh baya itu mengecup dahi Vania. Kemudian dia melepaskan genggaman tangan mereka.
"Mama!" teriak Vania, kabut tebal menyelimuti keadaan disekelilingnya. Dia seperti sesak napas.
Ibu jari Vania bergerak, Gio yang masih berada disana tidak menyadarinya. Dia tertidur di dekat lengan Vania.
"Anakku," lirih Vania hampir tak terdengar. Bukan hanya ibu jari, kini seluruh jarinya bergerak pelan. Gio terbangun dari tidurnya karena bermimpi Vania sudah sadar. Pria itu mengucek matanya berulangkali, memastikan apa yang dia lihat saat ini.
"Dokter!" teriaknya segera beranjak dari tempat duduk. Gio tidak mempedulikan penampilannya yang acak-acakan karena bangun tidur.
Dokter berjalan cepat menuju ke ruang rawat. Dokter pun memeriksa kondisi Vania dengan sigap, sementara Gio berdiri di sampingnya, menahan napas.
"Bagaimana, Dok?" tanya Gio, suaranya penuh harap.
Dokter menatap Vania, lalu kembali ke Gio. "Dia menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Coba kita stimulasi sedikit."
Dokter melakukan beberapa pemeriksaan, dan perlahan-lahan, Vania mulai membuka matanya.
"Vania... Van, kau sudah sadar..." Gio memanggil, suaranya bergetar.
Vania memandang sekeliling, mencoba memahami keadaan. Matanya bertemu dengan Gio, dan dia terlihat bingung.
"G...Gio?" Vania mencoba berbicara, suaranya lemah.
Gio tersenyum, tak disangka air matanya ikut menetes. "Aku di sini, Vania. Aku tidak akan pergi kemanapun."
Vania berusaha mengumpulkan kesadarannya, tapi dia masih terlihat lemah. "A...Anakku?"
Gio menggenggam tangannya. "Axel baik-baik saja. Dia sudah pulang ke rumah."
Vania menatap Gio, lalu menutup matanya, sepertinya dia kelelahan.
Dokter memeriksa Vania kembali. "Dia perlu istirahat yang banyak. Tuan tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja."
Gio mengangguk, masih menggenggam tangan Vania. "Aku akan selalu di sini, Vania."
Baskara dan Risna tiba dirumah sakit dengan membawa Axel bersama mereka. Setelah mendapat kabar tentang kondisi Vania yang terkini, keduanya tidak sabar untuk melihat. Mereka bergegas menuju kamar Vania, Axel yang berusia beberapa hari itu berada di dalam gendongan Risna.
Saat mereka tiba di depan kamar, Baskara mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
"Bas, aku tunggu di luar dengan Axel," kata Risna, memeluk Axel yang ada di dalam gendongannya.
Baskara mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar. Gio yang duduk di samping ranjang Vania langsung berdiri.
"Bagaimana?" tanya Baskara, suaranya rendah.
Gio tersenyum. "Dia sadar, Pak. Tapi masih lemah."
Baskara mengangguk, lalu mendekati Vania. "Vania putriku..."
Vania membuka matanya perlahan, melihat Baskara, dia tersenyum lemah.
"Pa... Dimana anakku?" tanya Vania, suaranya pelan.
Baskara mengambil Axel dari Risna yang entah dari kapan berada di dalam kamar tersebut, lalu meletakkannya di samping Vania.
"Lihat, Axel sudah menunggu," kata Baskara, suaranya bergetar.
Vania melirik ke arah Axel, air matanya menetes. "A...aku ingin memeluknya."
Gio membantu Vania memeluk Axel, sementara Baskara memotret momen itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar karena Vania kembali tertidur akibat obat yang dokter beri.
"Pak Baskara, aku ingin bicara pada kalian berdua." ucap Gio saat mereka bertiga berada di ruang tunggu.
"Ada apa, Gio? Sepertinya sangat serius. Ini ada hubungannya dengan masalah pekerjaan atau..."
"Tidak! Ini masalah pribadi," Gio mencoba rileks, entah mengapa dirinya merasa gugup. "Saya ingin menikahi Vania, saya ingin bertanggungjawab atas perbuatan yang sudah saya lakukan padanya. Saya tidak mau Ax kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya." keputusan yang Gio ambil, selain memikirkan Axel, dia juga telah jatuh cinta pada Vania.
Baskara dan Risna menatap Gio dengan takjub, tidak menyangka Gio akan mengatakan hal itu.
"Gio, apa kau yakin?" tanya Baskara, suaranya serius.
Gio mengangguk. "Saya yakin, Pak Baskara. Saya tidak akan meninggalkan Vania dan Axel."
Risna tersenyum. "Kami mendukung keputusanmu, Nak Gio. Vania pasti akan senang dan setuju menikah denganmu."
Baskara mengangguk. "Tapi tunggu dulu karena Vania masih dalam proses pemulihan."
Gio tersenyum. "Saya akan menunggu sampai dia siap, Bas. Saya tidak akan buru-buru."
Mereka bertiga terdiam sejenak, lalu Baskara berbicara lagi.
"Gio, aku percaya padamu. Tapi, pastikan kau selalu ada untuk Vania dan Axel, tidak peduli apa yang terjadi."
Gio mengangguk, tekannya kuat. "Saya janji, Pak Baskara. Saya akan selalu ada untuk mereka."
.......
BERSAMBUNG
KALAU MEREKA MENIKAH, JANGAN LUPA DATANG DAN BAWA KADO YA READERS 😂 YUHUUU....