NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinner

Karena sudah agak siang, aku pamit kepada Moses karena harus bekerja. Aku ingin memastikan semuanya tertata sebelum malamnya. Moses tersenyum dan berkata,

Moses: “Alright, that’s fine.”

Lalu dia menatapku sebentar dan menambahkan,

Moses: “Do you have any plans tonight? I want to take you to dinner. You can choose the place.”

Aku berhenti sejenak memikirkan tawarannya. Kenapa tidak dicoba? Laki-laki ini tidak terlihat berusaha menjadi manja atau “dewet,” tapi tetap mengajakku makan malam. Itu satu hal yang menurutku jarang dilakukan oleh laki-laki.

Setelah bekerja, aku mengirim pesan padanya.

Nanas: “Let’s have dinner at Shihi Club. They have all-you-can-eat, and it’s worth it.”

Moses: “Alright, we’ll go there. I’ll arrange the time.”

Sekitar jam 8 malam kami janjian di depan Shihi Club. Sebelum berangkat, Moses memberitahuku bahwa dia memotong rambutnya. Ketika aku melihatnya, potongan rambutnya terlihat lebih rapi dan sedikit manis. Dia memakai kemeja hitam, celana jeans, dan sepatu Nike merah yang bersih. Aku tersenyum, karena penampilannya berbeda jauh dari pertemuan pertama kami.

Aku sendiri mengenakan dress ungu yang terlihat anggun. Saat bertemu, Moses menyapaku dengan senyum hangat dan kami masuk ke Shihi Club. Malam itu terasa sangat istimewa. Moses menggenggam tanganku, sesekali meneguk sedikit alkohol, dan kami menikmati makanan bersama. Rasanya berbeda dari pengalaman dinner sebelumnya—lebih personal, hangat, dan membuatku merasa sangat berharga.

Sebelumnya, aku memang datang bersama sepupuku dan temanku Amanda. Di Shihi Club, ladies bisa masuk gratis, refill minum, dan makan gratis. Aku memilih tidak ikut dinner gratis itu, ingin malam itu benar-benar khusus dengan Moses.

Nanas: “Hey, there’s a lot of food here. Can you come try some?”

Sepupuku dan Amanda turun, dan aku bertanya apakah mereka boleh ikut mencicipi makanan kami. Mereka tersenyum dan berkata tidak apa-apa.

Moses sangat lembut dan perhatian. Dia sempat merekamku sebentar, menatapku sambil tersenyum, dan memeluk tanganku. Semua gesturnya membuatku merasa nyaman dan dihargai. Saat kami makan, aku menatapnya diam-diam, melihat cara dia mengunyah, cara dia tertawa, dan gesturnya yang santai tapi penuh perhatian. Hal-hal kecil itu membuatku tersadar bahwa malam ini bukan sekadar makan malam—ini tentang merasa diperhatikan.

Setelah makan, kami memutuskan pergi ke DAMaria Club. Di sana, cowok membayar masuk, tapi cewek gratis. Moses membayar sekitar 300 ribu rupiah. Kami menari bersama, meski keringatnya sudah banyak, untungnya dia tetap wangi. Dia membelikanku beberapa minuman shot dan mengajakku menari.

Musik yang keras dan lampu yang berkedip membuat malam itu terasa hidup. Aku tertawa lebih lepas dari biasanya, merasakan kegembiraan yang sederhana namun hangat.

Akhirnya aku mulai lelah. Kami duduk di area belakang klub untuk beristirahat sebentar. Aku sedikit mabuk dan tersenyum.

Nanas: “I’m a little drunk, actually.”

Moses: “Alright… let’s go home then.”

Dalam perjalanan pulang, aku merenung. Malam itu bukan sekadar dinner atau pergi ke klub. Aku merasa diperhatikan, dihargai, dan dimanjakan—hal-hal yang jarang kurasakan sebelumnya. Perhatian kecil dan sikap hangatnya membuatku merasa spesial. Aku juga sadar, malam itu aku belajar bagaimana membiarkan diri sendiri nyaman dengan orang lain, tanpa menahan diri atau merasa canggung.

Malam itu mengajarkanku satu hal penting: perhatian dan ketulusan seseorang bisa membuat momen sederhana menjadi kenangan abadi. Aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang, membayangkan malam-malam lain yang mungkin bisa terasa sama hangatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!