Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Datang Tanpa Pemberitahuan
Tiga hari setelah malam rumah sakit itu, Alya berdiri di ruang meeting dengan senyum profesional yang sempurna.
Slide terakhir presentasi tampil di layar.
Tepuk tangan terdengar.
Klien puas.
Atasannya tersenyum bangga.
“Alya, outstanding as always.”
Ia tersenyum, mengangguk sopan.
Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Semalam, Arka terdengar lebih lelah dari biasanya.
Ia bilang ibunya sudah stabil.
Ia bilang semuanya baik-baik saja.
Tapi Alya tahu suara Arka.
Dan itu bukan suara “baik-baik saja”.
Jam menunjukkan pukul 17.40.
Ia menatap kalender.
Cuti akhir pekan sudah disetujui.
Tanpa memberi tahu siapa pun.
Tanpa memberi tahu Arka.
Bandara selalu terasa berbeda saat seseorang pergi dengan keputusan yang lebih matang.
Kali ini, Alya tidak berangkat karena ambisi.
Ia berangkat karena ingin hadir.
Pesawat mendarat menjelang tengah malam.
Udara kota kecil itu terasa lebih lembap, lebih hangat.
Taksi berhenti di depan rumah sakit.
Ia tidak pulang ke rumah.
Ia langsung ke sana.
Lorong rumah sakit sunyi.
Lampu putih pucat.
Alya berjalan pelan menyusuri koridor hingga menemukan Arka duduk di kursi panjang, kepala bersandar ke dinding, mata terpejam.
Ia terlihat jauh lebih lelah dari yang ia akui lewat telepon.
Rambutnya sedikit berantakan.
Baju yang sama seperti dua hari lalu.
Alya berdiri di depannya beberapa detik.
Lalu pelan berkata,
“Ka.”
Arka membuka mata.
Butuh dua detik sebelum kesadarannya penuh.
Lalu ia berdiri hampir refleks.
“Alya?”
Ia terlihat seperti tidak percaya.
“Kamu—”
Alya tersenyum kecil. “Aku bilang kan, aku datang akhir minggu.”
“Tapi ini masih Jumat malam.”
“Aku nggak sabar.”
Arka menatapnya seolah memastikan ini bukan halusinasi.
“Kamu beneran di sini?”
Alya mengangguk.
Dan detik berikutnya—
Arka memeluknya.
Bukan pelukan sopan.
Bukan pelukan terkendali.
Pelukan yang penuh lega.
Pelukan seseorang yang akhirnya bisa berhenti kuat.
Alya merasakan napas Arka di pundaknya.
Berat.
Hangat.
Nyata.
“Aku kira kamu nggak jadi,” bisiknya.
“Aku bilang aku datang. Aku nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi.”
Arka tidak langsung menjawab.
Tapi pelukannya menguat sedikit.
Dan Alya tahu—
Ini momen yang mengubah sesuatu.
Setelah memastikan kondisi ibunya stabil dan berbicara sebentar dengan dokter, mereka keluar dari rumah sakit.
Udara malam lebih dingin dari biasanya.
Mereka berjalan pelan menuju pantai kecil yang tidak jauh dari sana.
Tempat yang dulu sering mereka datangi waktu SMA.
Ombak kecil memecah pelan.
Lampu-lampu kapal di kejauhan seperti titik-titik diam di lautan gelap.
Arka duduk di pasir.
Alya ikut duduk di sampingnya.
Beberapa menit mereka hanya diam.
Bukan karena canggung.
Tapi karena nyaman.
“Aku hampir nyuruh kamu jangan datang,” kata Arka akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena aku nggak mau jadi alasan kamu berhenti.”
Alya menoleh.
“Kamu bukan alasan aku berhenti. Kamu alasan aku belajar menyeimbangkan.”
Arka menatapnya lama.
“Semalam aku mikir,” lanjut Alya pelan. “Kalau kita cuma bertahan karena takut kehilangan, lama-lama capek.”
“Terus?”
“Aku nggak mau cuma bertahan. Aku mau milih kamu.”
Angin laut berhembus pelan.
Arka mengernyit sedikit, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
“Milih?” ulangnya.
“Iya. Setiap hari. Bahkan kalau lagi capek. Bahkan kalau lagi sibuk. Bahkan kalau lagi kesel.”
Hening.
“Aku nggak mau hubungan ini jadi beban yang kita pikul diam-diam. Aku mau ini jadi tempat kita pulang.”
Kalimat itu membuat mata Arka sedikit berkaca.
Ia jarang terlihat seperti itu.
“Aku juga milih kamu,” katanya pelan. “Bukan karena kebiasaan. Bukan karena masa lalu. Tapi karena versi kamu sekarang… bikin aku pengen jadi lebih baik.”
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak ia berangkat—
Ia tidak merasa bersalah.
Ia merasa yakin.
Arka mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah gelang kecil.
Tipis. Sederhana. Perak.
“Aku beli ini hari kamu berangkat,” katanya.
Alya terdiam.
“Bukan cincin,” Arka cepat menambahkan sambil tertawa kecil. “Aku belum se-drama itu.”
Alya ikut tertawa.
“Tapi ini pengingat.”
Arka memakaikan gelang itu ke pergelangan tangan Alya.
“Pengingat kalau jarak bukan lawan kita. Ego yang jadi lawan.”
Alya menatap gelang itu.
Sederhana.
Tapi terasa berarti.
“Kalau nanti berat lagi?” tanyanya pelan.
“Kita ngobrol.”
“Kalau capek?”
“Kita istirahat, bukan pergi.”
“Kalau takut?”
“Kita bilang, bukan diam.”
Hening.
Lalu Alya mendekat.
Ciuman kali ini berbeda dari sebelumnya.
Lebih dalam.
Lebih yakin.
Tidak tergesa.
Seperti dua orang yang akhirnya sepakat—
Mereka tidak lagi sedang mencoba memperbaiki masa lalu.
Mereka sedang membangun masa depan.
Saat mereka saling menjauh, Arka menyentuh kening Alya.
“Terima kasih sudah datang.”
“Terima kasih sudah tetap nunggu.”
Ombak memecah pelan.
Langit malam terasa lebih luas.
Dan di antara suara laut itu, Alya sadar—
Turning point mereka bukan momen dramatis.
Bukan lamaran.
Bukan tangisan.
Tapi keputusan sederhana:
Mereka berhenti saling menguji.
Dan mulai saling memilih.
Namun jauh di dalam hati Alya, ada satu hal yang belum ia ceritakan.
Satu email dari atasannya.
Subjeknya singkat:
Contract Extension Proposal — 3 Years.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak takut membicarakannya.
Tapi ia tahu.
Keputusan itu akan jadi ujian berikutnya.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣