raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cangkul,darah dan perhatian yang meledak
Lembah Aethelgard adalah potongan surga yang tertinggal di bumi. Tersembunyi di balik tirai kabut abadi yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang memiliki niat tulus, desa ini dihuni oleh bangsa Elf berambut perak yang hidup selaras dengan alam. Udara di sini tidak berbau mesiu atau belerang seperti di Nocturnis, melainkan aroma tanah basah, pinus, dan bunga melati hutan yang mekar di malam hari.
Di sebuah gubuk kayu sederhana yang dibangun di pinggir sungai jernih, seorang pria dengan otot lengan yang biasanya mengayunkan pedang pemutus nyawa, kini sedang bergelut dengan sebuah kapak kayu yang tumpul.
"Ferdi! Kau dengar tidak?! Jangan potong kayu itu terlalu besar! Susah masuk ke dalam tungku, tahu! Kau mau aku memasak atau mau aku membuat api unggun raksasa di dalam dapur?!" teriakan melengking dari dalam gubuk membuat Ferdi menghentikan ayunannya.
Ferdi mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Ia menoleh ke arah jendela, di mana wajah cantik Vani muncul dengan dahi berkerut, rambut cokelatnya diikat asal-asalan, dan tangan kanan memegang sudit kayu yang lumayan besar.
"Vani, kayu ini butuh tenaga besar untuk dibelah. Jika kau ingin ukuran yang kecil dan cantik, belah saja sendiri dengan sihir cahayamu itu," jawab Ferdi tenang, suaranya tetap rendah dan datar,
kontras dengan nada melengking Vani.
"Enak saja! Sihirku itu untuk melindungi rakyat dan menyucikan kegelapan, bukan untuk jadi tukang kayu dadakan!" Vani keluar dari pintu sambil menghentakkan kaki, membuat debu di teras kayu beterbangan. "Dan lihat dirimu, astaga... kau berkeringat seperti itu tapi tetap saja kaku seperti papan obsidian. Cepat selesaikan, aku mau masak sup jagung dan nasi hangat. Tuan Elrond baru saja memberi kita benih jagung dan beras terbaik. Dia sangat baik, tidak seperti kau yang hanya diam seribu bahasa saat disapa tadi pagi!"
Ferdi kembali mengayunkan kapaknya. Brak! Kayu itu terbelah sempurna menjadi dua bagian simetris. "Aku tidak diam. Aku hanya tidak terbiasa bicara dengan makhluk yang telinganya lebih panjang dari belatiku. Itu membuatku waspada."
"Itu namanya rasis, Ferdi! Mereka itu ramah! Mereka bahkan meminjamkan rumah ini pada kita meskipun mereka tahu kau itu mantan Raja Kegelapan yang hobi perang!" Vani berkacak pinggang di depan Ferdi, menghalangi cahaya matahari yang menerpa wajah pria itu. "Sekarang, setelah kayu itu selesai, pergilah ke sawah belakang. Padi dan buah-buahan yang kau tanam perlu diperhatikan. Oh, dan jangan lupa peternakan ayammu! Tadi pagi kulihat ada satu ayam yang mencoba kabur ke hutan. Sepertinya dia lebih berani darimu."
Ferdi meletakkan kapaknya dan menatap Vani lekat-lekat. "Vani, aku sudah membuatkanmu sawah, menanamkanmu jagung, membangun kandang sapi, dan memberi makan domba-domba itu sejak subuh. Apa itu belum cukup untuk membuatmu berhenti mengomel selama sepuluh menit saja?"
"Tidak! Sebelum rumah ini benar-benar rapi dan peternakanmu lengkap, aku akan terus bicara! Itu hak asasi seorang wanita!" Vani menjulurkan lidahnya. "Sekarang cepat berangkat! Aku tahu kau berencana masuk ke hutan lagi hari ini, kan?"
Ferdi terdiam sesaat. Ia memang berniat masuk ke hutan terdalam hari ini. "Aku butuh beberapa ekor babi hutan liar untuk diternakkan. Protein kita hampir habis, dan aku tidak ingin kita hanya makan sayur setiap hari."
Wajah Vani yang tadinya penuh kemenangan mendadak berubah. Matanya membelalak, dan guratan kekhawatiran muncul di wajahnya. "Ke hutan lagi? Tidak boleh! Kau tahu sendiri hutan Aethelgard itu aneh. Para Elf bilang ada Shadow Stalker—binatang buas yang tidak mempan dengan pedang biasa. Kau bahkan tidak membawa pedang obsidianmu yang menyeramkan itu, kau hanya membawa belati kecil!"
"Aku bisa menjaga diri, Vani. Aku ini Ferdi, ingat? Penguasa Nocturnis?"
"Iya, kau Ferdi si keras kepala! Tapi di sini kau bukan raja! Kalau kau digigit serigala atau jatuh ke jurang karena sok jagoan, siapa yang akan menggendongmu pulang? Aku? Badanmu itu beratnya seperti bongkahan batu gunung!" Vani mendekat, suaranya merendah meski nadanya tetap tajam. "Jangan nekat. Kalau kau mau daging, kita bisa minta tolong para pemburu Elf. Jangan pergi sendirian."
Ferdi merasakan kehangatan yang aneh di dadanya. Ia maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. "Kau khawatir padaku, Ratu Cahaya?"
"I-itu... tentu saja tidak! Aku hanya khawatir kalau kau mati, tidak ada yang menebang kayu untukku! Nanti aku kedinginan saat malam! Ya, itu alasannya! Jangan percaya diri begitu!" Vani membuang muka, pipinya bersemu merah jambu yang sangat kontras dengan kulitnya yang halus.
Ferdi tersenyum tipis—senyum yang bisa membuat prajurit Nocturnis gemetar, tapi di sini, itu adalah senyum damai. "Aku akan kembali sebelum matahari terbenam. Aku janji. Masaklah sup jagungmu itu, dan pastikan rasanya tidak seasin air laut seperti kemarin."
"Itu karena garamnya tumpah karena ulah ayammu! Bukan salahku!" teriak Vani saat melihat Ferdi mulai berjalan menuju hutan dengan santai. "Ferdi! Awas saja kalau kau lecet sedikit pun! Aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa ruang tamu lagi, aku akan menyuruhmu tidur di kandang domba bersama babi hutanmu nanti!"
(Pertempuran di Hutan Bayangan)
Ferdi melangkah menembus semak berduri yang tingginya mencapai pinggang. Semakin dalam ia melangkah, cahaya matahari semakin sulit menembus kanopi pohon raksasa Aethelgard. Ia berhenti sejenak, indra penciumannya yang tajam menangkap aroma amis dan bau tanah yang teraduk.
Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon ek tua, seekor Shadow Stalker melompat. Makhluk itu berbentuk seperti serigala namun dengan kulit sekeras batu dan mata yang menyala ungu. Itu adalah predator puncak di wilayah ini.
"Sepertinya kau tidak suka tamu," gumam Ferdi sambil mencabut belati kecil dari pinggangnya.
Serigala itu menyeruduk dengan kecepatan luar biasa. Ferdi menghindar ke samping, namun kuku tajam makhluk itu sempat menyerempet bahunya, merobek baju kain sederhananya dan menggores kulitnya. Darah segar merembes keluar.
Ferdi tidak meringis. Ia justru merasa sedikit bersemangat—perasaan yang sudah lama hilang sejak ia pensiun sebagai raja. Ia berputar, menggunakan momentum serangan serigala itu untuk melompat ke punggungnya. Dengan keahlian bertarung yang mendarah daging, ia menusukkan belatinya ke titik lemah di bawah leher makhluk itu.
Serigala itu melolong kesakitan, mencoba menjatuhkan Ferdi. Mereka berguling di tanah lumpur, menabrak semak-semak. Ferdi mendarat dengan keras di atas akar pohon, membuat tulang rusuknya terasa nyeri. Namun, ia berhasil mengunci pergerakan binatang itu dan melumpuhkannya tanpa harus membunuhnya—sesuai janjinya pada para Elf untuk tidak merusak ekosistem kecuali terpaksa.
Setelah mengikat binatang liar yang pingsan itu untuk dibawa pulang (tentu saja bukan yang ini untuk diternak, tapi babi hutan yang ia tangkap sebelumnya), Ferdi menarik napas panjang. Bahunya perih, dan ada luka gores di pipinya.
"Sial," bisiknya. "Vani akan mengomel sampai telingaku copot."
Kepulangan dan Ledakan Perhatian
Matahari hampir tenggelam saat Ferdi sampai di gubuk. Ia membawa seekor anak babi hutan di pundak kirinya dan beberapa luka di tubuhnya.
Vani sudah berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap. Saat melihat Ferdi yang kotor penuh lumpur dan... ada noda merah di bahunya, wajah Vani berubah pucat lalu seketika memerah karena amarah.
"FERDI! APA YANG KULAKUKAN TADI PAGI?! JANGAN LECEТ!" Vani berlari menghampiri, hampir menabrak babi hutan yang dibawa Ferdi. "Turunkan hewan bau itu! Cepat!"
Ferdi meletakkan buruannya di kandang sementara dengan santai. "Aku hidup, Vani. Tenanglah."
"Tenang?! Kau berdarah, bodoh! Kau lihat bahumu? Kau lihat pipimu?" Vani menarik lengan Ferdi masuk ke dalam rumah. Ia mendorong Ferdi untuk duduk di kursi kayu. "Jangan bergerak! Kalau kau bergerak, aku akan menyinarimu sampai kau buta!"
Vani mengambil kotak obat dengan gerakan kasar yang sebenarnya menyembunyikan tangan yang gemetar. Ia mulai membersihkan luka di bahu Ferdi dengan air hangat.
"Aduh," desis Ferdi saat air itu menyentuh lukanya.
"Rasakan! Biar tahu rasa! Kenapa kau nekat sekali, sih? Kau pikir kau masih punya pasukan penyembuh di belakangmu? Di sini hanya ada aku! Dan aku bukan perawatmu!" Vani mengomel tanpa henti, air matanya mulai menggenang di sudut mata. "Kau tahu betapa takutnya aku saat kau telat sepuluh menit? Aku hampir saja membakar hutan itu dengan sihirku untuk mencarimu!"
Ferdi menatap wajah Vani yang sangat dekat dengannya. Ia bisa melihat betapa tulusnya kekhawatiran di mata wanita itu. "Maafkan aku. Tadi ada sedikit kendala dengan serigala bayangan."
"Sedikit kendala katanya?! Kau hampir jadi santapan mereka!" Vani menekan kapas dengan agak keras ke luka Ferdi, membuatnya meringis lagi. "Kau itu... kau itu satu-satunya orang yang kupunya sekarang, Ferdi. Kalau kau kenapa-kenapa, siapa yang akan aku ajak bertengkar setiap hari?"
Ferdi meraih tangan Vani yang sedang mengobati pipinya. Ia menggenggam jemari lembut itu. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Vani. Aku sudah berjanji, kan? Kita akan menua di desa terpencil ini sampai kau bosan mengomel padaku."
Vani terdiam. Ia membuang muka, mencoba menghapus air matanya dengan bahu. "Hmph! Siapa juga yang mau menua bersamamu! Aku hanya tidak mau repot menguburmu sendirian!"
"Terima kasih sudah peduli, Vani."
"Sudah! Diam! Makan supmu sana! Dan malam ini, kau tetap tidur di ruang tamu! Jangan harap bisa masuk kamar hanya karena kau sedang luka!"
Ferdi tertawa kecil, suara yang hangat mengisi gubuk kayu itu. "Tentu, Ratu Cerewet."
"Dan jangan panggil aku cerewet!"
Malam itu, di bawah perlindungan kabut Aethelgard, sang mantan Raja Kegelapan tidur dengan nyenyak di sofa ruang tamunya yang sempit, sementara sang mantan Ratu Cahaya terus memperhatikannya dari celah pintu kamar untuk memastikan napas pria itu tetap teratur. Gengsi mereka mungkin masih setinggi gunung, namun di lembah ini, cinta mereka tumbuh lebih subur daripada padi di sawah mereka.