NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Penjaga Makam dan Teratai Kematian

​Kabut ungu yang menyelimuti Pulau Karang Kematian tidak berbau, namun memiliki kepadatan yang tidak wajar. Begitu Arya melangkah menembus tirai kabut tersebut, suara deburan ombak dan hiruk-pikuk dari armada kapal di luar sana lenyap seketika, digantikan oleh keheningan mutlak yang mencekam.

​Ini bukanlah kabut beracun biasa hasil fenomena alam. Ini adalah Miasma Pembusuk Tulang, sebuah formasi pertahanan yang sengaja dipasang oleh kultivator kuno untuk mencegah manusia fana menodai tempat peristirahatan terakhirnya. Bagi manusia biasa atau bahkan mutan tingkat S sekalipun, menghirup miasma ini selama satu menit akan membuat paru-paru mereka mencair.

​Namun bagi Arya, Sang Kaisar Vajra, miasma ini hanyalah udara kotor.

​Saat kabut ungu itu mencoba menyusup ke pori-pori kulitnya, lapisan tipis energi keemasan dari Sembilan Transformasi Naga Langit berkedip di permukaan tubuhnya. Alih-alih meracuni, miasma itu justru disaring, dimurnikan secara paksa, dan diserap masuk ke dalam Dantian-nya sebagai tambahan energi spiritual kecil.

​"Formasi Ilusi dan Miasma tingkat rendah," gumam Arya santai, matanya menyapu sekeliling. "Pemilik tempat ini paling banter hanya seorang kultivator di tahap awal Inti Emas (Golden Core). Untuk ukuran Bumi yang miskin energi, dia pasti dianggap sebagai dewa di eranya."

​Arya melangkah menyusuri tanah bebatuan karang yang tajam dan menghitam. Tidak ada tumbuhan hidup di pulau ini, hanya kerangka-kerangka putih yang berserakan.

​Beberapa ratus meter ke dalam pulau, Arya menemukan sisa-sisa dari tim elit militer asing dan beberapa seniman bela diri independen yang rupanya berhasil menyelinap masuk sebelum blokade angkatan laut dimulai. Tubuh mereka mengenakan perlengkapan canggih—baju zirah anti-radiasi, senapan plasma, dan pedang paduan titanium.

​Namun, semua senjata modern itu tampak tidak berguna. Baju zirah mereka robek dengan ujung yang kasar, seolah dikoyak oleh cakar raksasa, dan tubuh mereka telah mengering seperti mumi akibat miasma.

​SREEEKKK...

​Tiba-tiba, suara gesekan sisik kasar yang bergeser di atas batu karang memecah kesunyian. Suara itu datang dari celah gua raksasa di tengah pulau, pusat dari segala miasma ungu tersebut memancar.

​Udara mendadak menjadi sangat dingin. Aroma amis darah yang sangat pekat menguar dari dalam kegelapan gua.

​Sepasang mata reptil berwarna merah darah, masing-masing sebesar roda mobil, perlahan muncul dari balik bayangan. Disusul oleh kepala berbentuk segitiga raksasa dengan sisik hitam metalik yang memantulkan cahaya redup kabut ungu.

​Seekor Piton Sisik Besi raksasa, dengan panjang tubuh melampaui tiga puluh meter dan ketebalan setara gerbong kereta api, merayap keluar. Ini adalah Monster Spiritual penjaga makam yang telah hidup selama ratusan tahun, bermutasi karena terus-menerus menyerap miasma. Kekuatannya setara dengan kultivator tingkat Puncak Pembangunan Fondasi!

​Piton raksasa itu menatap Arya. Lidah bercabangnya mendesis, merasakan fluktuasi darah manusia segar. Monster ini adalah pelaku yang membantai seluruh pasukan elit asing dalam hitungan detik.

​Melihat mangsa baru yang tampak kurus dan kecil, ular itu membuka rahangnya lebar-lebar, memperlihatkan taring melengkung yang meneteskan bisa hijau korosif. Tanpa peringatan, ia menerjang maju dengan kecepatan kilat, menelan ruang di antara mereka. Tujuannya hanya satu: menelan Arya bulat-bulat.

​Arya tidak bergeser satu sentimeter pun. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku, sementara tangan yang lain terangkat santai ke depan.

​"Ular cacing," ucap Arya, suaranya sangat tenang namun memuat tekanan spiritual yang membelah udara. "Di hadapan Sang Naga, beraninya kau mengangkat kepalamu?"

​BOOM!

​Aura Kaisar Abadi yang selama ini disembunyikan Arya akhirnya dilepaskan sepenuhnya. Ilusi bayangan seekor Naga Emas bercakar lima yang sangat agung mendadak bermanifestasi di belakang tubuh Arya, mengaum tanpa suara namun mengguncang jiwa setiap makhluk hidup di sekitarnya.

​Piton raksasa yang sedang melayang di udara menukik tajam itu seketika membeku.

​Naluri purbanya sebagai binatang buas langsung mengambil alih. Aura di depannya bukanlah manusia, melainkan predator puncak dari seluruh alam semesta! Garis keturunan reptilnya menjerit ketakutan.

​Bruk!

​Kepala raksasa ular itu menghantam tanah bebatuan dengan keras, hanya berjarak satu meter di depan ujung sepatu Arya. Ular sepanjang tiga puluh meter itu langsung melingkarkan tubuhnya erat-erat, menempelkan kepalanya ke tanah dan gemetar hebat layaknya anak anjing yang ketakutan. Ia merengek pelan, sepenuhnya tunduk.

​Monster yang tak tertembus oleh meriam dan peluru kendali itu bertekuk lutut hanya karena satu tatapan dari Arya.

​"Bagus. Berjaga di luar. Jika ada lalat fana yang masuk menembus kabut, makan mereka," perintah Arya singkat. Ia menepuk moncong raksasa piton itu dengan acuh tak acuh, lalu melangkah santai melewatinya, masuk ke dalam gua yang gelap gulita.

​Piton itu kembali mendesis pelan, kali ini dengan nada patuh, dan melingkar di depan mulut gua bagaikan penjaga pintu yang paling setia.

​Di dalam gua, Arya berjalan menyusuri lorong batu yang dindingnya dihiasi oleh formasi pendar cahaya kuno. Semakin dalam ia berjalan, miasma ungu semakin pekat, namun Qi spiritual yang terkandung di dalamnya juga semakin murni.

​Akhirnya, ia tiba di ruang utama makam. Ruangan itu sangat luas, berbentuk kubah alami. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam kecil berisi cairan hitam pekat.

​Di atas kolam hitam itu, mengambang sebuah bunga teratai yang sangat menawan. Bunga itu memiliki sembilan kelopak yang tembus pandang seperti kristal ungu, memancarkan cahaya mistis yang menerangi seluruh ruangan.

​Mata Arya sedikit melebar. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Bumi, ada secercah ketertarikan sejati di wajahnya.

​"Teratai Jiwa Sembilan Bayangan," gumam Arya, senyum puas akhirnya terukir di bibirnya. "Tumbuhan spiritual tingkat Bumi. Di alam asalku, ini hanyalah gulma. Namun di planet yang nyaris mati ini... ini adalah harta karun absolut."

​Teratai ini adalah alasan mengapa miasma beracun terbentuk sebagai mekanisme pertahanannya, dan alasan mengapa ular raksasa di luar bermutasi.

​"Dengan teratai ini," Arya mengepalkan tangannya perlahan. "Aku tidak hanya bisa menyempurnakan fondasiku menuju Puncak mutlak, tetapi aku bisa mulai memadatkan Inti Emas (Golden Core)-ku jauh lebih cepat dari perkiraan."

​Namun, pandangan Arya tidak berhenti pada teratai tersebut. Di dasar kolam yang hitam, mata spiritualnya menangkap kilauan benda lain. Sebuah bongkahan batu berwarna perak gelap, seukuran kepalan tangan, yang tidak berkarat sedikit pun meski direndam dalam air miasma selama ratusan tahun.

​"Baja Bintang Meteorit," Arya tersenyum semakin lebar. Dengan satu jentikan Qi, bongkahan batu perak itu melayang keluar dari air dan jatuh ke telapak tangannya. Bobotnya luar biasa berat, sepuluh kali lipat dari baja biasa.

​Bahan ini adalah material terbaik untuk menempa senjata spiritual.

​"Nadia," bisik Arya, membayangkan wajah istrinya. "Aku sudah berjanji akan membimbingmu berjalan di atas awan. Sekarang, aku telah menemukan material yang sempurna untuk menempa pedang terbang pertamamu."

​Arya menyimpan Teratai Jiwa dan Baja Bintang Meteorit itu ke dalam ruang penyimpanan spiritualnya. Misi di Pulau Karang Kematian telah selesai dengan hasil yang sangat memuaskan.

​Ia membalikkan badan, siap untuk kembali ke Kota Emerald dan memulai retret kultivasi tertutupnya. Namun, Arya tidak menyadari bahwa hancurnya armada kapal asing di luar sana telah mengirimkan sinyal bahaya tertinggi ke markas komando Aliansi Barat.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!