Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Tengah malam, saat jalanan sepi, taksi online yang membawa Naka dan Zea menuju rumah sakit melaju dengan sangat kencang. Sepanjang jalan, Zea yang cemas terlihat berkali-kali menyeka air mata, sementara Naka yang ada di sebelahnya, hanya bisa melihat, tak tahu harus berbuat apa. Tapi yang pasti, dalam hati terus berdoa semoga Arka baik-baik saja, terlepas dia anaknya atau bukan.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menyusul Rizal ke IGD. Terlihat di sana, Rizal tengah duduk di kursi tunggu seorang diri.
Melihat Naka dan Zea berjalan dengan langkah lebar ke arahnya, Rizal buru-buru berdiri.
"Bagaimana Arka? Gimana kondisi Arka?" tanya Zea cemas, menoleh ke arah pintu IGD yang tertutup.
"Arka sedang diperiksa di dalam, dia ditemani Vira."
"Bagaimana ceritanya, kenapa sampai kejang?" tanya Naka.
"Ya karena demamnya terlalu tinggi!" bentak Zea, menatap Naka nyalang. Ia tak akan pernah memaafkan laki-laki itu jika sampai sesuatu terjadi pada Arka.
Rizal menelan ludah susah payah, agak keget juga melihat ada yang berani membentak bosnya seperti barusan. Inikah definisi, selembut apapun ibu, akan berubah menjadi singa saat anaknya terancam. Fix, gender sebelah memang perlu diwaspadai.
"Ini yang kamu bilang dia baik-baik saja hah?" Zea tak bisa mengontrol emosi, suaranya terdengar begitu lantang di situasi hening seperti sekarang. "Ini yang kamu bilang tidak menyakiti anakku?" mendorong bahu Naka. "Bangsatt kamu!" makinya tepat di depan wajah Naka.
Mulut Rizal makin menganga lebar. Dia gak mimpikan, bosnya barusan dimaki oleh penjual es teh.
"Udah, Ze!" desis Naka, mencekal pergelangan tangan Zea yang menunjuk ke arahnya. "Ini rumah sakit," mengingatkan sambil melihat sekitar.
"Ini semua gara-gara kamu!" tekan Zea dengan nafas naik turun. "Anakku masuk rumah sakit gara-gara kamu!"
Rizal mengusap tengkuk, bingung harus berbuat apa. Beberapa orang yang tak sengaja lewat melihat, semoga saja satpam tak datang gara-gara keributan mereka. Makin bingungkan dia, ada masalah apa sebenarnya antara bosnya dengan Zara. Siapa sebenarnya Zara?
"Badan Arka panas sejak sore tadi, Vira sudah kasih obat dan mengompresnya, tapi demamnya tidak kunjung turun," jelas Rizal. "Demamnya makin tinggi saat malam hari, ia sampai mengigau, seperti tak sadarkan diri, lalu kejang beberapa saat."
"Allahu akbar," Zea mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Melihat Vira keluar dari IGD, Rizal langsung menghampirinya, begitu pun dengan Zea dan Naka.
"Gimana kondisi Arka?" tanya Rizal.
"Alhamdulillah, udah tertangani," Vira menatap 3 orang yang tengah mengerubunginya. "Tapi karena tadi sempat kejang saat di rumah, dan panasnya belum turun, Dokter bilang masih harus ada pemeriksaan lanjutan. Dan sekarang, kita di suruh mengurus administrasi, Arka harus opname."
"Kamu urus, Zal," titah Naka.
"Aku mau masuk melihat Arka," Zea langsung saja masuk ke dalam IGD, lalu di susul oleh Vira. Ada 3 brankar disana, namun hanya satu saja yang terisi. "Arka," panggilnya sambil mewek. Setelah beberapa hari terpisah, akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan putranya.
"Ibu... " Arka menangis bahagia melihat ibunya. Kedua tangannya terulur, ingin menggapai sang ibu.
Vira yang sejak tadi bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan wanita itu, akhirnya menemukan jawabannya. Ikut senang, Arka bisa bertemu dengan ibunya.
Zea memeluk Arka yang terbaring di ranjang, berkali-kali mengecup kening dan pipi putranya.
"Ibu jangan pergi, jangan tinggalin Arka." Arka memegang erat lengan Ibunya saat wanita itu melepaskan pelukannya.
Zea mengangguk sambil menangis sesenggukan.
"Ibu jangan kerja di luar negeri," Arka terisak. "Arka janji, Arka gak akan nakal, Arka gak minta sepeda baru."
Setiap ucapan yang keluar dari bibir mungil Arka membuat Zea makin sesenggukan. Arka adalah korban sesungguhnya dari kesalahannya dan Naka di masa lalu. Nakes yang berdiri di sebelah ranjang Arka, yang sedang menyiapkan infus, sampai menatapnya.
"Ibu gak akan kemana-mana, kita akan selalu sama-sama terus," Zea kembali mengecup kening Arka.
"Ibu janjikan?"
Zea mengangguk sambil menyeka air mata. "Arka cepat sembuh ya, Nak," ia lalu ganti menyeka pipi Arka yang basah dengan kedua telapak tangannya.
"Arka, tahan sedikit ya, agak sakit," ujar nakes, memegang tangan kiri Arka, siap memasang infus.
Arka mengangguk, sebelah tangannya digenggam erat sang Ibu. Matanya terpejam saat jarum infus ditancapkan pada pembuluh darahnya.
"Pinter banget Arka, gak nangis," Nakes wanita itu tersenyum, memasang plester agar infus tidak bergeser atau terlepas.
"Anak Ibu pinter," Zea mengusap puncak kepala Arka sambil tersenyum.
"Arka kalau besar mau jadi apa?" tanya nakes yang mengatur kecepatan tetesan infus.
"Aku mau jadi superheronya Ibu. Aku mau jagain Ibu," menatap kedua mata ibunya.
Zea yang baper, kembali menangis.
Di bagian administrasi, Rizal bingung saat ditanya soal identitas Arka. Nama lengkap saja ia tidak tahu, demikian pun dengan umur dan nama orang tuanya. "Tunggu sebentar, ya mintakan pada ibunya."
"Ini saja," Naka yang tiba-tiba datang, meletakkan KTP nya ke atas meja administratif. "Sementara pakai itu sebagai identitas penjamin, besok akan kami lengkapi yang lainnya."
Petugas administrasi menganguk, lalu mengambil KTP Naka. "Kalau boleh tahu, ini... "
"Saya ayah pasien."
Rizal langsung menoleh, syok.
"Baiklah saya proses terlebih dahulu. Ini kamarnya mau yang apa?"
"VIP. Berapa deposit yang harus saya bayar." Naka mengambil ponsel di saku untuk mentransfer uang deposit. "Oh iya, apa disini, bisa melakukan tes DNA paternitas?"
"Bisa, Pak."
"Siapa yang mau tea DNA, Pak?" Rizal kepo.
"Saya dan Arka."
Rizal sontak menutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangan.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣