Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Sisa Sisa Kemanusiaan
Malam itu, di puncak menara, Arga Satria sang mantan kuli panggul benar-benar menghilang. Yang tersisa adalah macan yang sedang mencoba membunuh siapa pun yang ada di depannya, termasuk sekutunya sendiri.
Sisa-Sisa Kemanusiaan
Udara di lantai empat puluh sembilan itu mendadak dingin, seolah-olah ruangan ini telah berubah menjadi gua es yang mematikan. Arga berdiri kaku, jemarinya yang kini kuku-kukunya memanjang tajam dan menghitam perlahan melingkar di leher Rio Hardianto. Pria itu sudah berhenti berteriak; ia hanya bisa menatap Arga dengan bola mata yang nyaris keluar, tercekik oleh kekuatan yang melampaui logika manusia.
“Habisi dia, Inang! Dia hanya manusia lemah yang akan menjadi saksi kehancuranmu. Jika dia hidup, dia akan menceritakan monster ini kepada dunia!”
Suara Macan Kencana di kepala Arga kini bukan lagi bisikan, melainkan raungan yang merobek-robek kesadaran Arga. Di depan matanya, wajah Rio mulai berbayang. Arga tidak lagi melihat seorang sekutu; ia melihat mangsa yang detak jantungnya berdegup kencang seperti drum perang.
"Ar... Arga..." suara Rio tertahan di tenggorokan, tersedak.
Tepat saat kuku Arga mulai menembus kulit leher Rio, sebuah kilatan cahaya dari monitor ruangan yang masih menyala menarik perhatian sekilas. Sebuah wallpaper foto di layar komputer meja kerja yang terbuka: foto seorang gadis dengan senyum yang lembut, berdiri di bawah sinar matahari pagi di sebuah pelabuhan.
Foto itu... foto itu tampak sangat familiar.
Sesuatu dalam diri Arga bergetar hebat. Rasa sakit yang membelah kepalanya terasa seperti tersengat ribuan volt listrik. Ia menarik tangannya sejenak, menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar. Darah Rio sudah sedikit membasahi kemejanya.
“Apa yang kau lakukan?! Jangan berhenti!” Macan Kencana meraung marah.
Aku... aku punya seseorang... batin Arga berontak.
Ia memejamkan mata, memaksakan memorinya bekerja. Ia melihat bayangan buram. Seorang gadis yang memegang tangannya di bawah hujan. Seorang gadis yang selalu menunggunya pulang ke kontrakan petak. Sari.
Arga membanting tubuh Rio ke lantai dengan satu hentakan kasar. Rio terbatuk hebat, menghirup oksigen dengan rakus. Arga sendiri jatuh terduduk, napasnya menderu. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Sisi "manusia" di dalam dirinya sedang melakukan perlawanan hidup dan mati melawan kutukan Mustika yang ingin menghapus segalanya.
"Kau... kau hampir membunuhku," bisik Rio sambil mencoba bangkit, tangannya memegang leher yang memerah.
"Pergi," geram Arga, suaranya masih berat, masih terjebak di antara nada manusia dan geraman binatang. "Ambil dokumen itu di ruang server, lalu pergi sejauh mungkin dari gedung ini. Jika kau masih di sini dalam sepuluh detik, aku tidak bisa menjamin kau akan melihat matahari terbit."
Rio tidak menunggu dua kali. Pria itu menyambar tas kerja dari meja dan berlari tertatih-tatih menuju pintu keluar. Ia tahu ia tidak berurusan dengan manusia, melainkan dengan bencana alam yang berjalan.
Kini Arga sendirian di ruang rapat yang hancur. Suara sirene keamanan mulai melengking di seluruh gedung. Pasukan pengamanan internal Wijaya Holdings pasti sedang dalam perjalanan menuju lantai ini.
Arga berdiri dengan tertatih. Setiap sendinya terasa kaku. Ia menatap cermin besar di sudut ruangan. Pantulan dirinya sendiri membuatnya ngeri; matanya masih menyisakan sisa-sisa warna emas yang berdenyut, dan wajahnya tampak lebih keras, lebih asing.
“Kau merasa kasihan padanya? Kau merasa menyelamatkan manusia itu adalah tindakan mulia?” suara macan itu terdengar meremehkan, namun kali ini ada nada lelah di dalamnya. “Setiap kau menahan nafsu membunuhmu, kau membiarkan dirimu semakin lemah. Kau akan mati dikeroyok oleh pion-pion kecil Hendra, dan setelah kau mati, aku akan tetap terjebak di dalam jasad busukmu ini.”
"Diamlah," desis Arga sambil menyambar kursi besi yang berat, menggunakannya sebagai senjata.
Ia mendengar langkah kaki berat di lorong. Banyak sekali. Setidaknya ada dua puluh orang bersenjata lengkap. Arga menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaran manusianya. Ia harus keluar dari gedung ini, bukan karena ia takut mati, tapi karena ia harus tetap hidup untuk mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya sebelum Mustika ini melenyapkan identitasnya secara permanen.
Arga bergerak menuju pintu saat pasukan keamanan mendobrak masuk.
"Target ditemukan! Tembak di tempat!" teriak sang komandan.
Arga tidak lagi menahan diri. Ia menggunakan sisa tenaga manusianya untuk menerjang. Kali ini, ia tidak menggunakan kekuatan macan untuk membunuh, melainkan untuk melumpuhkan. Ia bergerak di antara peluru dengan presisi yang membuat para penjaga itu kebingungan. Dalam kegelapan lorong yang diterangi lampu darurat yang berkedip-kedip, Arga tampak seperti siluet yang tak tersentuh.
Satu demi satu, penjaga jatuh. Arga memutar pistol salah satu penjaga, membongkarnya menjadi bagian-bagian kecil dalam waktu kurang dari satu detik, lalu memukul pangkal leher mereka. Ia tidak membunuh, namun setiap serangannya begitu telak hingga membuat korbannya tidak sadarkan diri selama berjam-jam.
Di ujung lorong, Arga melihat jalan keluar menuju tangga darurat. Namun, di sana berdiri seorang wanita dengan setelan putih gading. Clarissa.
Clarissa menatap Arga dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di belakangnya, Baskoro dan beberapa pengawal elit lainnya sudah mengarahkan senjata.
"Kau benar-benar melakukan pekerjaan yang luar biasa, Arga," ucap Clarissa tenang, namun tangannya perlahan merogoh sesuatu dari balik jasnya—sebuah kendali jarak jauh (remote). "Tapi kau mulai menjadi terlalu tidak stabil. Ayah tidak suka dengan variabel yang tidak bisa dikendalikan."
Klik.
Sebuah getaran halus terasa di bawah lantai tempat Arga berdiri. Arga menyadari terlambat bahwa gedung ini punya sistem pertahanan yang jauh lebih brutal dari sekadar pasukan bersenjata.
"Maafkan aku, Arga. Tapi kau adalah monster yang terlalu indah untuk dibiarkan lepas," lanjut Clarissa.
Lantai di bawah kaki Arga tiba-tiba terbuka. Arga terjatuh ke dalam kegelapan lubang pembuangan sampah gedung yang curam, meluncur jatuh puluhan lantai ke bawah menuju tempat pembuangan limbah bawah tanah gedung yang penuh dengan puing-puing logam dan air limbah industri.
Sambil meluncur jatuh di kegelapan, Arga memejamkan mata. Ia membiarkan Mustika mengambil alih sepenuhnya. Jika ia harus jatuh, biarlah ia jatuh sebagai predator, bukan sebagai kuli panggul yang hancur.
“Akhirnya,” raung Macan Kencana dalam batin Arga. “Sekarang, mari kita tunjukkan pada mereka apa itu neraka yang sebenarnya.”
Arga menghantam tumpukan limbah di dasar gedung dengan suara dentuman yang menggetarkan fondasi gedung. Namun, saat debu dan asap mulai menipis, bukan sesosok manusia yang berdiri di sana. Di tengah kegelapan bawah tanah itu, sepasang mata emas berpendar terang, menatap ke atas, menuju lantai tempat Clarissa berdiri.