Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Keesokan harinya suasana sekolah terlihat seperti biasa.
Siswa berjalan ke kelas. Kantin mulai ramai. Tidak ada yang tahu bahwa kemarin Dira hampir saja celaka.
Di bangkunya, Dira duduk sambil memegang minuman dingin.
Sinta menatapnya dari atas sampai bawah.
“Serius… kamu dikejar preman?”
Dira mengangguk santai.
“Iya.”
Bayu langsung menatap tak percaya.
“Dan kamu sekarang masih bisa cerita sambil makan roti?”
Dira menggigit rotinya.
“Kan udah lewat.”
Sinta memegang kepala.
“Dira… orang normal biasanya bakal trauma.”
Dira mengangkat bahu.
“Kalau dipikirin terus ,nanti malah pusing.”
Namun tanpa ia sadari…
Beberapa pasang mata sedang memperhatikannya dari jauh.
Di koridor seberang.
Vina berdiri bersama temannya memperhatikan.Salah satu temannya berbisik panik.
“Vin… kita dalam masalah.”
Vina mengerutkan kening.
“Apa lagi?”
“Preman yang kemarin… katanya dipukulin.”
Vina langsung menoleh tajam.
“Kok bisa.Siapa yang mukul?”
Temannya menelan ludah.
“Cowok yang sering dekat sama Dira… si Albian.”
Wajah Vina langsung berubah kesal.
“Dasar sial.”
Ia menatap ke arah Dira yang masih tertawa bersama teman-temannya.
Namun kali ini ada sedikit kekhawatiran di matanya.
Karena rencana mereka gagal.
Dan itu berarti…
Dira mungkin mulai curiga.
***
Saat jam istirahat kedua, Dira berjalan sendirian menuju mesin minuman di koridor belakang.
Begitu ia ingin mengambil botol minuman…
Tiba-tiba seseorang berdiri di depannya.
Vina.
Di belakangnya ada dua temannya.
Dira menghela napas panjang.
“Ya ampun… drama lagi.”
Vina menyilangkan tangan.
“Kamu santai sekali ya.”
Dira membuka minumannya. Ia tetap santai
“Kenapa? Mau minum juga?”
Teman Vina langsung mendesis.
“Jaga mulut mu.”
Dira menatap mereka tanpa takut.
“Kalian duluan yang mulai.”
Vina menatapnya tajam.
“Kemarin kamu tuh cuma beruntung.”
Dira berhenti minum.Matanya perlahan menatap Vina.
Ia tak tahu apa maksudnya.
“Beruntung?”
Vina mendekat sedikit.
“Karena ada yang menolong.”
Hening beberapa detik.
Lalu Dira tersenyum kecil. Sekarang ia ngerti apa yang sedang dibicarakan vina .
“Oh… jadi itu kalian?”
Teman Vina langsung panik.
“Vin dia tahu—”
Vina mendesis kesal.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi—
BRAK!
Dira tiba-tiba meletakkan botol minumannya keras di meja.
“Denger ya.”
Tatapannya berubah serius.
“Kalau kalian punya masalah sama aku … hadapi langsung.”
Ia melangkah mendekat.
“Jangan pake preman. Kalian sama aja ” Ia semakin mendekat.
" Sama-sama pengecut. Pakai cara murahan" bisiknya tepat disamping telinga vina.
Koridor langsung sunyi.
Vina menatapnya dengan marah. Semakin besar rasa benci dan irinya pada dira.
Namun sebelum konflik itu makin besar…
Suara langkah seseorang terdengar dari ujung koridor.
Albian.
Ia berhenti beberapa langkah dari mereka.Tatapannya dingin.
“Masalah lagi?”
Vina langsung mendengus dan berbalik pergi.
“Ini belum selesai.”
Dira hanya memutar matanya.
“Yaudah kalau belum selesai, nanti dilanjutin.”
Albian menatapnya.
“Kamu santai sekali.”
Dira mengangkat bahu.
“Kalau takut malah makin diganggu.”
Albian tersenyum." Kamu manis banget sih" goda albian
" Hah...apanya yang manis?" tanya dira " jadi es nya sudah mulai cair nih " dira goda balik. Terlihat muka albian sedikit memerah malu.
" Gak juga. yok masuk " langsung menarik lengan dira
" Main tarik- tarik aja "
" Untung bukan hati kamu yang aku tarik sekarang " gumamnya pelan.
***
Seperti biasa jika sudah jam pulang maka gerbang akan dipenuhi oleh siswa siswi. Dira memilih untuk pulang akhiran ,karna ia malas berdesakkan dengan yang lain.
Sore itu di depan sekolah. Ia melihat
Sebuah mobil hitam berhenti.
Dira langsung mengenalinya.
“ Om Elvan.”
Ia berjalan mendekat.
Elvan keluar dari mobil dengan wajah biasa seperti biasanya.
“Kenzo bilang kamu hampir celaka kemarin.”
Dira mengangguk.
“Udah aman kok om .”
Namun saat Elvan berdiri tepat di depannya…
Tiba-tiba sesuatu terjadi.
Kepala Dira terasa berdenyut.Sebuah bayangan muncul cepat.Tangan kecil yang digenggam seseorang.
Suara anak laki-laki.
“Dira jangan lari terlalu jauh.”
Dira memegang kepalanya.
“Om El…”
Elvan langsung menangkap bahunya. Ia panik Tiba-tiba dira hampir saja terjatuh.
“Kamu kenapa?”
Dira menatap wajahnya.
Dan untuk sepersekian detik…
Wajah Elvan terasa sangat familiar.
Bukan seperti baru kenal.
Seperti seseorang dari masa kecilnya.
“Kenapa rasanya… aku pernah kenal om el lebih lama?”
Elvan terdiam.
Jantungnya berdetak keras.
Inilah yang selama ini ia takutkan.
Jika ingatan itu mulai kembali…
Maka semua rahasia masa lalu akan ikut muncul.
Dan dendam kedua keluarga bisa bangkit lagi.
Elvan akhirnya berkata pelan.
“Kamu hanya terlalu banyak berpikir.”
Namun jauh di dalam hatinya…
Ia tahu waktu untuk menyembunyikan semuanya tidak akan lama lagi.
Sementara dari kejauhan…
Albian berdiri melihat mereka.
Tatapannya dalam.
Karena ia juga tahu satu hal.
Rahasia masa lalu itu…akan segera terbuka.
***
Langit sore mulai berubah oranye ketika mobil hitam milik Elvan melaju pelan meninggalkan gerbang sekolah.
Di kursi penumpang, Dira duduk sambil memainkan tali tasnya.
Beberapa menit pertama… hening.
Dira melirik ke samping.
Elvan fokus menyetir seperti biasa. Wajahnya tenang dan dingin.
Dira menghela napas panjang.
“Om.”
“Hmm?”
“Om kalau nyetir memang selalu seserius ini?”
Elvan melirik sekilas.
“Maksudnya?”
“Om kayak lagi rapat sama jalanan.”
Elvan menahan senyum tipis.
“Supaya tidak nabrak.”
Dira mendengus kecil.
“Ya nggak harus wajah CEO banget juga.”
Mobil berhenti di lampu merah.
Elvan menoleh sebentar.
“Aku memang CEO.”
Dira langsung menunjuknya.
“Nah itu! Itu yang bikin om kaku.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Elvan bertanya pelan.
“Kamu tidak takut kemarin?”
Dira langsung tahu maksudnya.
Tentang preman.
Ia menyandarkan kepala ke kursi.
“Takut sih sedikit.”
“Sedikit?”
“Iya… sedikit banget malah.”
Elvan menatap jalan di depannya.
“Kamu hampir diculik.”
Dira mengangkat bahu.
“Tapi nggak jadi kan.”
Elvan hanya bisa menghela napas pelan.
“Kamu terlalu santai.”
Dira menoleh padanya.
“Kalau aku panik juga nggak bakal membantu.”
Hening sebentar.
Lalu Dira menyeringai.“Tapi jujur… waktu lari aku hampir mati.”
Elvan menahan tawa kecil.
“Baru jujur.”
Dira menatap ke jendela.Lampu kota mulai menyala satu per satu.
“Om…”
“Ya?”
“Om kenapa selalu baik sama aku?”Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.
Elvan sedikit mengernyit.
“Maksudmu?”
“Om jemput aku… traktir makan… kadang dengerin aku ngomel.”
Dira memandangnya curiga.“Padahal aku ribut.”
Elvan menjawab singkat.
“Aku sudah terbiasa.”
“Terbiasa sama apa?”
Elvan tidak langsung menjawab.Mobil melambat saat mendekati rumah Dira.
“Terbiasa menjagamu.”
Kalimat itu membuat Dira menoleh cepat.
“Apa?”
Namun Elvan langsung membuka pintu mobil dari dalam.
“Kita sudah sampai.”
Dira menatap rumahnya.
Tapi pikirannya masih di kalimat tadi.
Ia menoleh lagi.
“Om… maksud kata om tadi—”
Elvan menatapnya tenang.
“Hati-hati di rumah.”
Dira mengerucutkan bibir.
“Kebiasaan om tuh kalau ngomong setengah-setengah ngeselin.”
Elvan hanya tersenyum tipis.Dira akhirnya turun dari mobil.
Namun sebelum menutup pintu…
Ia menunduk sedikit ke arah Elvan.
“Makasih ya om … udah jemput aku.”
Elvan mengangguk kecil.
Dira lalu berjalan menuju rumah.Namun di tengah langkah…
Ia menoleh lagi ke arah mobil.
Entah kenapa…
Kalimat Elvan tadi terus terngiang di kepalanya.
“Aku sudah terbiasa menjagamu.”
Seperti kalimat yang pernah ia dengar…
sangat lama sekali.
***
Malam sudah turun ketika mobil hitam Elvan memasuki halaman rumahnya. Ia selama ini memilih tinggal sendiri daripada tinggal bersama keluarganya.
Lampu rumah menyala redup, suasana terlihat tenang seperti biasa.Namun entah kenapa… ada sesuatu yang terasa berbeda.
Elvan mematikan mesin mobil lalu berjalan masuk.
Begitu pintu terbuka—
Ia langsung berhenti.
Di ruang tamu yang biasanya kosong, seseorang sedang duduk santai di sofa sambil memegang gelas minuman.
Pria itu terlihat berusia sekitar lima puluhan. Wajahnya tenang, tapi senyumnya terasa dingin.
“Elvan.”
Suara itu berat… dan terlalu familiar.
Elvan langsung menegang.
Bersambung........