Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesenangan yang menyedihkan
Tak lama setelah itu Clara keluar dari bilik toilet. Ia sadar bahwa ia tak boleh terlihat rapuh, maka ia mencuci wajahnya hingga dingin air meredakan panas di pelupuk matanya, mengeringkannya perlahan, lalu kembali mengoleskan lip tint tipis agar wajahnya tampak segar.
Ia menatap bayangannya sendiri beberapa detik, menarik napas panjang.
“Aku harus kuat, aku pasti bisa,” gumamnya sebelum akhirnya melangkah keluar dan kembali ke ruang acara.
Di lorong, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia mendengar percakapan beberapa staff event. “Kamu sudah antar kue yang baru?” tanya salah satu staff perempuan.
“Enak ya jadi orang kaya, kalau nggak suka sama yang sudah dihidangkan langsung minta ganti,” sahut yang lain.
“Memangnya siapa yang minta ganti kue?”
“Tuan Noel minta ganti kue pie nya sama kue yang lain.”
“Mungkin ada alergi,” timpal yang lain santai.
Bibir Clara terkunci rapat, tenggorokannya tercekat, dadanya seperti diremas tangan tak kasat mata. Apakah Noel se benci itu pada sesuatu yang bahkan sekadar mengingatkannya pada masa lalu?
Dengan langkah berat Clara kembali masuk ke ruangan dan hal pertama yang ia lihat adalah senyum Natan yang setia menunggunya.
“Kenapa lama, kamu mules?” tanya Natan setengah bercanda.
Clara terkekeh kecil. “Kok tahu sih, Kak?” Natan ikut tertawa, namun sedetik kemudian tawanya menghilang ketika ia melihat jelas mata Clara yang memerah.
Mata kamu nggak pernah pandai berbohong. batinnya.
Lagi dan lagi mereka makan dalam diam, keduanya sama-sama bergulat dengan pikiran masing-masing.
Setelah menyantap hidangan terakhir, Clara diarahkan ke ruangan lain oleh staff bagian komunikasi untuk melakukan serah terima hadiah secara formal. Clara yang ditemani Natan duduk di masing-masing kursi. Didepannya sudah ada seorang pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahunan.
“Perkenalkan, nama saya Arga Winata.”
“Bu Clara, saya ingin mengucapkan selamat dan berterima kasih atas kesediaannya melakukan pembacaan karya Anda."
"Karya anda sangat bagus dan layak memenangkan kompetisi ini." puji nya.
Clara membalas dengan senyum tipis.
“Terima kasih, Pak Arga atas pujiannya.”
Lalu Clara menandatangani dokumen serah terima hadiah yang diberikan oleh Arga dengan hati-hati.
“Bu Clara, saya ingin menjelaskan sedikit soal hadiah residensi ke Prancis,”
Clara mengangguk pelan tanpa menyela.
“Nanti jika Ibu sudah siap berangkat, kami akan memesankan tiket untuk dua minggu beserta akomodasi hotel dan tiket kunjungan ke beberapa lokasi yang akan Ibu pilih. Ibu bisa mengirimkan jadwal kunjungan kepada saya.” sambungnya.
Clara mengangguk paham.
“Apakah ada pertanyaan, bu Clara?”
Clara menggeleng. “Tidak ada, Pak Arga.”
“Atau mungkin Ibu ingin membawa penerjemah?”
Clara tersenyum kecil. “Saya bisa bahasa Prancis, Pak, meskipun belum terlalu lancar.”
Arga tampak terkesan dan mengangguk.
“Baiklah, ini kartu nama saya. Silakan dihubungi jika sudah siap untuk berangkat.”
Clara menerima kartu nama itu dengan kedua tangan.
"Dan untuk pajangan di lobi, apa kamu bisa membuatnya menjadi lebih pendek?" tanya Arga.
Clara paham dan mengangguk.
"Bisa pak, nanti akan saya buatkan menjadi satu kalimat." jawab Clara.
“Kalau begitu saya pamit, setelah ini akan ada pihak penerbit yang ingin bertemu.” Arga berjabat tangan dengan Clara dan Natan lalu keluar ruangan, menyisakan mereka berdua dalam ruangan yang kembali sunyi.
Sepeninggal Arga, Natan memecah keheningan.
“Kamu mau pergi sendiri, Clar?” Clara yang sedang menyimpan kartu nama ke dalam tas menoleh.
“Mungkin iya, Kak.”
“Mau aku temani saja? Dua minggu itu bukan waktu yang singkat. Maaf… aku cuma takut kamu kenapa-kenapa di negeri orang.” Suaranya terdengar hati-hati, bahkan sedikit sedih. Clara tersenyum lembut.
“Terus perusahaan papanya Kak Natan diapain? Masa ditinggal dua minggu?”
Wajah Natan langsung berubah sendu karena ia tahu itu penolakan halus.
Melihat ekspresi natan, Clara langsung membuka mulutnya lagi. “Terima kasih sudah khawatir, Kak. Tapi tenang saja, aku akan jaga diri.”
Natan menghela napas kecil. Ia sebenarnya tak keberatan meninggalkan perusahaan pada asistennya, namun ia tak mungkin memaksa dan membuat Clara merasa risih.
“Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya.”
Clara mengangguk patuh. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar. Clara dan Natan refleks menoleh. Pintu terbuka perlahan menampilkan seorang wanita sekitar tiga puluh lima tahun dengan penampilan sederhana namun berkelas, mengenakan setelan kasual elegan, rambutnya disanggul rapi ke belakang, tatapannya hangat namun tegas.
Di belakangnya berdiri seorang pria berkemeja navy membawa tas kerja, kacamata bertengger di batang hidungnya, ekspresinya profesional. Wanita itu tersenyum lembut.
“Selamat sore. Saya Raisa Maheswari, dari Penerbit Aksara Langit. Saya rasa kita sudah lama menunggu momen ini, Clara.”
Dan ini asisten saya, Budianto. Saya rasa kita sudah lama menunggu momen ini, Clara” sambung Raisa dengan nada tenang namun tetap berwibawa.
Clara sedikit melongo mendengar perkenalan itu, pendiri Aksara Langit berdiri tepat di hadapannya, perempuan yang namanya sering ia lihat di sampul belakang buku-buku best seller nasional, sampai Natan menyenggol lengannya pelan dan membuat Clara tersadar dari lamunan.
Ia buru-buru membalas senyum Raisa. “Saya Clara… dan ini Kak Natan,” ucapnya sopan.
Raisa dan Budi duduk di hadapan Clara, Budi mengeluarkan map tipis berisi dokumen resmi lalu mendorongnya perlahan ke arah Clara.
“Silakan dibaca dulu kontraknya,” ujar Raisa.
Clara mengangguk dan mulai membaca dengan serius, matanya menyapu tiap pasal dengan teliti, suasana ruangan terasa hening beberapa saat sebelum akhirnya ia mendongakkan kepala.
“Bagaimana? Apakah kamu ingin royaltinya lebih tinggi?” tanya Raisa langsung, tanpa basa-basi, karena biasanya para penulis baru akan meminta royalti yang lebih tinggi.
Clara menggeleng cepat. “Tidak, Bu Raisa. Ini sudah lebih dari cukup,” jawabnya dengan senyum tulus.
Raisa tersenyum tipis mendengar kejujuran Clara, lalu menunjuk bagian akhir halaman.
"Kalau begitu, silakan tanda tangan di sini.”
Tanpa ragu Clara membubuhkan tanda tangannya dan menyerahkan kembali berkas itu kepada Budi. Raisa memperhatikannya beberapa detik sebelum berkata.
“Clara, saya merasa sangat tersentuh saat mendengar esai yang kamu bacakan tadi.”
Clara tersenyum malu, jemarinya saling bertaut di pangkuan.
“Apakah ke depannya kamu ingin menulis sesuatu yang lebih panjang? Buku, misalnya?” lanjut Raisa.
Mata Clara langsung berbinar. “Iya, Bu. Mimpi saya memang ingin menjadi penulis buku.”
Raisa mengangguk pelan, lalu suaranya melembut.
“Maaf kalau pertanyaan saya sedikit pribadi. Apakah esai tadi punya makna khusus selain untuk kebutuhan perusahaan?”
Senyum Clara perlahan memudar, wajahnya berubah sendu. Raisa refleks mengangkat tangan kecil.
“Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung. Kamu tidak wajib menjawabnya”
Clara menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Bu. Esai itu… tentang hidup saya. Tentang bagaimana rasanya kehilangan, tentang bagaimana saya mencoba berdiri lagi, tentang banyaknya waktu yang sudah terlewati oleh saya dengan sia-sia. Kalau bukan karena sahabat saya, mungkin saya tidak akan pernah sampai di ruangan ini. Dia seperti mengembalikan waktu saya yang sempat hilang.”
Natan terdiam, dadanya terasa sesak mendengar itu, sementara Raisa menatap Clara lebih dalam, bukan dengan iba, tapi dengan penilaian yang tajam dan penuh perhitungan.
Penulis yang lahir dari luka selalu punya kedalaman, pikirnya.
“Clara,” ucap Raisa kemudian.
“apakah kamu tertarik bekerja sama lebih jauh dengan Aksara Langit?”
Kening Clara berkerut bingung.
“Bukankah saya sudah menandatangani kontrak esai, Bu?”
Raisa tersenyum tipis. “Saya tidak sedang berbicara tentang satu esai. Saya ingin menawarkan kontrak eksklusif.”
Ruangan terasa sunyi sesaat. Clara terdiam, menoleh ke arah Natan, namun Natan hanya membalas dengan senyum kecil seolah berkata keputusan itu sepenuhnya milikmu. Di dalam hati Clara, keraguan lama kembali muncul, apa aku cukup berbakat, apa aku pantas, aku masih mahasiswa, aku belum siapa-siapa.
“Tidak perlu dijawab sekarang,” ucap Raisa lembut, menangkap kegelisahan di wajah Clara.
“Kita bisa bertemu lagi. Pikirkan dengan tenang.”
Clara menghela napas pelan, ada sedikit rasa kecewa pada dirinya sendiri karena justru ragu pada kesempatan yang dulu hanya berani ia impikan dalam diam.
“Terima kasih, Bu Raisa,” ucapnya akhirnya. Raisa mengangguk, lalu Budi menyerahkan kartu nama kepada Clara.
“Kalau sudah siap, bisa hubungi saya.”
Clara menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih, Pak Budi.”
Budi terkekeh kecil sambil membenarkan kacamatanya.
“Tidak perlu pak, kita cuma beda dua tahun.”
Clara ikut tersenyum kecil, suasana sedikit mencair, lalu setelah berbincang singkat tentang dunia kepenulisan dan proses editorial, Raisa dan Budi pun pamit meninggalkan ruangan, menyisakan Clara dan Natan dengan keputusan besar yang masih menggantung di udara.