Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Give you flowers
Jetro mencari toko bunga lewat aplikasi di ponselnya. Setelah menemukannya, dia segera menelponnya.
"Mekar floris, ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau pesan sepuluh tangkai mawar yang kelopaknya besar besar berwarna merah."
"Baik, pak. Di kirim atas nama siapa dan alamatnya dimana?"
Jetro menyebutkan alamat tempat kerja Febi dan nama gadis itu.
Agak lama juga menunggu gadis yang menerima telponnya itu mencatatnya.
"Polwan, ya, pak. Keren. Jarang jarang saya dapat pesan begini," kepo si penjual bunga.
Jetro ngga menjawab. Iya, sih. Gadis itu polwan, bukan model atau artis, batinnya.
"Ada pesan khusus, pak?" tanya penjual bunga itu lagi setelah komentarnya dikacangin.
"Tulis aja dari Jetro."
"Itu saja, pak? Ngga ada pesan lainnya? Mungkin selamat bekerja? Atau hati hati kalo ketemu penjahat?"
Jetro hampir tertawa mendengar suara perempuan itu. Menurutnya terlalu excited.
Beberapa detik kemudian dia baru menjawabnya.
"Ngga usah. Cukup Jetro aja."
"Siap, pak. Pesanan akan diantar segera. Saya kirim fotonya dulu. Apakah sudah sesuai harapan, pak?"
Ngga lama kemudian foto buket sepuluh tangkai mawar terkirim ke ponselnya. Sepertinya saat menelpon dia meminta pegawai terlatihnya merangkai bunga yang diminta konsumennya.
Jetro tersenyum melihat.
"Begini sudah bagus."
"Siap, pak."
Jetro tersenyum senyum setelah komunikasi berakhir.
Bagaimana tanggapannya, ya? Batinnya sambil membayangkan ekspresi cantik gadis itu yang terkejut mendapatkan bunga darinya
*
*
*
Cakra berjalan bersama Fiola melewati meja Febi. Cakra memberi isyarat pada Febi agar mengikuti keduanya.
Saat tiba di depan mobil Cakra, ketiganya menghentikan langkah mereka.
"Aku akan mengantarkan Fiola pulang," ucap Cakra sambil membukakan pintu untuk Fiola.
"Nanti malam aku tidak bisa menemanimu makan malam bersama mama," ucap Cakra sambil menatap Febi yang menatapnya datar.
Sementara Fiola menyunggingkan senyum penuh kemenangan dan tatap matanya meremehkan adiknya.
Cakra menutup pelan pintu mobil Fiola.
"Itu mama kamu, bukan mama aku," ketus Febi. Kalo hanya bertiga dia tidak sungkan mengeluarkan unek uneknya.
"Mama kamu dan aku sudah tiada kalo kamu lupa." Fiola yang menjawab dengan kepalanya agak dilongokkan keluar dari jendela mobil yang kacanya sudah dia turunkan.
Febi terhenyak mendengarnya. Ada sakit yang kembali terasa. Tapi dia kuatkan hati untuk mengatakan isi pikirannya.
"Kalo Kak Fio memang menyukai Mas Cakra, ya, sudah. Jangan pura pura." Febi kemudian melirik Cakra yang tampak tidak terpengaruh dengan kata katanya.
"Kamu anak kecil tau apa," dengus Fiola kesal.
"Sudah, masuk sana. Cakra udah kasih tau yang ingin dia lakukan," usir Fiola kasar, jauh sekali dari imagenya sebagai gadis lembut.
"Aku juga ngga bsa datang," tolak Febi cepat dan langsung berbalik pergi.
"Febi...," panggil Cakra tapi diacuhkan gadis itu membuat Cakra kesal.
"Sudah, biarkan saja. Dia kira dengan merajuk begitu kamu bisa luluh," larang Fiola ketika Cakra akan mengejar adiknya.
Cakra menghembuskan nafas panjang mencoba meredakan kekesalan yang ada dalam dirinya.
Gadis itu tidak biasanya menolak, batinnya gusar.
*
*
*
Marah, itu yang Febi rasakan. Dia bukan anak kecil. Malam ini mamanya Cakra mengundangnya makan malam pasti ingin bertanya tentang kesiapan mereka untuk menikah.
Harusnya Cakra ada di sana dan mengatakan kalo dia ngga mau menikah dengannya. Yang dia mau, masih seperti setahun yang lalu tetaplah Fiola.
Dia juga marah karena kakaknya malah senang bermain main dengan laki laki itu.
Tapi Febi bingung bagaimana harus berterus terang pada para orang tua itu tanpa menyakiti perasaaan mereka.
"Bu Febi, ada kiriman bunga."
CLING
Rekan kerjanya, perempuan dan laki laki yang sedang bersiap siap untuk pergi makan siang menoleh ke satu titik. Febi yang sedang dihampiri seorang ob laki laki muda dengan buket bunga.mawar yang cantik.
"Siapa yang ngasih, nih?" Cica langsung tanggap di saat Febi masih bengong.
"Siapa, siapa?" tanya Nashwa juga kepo. Dia segera mendekat bareng Hana.
Juwita melirik sebal.
'Paling dari mas ob," tuduhnya.
"Bukan, mbak. Tadi ada kurir yang antar," bela mas ob cepat. Namanya Joko.
"Hiii..... Irii....," ejek Hana.
Naswa langsung ngikik.
Beberapa rekan melewati mereka sambil melirik buket bunga yang dipegang Febi.
"Mahal ini bunganya" cuit Hana kagum.
Ini bunga hidup, bukan bunga plastik. Masih segar segar lagi, batinnya mengamati bunga bunga indah itu
"Bunga segar begini. Gede gede lagi kelopaknya. Wuiiih....," puji Nashwa kagum juga.
Belum pernah dapat bunga sebanyak ini. Kalo setangkai pernah beberapa kali.
"Dari Jetro?" Cica meraih kartu yang terselip di rangkaian kelopak bunga dengan hati hati dan membacanya.
"Weleh.... Siapa itu Jetro?" tanya Hana pengen tau.
DEG
Jetro, batin Febi tersentak. Keruwetan di pikirannya mendadak hilang, tapi berganti dengan debar debar aneh dan cepat.
Melihat keterdiaman Febi, Cica langsung curiga.
"Salah satu laki laki keren tadi, ya, Feb?" tuduhnya dengan tatapan surprise.
Febi hanya bisa mengangguk tapi pikirannya sibuk memikirkan alasan laki laki yang hanya membalas oke saja itu mengirimkannya bunga.
Kenapa?
"Woooww....," seru Cica heboh.
"Calon istri miliader, nih." Nashwa menyambut positif. Ikut happy.
"Top banget kamu, Feb." Hana memberikan dua jempol tangannya.
Masa, sih? Juwita menatap Febi ngga percaya. Seakan meneliti apa kelebihan Febi. Memang dulu beberapa teman teman pria mereka di Akpol memberikan gestur ketertarikan pada Febi. Tapi mereka terikat ikatan dinas, hingga tidak ada yang berani terang terangan. Papanya Febi juga bukan orang sembarangan. Beliau purnawirawan yang berpangkat jenderal, tambah membuat mereka sungkan.
Juwita juga tau rekan rekan di kepolisian juga ada yang tertarik dengan Febi, tapi mereka masih menyimpannya rapat rapat. Sekarang selain papanya Febi, Pak Cakra, bos mereka juga seperti menjaga Febi agar tidak ada yang sembarangan mendekatinya.
Tapi kalo anak konglomerat itu? Masa mereka tidak menemukan gadis sesama mereka yang konglomerat juga. Atau seenggaknya melihat dulu ke arahnya. Juwita terus membatin kesal.
"Kamu tau yang mana yang namanya Jetro?" kejar Cica menatap penuh binar pada teman yang cukup dekat dengannya.
Febi mengangguk, tapi enggan menjelaskan.
Yang masih jomblo. Perkataan itu bergema terus di liang pendengarannya.
"Nanti tunjukin, ya, kalo mereka datang lagi." Hana juga ingin tau laki laki yang mana.yang mengincar temannya. Menurutnya ngga masalah yang mana aja. Mereka tampan tampan semua. Berkelas abis.
"Kamu cantik, Feb. Wajar dia langsung klik sama kamu," puji Hana memberi semangat di tengah ketertegunan temannya.
"Bukan hanya cantik, Febi, kan, pintar otaknya, bisa bela diri, juga punya pistol. Pasti ngga ada, tuh, kombinasi begini di kenalan mereka. Pasti cewe menye menye isinya semua." Nashwa mengobarkan api semangat dalam darah Febi.
"Dia boleh anak konglomerat. Tapi kamu anak jenderal," timpal Cica.
Febi pusing dengarnya. Dia hanya butuh jawaban laki laki yang selalu menatapnya tajam, maksudnya ngasih bunga ini apa. Febi ngga mau ge er.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂