NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Mbah Kar Batuk Darah

--

Hari ke-1.560. Rumah Sakit. Lorong ICU.

"Mas... Mbah... Mbah..."

Suara itu pelan. Tapi cukup membuatku terjaga dari lelap yang tak nyenyak.

Aku buka mata. Kursi rumah sakit. Bau obat. Lampu neon mendengung. Risma di ICU. Aku di lorong. Sudah seminggu sejak malam itu. Seminggu sejak aku temukan luka di punggung Risma. Seminggu sejak Mbah Kar gadaikan kalung emasnya.

Mbah Kar berdiri di depanku. Wajahnya pucat. Pucat sekali. Di tangannya... sapu tangan. Merah. Basah oleh darah.

"Mas... Mbah batuk darah."

Aku bangkit. Jantungku berdegup kencang. Kepala pusing. "Mbah, sejak kapan?"

Mbah Kar tersenyum getir. "Udah seminggu, Mas. Aku kira masuk angin biasa."

Seminggu.

Seminggu?

Sementara kami sibuk dengan Risma, Mbah Kar sakit. Sementara ia jaga Budi di rumah, antar jemput Dewi bolak-balik rumah sakit, masak untuk kami, ia batuk darah. Dan ia tak bilang-bilang.

"MBAH!" Aku hampir teriak. Tapi kutahan. Risma di ICU. Tak boleh gaduh. Perawat langsung menegur dari kejauhan.

Mbah Kar pegang tanganku. Tangannya dingin. Lemah. "Mas, tenang. Mbah cuma mau pamit. Mau ke puskesmas. Jaga Risma."

Pamit?

Kenapa harus pamit?

Kenapa seperti... perpisahan?

Aku lihat matanya. Lembut. Seperti biasa. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuatku takut. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan.

"Nggak, Mbah. Aku anter."

"Mas, Risma—"

"Risma dijaga perawat. Ayo, Mbah."

Aku gandeng Mbah Kar. Langkahnya gontai. Tubuhnya ringan. Lebih ringan dari Risma? Tuhan, Mbah Kar kurus sekali. Kapan ini terjadi? Kenapa aku tak lihat? Kenapa aku sibuk terus?

Di tengah perjalanan ke IGD, Mbah Kar terhuyung.

"Mas... Mbah mau duduk..."

Belum sempat aku cari kursi, tubuhnya melunak. Ambruk di pelukanku.

"MBAH! MBAH!"

Mbah Kar tak jawab. Matanya terpejam. Wajahnya pucat pasi. Darah masih di sudut bibirnya.

Aku gendong dia. Lari. Kaki pincangku terpaksa berlari. Jatuh? Tak peduli. Mbah Kar di gendonganku. Mbah Kar yang selalu ada. Mbah Kar yang jual kalung untuk Risma. Mbah Kar yang harus selamat.

"TOLONG! TOLONG! DARURAT!"

---

Di UGD, perawat langsung tangani Mbah Kar. Aku diminta tunggu di luar. Satu jam. Dua jam. Tak ada kabar.

Aku mondar-mandir. Tangan dingin. Keringat dingin di punggung.

Dari kejauhan, Dewi datang. Wajahnya panik. "Mas! Kata perawat Mbah Kar—"

Aku pegang tangannya. "Udah di dalam, Ri. Aku nggak tahu gimana."

Dewi nangis. "Mas, jangan... jangan sampai Mbah Kar kenapa-napa..."

Aku peluk dia. "Mbah Kar kuat, Ri. Dia kuat."

Tapi dalam hati, aku ragu.

---

Dua setengah jam kemudian. Dokter keluar.

"Bapak Ibu keluarga Mbah Kar?"

Aku maju. "Saya, Dok."

Dokter itu buka masker. Wajahnya serius. "Pak, kami sudah lakukan rontgen. Ini hasilnya."

Ia tunjukkan foto rontgen. Aku tak paham. Tapi lihat banyak bercak putih. Banyak sekali.

"Paru-paru Mbah Kar banyak bercak, Pak. Kami curiga TBC aktif. Dan sudah cukup parah."

Dunia serasa berhenti.

TBC?

Mbah Kar?

Dokter melanjutkan, "Harus rawat inap, Pak. Isolasi. Tidak boleh kontak dengan keluarga dulu. Karena menular."

Aku lihat ke dalam ruang IGD. Mbah Kar terbaring. Pakai selang oksigen. Lemah. Sendirian.

"Bisa sembuh, Dok?"

Dokter diam sebentar. "Kami akan berusaha maksimal, Pak. Tapi usia sudah lanjut. Paru-paru sudah banyak yang rusak. Kita lihat perkembangannya dulu."

Aku lemas. Dewi pegang tanganku. Erat.

"Mas... Mbah Kar..."

Aku tak bisa berkata apa-apa.

---

Hidup berubah drastis setelah itu.

Risma di ICU. Mbah Kar di ruang isolasi. Dua ruangan berbeda. Dua lantai berbeda. Dua dunia berbeda.

Aku bolak-balik. Naik turun tangga. Kaki pincangku makin sakit. Tapi tak kuhiraukan.

Dewi jaga Risma siang, jenguk Mbah Kar sore. Setiap hari. Tak pernah bolong.

Budi di rumah. Umur 3 tahun. Dijaga tetangga bergantian. Bu RT baik. Bu RW baik. Mereka tahu. Mereka bantu.

Tapi Budi tetap Budi. Bocil 3 tahun yang butuh bapak ibunya.

Setiap malam, Budi telepon. Ponsel jadulku berdering. Suara kecil di seberang.

"Pa, kapan pulang? Budi takut."

Aku pegang ponsel. Suaraku serak. "Nak, sabar ya. Pa jagain kakak sama Mbah Kar dulu."

"Tapi Budi kangen. Budi mau dipeluk."

Air mataku jatuh. "Nak, Pa juga kangen. Tapi Budi harus kuat. Budi kan udah gede."

"Budi gede?"

"Iya, Nak. Budi udah gede. Budi bisa jaga diri."

Hening. Lalu suara kecil lagi, "Budi jaga diri. Tapi Pa cepet pulang ya."

"Iya, Nak. Pa janji."

Telepon ditutup. Aku nangis. Nangis di lorong rumah sakit. Sendirian.

---

Hari ke-1.565. Malam. ICU Risma.

Aku jaga seperti biasa. Duduk di kursi. Mati-matian lawan kantuk. Monitor berbunyi tit... tit... tit... Irama kehidupan.

Risma tidur. Wajahnya masih pucat. Tapi lebih baik dari kemarin. Luka di punggungnya mulai mengering. Operasi berhasil. Tapi infeksi di tulang... itu masih misteri.

Tiba-tiba.

Risma bergerak.

Matanya terbuka. Samar. Tapi langsung mencari. Menatapku. Lama.

Lalu bibirnya bergerak.

"Pa... pa..."

Jelas. Bukan refleks. Bukan gumaman. Tapi panggilan. Jelas.

Aku tersentak. "NAK?!"

Risma tersenyum. Senyum tipis itu. Senyum yang selalu membuatku lupa semua masalah. Lalu ia panggil lagi, "Pa... pa..."

Aku nangis. Nangis bahagia.

Risma, anakku yang selama ini hanya bisa diam, yang tak bisa bicara sejak lahir, yang hanya bisa tersenyum, sekarang memanggilku. Ia panggil "Pa". Ia tahu. Ia sadar. Ia mengenalku.

"Risma... Nak... Bapak di sini... Bapak di sini, Nak..."

Risma pegang jariku. Lemah. Tapi erat. Matanya masih menatapku. Penuh cinta.

"Pa... pa..."

Setiap "pa" itu seperti keajaiban. Seperti jawaban doa. Seperti sinar di tengah gelap.

Aku cium keningnya. "Bapak sayang Risma. Bapak sayang banget."

Risma tersenyum. Lalu terpejam. Napasnya teratur. Seperti bayi yang tenang.

Aku duduk. Pegang tangannya. Nangis. Nangis lama.

Di balik kaca, perawat lihat. Ia tersenyum. Ikut terharu.

---

Besoknya, aku cerita ke Dewi. Dewi nangis. Ia langsung masuk ICU. Panggil Risma.

"Nak... Nak, Ibu di sini. Panggil Ibu, Nak."

Risma buka mata. Lihat Dewi. Lalu bibirnya bergerak. "Bu... bu..."

Dewi nangis sesenggukan. "IYA, NAK! IBU! IBU DI SINI!"

Risma tersenyum. Tersenyum lebar. Mungkin tersenyum terlebar yang pernah ia lakukan.

Mbah Kar belum tahu kabar ini. Mbah Kar di ruang isolasi. Tak bisa kontak.

Tapi aku yakin, Mbah Kar akan senang.

---

Hari ke-1.567. Budi minta jenguk Mbah Kar.

"Pa, Budi mau lihat Mbah. Kangen."

Aku antar. Di ruang isolasi, Budi hanya bisa lihat dari balik kaca. Mbah Kar di dalam, pakai masker oksigen. Lemah. Tapi matanya masih tajam.

Budi tempelkan telapak tangan di kaca. "Mbah, Budi kangen."

Mbah Kar lihat. Air matanya jatuh. Ia tempelkan telapak tangannya juga. Di sisi kaca yang sama. Mereka "bersentuhan" lewat kaca.

Budi tersenyum. "Mbah, Budi bawa gambar."

Ia keluarkan kertas lipat. Gambar krayon. Warna-warni. Sembarangan. Tapi penuh makna.

"Ini Mbah, ini Budi, ini Kakak. Mbah lihat? Kakak udah bisa panggil Pa. Budi dengar. Budi senang."

Mbah Kar nangis. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Masker oksigennya basah.

Perawat di dalam ikut nangis. Perawat di luar juga nangis. Aku nangis. Dewi nangis.

Di lorong itu, di balik kaca isolasi, ada cinta yang tak terhalang apa pun.

---

Hari ke-1.570. Dokter panggil aku.

"Pak, kondisi Mbah Kar menurun."

Dunia serasa runtuh.

"Infeksinya menyebar, Pak. Usia sudah lanjut, paru-paru sudah banyak yang rusak. Kami akan maksimal, tapi... persiapkan, Pak."

Persiapkan.

Persiapkan apa?

Persiapkan kehilangan?

Aku diam. Tak bisa berkata. Tak bisa bergerak. Hanya bisa duduk di kursi, membeku.

Dokter pergi. Aku masih duduk. Lama.

Lalu aku bangun. Berjalan ke ruang isolasi. Lihat Mbah Kar dari balik kaca.

Mbah Kar lihat aku. Tersenyum. Masih tersenyum. Meski sakit. Meski lemah. Meski mungkin... mungkin tak lama lagi.

Aku ingat semuanya.

Ingat pertama kali aku, Dewi, Risma, Budi datang ke rumahnya. Tanpa apa-apa. Hanya baju di badan.

Ingat Mbah Kar buka pintu. Terima kami. "Masuk, le. Ini rumah Mbah ya rumah kalian juga."

Ingat Mbah Kar gendong Risma. Rawat Risma. Ajar Risma senyum.

Ingat Mbah Kar jual kalung emas mendiang istrinya. Untuk Risma. Tanpa ragu. Tanpa pamrih.

Ingat Mbah Kar jaga Budi. Masakin. Cuciin. Semua.

Mbah Kar bukan keluarga. Tapi lebih dari keluarga.

Mbah Kar adalah malaikat tanpa sayap.

Dan sekarang... malaikat itu akan pergi.

Aku nangis. Nangis di depan kaca. Nangis sejadi-jadinya.

Mbah Kar di dalam, cuma bisa lihat. Tersenyum. Mengangkat tangan. Memberi isyarat, "Nggak apa-apa, Mas. Mbah ikhlas."

Aku makin nangis.

---

Malam itu, aku duduk di lorong antara ICU Risma dan ruang isolasi Mbah Kar.

Di kiri, anakku berjuang. Napasnya dibantu selang. Tapi ia mulai bisa panggil "Pa". Keajaiban kecil.

Di kanan, orang tua keduaku sekarat. Paru-parunya rusak. Mungkin tak lama lagi.

Aku di tengah. Terbelah.

Tak tahu harus ke mana. Tak tahu harus jaga siapa. Tak tahu harus berdoa untuk siapa.

Aku hanya bisa duduk. Menangis. Berdoa.

Tuhan, jangan ambil mereka berdua. Ambil aku saja. Tapi jangan mereka.

Tuhan diam.

Dari jauh, suara langkah. Dewi datang. Bawa Budi.

Budi berlari ke aku. Memelukku erat.

"Pa, Budi takut. Kakak sakit, Mbah Kar sakit. Pa jangan sakit ya."

Aku peluk Budi. Erat. "Pa nggak sakit, Nak. Pa harus kuat buat kalian."

Dewi duduk di sampingku. Kepalanya bersandar di pundakku.

"Mas, kita gimana?"

Aku tak bisa jawab. Aku hanya pandangi dua ruangan itu. Dua orang yang kucintai. Dua nyawa yang bergantung.

Tiba-tiba.

Alarm di ICU Risma berbunyi. Keras. Panik.

Aku bangkit. Lari.

Perawat dan dokter berlarian ke ruang Risma. Aku teriak dari luar.

"RISMA! JANGAN! JANGAN TINGGAL BAPAK!"

Dari ruang isolasi, Mbah Kar terbangun. Ia dengar teriakanku. Ia lihat keributan. Ia tahu, Risma kritis.

Ia bangkit. Lemah. Tapi bangkit. Copot selang oksigen. Perawat panik. "Mbah Kar, jangan!"

Mbah Kar tak peduli. Ia lari. Lari keluar ruangan. Tubuhnya oleng. Jatuh. Bangkit lagi. Lari ke ICU.

"MAS! RISMA! MBAH DATANG!"

Aku lihat Mbah Kar lari. Tubuhnya ringkih. Langkahnya limbung. Tapi matanya menyala.

Ia berlari. Jatuh di depan pintu ICU. Tangannya meraih. Meraih ke arah Risma.

"RISMA... MBAH DATANG... MBAH SAYANG..."

Dua orang yang paling aku cintai. Rebah bersamaan.

Risma di dalam. Kejang. Mungkin sekarat.

Mbah Kar di luar. Roboh. Tak sadar.

Aku hanya bisa berteriak. Berteriak memanggil Tuhan.

"TUHAN! JANGAN! JANGAN AMBIL MEREKA! AKU RELA APA SAJA! TAPI JANGAN MEREKA!"

Tuhan diam.

Malam itu, di lorong rumah sakit, aku belajar arti kehilangan.

Dua kali lipat.

---

Perawat berlarian. Dokter ke sana kemari. Aku hanya bisa diam. Terpaku. Menatap dua ruangan.

Dewi pegang tanganku. Budi nangis di pelukannya.

"Mas... Mas... sabar, Mas..."

Aku tak bisa sabar. Aku mau teriak. Mau hancurkan segalanya. Tapi aku diam. Hanya diam.

Dokter keluar dari ICU Risma.

"Pak, Risma stabil. Kejangnya berhasil diatasi."

Aku hela napas. Lega. Tapi belum selesai.

Dokter lain keluar dari ruang isolasi Mbah Kar.

"Pak, Mbah Kar sadar. Tapi kondisi drop. Jantungnya lemah. Kami harus pantau ketat."

Aku masuk ke ruang isolasi. Masker. Hazmat. Semua. Mbah Kar terbaring. Lemah. Tapi matanya mencari.

"Mas... Risma... gimana?"

"Selamat, Mbah. Risma selamat."

Mbah Kar tersenyum. "Syukur... syukur..."

Ia pegang tanganku. Tangannya dingin. Lemah.

"Mas, Mbah mau titip pesan."

Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya.

"Iya, Mbah. Mbah tenang dulu."

"Nggak, Mas. Mbah takut nggak sempat."

Air mataku jatuh.

"Mas, jaga keluarga. Jaga Risma. Jaga Budi. Jaga Dewi. Mbah titip."

"Mbah... Mbah jangan ngomong gitu. Mbah sembuh."

Mbah Kar tersenyum. Senyum tipis. Seperti Risma.

"Mas, Mbah sudah tua. Mbah sudah bahagia punya kalian. Mbah ikhlas."

Aku nangis. Nangis sesenggukan.

"Mbah... aku belum siap... aku belum bisa..."

Mbah Kar usap tanganku. "Kamu bisa, Mas. Kamu kuat. Kamu sudah lewati banyak."

"Mbah, aku takut."

"Takut itu wajar, Mas. Tapi jangan berhenti. Teruslah. Untuk Risma. Untuk Budi. Untuk Dewi."

Aku hanya bisa mengangguk. Nangis.

Mbah Kar tersenyum. Lalu matanya mulai sayu. Terpejam.

"Mbah?"

"Mas, Mbah capek. Mbah tidur dulu."

"Jangan, Mbah. Jangan tidur."

Tapi Mbah Kar sudah terpejam. Napasnya pelan. Tapi masih ada.

Monitor berbunyi tit... tit... tit...

Masih hidup.

Untuk berapa lama lagi?

---

Aku keluar ruangan. Lemas.

Di lorong, Dewi dan Budi menunggu. Budi lari ke aku.

"Pa, Mbah Kar gimana?"

Aku gendong dia. "Mbah Kar tidur, Nak."

"Budi boleh jenguk?"

"Nggak bisa, Nak. Mbah Kar butuh istirahat."

Budi cemberut. Lalu berkata, "Pa, Budi doain Mbah Kar sembuh."

Aku peluk dia. "Makasih, Nak. Makasih."

Dari kejauhan, aku lihat ruang ICU Risma. Lampunya redup. Risma tidur.

Aku lihat ruang isolasi Mbah Kar. Lampunya juga redup. Mbah Kar tidur.

Dua orang yang kucintai. Tidur dalam perjuangan masing-masing.

Aku hanya bisa duduk di lorong. Di antara mereka.

Menunggu.

Berdoa.

Berharap.

---

[BERSAMBUNG KE BAB 24: PERJUANGAN DUA NYAWA]

---

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!