Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan di Paviliun Kitab
Malam telah mencapai puncaknya. Langit di atas Sekte Awan Mendung tertutup kabut tebal, memberikan perlindungan alami bagi mereka yang bergerak dalam gelap.
Fang Yuan berdiri di bayang-bayang pohon pinus tua, menatap Paviliun Kitab Suci yang menjulang tinggi di hadapannya.
Tujuannya hanya satu: Teknik Pernapasan Awan. Tanpa teknik itu, fondasi Inti Yin-Yang miliknya tidak akan pernah mencapai kesempurnaan.
"Bai Lie, tetap di sini. Jika ada patroli mendekat, buat gangguan di sisi barat," perintah Fang Yuan lewat transmisi suara yang sangat rendah.
"Dimengerti, Tuan," bisik Bai Lie dari balik kegelapan.
Fang Yuan melesat. Gerakannya hampir tidak meninggalkan suara, sebuah teknik pergerakan yang ia sempurnakan selama tiga bulan di dimensi Mutiara Petir.
Ia menghindari segel pendeteksi di pintu utama dengan memanjat melalui celah ventilasi di lantai tiga—tempat penyimpanan teknik-teknik rahasia bagi murid inti dan tetua.
Di dalam paviliun, bau kertas tua dan dupa cendana memenuhi udara. Fang Yuan bergerak di antara rak-rak kayu hitam.
Matanya memindai setiap gulungan dengan cepat. Setelah beberapa menit, ia menemukannya: sebuah kotak giok hijau dengan label "Pernapasan Awan: Sembilan Langit".
Ini adalah teknik inti yang tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Fang Yuan mengeluarkan sebuah jarum perak dari balik lengan bajunya.
Dengan ketenangan seorang ahli bedah, ia mencongkel segel energi pada kotak tersebut tanpa memicunya.
Klik.
Kotak terbuka. Fang Yuan segera mengambil buku tua di dalamnya. Namun, tepat saat ia akan memasukkan buku itu ke dalam jubahnya, sebuah suara tawa kecil yang sinis terdengar dari sudut rak yang paling gelap.
"Siapa sangka ... murid baru yang tampan dan berbakat ternyata adalah seorang pencuri kecil."
Fang Yuan membeku. Tangannya tetap memegang buku itu, namun matanya langsung beralih ke arah sumber suara.
Dari balik bayang-bayang, muncul seorang pria dengan jubah murid inti yang rapi. Ia adalah Song Lian, murid peringkat ketiga di sekte tersebut yang terkenal licik.
Song Lian memainkan sebuah permata perekam di tangannya. Permata itu bersinar redup, menunjukkan bahwa ia telah merekam seluruh aksi Fang Yuan sejak masuk melalui ventilasi.
"Li Qiye ... atau siapapun namamu yang sebenarnya," Song Lian melangkah maju dengan senyum meremehkan. "Mencuri teknik rahasia sekte adalah kejahatan yang dihukum dengan penghancuran Dantian dan pembuangan. Jika aku menyerahkan rekaman ini kepada Tetua Dong Fei, hidupmu berakhir malam ini."
Fang Yuan menatap Song Lian dengan mata yang sangat datar. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan. Hanya kekosongan yang membuat Song Lian sedikit tidak nyaman.
"Apa maumu?" tanya Fang Yuan dingin.
"Mudah saja," Song Lian menyeringai, matanya berkilat penuh keserakahan. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari misi di Lembah Bayang Maut. Tidak mungkin golem-golem itu hancur tanpa menyisakan apa-apa. Berikan aku Bunga Nadir Langit yang kau curi, dan jadilah anjingku di dalam sekte ini. Dengan begitu, aku akan merahasiakan ini."
Fang Yuan diam seribu bahasa. Di dalam pikirannya, ia sedang menghitung kemungkinan.
Membunuh Song Lian di sini akan memicu alarm sekte. Namun, membiarkannya hidup berarti memberikan lehernya pada orang lain.
"Kau ingin Bunga Nadir Langit?" Fang Yuan akhirnya berbicara, suaranya sangat rendah.
"Tentu saja! Jangan berlagak bodoh. Aku tahu kau menyimpannya," desak Song Lian, merasa di atas angin.
Fang Yuan mulai melangkah mendekati Song Lian. Song Lian secara refleks memundurkan kakinya, namun ia segera menguatkan diri. "Tetap di sana! Satu langkah lagi dan aku akan berteriak!"
Fang Yuan berhenti. Ia tidak tersenyum, namun aura di sekitarnya berubah menjadi sangat mencekam. "Kau membuat kesalahan besar, Song Lian. Kau mengira bahwa dengan memegang rahasia seorang iblis, kau bisa mengendalikannya."
"Apa maksudmu—"
Sebelum Song Lian bisa menyelesaikan kalimatnya, Fang Yuan menjentikkan jarinya. Bukan serangan fisik, melainkan sebuah denyut energi dari Mutiara Petir yang tersembunyi.
Ruangan itu tidak meledak, namun cahaya di dalam paviliun seolah-olah tersedot ke dalam tubuh Fang Yuan selama satu detik.
"Aku tidak suka diancam," bisik Fang Yuan tepat di telinga Song Lian—sebuah kecepatan yang melampaui kemampuan Pendirian Fondasi biasa.
Song Lian terbelalak. Ia baru menyadari bahwa Li Qiye yang berdiri di depannya jauh lebih kuat dan lebih gila dari apa yang ia bayangkan. Permata perekam di tangannya tiba-tiba terasa sangat panas.
Fang Yuan kini berada dalam posisi terjepit antara mencuri teknik dan membungkam saksi mata.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.