Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: SISA-SISA KEEMASAN
Pesawat evakuasi otomatis itu mendarat dengan guncangan halus di sebuah lembah tersembunyi, jauh dari jangkauan radar sisa-sisa Konsorsium. Pintu hidrolik terbuka, membiarkan udara dingin Oakhaven masuk dan menyapu sisa-sisa aroma ozon dari puncak gunung.
Kai melangkah keluar dengan kaki yang masih gemetar. Elara menyusul di belakangnya, wajahnya kotor oleh jelaga, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa. Mereka berdiri di atas padang rumput yang membeku, menatap ke arah Puncak Menara yang kini telah rata dengan tanah.
"Sudah berakhir," bisik Elara.
Kai tidak menjawab. Ia mengangkat telapak tangan kanannya. Di sana, di tengah kulit yang masih kasar karena luka bakar, sebuah simbol kecil berbentuk spiral—seperti galaksi yang sangat padat—berpendar dengan warna emas yang tenang. Anehnya, meskipun dunianya kembali abu-abu, simbol ini adalah satu-satunya benda yang memiliki "warna" di mata Kai.
Warna emas itu tidak memudar. Ia nyata. Ia adalah anomali di tengah penglihatan monokromnya.
"Kau melihatnya juga?" tanya Kai, menunjukkan tangannya pada Elara.
Elara memegang tangan Kai, jarinya menyentuh simbol itu. "Aku tidak melihat cahaya fisik, Kai. Tapi aku merasakannya. Rasanya... hangat. Seperti suara yang tersimpan di dalam kulit."
Tiba-tiba, sebuah transmisi masuk melalui dasbor pesawat. Itu adalah Sarah. Wajahnya muncul dengan latar belakang ruang kontrol yang gelap.
"Kai! Elara! Kalian di mana? Seluruh dunia sedang kacau, tapi bukan kekacauan yang buruk. Orang-orang menyebutnya 'The Great Stillness' (Keheningan Agung). Tidak ada perang selama dua belas jam terakhir. Semua orang di ibu kota turun ke jalan, mereka hanya... berbicara satu sama lain. Tanpa amarah."
"Spektrum Putih berhasil, Sarah," kata Kai pelan. "Meskipun menaranya sudah hancur."
"Tapi dengarkan aku," suara Sarah berubah serius. "Pemerintah sedang mencari 'sumber' dari fenomena ini. Mereka melabeli kalian sebagai 'Subjek Nol'. Kalian tidak bisa kembali ke Lumina Corp. Kalian tidak bisa kembali ke rumah sakit ibumu. Tempat itu sudah diawasi ketat."
"Lalu di mana Ibuku?" Kai merasa cemas kembali memuncak.
"Dia aman. Sebelum menara runtuh, Profesor Aris sudah mengatur agar tim medis swasta memindahkannya ke sebuah biara tua di pegunungan Alpen. Kalian harus menemuinya di sana. Tapi kalian harus melakukan perjalanan lewat jalur darat. Langit tidak lagi aman bagi kalian."
Kai mematikan transmisi. Ia menatap Elara. "Kita adalah buronan lagi. Tapi kali ini, buronan bagi seluruh dunia."
"Aku tidak keberatan," Elara tersenyum tipis, merapikan rambut Kai yang berantakan. "Selama duniamu tidak lagi sepi, Kai."
Malam itu, mereka mulai berjalan menuju perbatasan. Mereka singgah di sebuah pondok pemburu yang ditinggalkan untuk beristirahat. Kai mencoba memejamkan mata, namun setiap kali ia melakukannya, simbol emas di tangannya seolah-olah memproyeksikan gambar-gambar ke dalam pikirannya.
Itu bukan memori. Itu adalah "peta" dari spektrum lain yang belum pernah ia jelajahi.
"Kai, ada apa?" Elara menyadari napas Kai yang memburu.
"Simbol ini... ia bukan hanya tanda, Elara. Ia adalah sebuah kunci dekripsi," Kai menatap tangannya dengan ngeri sekaligus takjub. "Spektrum Putih menyisakan fragmen informasinya di dalam darahku. Aku bisa 'melihat' jalur-jalur komunikasi yang sedang berlangsung di udara sekarang. Aku bisa mendengar gema suara di seluruh dunia."
"Kau menjadi antena manusia?"
"Lebih dari itu. Aku menjadi arsip berjalan dari kedamaian itu. Jika pemerintah menangkapku, mereka tidak akan hanya mempelajari teknologinya. Mereka akan membedahku untuk mendapatkan 'perasaan' itu kembali secara paksa."
Kai menyadari bahwa perjuangan mereka berubah arah. Dari menyelamatkan dunia, menjadi menjaga agar dunia tidak mencuri kembali apa yang baru saja mereka lepaskan secara bebas.
Tiba-tiba, pintu pondok diketuk pelan. Kai segera waspada, tangannya menyambar sebilah kayu. Namun, yang masuk bukanlah agen bersenjata.
Seorang anak kecil laki-laki, berusia sekitar tujuh tahun, berdiri di sana dengan pakaian kumal. Matanya jernih, dan ia tidak tampak takut. Anak itu menunjuk ke arah tangan Kai yang bersinar emas.
"Kau pelukisnya, ya?" tanya anak itu dengan suara polos. "Ibuku bilang, orang yang membawa bintang di tangannya adalah orang yang membuat dunia berhenti menangis."
Kai terpaku. Ia menurunkan kayunya. Ia berlutut di depan anak itu, menyembunyikan tangannya di balik mantel. "Aku hanya seorang pelukis yang kehilangan warnanya, Nak."
"Tidak," anak itu menggeleng. "Ayahku bilang, sejak cahaya putih itu muncul, dia bisa melihat warna di dalam hatiku. Dia tidak lagi memukul Ibu."
Air mata Kai menetes. Inilah dampak nyata dari karyanya. Bukan di gedung pencakar langit, bukan di laboratorium, tapi di sebuah keluarga kecil di pondok terpencil.
"Terima kasih, Nak," bisik Kai.
Anak itu memberikan sepotong roti kering kepada Kai. "Ini untuk perjalananmu. Jangan biarkan mereka mengambil bintangmu."
Setelah anak itu pergi, Kai menatap Elara dengan tekad baru. "Kita tidak boleh tertangkap. Bukan hanya demi kita, tapi demi setiap orang yang baru saja mulai belajar cara mencintai tanpa mesin."
Mereka meninggalkan pondok itu saat fajar menyingsing. Di kaki bukit, terlihat barisan lampu dari konvoi militer yang mulai menyisir hutan. Perburuan terhadap "Subjek Nol" telah dimulai.