Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Cek Cok di antara Lisa dan Angga memang sudah tak berlanjut, namun mereka saling diam di meja makan. Bik Sumi sampai memegangi kepalanya melihat keduanya yang sama-sama ngambek.
"Duh padahal semalam sudah baik-baik saja, kenapa sekarang kembali lagi ke mode awal?" Gumam Bik Sumi dalam hati. Bik Sumi adalah mata-mata Bu Nada, Ibunda Angga.
Bu Nada juga tahu kalau Lisa sempat ingin berpisah dari Angga, jadi Bu Nada meminta Bik Sumi agar memberitahu anaknya yang kaku itu agar jangan terlalu diam pada wanita.
"Sepertinya saya harus menelfon Bu Nada langsung, kalau begini terus mereka benar-benar akan berpisah. Lagian Pak Angga juga sebagai lelaki tidak mau meminta maaf duluan" Batin Bik Sumi.
Begitu keduanya selesai makan, Angga mengikuti Lisa. Dia sudah memutuskan untuk tidur di kamar yang sama. Angga bahkan sudah memindahkan sebagian bajunya ke kamar Lisa.
"Mas mau kemana?" Tanya Lisa saat Angga ada di depan pintu kamarnya.
"Mau tidur lah"
"Kamar mas Angga di sana"
tunjuk Lisa dengan jari telunjuknya. Malam ini dia tidak akan membiarkan Angga masuk ke kamarnya. Hubungan mereka selalu saja begini, dia sudah tidak ingin mempertahankan pernikahan yang hanya membuatnya selalu ingin naik darah.
"Mulai kemarin ini adalah kamar kita" Jawab Angga tidak mau kalah, Angga ingin nyelonong lagi seperti kemarin, tapi sekarang Lisa mencegahnya.
"Mas mau aku sunat lagi!" Ancam Lisa.
Angga bukannya takut, dia justru terkekeh mendengar ancaman itu.
"Lakukan saja jika bisa" Sahut Angga tidak takut sama sekali.
Lisa geram, dia mengeluarkan pisau yang tadi dia bawa dari meja makan. Dia sudah merencanakan ini tadi, jadi Lisa mengambil pisau buah yang ada di meja makan. Dia tidak akan membiarkan Angga seenak hati masuk kamarnya lagi.
Melihat pisau di tangan Lisa, Angga sedikit terkejut, namun dia juga tak akan gentar.
"Cepat kembali ke kamar mas!"
"Tidak mau, ini kamar ku sekarang"
"Mas jangan menyesal ya?" Lisa menatap celana tidur Angga, Lisa berniat menurunkan celana itu. Angga yang melihatnya langsung mundur beberapa langkah.
"Kamu gila ya? Kamu mau apa?"
"Mau nurunin celana mas Angga. Kan tadi Lisa sudah bilang, Lisa bakalan sunat mas lagi jika mas masuk ke kamar Lisa, Jadi kalau mas mau masuk, cepat buka celananya"
Astaga! Angga rasanya benar-benar mau gila melihat tingkah absurd istrinya ini.
"Kalau kamu sunat ini lagi, kamu tidak akan bisa mendesah lagi tiap malam"
Lisa melotot bukan main mendengar jawaban Angga, sejak kapan lelaki itu bicara sebebas itu.
"Itu memang benar, tapi Aku juga tidak Sudi berbagi itu dengan wanita lain, tiap hari Gina juga mas buat mendesah kan? Di depan banyak orang saja kalian mesra banget"
"Astaga! Imajinasi kamu jauh sekali, aku tidak mungkin melakukan itu dengan wanita lagi, untuk apa? Aku punya istri"
"Istri? Istri yang hanya di butuhkan saat di ranjang?"
Keduanya kembali cekcok hebat di depan kamar Lisa.
Namun tiba-tiba kepala mereka di satukan oleh seseorang, sontak saja bibir mereka saling bertemu. Hingga membuat debat keduanya terhenti.
"Dari pada adu mulut, lebih baik adu mulut beneran" Gumam Bu Nada yang baru saja datang. Bu Nada menarik keduanya untuk masuk ke kamar.
"Jangan bertengkar, bertengkar saja di atas ranjang sambil buatin Mama cucu" gumam Bu Nada. Bu Nada cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Lisa dan Angga jadi canggung di dalam setelah adegan ciuman paksaan tadi.
Keduanya saling tatap tanpa kata,hingga Angga tak bisa lagi menahan tubuhnya untuk tidak mendekat ke arah Lisa. Angga langsung meraup bibir Lisa. Awalnya lembut, lama-kelamaan ciuman itu jadi begitu panas. Entah sejak kapan keduanya saling melepas pakaian mereka satu sama lain. Sama-sama di bakar rasa cemburu, keduanya jadi sama-sama garang.
***
"Bu Nada hebat sekali" Puji Bik Sumi yang memang sudah meminta Bu Nada datang. Sejak kedua pasutri itu datang dari kantor, aura permusuhan mereka kembali terlihat, Bik Sumi yang hawatir langsung mengabari Bu Bu nada. Bik Sumi tidak menyangka Bu Nada akan datang di waktu yang sangat tepat.
duanya kini tengah asyik menonton film tahun delapan puluhan kesukaan mereka.
"Saya juga pernah muda Bik, anak muda seperti mereka memang harus agak di pancing sedikit" Kekeh Bu Nada, dia sangat puas dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Ibu benar sekali, mereka saja tadi langsung diam, lucu sekali melihat wajah mereka yang langsung memerah" Kekeh Bik Sumi.
"Awasi terus mereka ya bin? Jangan sampai mereka berniat berpisah, Lisa itu benar-benar menantu idaman saya"
"Siap Bu"
"Kalau begitu saya balik dulu ya? pintunya di kunci saja, jangan biarkan Angga dan Lisa keluar kamar sampai besok pagi"
"Siap Bu laksanakan"
****
Pagi harinya Lisa membuka mata, berbeda dengan kemarin, kini Angga masih tidur di sebelahnya, keadaan mereka sama-sama polos. Lisa bahkan tidur di pelukan suaminya. Bau wangi khas Angga masih tercium begitu wangi, meski dia masih tertidur pulas.
Lisa memejamkan matanya, bisa-bisanya dia tergoda lagi semalam. Kenapa juga mertuanya tiba-tiba berkunjung?
"Astaga! Mama?" Lisa jadi ingat kalau semalam mertuanya datang ke sini, Lisa buru-buru bangun untuk menyapa mertuanya. Namun saat akan turun dari ranjang kakinya tiba-tiba gemetar bukan main. Kedua kakinya tak sanggup menopang tubuhnya hingga Lisa jatuh lagi ke ranjang. Suara kekehan pun terdengar dari arah belakang Lisa.
Lisa langsung menoleh, dia kesal melihat suaminya yang tersenyum puas melihat keadaannya.
"Dasar mesum!" Kesal Lisa. Dua hari ini dia di gempur habis-habisan oleh Angga. Kakinya nyaris tidak bisa berdiri.
"Kenapa? Bukankah semalam menyenangkan? Kalau kamu mau aku bisa melakukannya tiap hari"
"Lakukan saja sendiri, mulai malam ini kamu tidak boleh lagi tidur di sini"
"Di sini aku CEO nya"
Lisa makin kesal dengan ucapan sombong suaminya itu.
"Cepat bantu aku berdiri! Aku harus menemui Mama" rengek Lisa. Angga yang berbuat dia juga kan yang harus bertanggung jawab?
Angga bangun dengan begitu PD nya meski tubuhnya masih polos. Pisangnya bahkan bergerak ke kanan dan kekiri saat menghampiri Lisa. Lisa melengos, dia malu sendiri melihat itu.
"Dasar lelaki tak punya malu" Gerutunya.
"Kenapa? Masih mau lagi?"
"Tidak! cepat bantu aku ke kamar mandi!"
Angga mengangkat tubuh kecil Lisa dengan begitu mudah, Lisa melengos dia sama sekali tidak mau menatap Angga, meski Angga sama sekali tak berkedip menatapnya. Saat sadar, Lisa langsung menampar pelan pipi Angga.
"Lihat apa kamu!" Teriak Lisa yang melihat Angga sedari tadi menatap ke arah dadanya.
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏