Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Proyek Impian
Pagi di studio A&A Pictures terasa berbeda. Tidak ada kepanikan, tidak ada sabotase, hanya aroma kopi dan suara mesin editing yang ritmis. Adelia sedang meninjau draf kontrak baru saat Arlan masuk dengan wajah yang sulit diartikan—campuran antara terkejut dan sangat bersemangat.
"Adel, kamu tidak akan percaya ini," ujar Arlan, meletakkan tabletnya di meja Adelia. "Pihak streaming platform global, GlobalStream, baru saja menghubungi kita."
Adelia mengernyit. "Klien iklan baru lagi?"
"Bukan iklan. Film layar lebar," suara Arlan bergetar. "Mereka melihat showreel kita dan hasil iklan terakhir. Mereka ingin kita memproduksi film original untuk platform mereka. Mereka ingin aku yang menyutradarai, dan mereka butuh konsepnya dalam dua minggu."
Adelia tertegun. Ini adalah mimpi yang selama ini dikejar Arlan. Film layar lebar dengan anggaran besar dan jangkauan global.
"Ini... ini luar biasa, Arlan! Ini artinya kita bisa benar-benar mandiri!" seru Adelia, langsung berdiri dan memeluk Arlan.
Namun, kebahagiaan itu dengan cepat berubah menjadi kekhawatiran. "Dua minggu untuk konsep?" Adelia melepas pelukannya, menatap Arlan serius. "Itu waktu yang sangat singkat untuk sebuah mahakarya, Arlan. Apalagi kita masih mengurus iklan-iklan yang berjalan."
Arlan kembali ke mode sutradara perfeksionisnya. "Aku tahu, Adel. Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Kita tidak bisa menolaknya. Aku butuh kamu fokus penuh membantu menyusun naskah dan storyboard."
Adelia tahu apa artinya ini. Aturan baru mereka—batas kerja jam sembilan malam dan hari libur—akan dilanggar lagi.
"Arlan, janji kita..."
"Aku tahu, Adel. Aku tahu," potong Arlan, memegang bahu Adelia. "Tolong. Kali ini saja. Setelah proyek ini selesai, kita ambil libur panjang. Aku berjanji."
Adelia menatap mata Arlan. Ia melihat obsesi, tapi juga kepercayaan yang besar pada dirinya. Dengan berat hati, namun penuh semangat, Adelia mengangguk. "Baik. Tapi kamu harus berjanji, kalau kita merasa burnout, kita berhenti sejenak."
"Janji."
Hari-hari berikutnya berubah menjadi kegilaan yang terorganisir. Studio berubah menjadi ruang kerja 24 jam. Arlan dan Adelia bertukar ide, berdebat tentang alur cerita, dan membangun dunia karakter hingga larut malam. Kopi berubah dari sekadar minuman menjadi bahan bakar utama.
Reihan Malik, yang kini menjadi aktor langganan studio, membantu memberikan masukan dari sudut pandang aktor.
"Arlan, dialog di adegan klimaks ini terlalu kaku," ujar Reihan saat sesi baca naskah.
"Penonton tidak akan merasakan emosinya."
Arlan mengacak rambutnya frustrasi. "Tapi ini poin plot paling penting, Reihan!"
Adelia, yang sedang meninjau ulang catatan keuangan, menengahi. "Mungkin dialognya bisa dikurangi, dan diganti dengan close-up ekspresi wajah. Biarkan Reihan berakting dengan tatapan matanya."
Arlan terdiam, merenungkan saran Adelia. Ia menatap Reihan, lalu Adelia. "Itu... ide brilian. Less is more."
Meskipun lelah fisik, Adelia merasa hidup. Ia melihat Arlan kembali berapi-api, mencurahkan seluruh jiwanya ke dalam proyek impian ini.
Satu minggu berlalu. Konsep film hampir selesai. Namun, tekanan fisik mulai terasa. Adelia sering sakit kepala, dan Arlan terlihat sangat kurus.
Saat malam sebelum presentasi konsep, Adelia menemukan Arlan tertidur di atas meja, naskah masih di tangannya. Adelia menyelimutinya pelan, menatap wajah lelah kekasihnya. Ia sadar, ia mencintai pria ini bukan hanya karena karyanya, tapi karena dedikasinya—bahkan jika dedikasi itu sering kali membahayakan kesehatan mereka.
"Kita akan berhasil, Arlan," bisik Adelia pelan. "Apapun hasilnya, kita sudah memberikan yang terbaik."
Presentasi di Depan Investor Global
Ruang rapat di lantai tertinggi gedung pencakar langit itu terasa dingin dan intimidatif. Meja mahoni panjang di tengah ruangan berkilau memantulkan cahaya lampu gantung kristal. Di satu sisi meja, duduk tiga perwakilan GlobalStream—dua pria dan satu wanita dengan tatapan dingin dan kalkulatif, didampingi penerjemah mereka. Di sisi lain, Arlan dan Adelia duduk berdampingan, membawa laptop dan tumpukan dokumen.
Jantung Adelia berdegup kencang, berpacu dengan detak jarum jam dinding. Ia menatap Arlan yang duduk tegap, wajahnya keras dan fokus, meski lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa kurangnya ia tidur selama dua minggu terakhir.
"Selamat pagi, Mr. Arlan, Ms. Adelia," sapa perwakilan wanita bernama Ms. Evelyn, suaranya tajam dalam bahasa Inggris yang fasih. "Kami sangat terkesan dengan showreel Anda. Namun, GlobalStream memiliki standar yang sangat tinggi untuk original konten kami. Anda memiliki tiga puluh menit untuk meyakinkan kami mengapa proyek ini layak didanai."
Arlan berdiri, berjalan ke depan layar proyektor. Ia memulai presentasi dengan tenang, suaranya bariton dan penuh percaya diri—aura "Naga" kembali keluar, namun kali ini lebih terkontrol dan profesional. Ia memaparkan visi artistik film tersebut, tentang dilema moral di tengah megahnya Jakarta yang kontras.
Adelia sigap mengatur slide presentasi, menampilkan mood board yang ia susun dengan teliti, lalu beralih ke proyeksi keuangan yang realistis namun menjanjikan keuntungan tinggi. Mereka berdua bekerja layaknya mesin yang sinkron, saling melengkapi.
Saat sesi tanya jawab dimulai, situasi menjadi tegang.
"Konsep ini menarik, Mr. Arlan," ujar salah satu perwakilan pria, Mr. Chen. "Namun, konflik ceritanya terlalu lokal. Apakah Anda yakin audiens global di Amerika atau Eropa akan mengerti? Kami butuh cerita yang lebih universal."
Arlan terdiam sejenak. Ia tahu ini adalah poin krusial. Jika ia mengalah, film ini kehilangan jiwanya. Jika ia terlalu keras kepala, pendanaan bisa batal.
"Mr. Chen," jawab Arlan, tatapannya lurus menatap investor. "Kekuatan sebuah cerita bukan pada lokasinya, tapi pada emosi manusianya. Rasa takut akan kegagalan, keinginan untuk dilindungi, dan perjuangan untuk cinta—itu universal. Jakarta hanyalah panggungnya, tapi detak jantung ceritanya ada pada setiap manusia di dunia."
Adelia menahan napas, menatap reaksi para investor. Ia melihat Ms. Evelyn mengangguk kecil.
"Lalu, mengenai anggaran," Ms. Evelyn kembali bersuara. "Kami rasa angka ini terlalu tinggi untuk studio independen seperti A&A Pictures."
"Anggaran tersebut adalah jaminan kualitas, Ms. Evelyn," balas Adelia cepat, mengambil alih pembicaraan dengan anggun. "Kami menjamin kualitas visual setara dengan film studio besar, dengan efisiensi operasional yang jauh lebih baik karena tim kami yang ramping dan dedikasi penuh dari sutradara."
Diskusi berlanjut alot selama tiga puluh menit. Arlan dan Adelia harus mempertahankan setiap detail konsep mereka. Keringat dingin membasahi punggung Adelia, sementara tenggorokan Arlan terasa kering.
"Waktu Anda habis," ujar Mr. Chen, melihat jam tangannya.
"Terima kasih atas paparan Anda," Ms. Evelyn berdiri, diikuti dua rekannya. "Kami akan meninjau proposal ini dalam tiga hari ke depan."
Arlan dan Adelia bersalaman dengan mereka, lalu keluar dari ruang rapat. Saat pintu ruang rapat tertutup rapat, Arlan langsung bersandar di dinding koridor, napasnya memburu. Adelia menyusul, tubuhnya terasa lemas.
"Apa menurutmu kita berhasil?" tanya Adelia pelan, suaranya bergetar.
Arlan menatap Adelia, lalu tersenyum tipis—senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. Ia menggenggam tangan Adelia erat. "Kita memberikan segalanya, Adel. Apapun hasilnya, aku bangga kita melakukannya bersama."
Mereka berjalan menuju lift, meninggalkan gedung tersebut dengan perasaan campur aduk antara cemas dan lega. Di luar gedung, hujan deras Jakarta menyambut mereka, seolah mencuci seluruh ketegangan yang mereka bawa dari ruang rapat.