NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Senja menggantung di langit pesantren.

Rona jingga berpendar di antara pucuk-pucuk pohon, jatuh lembut di halaman Darun Najah--tempat yang selama ini berdiri dengan ketenangan, dengan aturan, dengan kehormatan.

Biasanya, pemandangan itu cukup untuk membuat Kyai Fakih Zayyad berhenti sejenak. Mensyukuri.

Tapi tidak kali ini.

Tatapannya tidak benar-benar melihat langit.

Tidak juga pada santri yang melantunkan sholawat menyambut Maghrib.

Melainkan pada satu hal--yang sejak beberapa menit lalu mengubah segalanya.

“Jadi… itu memang hasilnya, Dokter?”

Dokter Zulaika tidak langsung menjawab.

Ia mengangguk pelan.

“Benar.”

Satu kata.

Cukup untuk menjatuhkan banyak hal dalam satu waktu.

"Apa ... tidak ada kemungkinan salah diagnosa, Dokter Zulaika?"

Pertanyaannya jatuh pelan, bukan hanya khawatir menyinggung, tapi juga terbangun di atas harapan, bahwa apa yang didengarnya itu salah.

Dokter Zulaika tersenyum, pahit. Menggeleng.

"Saya pun berharap ini, salah, Kyai."

Napasnya jatuh berat. Sedikit menunduk.

"Saya sampai pastikan beberapa kali. Tapi ... memang itu, hasilnya. Ning Shafiya hamil."

"Tapi, tidak mungkin putriku hamil, Dokter. Dia bahkan belum menikah."

Kalimat itu jatuh, berat, di antara luka, kecewa, amarah, dan sekaligus tak percaya.

"Meski saya sudah menjadi dokter spesialis bertahun-tahun." Dokter Zulaika diam sejenak.

"Tapi saya juga berharap, diagnosa saya salah, Kyai."

Hening.

Bukan karena tidak ada suara--tapi karena tidak ada lagi yang bisa dibantah.

Kyai Fakih mengangguk. Sekali.

Lalu sekali lagi.

Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri--bahwa ini bukan kesalahan dengar.

"Baik." Satu kata diucap kyai Fakih, bukan penerimaan, hanya keharusan.

"Saya mohon pamit, Kyai," kata dokter Zulaika akhirnya. Butuh keberanian mengucapkan kata pamit, karena tak tega untuk langsung beranjak pergi.

"Terima kasih, Dokter Zulaika."

Kyai Fakih berdiri. Gerakannya lambat, tak lagi tegap seperti tadi. Tangannya menyilakan dengan sopan, dan bersiap antarkan tamunya ke teras kediaman.

"Assalamualaikum." Dokter Zul undur diri dengan salam.

Sempat menatap wajah teduh kyai yang sangat dihormati---yang masih familinya itu, sebelum benar-benar berbalik pergi.

"Wa---alaikumsalam."

Kyai menjawab salam itu dengan suara tersendat, bahkan ujung kalimatnya hampir tenggelam, tak berbentuk utuh di pendengaran.

Ia lalu melangkah pelan, dengan kepala tertunduk, menuju kamar yang pintunya sedikit terkuak. Namun, dalam jarak tiga langkah ia berhenti, diam. Lama diam, seakan sedang memproses ulang sebuah informasi yang mungkin salah dipahami.

Kyai mengetuk pintu dua kali sebelum masuk. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tatapannya memaku wajah rupawan sang putri yang duduk bersandar di pembaringan.

Ia duduk, di kursi panjang. Posisi yang tidak jauh dari ranjang, juga tidak terlalu dekat.

"Abi." Shafiya merubah posisi duduk, menghadap ke abinya.

"Dokter Zul sudah pulang."

Suara yang terbiasa tenang itu, kini sedikit bergetar.

Shafiya mengangguk. Rasa tak nyaman kian meringkuk. Di palung jiwanya.

"Sejak kapan kamu tau, Shafa?"

Kyai menatap putrinya dalam.

Shafiya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang ditanyakan abinya.

Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam di atas selimut.

“Baru … belakangan ini, Abi.”

Kyai Fakih tidak menyela.

“Saya cuma merasa ada yang berbeda dengan kesehatan saya," lanjutnya pelan. “Tapi saya pikir itu karena banyak pikiran. Kelelahan karena persiapan … dan semuanya.”

Ia berhenti, seolah memilih kata yang aman.

"Jadi, apa yang terjadi, Abi?" tanyanya, akhirnya.

"Kamu benar-benar tidak tahu?"

Suara tanya itu, bukan pemakluman, tapi ketidakpercayaan.

Sunyi menggantung di antara mereka.

Shafiya mengangkat wajahnya perlahan. Ada kebingungan yang jujur di matanya, bukan rasa bersalah.

"Saya... " Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi kalimatnya belum terbentuk, ketika suaranya tertelan begitu saja.

Kyai Fakih tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya, seakan sedang mencari sesuatu di wajah putrinya yang selama ini selalu ia pahami tanpa perlu banyak kata.

Namun kali ini, ia tidak menemukan apa-apa. Tidak pemahaman. Tidak pula jawaban.

"Siapa, Shafiya?"

Shafa, nama panggilan kesayangan kyai Fakih untuk putri sulungnya--harapan terbesarnya.

Dan ketika ia menyebut nama "Shafiya"

Bukan lagi "Shafa"---Shafiya tau ada yang tak biasa. Abinya sedang tak membuka ruang musyawarah. Tapi, tanggung jawab.

"A--bi, saya ..."

Kyai Fakih melewatkan begitu saja raut wajah tak paham yang ditampakkan putrinya. Satu kalimat tanya lepas dengan cepat, jelas dan menghantam.

"Siapa yang harus abi datangi untuk meminta tanggung jawab?"

Shafiya tersentak. Tercekat. Bahkan dadanya terasa menyempit, tak memberi ruang untuk bernapas.

"Gus Ilzam?" Kyai Fakih masih tak mengalihkan pandangan. Ia butuh jawaban. Butuh ketegasan, namun masih berusaha menahan retak dari luka batin yang begitu kecewa dengan tragedi yang diberikan putri kebanggaannya.

Shafiya tidak menjawab. Tidak bisa. Karena di atas vonis yang ia dapat, Shafiya tidak tahu apa-apa.

Kyai Fakih menarik napas panjang. Lama. Seolah udara yang masuk ke dadanya terasa lebih berat dari biasanya.

Ia tidak langsung memutuskan. Tatapannya jatuh pada lantai, lalu kembali pada putrinya.

“Jika bukan gus Ilzam." Jeda sejenak.

"Maka pernikahan kalian besok, tidak perlu dilanjutkan."

Kalimat itu diucapkan pelan. Tidak keras. Tidak juga bergetar. Justru terlalu tenang.

Shafiya mengangkat wajahnya cepat. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi kata-kata tak kunjung keluar.

“Abi yang akan bicara dengan pihak sana.”

Di luar kamar, suara santri mengaji masih terdengar samar. Hidup berjalan seperti biasa, seakan tak ada yang berubah. Padahal di dalam ruangan itu, satu masa depan baru saja runtuh tanpa suara.

Shafiya menggenggam ujung selimut di pangkuannya.

“Karena saya …?” suaranya nyaris tak terdengar.

Kyai Fakih memejamkan mata sejenak.

“Karena kondisimu sekarang sudah tak bisa lagi bersanding dengan gus Ilzam."

Shafiya diam. Bukan karena benar-benar menerima. Bukan karena paham yang sebenarnya. Tapi karena ia merasakan dunia runtuh di hadapannya. Hancur. Dan ia tak tahu dengan jelas apa penyebabnya.

*

*

Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Ilzam datang. Bahkan adzan isya sudah bergeser sejak satu jam.

Lampu-lampu serambi pondok menyala temaram. Beberapa santri masih melintas dengan langkah pelan, menunduk hormat saat melewati kediaman Kyai Fakih. Tidak ada yang tahu, malam itu satu keputusan sedang mengubah banyak arah hidup sekaligus.

Ilzam duduk tegak di hadapan Kyai Fakih. Sikapnya sopan seperti biasa. Selalu tenang. Dan auranya lebih memancar sebagai seorang lelaki yang dua hari lagi seharusnya menikah.

“Abi memanggil saya?” Ilzam masih bertanya. Pertanyaan yang enggan bergeser dari benaknya---sejak pesan itu sampai.

Dua hari lagi, Ilzam akan datang ke pesantren Darun najah ini sebagai lelaki yang akan mengucapkan akad untuk putri sulung kyai Fakih.

Dan saat ini, ia dipanggil untuk datang, pasti ada sesuatu hal yang wajib disampaikan sebelum akad nikah dilaksanakan.

Kyai Fakih tidak langsung menjawab. Tangannya bertaut di atas lutut. Pandangannya jatuh pada lantai, bukan pada wajah calon menantunya.

Beberapa detik berlalu.

“Ada hal yang harus kita hentikan, Nak Ilzam.”

Ilzam mengernyit samar. Tidak menyela.

Ruangan begitu sunyi sampai suara kipas angin terdengar jelas berputar di langit-langit.

“Pernikahan itu,” lanjut Kyai Fakih pelan, suaranya tetap dijaga agar tidak goyah, “tidak bisa dilanjutkan.”

Kalimatnya jatuh tanpa penjelasan.

Ilzam terdiam. Bahunya sedikit menegang, kedua tapak tangannya langsung basah oleh keringat, tapi ia tak mendongak. Kepalanya tetap menunduk hormat.

“Apakah … ning Shafiya tidak berkenan?” tanyanya hati-hati. Pelan, kontras dengan ritme jantungnya yang berdetak lebih cepat, lebih keras.

Pertanyaan itu membuat Kyai Fakih akhirnya mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap Ilzam lurus-lurus. Ada rasa lelah yang tidak biasa di sana.

“Ini bukan tentang berkenan atau tidak.”

Hening kembali mengambil tempat.

Ilzam menelan ludah, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak berani ia ucapkan.

“Apakah saya melakukan kesalahan, Abi?”

Kyai Fakih menggeleng pelan.

“Tidak.”

Jawaban itu cepat, tegas--seakan satu-satunya hal yang masih bisa ia pastikan.

Ilzam tidak bersalah.

Memang tidak.

Kyai menarik napas panjang, lalu berkata lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Kadang … ada keadaan yang datang tanpa kita rencanakan. Dan tugas orang tua bukan mencari siapa yang salah, tapi menjaga agar yang tersisa tidak ikut hancur.”

Kyai fakih tahu akibat dari keputusannya, ia yang akan disalahkan. Tapi ia juga tak bisa membawa nama putrinya ke atas meja untuk menjadi hidangan cemoohan--meski memang salah.

Dan meski untuk itu ia yang menanggung sendiri luka yang penuh darah.

Ilzam terdiam lama. Wajahnya tetap tertunduk, tapi jemarinya saling mengunci semakin kuat. Ia mencermati setiap kata yang diucap kyai Fakih barusan. Cukup lama.

"Abi--" kyai Fakih memangkas ucapannya sendiri, ketika dadanya terasa sesak. Namun dalam hitungan detik ia temukan kembali kekuatannya.

"--belum siap menjelaskan, Nak. Tapi, semua keputusan ini bukan tanpa alasan."

Kyai lalu menunduk seakan terdakwa di depan Ilzam.

"Aku, dan putriku yang salah."

Beliau ucapkan itu dengan suara kokoh, namun getar di baliknya, dirasakan oleh Ilzam.

Lelaki itu mengangguk akhirnya.

“Kalau itu keputusan Abi … saya menerima.”

Tidak ada protes. Tidak ada tuntutan penjelasan.

Justru itu yang membuat dada Kyai Fakih terasa semakin berat.

“Maafkan abi, Nak Ilzam.” kali ini suara itu bergetar. Sekalipun sekuat tenaga gejolak jiwanya ditahan.

Ilzam segera menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Abi."

Ilzam tersenyum, menyatakan ketulusan dalam ucapannya. Namun senyum itu lahir dari luka yang tak ia ketahui sebabnya. Dan dari sakit yang harus ditanggung tanpa boleh bertanya.

Dan di malam itu, keduanya sama-sama tahu--sesuatu telah selesai bahkan sebelum sempat dimulai.

*****

*******

*****

Assalamualaikum.

Saya jadi gak tau harus bilang apa ya pertama kali, di buku baru. Deg degan sih, takut hanya bicara sendiri...

Selamat datang di cerita baru. Baru rilis, baru ditulis, tapi sdah lama mengendap di otak.

Gak muluk² sih harapannya dengan cerita ini. Cuman, agar dibaca, satu demi satu, tiap bab. ditinggalin jejak baca, like, komen, apalagi kalau sampai vote dan gift..Waduh..Alhamdulillah

Semoga suka.

Najwa Aini

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!