Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Yuze, Sun Yuesen benar-benar pamer,” ujar Chen Jialong dengan nada masam sambil berjalan mendekat. Pandangannya tertuju pada seorang siswa bertubuh tinggi yang sedang memegang bola basket dan memperagakan berbagai gaya tembakan di hadapan sekelompok siswi. “Hanya karena dia anggota tim basket, dia langsung beraksi seolah dunia ini panggungnya. Lihat tuh, di depan banyak cewek lagi.”
Zhang Yuze mengikuti arah pandangan Chen Jialong. Harus diakui, Sun Yuesen memang memiliki paras rupawan. Posturnya atletis, wajahnya bersih, dan keterampilannya dalam bermain basket benar-benar memikat. Di hadapan para siswi yang terpukau, ia tampak seperti tokoh utama dalam sebuah drama remaja. Sorak sorai dan tawa kecil terus mengiringi setiap gerakannya.
Namun, satu hal membuat Zhang Yuze sedikit lega.
Di antara kerumunan itu, Liu Mengting tidak terlihat.
Ia menoleh ke sisi lain lapangan dan menemukan Liu Mengting sedang berlatih seorang diri. Gadis itu memantulkan bola dengan tenang, lalu melangkah maju melakukan lay-up tiga langkah dengan gerakan yang rapi. Tak lama kemudian, ia mencoba jump shot, bahkan sesekali tembakan tiga angka. Meski tingkat keberhasilannya tidak terlalu tinggi, teknik dasarnya jelas tidak bisa disebut amatir.
Pemandangan itu membuat mata Zhang Yuze berbinar.
Yang lebih mencuri perhatiannya lagi, entah sejak kapan Liu Mengting telah mengganti pakaian bawahnya dengan celana pendek kasual, memperlihatkan sepasang kaki jenjang berkulit cerah. Di bawah sinar matahari, siluet tubuhnya tampak segar, anggun, sekaligus memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan.
Ujian dimulai tak lama kemudian.
Karena jumlah peserta cukup banyak, Xia Delong tidak menerapkan penilaian yang terlalu rumit. Setiap siswa hanya diminta melakukan tembakan di tempat dan lay-up tiga langkah, lalu dinilai berdasarkan koordinasi, postur, dan kelancaran gerakan. Dengan sistem tersebut, seluruh proses ujian selesai bahkan sebelum satu jam pelajaran berakhir.
Para siswa diam-diam mengagumi kebijaksanaan Xia Delong. Begitu ujian dinyatakan selesai, hampir semua langsung berhamburan ke pinggir lapangan untuk berteduh dan menenangkan diri dari panas yang menyengat.
Di antara mereka, Zhang Yuze melihat Liu Mengting duduk sendirian di sisi lapangan. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, wajahnya memerah, dan satu tangannya menopang dagu, seolah tenggelam dalam lamunan.
Hati Zhang Yuze langsung diliputi rasa senang.
Ia cepat-cepat mengambil sebotol air mineral yang telah ia siapkan sebelumnya, lalu melangkah mendekat dan duduk di samping Liu Mengting. Dengan senyum lembut, ia menyerahkan botol itu.
“Mengting, kamu kelihatan berkeringat sekali. Minumlah dulu air ini.”
Melihat Zhang Yuze menyodorkan air, senyum cerah langsung merekah di wajah Liu Mengting. Sepasang matanya yang indah melirik ke arah wajah Zhang Yuze dengan sorot lembut.
“Terima kasih.”
“Heh, tidak perlu berterima kasih,” jawab Zhang Yuze sambil melambaikan tangan santai. “Hubungan kita ini, apa sih gunanya formal begitu?”
Kalimat itu terdengar sangat ambigu.
Liu Mengting langsung memutar bola matanya dengan ekspresi kesal sekaligus geli.
“Kamu ini… jangan bicara sembarangan!” dengusnya. “Siapa yang punya hubungan denganmu?”
Nada suaranya terdengar tajam, tetapi ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Hal itu justru membuat Zhang Yuze diam-diam menghela napas lega.
Namun, kedekatan mereka berdua rupanya tidak luput dari perhatian orang lain.
Tak jauh dari sana, Sun Yuchen, yang sedang bermain basket, memperhatikan pemandangan tersebut dengan sorot mata menggelap. Ia menggenggam bola di tangannya, lalu sebuah senyum penuh percaya diri—nyaris angkuh—terbit di wajahnya. Seolah telah mengambil keputusan, ia mulai menggiring bola ke arah Zhang Yuze dan Liu Mengting.
Begitu tiba di depan mereka, Sun Yuchen terlebih dahulu menatap Liu Mengting. Senyum hangat langsung menghiasi wajah tampannya.
“Mengting, kamu juga di sini rupanya,” sapanya dengan suara lembut. “Bagaimana kalau kita main basket bersama?”
Liu Mengting meliriknya sekilas. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tenang, lalu ia menggeleng perlahan.
“Maaf sekali,” ujarnya sopan. “Aku agak lelah. Mungkin lain kali saja.”
Penolakan itu sama sekali tidak membuat Sun Yuchen tampak kecewa. Ia tetap tersenyum dan berkata dengan nada pengertian, “Kalau begitu, istirahatlah yang cukup. Aku tidak akan mengganggumu.”
Namun, jelas terlihat bahwa sasaran utamanya bukanlah Liu Mengting.
Pandangan Sun Yuchen beralih ke Zhang Yuze, yang kini menatapnya dengan ekspresi setengah mengejek. Dengan senyum yang tak sepenuhnya tulus, Sun Yuchen berkata, “Zhang Yuze, aku dengar kamu cukup jago bermain basket. Bagaimana kalau kita bertanding sekarang?”
Nada suaranya sarat provokasi.
Apa pun jawaban Zhang Yuze, Sun Yuchen merasa dirinya tetap berada di posisi menguntungkan. Jika Zhang Yuze menerima tantangan, ia bisa mempermalukannya di depan banyak orang. Namun, jika menolak, hal itu akan dianggap sebagai sikap pengecut—dan citranya di mata Liu Mengting pasti akan jatuh drastis.
Dalam hati, Zhang Yuze hampir saja memaki.
Sialan… sejak kapan aku disebut jago basket?
Selama bersekolah di SMA Negeri Tujuh, ia bahkan belum bermain sepuluh kali. Lebih sering menjadi cadangan, itupun jarang diturunkan. Entah siapa yang menyebarkan kabar mengada-ada itu.
Ia sebenarnya ingin menolak.
Namun, saat ia menoleh, ia mendapati Liu Mengting sedang menatapnya dengan ekspresi terkejut—dan sedikit kagum. Jelas, gadis itu mempercayai ucapan Sun Yuchen.
“Zhang Yuze, aku benar-benar tidak menyangka kamu ternyata serendah hati ini,” kata Liu Mengting sambil tersenyum. “Sudah berbulan-bulan kita sekelas, tapi aku tidak tahu kamu bisa bermain basket. Kalau ada waktu, ajari aku, ya. Aku juga suka basket.”
Ucapan itu terdengar setengah bercanda, setengah serius.
Zhang Yuze terdiam.
“Ketua Kelas Sun memang luar biasa informasinya,” ujarnya akhirnya, dengan nada menyiratkan sindiran halus. “Tanpa sadar aku sudah menjadi ahli. Kalau Ketua Kelas Sun berkenan memberi sedikit arahan, tentu aku akan menemani—meski harus mempertaruhkan nyawa.”
Mendengar sindiran terselubung tersebut, wajah Sun Yuchen sejenak memerah. Namun, kegembiraan justru melintas di matanya. Yang terpenting, Zhang Yuze telah menerima tantangan itu.
Dalam benaknya, satu pikiran jelas terpatri:
Hari ini, aku akan membuatmu kehilangan muka—dan melihat apakah kau masih berani bersikap sok tenang di hadapanku setelah ini.
Kabar tentang adu satu lawan satu basket antara Sun Yuson dan Zhang Yuze dengan cepat menyebar ke seluruh kelas tiga tingkat akhir. Hampir semua orang terkejut. Tak seorang pun menyangka bahwa Sun Yuson—anggota inti tim basket sekolah—akan menantang Zhang Yuze, siswa yang selama ini nyaris tak dikenal dan jarang menonjol.
Banyak siswa memandang Zhang Yuze dengan sorot mata penuh simpati. Lebih banyak lagi yang diam-diam menunggu, menebak-nebak apakah Zhang Yuze akan dipermalukan habis-habisan di hadapan semua orang.
Namun, Zhang Yuze sendiri sama sekali tidak menggubris bisik-bisik di sekitarnya.