NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Bisu Masa Lalu

Luna yang sedang membereskan beberapa gulungan denah di atas meja kayu darurat, mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia merasakan sepasang mata menatapnya dengan intensitas yang tidak biasa. Kakek itu terus mendekat, menyipitkan matanya yang sudah mulai tertutup katarak tipis, mencoba menangkap detail fitur wajah Luna di bawah cahaya senja yang keemasan.

"Sebentar, Nak..." suara kakek itu parau namun penuh penekanan. "Garis rahang itu... dan cara matamu menatap saat bicara..."

Luna terkesiap, ia melirik Isaac yang seketika memasang posisi siaga namun tetap sopan. Kakek itu kini hanya berjarak dua langkah dari Luna. Ia melepaskan satu tangannya dari tongkat dan menunjuk gemetar ke arah dahi Luna.

"Apakah kau... anak dari Dendra?"

Pertanyaan itu menghantam Luna seperti petir di siang bolong. Napasnya tertahan. Bagaimana mungkin seorang pria tua di pelosok perbukitan ini mengenal ayahnya dengan begitu spesifik? Isaac pun tak kalah terkejut; ia segera mendekat, mencoba menstabilkan suasana.

"Bagaimana Bapak bisa mengenal nama itu?" tanya Isaac dengan nada rendah yang penuh rasa ingin tahu.

Kakek itu mendadak tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang memancarkan kehangatan luar biasa. Wajahnya yang penuh keriput justru tampak bercahaya saat ia tersenyum. "Mengenalnya? Akulah orang pertama yang ia temui saat ia menginjakkan kaki di tanah merah desa ini puluhan tahun lalu. Nama saya Arka. Akulah yang menemaninya berkeliling perbukitan ini sampai kakinya lecet, hanya untuk memilihkan lahan terbaik ini untuknya."

Luna merasakan dadanya berdenyut hebat. "Kakek Arka... Anda yang membantu Ayah membeli tanah ini?"

"Ayahmu itu pria yang sangat menyebalkan, Nak," kenang Kakek Arka sembari menggeleng-gelengkan kepala, namun matanya berbinar jenaka. "Setiap kali aku mencoba menjelaskan batas-batas tanah secara serius, dia selalu memotong dengan candaan konyol. Dia mengajakku berdebat soal jenis rumput seolah itu masalah hidup dan mati. Tapi hatinya... ah, hatinya seluas samudera."

Kakek Arka terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke arah lembah. "Enam belas tahun yang lalu, saat istriku sakit parah dan aku hampir putus asa karena tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit besar, Dendra datang tanpa diminta. Dia memberikan bantuan yang sangat besar, secara tunai, tanpa mau dibuatkan surat perjanjian apa pun. Dia hanya bilang, 'Kek, ini untuk biaya mainan cantik istri Kakek di surga nanti'. Dia selalu punya cara untuk membuat situasi sedih menjadi sedikit lebih ringan dengan mulutnya yang ceplas-ceplos itu."

Luna menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Kalimat "mainan cantik" kembali muncul—frasa yang sama yang ayahnya gunakan untuk menutupi kepergian ibunya, Natasha. Ternyata, itu adalah metafora kasih sayang yang selalu Dendra gunakan untuk segala bentuk kehilangan yang menyakitkan.

"Istriku akhirnya meninggal dengan tenang," lanjut Kakek Arka dengan suara lembut. "Dan meskipun aku sekarang tinggal sendiri karena anak tunggal saya, Rian, sudah sukses di Jakarta dan mungkin sudah terlalu sibuk dengan dunianya sampai lupa jalan pulang ke bukit ini... aku tidak pernah merasa sedih. Aku bangga dia sukses. Dan aku selalu berdoa agar Dendra kembali ke sini untuk menagih janjinya membangun sesuatu di lahan ini."

Kakek Arka menatap bangunan pondasi yang berlumut itu dengan penuh haru. "Melihatmu berdiri di sini, Nak Luna... aku merasa seperti melihat Dendra hidup kembali. Dia tidak pernah melupakan janji pada tanah ini. Dia mengirimkan putrinya untuk menyelesaikannya."

Isaac merangkul pundak Luna yang mulai bergetar karena tangis haru. "Kakek Arka, kami berjanji akan menyelesaikan apa yang dimulai oleh Ayah Dendra. Dan kami harap Kakek tetap di sini untuk membimbing kami, sebagai saksi bahwa mimpi itu tidak pernah mati."

Kakek Arka tertawa lagi, kali ini lebih keras, sambil menepuk-nepuk bahu Isaac. "Tentu, tentu! Tapi jangan harap aku akan diam jika desain kalian jelek. Aku akan cerewet seperti ayahmu dulu!"

Suasana di bukit itu mendadak terasa jauh lebih hangat. Kehadiran Kakek Arka seolah menjadi restu alam bagi mereka. Ternyata, kebaikan Dendra di masa lalu telah menanam benih kesetiaan yang kini tumbuh menjadi pelindung bagi Luna dan Isaac di tempat yang asing ini.

Langit di perbukitan itu perlahan berubah warna menjadi ungu pekat, dihiasi ribuan bintang yang mulai bermunculan. Namun, Luna dan Isaac seolah lupa waktu. Mereka duduk melingkar di atas kursi lipat kayu di depan tenda darurat proyek, ditemani lampu petromaks yang mendesis pelan dan kepulan uap dari teh hangat yang disediakan oleh salah satu asisten Hendra.

Kakek Arka menyandarkan tongkatnya pada meja, wajahnya yang penuh kerutan tampak bercahaya terkena pendar lampu. Ia baru saja selesai menceritakan bagaimana Dendra pernah hampir tercebur ke empang warga hanya karena mencoba mengejar seekor kupu-kupu langka yang katanya mirip dengan pita rambut Luna kecil.

"Dia itu pria paling aneh yang pernah menginjakkan kaki di sini," Kakek Arka tertawa hingga bahunya berguncang. "Dia bilang pada saya, 'Kek, kalau aku jatuh ke lumpur, pastikan fotonya bagus ya, biar anakku tahu ayahnya petualang, bukan pengusaha tukang tanda tangan saja!'."

Luna tertawa kecil sembari menyeka sudut matanya yang basah karena tawa. "Itu benar-benar gaya bicara Ayah. Dia selalu ingin terlihat hebat di depanku, meski sebenarnya dia sangat ceroboh."

Isaac tersenyum, menyesap tehnya. "Tapi Kek, tentang 'Proyek Matahari'... sepertinya itu bukan sekadar panti asuhan biasa bagi Ayah Dendra, bukan?"

Raut wajah Kakek Arka mendadak berubah menjadi lebih teduh. Ia menatap ke arah pondasi bangunan yang gelap di kejauhan. "Dendra menyebutnya Proyek Matahari bukan karena bentuk bangunannya, Nak. Dia punya filosofi sendiri. Dia bilang, matahari itu satu, tapi sinarnya menyentuh semua orang tanpa membedakan siapa yang punya uang dan siapa yang tidak."

Kakek Arka kemudian merogoh saku baju batiknya yang sudah pudar dan mengeluarkan sebuah kunci kuningan tua yang sudah berkarat. Ia meletakkannya di atas meja dengan penuh khidmat.

"Dia menitipkan ini padaku sesaat sebelum dia kembali ke kota untuk terakhir kalinya," bisik Kakek Arka. "Dia bilang, di bawah pondasi utama—titik di mana kalian meletakkan batu pertama tadi—ada sebuah kotak besi kecil yang ditanam sedalam satu meter. Itu adalah 'Jantung' dari Proyek Matahari."

Luna dan Isaac saling berpandangan, jantung mereka berdegup kencang.

"Isinya apa, Kek?" tanya Luna penasaran.

"Dia bilang itu adalah 'Surat Warisan untuk Dunia'," Kakek Arka kembali terkekeh, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Katanya, 'Kek, kalau nanti anakku yang datang ke sini, kunci ini akan membukanya. Kalau orang lain yang datang, biarkan saja terkubur, biar mereka pusing mencarinya!'. Dasar pria itu, bahkan wasiat pun dibuat seperti permainan petak umpet."

Kakek Arka melanjutkan ceritanya selama berjam-jam, menceritakan detail-detail kecil yang selama ini tidak pernah Luna ketahui. Tentang bagaimana Dendra ingin membangun sebuah perpustakaan rahasia di bawah tanah yang terhubung dengan klinik, agar anak-anak yang sakit bisa sembuh sambil membaca buku-buku petualangan.

"Dia ingin anak-anak di sini tidak merasa kasihan pada diri sendiri," tambah Kakek Arka. "Dia ingin mereka merasa seperti pangeran dan putri yang tinggal di istana ilmu pengetahuan. Begitulah cara Dendra memandang hidup. Dia ingin membalas dendam pada kemiskinan dengan cara yang paling elegan: pendidikan."

"Sudah, sudah... mataku sudah mulai menawar untuk ditutup," ujar Kakek Arka sembari meraih kembali tongkatnya. Ia berdiri perlahan. "Kunci itu sekarang milikmu, Luna. Gunakan saat pondasi itu sudah siap digali sedikit. Tapi ingat pesan ayahmu satu hal lagi..."

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara jangkrik bersahutan di latar belakang, namun semangat di antara mereka tidak kunjung padam. Kakek Arka, meski sudah berusia senja, tetap enerjik dan penuh lelucon, sesekali menggoda Isaac tentang betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan putri Dendra yang keras kepala ini.

Luna berdiri, membantu menyangga lengan Kakek Arka. "Apa itu, Kek?"

"Dia bilang, 'Jangan buat bangunan yang terlalu serius. Nanti anak-anak takut masuk. Buatlah bangunan yang seolah-olah bisa mengajak mereka bicara.'." Kakek Arka mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan tertatih menjauh menuju rumahnya yang tak jauh dari sana, meninggalkan Luna dan Isaac dalam keheningan yang penuh inspirasi.

Di bawah naungan bintang, Luna menggenggam kunci kuningan itu. Rahasia besar Dendra—Jantung dari Proyek Matahari—kini berada di tangannya.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti perbukitan, memberikan suasana yang sakral dan sunyi. Sesuai dengan instruksi Kakek Arka semalam, Isaac dan Luna kembali ke titik peletakan batu pertama. Dengan bantuan dua pekerja kepercayaan yang diminta menjaga kerahasiaan, mereka mulai menggali tanah sedalam satu meter di bawah pondasi utama.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!