Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Xavier melangkah keluar dari rimbunnya semak berduri dengan napas memburu. Kemeja hitam mahalnya kini benar-benar menyerupai kain pel yang sudah diparut, sobek di sana-sini, menampakkan otot perutnya yang keras dan penuh goresan merah akibat ranting tajam.
"Argh, sial! Bagaimana bisa di pondok kucing itu tidak ada pakaian manusia sama sekali?" gerutu Xavier dengan suara berat yang serak.
Ia teringat betapa frustrasinya ia tadi pagi saat menggeledah pondok kayu milik si kucing. Yang ia temukan hanyalah tumpukan botol-botol tanaman berbau aneh, dan bulu-bulu putih yang menempel di mana-mana. Tidak ada kemeja cadangan, apalagi celana kain yang layak untuk seorang bos mafia.
"Setidaknya makhluk itu bisa mencuri satu atau dua potong baju dari orang tersesat, kan? Dasar kucing tidak berguna," umpatnya, meski dalam hati ia tahu bahwa hanya dirinyalah orang tersesat yang cukup gila untuk sampai ke jantung hutan itu.
Langkah Xavier terhenti saat ia melihat kerlip lampu senter di kejauhan. Cahaya itu membelah kegelapan hutan yang pekat.
"Tuan Xavier! Tuan Xavier! Apakah itu anda?!"
Suara teriakan yang sangat Xavier kenal, memecah keheningan. Tak lama kemudian, lima orang pria berbadan kekar dengan setelan jas yang kini juga sedikit kotor berlari ke arahnya.
"Berisik! Apa kalian ingin memanggil seluruh penghuni hutan untuk mengeroyokku?!" seru Xavier dengan tatapan mematikan.
Para pengawal itu berhenti mendadak. Salah satu dari mereka, yang bertubuh paling besar, tampak berkaca-kaca.
"Tuan, syukurlah! Kami mengira anda sudah menjadi kotoran harimau!" Ucapnya sambil merentangkan tangan, hendak memeluk Xavier karena saking leganya.
Xavier segera mengangkat tangan kanannya, menunjuk tepat di antara mata pengawal itu.
"Cari mati kau, hah? Berani menyentuhku satu inci saja, kupastikan tanganmu berakhir di penggilingan daging!"
Pengawal itu langsung mengerem dadakan, keringat dingin mengucur.
"Ah, maafkan kami, Tuan. Kami terlalu senang karena anda sudah ditemukan. Kami sudah menyiapkan pemakaman mewah kalau-kalau anda benar-benar hilang, Tuan."
Xavier mendengus, aura dinginnya membuat suhu di sekitar mereka terasa turun beberapa derajat. "Cermat sekali. Siapa yang mengusulkan ide pemakaman itu?"
"Tuan Gerry, Tuan. Katanya agar persiapan matang," jawab mereka kompak.
Xavier mengusap luka di lengannya yang kini terasa berdenyut lagi. "Bagus. Bicara soal si muka dua itu, di mana Gerry? Kenapa dia tidak menampakkan batang
hidungnya?"
Para pengawal saling lirik dengan wajah pucat. "Anu... tuan Gerry mungkin sekarang sudah babak belur jadi sasaran amukan singa, Tuan," jawab salah satu dari mereka sambil menelan ludah.
Xavier mengernyit bingung.
"Singa? Sejak kapan di rumahku ada singa? Aku tidak ingat pernah menandatangani izin memelihara hewan buas, kecuali kalian menganggap diri kalian sendiri hewan."
"E-eh... maksud saya... nyonya Isabella, Tuan," sahut mereka nyaris berbisik seolah-olah Isabella bisa mendengar mereka dari jarak berkilo-kilo meter.
Xavier terdiam sejenak. Bayangan ibunya yang sedang memegang rotan atau menarik telinga Gerry muncul di benaknya.
"YA, kau benar. Singa betina itu kalau sedang marah memang akan memangsa apa pun yang ada di depannya, termasuk kalian!" Xavier menunjuk kelima pengawalnya satu per satu dengan jari telunjuknya. "Hukuman karena membiarkan bos kalian hilang selama seminggu adalah push-up 500 kali sekarang juga, dan setelah itu, kalian semua kembali ke mansion dengan jalan kaki!"
"Apa?! Tapi Tuan, dari pinggir hutan ini ke mansion jaraknya hampir 30 kilometer! Kaki kami bisa lepas!" protes salah satu pengawal yang paling muda.
Xavier menaikkan satu alisnya, tatapannya sedingin es kutub utara. "Mau ditambah hukumannya? Bagaimana kalau lari sambil menggendong batu?"
"TIDAK, TUAN! KAMI JALAN KAKI SEKARANG JUGA!" teriak mereka serempak. Tanpa menunggu lama, mereka langsung tiarap di tanah lembap dan mulai menghitung push-up dengan kecepatan cahaya.
Xavier tidak membuang waktu. Ia menyambar kunci mobil SUV hitam yang terparkir di pinggir jalan dari tangan salah satu anak buahnya yang sedang push-up. Tanpa sepatah kata pun, ia masuk ke dalam mobil, membanting pintu dan melesat pergi meninggalkan anak buahnya yang malang.
Di dalam mobil, ac meniup luka-lukanya, memberikan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, bukannya memikirkan rencana balas dendam pada musuh-musuhnya atau bagaimana cara menjinakkan ibunya nanti, pikiran Xavier justru melayang kembali ke pondok kecil itu.
Xavier teringat pada makhluk berbulu putih dengan mata biru sapphire yang seolah bisa menembus jiwanya. Ia ingat bagaimana kucing itu dengan berani tidur di dadanya, dan bagaimana reaksi tubuhnya yang aneh terjadi hanya karena seekor hewan.
Xavier menatap pantulan dirinya di spion tengah. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Senyum yang bahkan Gerry pun belum tentu pernah melihatnya selama sepuluh tahun bekerja dengannya.
"Kucing aneh," gumamnya lirih. "Kenapa aku tiba-tiba merindukan dengkurannya yang berisik itu?"
Xavier segera menggelengkan kepalanya, mematikan senyum itu dalam sekejap.
"Sadarlah, Xavier. Kau adalah calon kepala keluarga mafia paling kejam, bukan pecinta hewan. Jangan sampai kau kembali ke sana hanya untuk mencari seekor kucing."
Xavier sendiri tak bisa memungkiri, ada sesuatu tentang Luna yang berhasil membuat salah satu anggota tubuhnya seperti hidup kembali, sesuatu yang lebih magis daripada sekadar ramuan herbal di lengannya.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂