NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:897
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Penyamaran Ganda

Bab 12: Penyamaran Ganda

Jam digital di dinding safe house menunjukkan pukul 01:15 dini hari. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan sisa-sisa rintik hujan yang membasahi aspal kompleks perumahan tua itu. Di dalam kamar, Alana tampak tertidur lelap, dadanya naik turun secara teratur. Namun, Kenzi tidak sedang tidur. Ia tidak pernah benar-benar tidur dalam fase siaga tinggi.

Kenzi memastikan sensor gerak di bawah bantal Alana aktif. Jika gadis itu terbangun atau bergerak keluar dari radius dua meter, sebuah getaran akan dikirimkan ke jam tangan taktisnya. Setelah merasa aman, Kenzi mengenakan jaket hoodie hitam gelap, menutupi singlet dan luka di bahunya yang telah diobati Alana.

Ia keluar melalui pintu belakang yang terhubung langsung dengan gang sempit yang gelap. Sebuah motor trail hitam tanpa plat nomor sudah menunggu di sana, disembunyikan di bawah tumpukan terpal tua. Kenzi menyalakan mesinnya—suaranya sangat halus, hasil modifikasi mekanik organisasi untuk infiltrasi senyap.

Sepuluh menit kemudian, Kenzi telah menempuh jarak lima kilometer menuju sebuah area pergudangan terbengkalai di pinggiran Jakarta Timur. Ini adalah titik pertemuan neutral yang disepakati untuk agen lapangan level tinggi.

Kenzi memarkir motornya di balik kontainer berkarat. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara saat ia memasuki gudang nomor 404. Di sana, di bawah remang lampu kuning yang berkedip, seorang pria berjas abu-abu sedang berdiri membelakanginya, menghisap cerutu mahal yang aromanya kontras dengan bau oli gudang.

"Kau terlambat tiga menit, Kenzi," suara pria itu berat dan berwibawa. Itu adalah Vero, penghubung senior dari organisasi mereka.

"Hambatan taktis. Faksi bisnis lawan Wijaya mengirim pembunuh bayaran tingkat Viper ke apartemen target," jawab Kenzi datar.

Vero berbalik. Matanya yang tajam memindai Kenzi, berhenti sejenak pada bahu kanannya yang tampak sedikit kaku. "Viper? Amatir. Tapi fakta bahwa mereka bisa menemukan lokasi unit perusahaan cangkang Wijaya menunjukkan bahwa pertahanan internal mereka sudah bocor seperti saringan."

Vero melemparkan sebuah flash disk kecil ke arah Kenzi. "Organisasi ingin progres. Wijaya sedang dalam proses finalisasi Proyek Phoenix. Jika proyek itu berhasil, dia akan memiliki kontrol atas infrastruktur data nasional. Itu akan membuat misi kita mustahil dilakukan."

Kenzi menangkap flash disk itu dengan refleks yang sempurna. "Saya sudah menyadap ruang kerja utamanya. Aliran dana menunjukkan ada deposit sebesar 500 juta dolar ke bank luar negeri pekan lalu."

"Bagus," Vero mendekat, asap cerutunya mengepul di depan wajah Kenzi. "Tapi ada laporan lain. Laporan yang mengatakan kau mulai bertindak di luar skenario. Kenapa kau membawa gadis itu ke safe house tipe-C milikmu sendiri? Kenapa tidak membiarkan tim pembersih organisasi yang menanganinya?"

Kenzi tidak berkedip. Monolog internalnya melakukan kalkulasi risiko secara instan. Jika ia menunjukkan keraguan, organisasi akan menganggapnya sebagai "aset yang terkontaminasi" dan mengirim regu eliminasi.

"Unit medis organisasi memiliki risiko pelacakan oleh faksi lawan yang tinggi," Kenzi memberikan alasan yang logis dan objektif. "Membawa target ke lokasi yang tidak terdaftar dalam protokol standar organisasi adalah cara terbaik untuk mengisolasi variabel gangguan. Prioritas saya adalah memastikan integritas target tetap terjaga hingga data Proyek Phoenix sepenuhnya di tangan kita."

Vero menyipitkan mata, mencoba mencari celah dalam logika dingin Kenzi. "Begitukah? Atau kau mulai merasa kasihan pada putri kecil Wijaya itu? Ingat, Kenzi, tato di punggungmu bukan sekadar seni. Itu adalah tanda bahwa kau bukan lagi manusia. Kau adalah instrumen dendam."

"Saya tahu siapa saya," jawab Kenzi, suaranya lebih tajam dari biasanya.

Kenzi menyerahkan sebuah dokumen digital yang telah ia siapkan sebelumnya. Dokumen itu berisi skema keamanan rumah Wijaya yang sudah dimanipulasi—ia sengaja menghilangkan beberapa celah keamanan yang sebenarnya ia temukan, serta mengubah jadwal patroli pengawal internal agar terlihat lebih ketat di area di mana Alana sering berada.

Ini adalah bentuk pengkhianatan kecil pertamanya terhadap organisasi. Untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya sebagai pembunuh bayaran, Kenzi memberikan informasi yang tidak akurat demi melindungi subjek pantauannya.

"Ini data terbaru sistem keamanan kediaman Wijaya. Katakan pada tim sabotase untuk tidak bergerak dalam 48 jam ke depan. Bram, kepala keamanan lama, sedang dalam kondisi paranoid. Setiap pergerakan luar akan memicu penguncian total," lapor Kenzi.

Vero memeriksa data tersebut melalui Tablet-nya. "Baik. Kau punya waktu tiga hari lagi untuk mendapatkan kode enkripsi Proyek Phoenix. Jika gagal, organisasi akan mengambil alih misi ini dengan cara mereka sendiri. Dan kau tahu apa artinya itu."

"Eliminasi total keluarga Wijaya," gumam Kenzi.

"Tepat. Termasuk gadis yang kau obati luka hatinya itu," Vero tersenyum sinis sebelum berjalan pergi meninggalkan gudang.

Kenzi kembali ke motornya. Pikirannya bergejolak. Ia terperangkap di antara dua raksasa: organisasi gelap yang membesarkannya dengan darah, dan keluarga Wijaya yang merupakan target dendamnya namun kini memiliki satu variabel yang mengusik logikanya—Alana.

Ia melajukan motornya membelah malam. Setibanya di safe house, ia segera mengganti pakaian dan membersihkan diri dari aroma gudang. Ia memeriksa jam tangannya; sensor menunjukkan Alana masih berada di posisinya.

Kenzi melangkah masuk ke dalam kamar. Alana masih di sana, namun saat lampu kamar mandi dimatikan, ia melihat mata Alana terbuka sedikit.

"Kau dari mana?" tanya Alana lirih. Suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur—atau orang yang berpura-pura tidur.

"Memeriksa perimeter luar. Ada gangguan hewan liar pada sensor inframerah," jawab Kenzi tanpa ragu. Kebohongan keluar dari mulutnya sealami bernapas.

Alana bangkit, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya. Cahaya bulan yang masuk dari celah tirai menyinari wajahnya. "Kau berbohong lagi, kan? Kau tidak hanya memeriksa perimeter. Kau bertemu seseorang."

Kenzi berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Alana. "Nona, rasa ingin tahu yang berlebihan dalam situasi ini bisa membahayakan keselamatan Anda."

"Keselamatanku? Atau rahasiamu?" Alana menatapnya tajam. "Kenzi, semalam aku melihat tato itu. Aku melihat bekas luka itu. Dan malam ini kau pergi diam-diam. Jika kau memang dikirim ayahku, kenapa kau tampak seperti orang yang punya misi sendiri?"

Kenzi berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu meter. Atmosfer di dalam kamar itu mendadak menjadi berat. "Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar bersih, Nona Alana. Termasuk Ayah Anda. Jika Anda ingin selamat, berhentilah mencoba mencari tahu apa yang ada di balik bayang-bayang. Cukup percaya bahwa saat ini, saya adalah satu-satunya orang yang tidak menginginkan Anda mati."

"Kenapa?" kejar Alana. "Karena kontrak? Karena uang?"

Kenzi terdiam cukup lama. Ia teringat tatapan Alana saat membalut lukanya tadi. Ia teringat bagaimana gadis ini menangis dalam tidurnya memanggil orang tuanya.

"Karena dalam hitungan logika saya," Kenzi berbisik, suaranya terdengar lebih manusiawi namun tetap menyimpan ancaman, "kematian Anda tidak akan mengubah apapun. Tapi keberadaan Anda... adalah satu-satunya variabel yang belum bisa saya pecahkan."

Alana tertegun. Kalimat itu bukan pernyataan cinta, bukan pula janji manis. Itu adalah pengakuan dari sebuah mesin yang mulai rusak sistemnya.

Kenzi berbalik dan kembali ke kursi pengawasannya. "Tidurlah. Besok kita kembali ke rumah utama. Permainan ini baru saja naik ke level berikutnya."

Alana kembali berbaring, namun ia tahu segalanya telah berubah. Kenzi sedang memainkan permainan ganda. Ia adalah pelindung sekaligus ancaman. Dan yang lebih mengerikan, Alana menyadari bahwa ia mulai tidak peduli di sisi mana Kenzi berdiri, asalkan pria itu tetap berada dalam jangkauan pandangannya.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!