Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari jadi kedua tahun kami jatuh tepat di akhir pekan yang tenang. Tidak ada lagi seragam sekolah, tidak ada lagi persembunyian dari kejaran gosip di koridor SMA Garuda. Aku sudah resmi menjadi mahasiswi Farmasi, dan Arkan masih bergelut dengan asistensi desainnya di Jakarta. Namun, khusus untuk hari ini, "asuransi" favoritku itu pulang ke Solo dengan misi khusus.
Pagi itu, Kak Pandu masuk ke kamarku tanpa mengetuk, wajahnya tampak lebih "cerah" dari biasanya. "Ra, bangun. Si Arsitek gadungan sudah di depan. Katanya mau nagih janji premi tahun kedua."
Aku tertawa, bergegas bersiap. Di depan pagar, Arkan berdiri menyandar pada motor besarnya—motor yang sama yang dulu sering mengantarku pulang menembus hujan. Ia memakai kaus putih polos dan jaket varsity yang sekarang sudah terlihat lebih pas di tubuhnya yang semakin tegap.
"Selamat dua tahun, Tuan Putri," sapanya, menyodorkan sebuah kotak kecil transparan berisi kue tart mini dengan hiasan bunga Daisy di atasnya. "Masih inget rasa susu cokelat pertama yang gue kasih? Ini versi kuenya."
"Gombal," sahutku, tapi aku tak bisa berhenti tersenyum.
Arkan tidak membawaku ke restoran mewah. Ia justru membawaku kembali ke markas rahasia kami. Namun, saat pintu besi itu terbuka, aku terpaku. Ruangan itu tidak lagi berdebu. Dindingnya sudah dicat ulang dengan warna putih bersih, dan di tengah ruangan, meja sketsanya kini bersandingan dengan sebuah meja belajar baru milikku.
"Ini hadiah anniversary yang sebenernya," Arkan menunjuk ke arah sudut ruangan. Di sana ada sebuah rak kayu besar yang ia buat sendiri, penuh dengan buku-buku referensi Farmasi dan jurnal medis yang harganya tidak murah. "Gue tahu lo bakal butuh tempat tenang buat belajar buat ujian anatomi nanti. Jadi, markas ini sekarang resmi jadi perpustakaan pribadi kita."
Aku menyentuh jajaran buku itu, lalu beralih menatap Arkan. "Lo... lo sengaja nyiapin ini semua?"
"Gue mau lo ngerasa kalau biarpun gue di Jakarta, gue tetep nyediain 'ruang' buat lo di sini," Arkan mendekat, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Bukan kunci perak lagi, melainkan sebuah gelang perak tipis dengan bandul kecil berbentuk rumah dan bunga Daisy yang saling bertautan.
Ia melingkarkan gelang itu di pergelangan tanganku, . "Dua tahun lalu, gue janji jadi asuransi lo. Sekarang, di tahun kedua, gue mau janji satu hal lagi: gue bakal jadi pondasi yang nggak akan pernah retak, seberapa pun kencengnya angin di Jakarta."
Aku memeluknya erat, menghirup aroma parfumnya yang kini sudah menjadi rumah bagiku. "Dua tahun yang luar biasa, Kan. Makasih udah nggak pernah nyerah pas gue masih jadi 'Gadis Es'."
"Sama-sama, Ra. Makasih udah mau cair dan bikin dunia gue jadi lebih berwarna," bisiknya.
Sore harinya, kami pulang ke rumah. Kak Pandu dan Mama sudah menunggu di teras dengan piza dan minuman dingin. Kak Pandu melihat gelang baru di tanganku dan bersiul panjang.
"Wah, kontrak diperpanjang nih? Naik pangkat dari Kapten jadi Mandor Proyek?" goda Kak Pandu sambil merangkul bahu Arkan.
"Bukan mandor, Ndu. Owner," jawab Arkan bangga, membuat kami semua tertawa.
Malam itu, di bawah taburan bintang di langit Solo, aku menyadari bahwa luka delapan tahun lalu benar-benar telah tertutup rapat. Ayah mungkin adalah bagian dari sejarahku yang pahit, tapi dua tahun bersama Arkan telah mengajarkanku bahwa masa depan adalah bangunan yang bisa kita rancang sendiri.
Aku menatap Arkan yang sedang asyik bercanda dengan Kak Pandu. Dua tahun hanyalah awal. Di depan sana, aku tahu masih banyak bab yang menunggu untuk ditulis, dan aku tidak lagi takut untuk memulainya. Karena selama ada Arkan, aku tahu asuransi kebahagiaanku akan selalu aktif selamanya.