NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Bekal makan siang.

Akhirnya Nana memiliki waktu yang senggang setelah beberapa bulan kerja dan dikejar-kejar oleh waktu. Ia duduk menjulurkan kaki di atas meja, saking senggangnya ia bingung mau menghabiskan waktu seperti apa. Dulu Nana bisa menonton sepanjang hari, tapi sekarang terasa tidak menarik lagi.

Baiklah, dia mulai menelepon bapaknya mengingat ia pernah mengatakan akan menelepon ketika tidak sibuk.

["Halo."]

Nana menegang, yang menjawab telepon adalah ibu tirinya.

"Bapakku mana?"

["Bapakmu di ladang, kalau mau berbicara dengannya telepon nanti malam saja."]

Panggilan itu di akhiri oleh ibu tirinya, Nana merengut menatap layar ponselnya. "Pasti dia mengira aku mau meminta uang," gerutu Nana.

Siang itu, Nana memutuskan untuk tidak langsung mengurung diri di depan tablet grafisnya. Ia ingin melakukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang melibatkan sentuhan fisik dan aroma, bukan sekadar garis digital di layar dingin.

Ia mampir ke sebuah kelas memasak kilat di dekat apartemennya. Entah kenapa, kata-kata Aska tentang "utang budi" dan bagaimana pria itu menjamin keamanannya di parkiran VIP kemarin membuatnya ingin memberikan bentuk apresiasi yang lebih pribadi.

Ia menghabiskan dua jam di dapur kursus, berkutat dengan potongan daging sirloin, jamur kancing, dan krim kental. Ia mencoba menu Beef Stroganoff, masakan yang menurut instruktur koki di sana adalah hidangan klasik yang sangat disukai pria sibuk karena rasanya yang kaya namun tetap terasa seperti masakan rumah.

Nana menata hasil masakannya ke dalam kotak bekal berwarna biru pastel dengan sangat hati-hati, memastikan sausnya tidak berantakan dan porsinya cukup mengenyangkan.

Sambil menatap kotak bekal itu, Nana bergumam pelan, "Setidaknya ini lebih baik daripada kopi pahit yang selalu dia minum setiap siang."

Ia membungkus kotak itu dengan kain furoshiki bermotif bunga kecil, lalu memesan taksi menuju gedung firma hukum Aska. Sepanjang jalan, ia membayangkan ekspresi wajah Aska yang kaku. Apakah pria itu akan mengerutkan kening? Atau mungkin dia akan menatapnya dengan tatapan "apa ini bagian dari kontrak kita?" yang menyebalkan itu? Nana tersenyum sendiri membayangkannya.

Namun, harapan itu pupus saat ia melangkah masuk ke lobi kantor Aska yang sunyi. Hanya ada suara denting lift dan langkah kakinya yang menggema. Sesampainya di meja depan ruangan Aska, ia hanya disambut oleh senyum penuh simpati dari Siska.

"Waduh, sayang sekali, Nana. Pak Aska baru saja keluar sepuluh menit yang lalu," ujar Siska dengan nada menyesal.

Bahu Nana merosot seketika. Antusiasme yang ia bawa dari kelas memasak tadi seolah menguap begitu saja ditiup AC kantor yang dingin. "Oh ... begitu ya? Padahal aku baru saja mencoba menu baru. Aku pikir beliau ada di tempat."

"Biasanya kalau rapat penting, beliau jarang sempat makan siang yang layak. Paling hanya camilan rapat," tambah Siska, mencoba menghibur.

Nana mengangguk lesu, mencoba menyembunyikan kekecewaannya. "Baiklah kalau begitu, Kak Siska. Terima kasih informasinya. Aku ke pergi sekarang." Nana berbalik, kemudian bergumam kecil, "Gani sudah makan belum, ya?" yang masih didengar oleh Siska.

Nana berjalan keluar gedung dengan langkah yang tidak lagi seringan saat ia datang. Ia menatap kotak bekal di tangannya. Rasanya mubazir jika dibuang, dan ia sendiri sudah terlalu kenyang karena harus mencicipi masakan itu berkali-kali selama latihan tadi. Sepertinya dia memang harus memberikannya pada Gani.

Di Stellar, suasana jauh lebih gaduh. Suara klik mouse, tawa para ilustrator, dan aroma mi instan memenuhi udara. Ia menemukan Gani sedang duduk meringkuk di meja kerjanya yang berantakan. Tiga layar monitor besar menyala di depannya, menampilkan ribuan garis rumit yang membuat mata siapa pun akan pusing melihatnya. Wajah Gani tampak kusam, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan ia kurang tidur.

"Gan," panggil Nana pelan.

Gani menoleh, dan seketika matanya yang layu langsung berbinar saat mencium aroma gurih yang berasal dari tas bekal Nana. "Na! Demi apa? Kau membawakanku makanan? Kau benar-benar malaikat! Kau tahu saja kalau kantongku sedang kering karena baru saja melunasi cicilan rumah dan mobil!"

Nana tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Ia meletakkan kotak bekal biru itu di atas meja Gani, di antara tumpukan kabel dan tablet grafis. "Ini sebenarnya menu baru yang kupelajari di kelas memasak tadi. Tadinya mau kukasih ke Bang Aska sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu urusan HAKI dan ... yah, urusan kemarin. Tapi orangnya sedang pergi."

Gani langsung membuka kotak itu tanpa menunggu diperintah. Aroma daging sapi dengan saus krim yang kental menyeruak, membuat beberapa rekan kerja di sekitarnya menoleh dengan tatapan iri.

"Hmm! Luar biasa! Pak Aska rugi besar tidak ada di kantor hari ini," ujar Gani sambil menyuap satu sendok besar dengan lahap. "Ini enak sekali, Na! Dagingnya empuk, sausnya pas. Kalau kau bosan jadi komikus, buka restoran saja!"

Nana menarik kursi di sebelah Gani, memperhatikan pria itu makan dengan lahap. Melihat makanan itu dinikmati setidaknya membuat kekecewaan Nana sedikit terobati.

"Ngomong-ngomong soal masa depan," ujar Gani sambil mengunyah jamur kancing. "Kapan kau jadi lanjut S2? Waktu itu kau bilang mau ambil DKV lagi kan di universitas yang sama dengan S1-mu?"

Nana menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantor yang penuh dengan pipa kabel. "Iya, rencananya tetap DKV. Aku merasa masih banyak yang harus kupelajari, terutama soal manajemen aset kreatif dan bagaimana mengelola industri ini secara global. Aku tidak mau selamanya dianggap cuma 'anak yang bisa gambar'."

"Lalu kenapa tidak daftar sekarang? Mumpung beasiswanya lagi buka," tanya Gani.

Nana menggeleng pelan. "Tidak sekarang, Gan. Aku akan tunggu sampai proyek Live Action ini benar-benar selesai. Aku tidak mau dikejar-kejar waktu kuliah yang padat sambil harus membagi fokus sebagai Line Art di sini. Aku tahu kapasitas otakku, aku tidak mau keduanya jadi berantakan."

Gani mengangguk setuju. "Masuk akal. Apalagi sambil diawasi Pak Aska itu butuh kewarasan ekstra."

Nana terdiam sejenak, wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Dan ada satu hal lagi yang sudah kupikirkan matang-matang, Gan. Setelah proyek film ini benar-benar rampung, aku tidak akan mengambil peran sebagai penulis lagi. Aku ingin berhenti menciptakan cerita orisinal untuk sementara waktu."

Gani tersentak, hampir saja ia tersedak potongan daging. "Loh? Kenapa? Naskahmu ini yang bikin Pak Richard sampai mau mengucurkan dana jutaan dolar! Kau punya bakat di situ, Na!"

Nana tersenyum tipis, ada gurat kelelahan yang jujur di matanya. "Lalu bagaimana dengan S2 ku? Mending pilih salah satu saja, agar hasilnya maksimal."

Nana menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Setelah ini, aku hanya ingin fokus menciptakan visual dari novel-novel atau naskah milik penulis lain. Aku ingin tanganku fokus menghidupkan imajinasi orang lain ke dalam bentuk gambar yang indah, tanpa harus memikul beban berat memikirkan alur cerita dari nol. Aku ingin kembali ke akarnya sebagai ilustrator murni."

"Kau benar-benar mau jadi visual artist murni?" Gani memastikan, nada suaranya sedikit lebih tenang sekarang.

"Iya. Aku ingin dikenal karena garis gambarku, bukan karena drama naskahku," sahut Nana mantap. "Dan gelar S2 nanti akan membantuku untuk lebih profesional di sisi industri visual itu. Aku ingin mengejar langkah Bang Aska dengan caraku sendiri, bukan dengan memaksakan diri jadi orang lain."

Gani terdiam, lalu menatap bekal yang hampir habis itu. Ia mengacungkan jempolnya yang sedikit berminyak. "Aku dukung seratus persen, Na. Yang penting kau bahagia. Lagipula, kalau kau sudah punya gelar S2 dan portofolio visual yang gila, Pak Aska tidak punya alasan lagi buat bilang kau 'variabel yang tidak pasti' atau anak kecil yang ceroboh."

Nana tertawa kecil. "Terima kasih."

***

Aska tengah berhadapan dengan tersangka kasus pembunuhan, dibatasi dengan kaca, ia mendengarkan pembelaan kliennya yang merasa dirinya dijebak.

Setelah waktunya habis, Aska meninggalkan sel tahanan. Di mobil, ia memeriksa pesan yang masuk.

Siska: [Pak, Nana tadi datang membawakan bekal makan siang untuk Bapak. Karena Bapak sudah pergi, dia pun kembali. Oh, dia memberikan bekalnya ke rekan kerjanya, Gani.]

Mata Aska terpaku pada layar ponsel selama beberapa detik. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dadanya. Perasaan yang tidak logis, sesuatu yang menyerupai rasa iri yang tajam hanya karena sepiring makanan yang kini dinikmati oleh orang lain.

Aska meletakkan ponselnya dengan sedikit hentakan, menimbulkan suara brak yang cukup keras.

Bersambung....

1
Kayla Callista
jangan2 bener Nana d ikuti orang jahat
Ayu
kok jadi tegang gini sih /Sleep/
jekey
sapa weh
Desi Santiani
thor boleh double up ga klo perlu tiap hr, ak suka kisah mereka
jekey
🥰🥰🥰
jekey
gitu dong , kecewa putus asa boleh , tapi tetap harus bangkit lagi , dunia tidak akan berhenti hanya karena kamu patah hati .
Arieee
nana💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Ayu
akan ada konsekuensi dari setiap langkah yg diambil,, yaudah Bang As nikmati aja ... emang itu kan yg Kamu inginkan dari Nana
jekey
perempuan terkadang harus merasakn sakit dahulu biar dia tau kalau mereka berharga dgn caranya ,, jgn memaksakan harus sempurna jika itu harus mengorbankan harga diri .
Yuli Yulianti
bagus Nana kamu sekarang berjuang untuk harga diri mu sendiri
Maya Sari
😍😍😍😍
jekey
mak othor lagi mudik lebaran jd gk up" 🤨
Ayu
akhirnya... bagaimana kisah selanjutnya ayo sempetin up Akakk.. lebarannya skip dulu 🤣
Yuli Yulianti
bagus Nana kamu punya harga diri menghilang dari hidup mereka lebih baik
jekey
karya elit , up banyak syulitttt 😌
Maya Sari
gereget bnget thooorrr
Yuli Yulianti
ud lah Nana buat ap bertahan pergi dan menghilang lah dari hidup Aska
jekey
up bnyak" dong thor
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗎𝗌𝗂, 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝖻𝖺𝗌𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗄𝖾𝗌𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝖽𝖺𝗄𝗐𝖺𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺?
Ayu
yowis Na tinggal tidur aja drpd pusing udah puasa terakhir malah disuruh sedih sedih sama Akak Othor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!