Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Telepon dari Bapak.
Sebelum berangkat ke kantor notaris, Nana duduk di tepi ranjangnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Sudut bibirnya masih sedikit kebiruan akibat ulah Tris, namun rasa perihnya sudah berkurang berkat salep pemberian Aska. Ia mengoleskan sedikit concealer dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada rona biru yang tertinggal, agar ia tidak terlihat seperti korban di depan Vanya nanti.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia simpan dengan nama 'Papa'.
Bapak: [Nana, beberapa bulan ini kau tidak meminta kiriman uang. Apa uangmu masih cukup? Kalau kurang, bilang saja. Papa baru saja ada rezeki lebih dari hasil panen di kebun.]
Nana tertegun menatap layar. Memang sudah lama tidak menelpon bapaknya untuk merengek meminta kiriman uang, ia pikir bapaknya akan lega karena tidak dihantui oleh Nana lagi. Sepertinya dia tidak tahu bahwa putrinya ini sudah melewati badai besar; bekerja di bawah tekanan pengacara paling ditakuti di kota, menghadapi sabotase, bahkan hampir celaka di sebuah gudang tua.
Pak Heru adalah tipe orang tua yang jarang menyentuh internet. Baginya, ponsel hanya alat untuk menelepon dan mengirim pesan singkat. Beliau tidak tahu bahwa nama "Nana" mulai disebut-sebut di portal berita industri kreatif, atau bahwa komik karyanya sedang diadaptasi menjadi film besar. Beliau hanya tahu putrinya sedang menempeli Tris, dan tidak tahu bahwa status tunangan Tris telah lenyap sejak 6 bulan lalu.
Nana menghela napas, jemarinya mengetik balasan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Nana: [Uang Nana masih cukup, Pak. Nana sudah kerja lagi sekarang. Bapak simpan saja untuk keperluan Bapak dan Penyihir Cerewet di sana. Beli pupuk atau benih baru saja. Nana sedang sibuk, jadi jarang pegang ponsel. Nanti kalau senggang, Nana telepon ya.]
Ia menyimpan ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa rindu yang menyesak, namun juga rasa syukur yang besar karena ayahnya tidak perlu memikul beban kekhawatiran tentang kerasnya hidup Nana di sini.
Mengejar langkah Aska membuat Nana lebih dewasa. Bapaknya sudah memiliki keluarga baru, tidak seharusnya ia menggangunya di usia dewasa seperti ini.
Tepat pukul delapan pagi, Nana sampai di kantor notaris yang terletak di lantai atas sebuah gedung pencakar langit. Ruangan itu terasa steril, sunyi, dan dingin oleh hembusan AC yang menusuk kulit. Vanya sudah duduk di sana, mengenakan kacamata hitam besar bermerek yang sangat kontras dengan kemeja sutra berwarna krem.
Namun, kacamata mahal itu tidak sanggup menyembunyikan bengkak di kedua pipinya yang masih terlihat menonjol meskipun sudah ditutupi riasan tebal.
Vanya tampak gelisah, sesekali ia memperbaiki syal sutranya seolah ingin menutupi seluruh wajahnya dari pandangan orang lain.
Aska duduk di tengah, tampak sangat sibuk. Di hadapannya berserakan tumpukan dokumen legal yang harus ditandatangani. Ia melirik Nana sekilas saat gadis itu masuk. Matanya sempat tertuju pada sudut bibir Nana selama beberapa detik, memastikan salep yang ia berikan bekerja, sebelum kembali menunduk ke arah berkas.
"Selamat pagi," sapa Nana dengan suara yang tenang dan sopan.
Vanya tidak menjawab. Ia hanya mendengus pelan dan membuang muka ke arah jendela, seolah pemandangan gedung-gedung di luar jauh lebih menarik daripada kehadiran Nana. Suasana menjadi sangat tegang saat notaris mulai membacakan poin-poin pendaftaran HAKI atas naskah Nana secara monoton.
"Jadi, kepemilikan hak cipta tetap pada Nona Nana sebagai pencipta, dengan hak distribusi eksklusif selama sepuluh tahun berada di bawah Stellar Komik dan konsorsium Pak Richard. Apakah semua pihak sudah setuju dengan pasal-pasal ini, Pak Aska?" tanya sang notaris sambil membetulkan kacamatanya.
"Benar. Semuanya sudah sesuai dengan draf yang kami tinjau semalam," jawab Aska tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Tanda tangani di bagian bawah setiap lembar, Nana."
Saat Nana maju dan meraih pulpen perak yang disodorkan, Vanya tiba-tiba berdehem. Suaranya terdengar sedikit aneh, mungkin karena bengkak di pipinya mengganggu cara bicaranya.
"Aska," panggil Vanya, suaranya mengandung nada tuntutan. "Apa kau sudah meminta tim IT atau keamanan gedung untuk memeriksa ulang rekaman CCTV di parkiran kemarin sore? Aku ingin tahu siapa bajingan yang memukulku. Aku tidak yakin itu perampokan biasa, karena dompetku bahkan tidak disentuh."
Nana menghentikan gerakan pulpennya sejenak. Ia merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat, namun ia segera menguasai diri. Ia membubuhkan tanda tangan dengan tangan yang sangat stabil, tidak membiarkan keraguan merusak guratan tintanya.
Aska menutup map dokumen itu dengan suara berdebum yang cukup keras, membuat notaris di depannya sedikit terlonjak. "Pihak keamanan gedung sudah memberikan laporan pagi ini. Terjadi gangguan teknis atau glitch pada sistem kamera di area parkir VIP selama sepuluh menit kemarin sore. Tidak ada rekaman yang bisa diambil atau dipulihkan."
Vanya terbelalak, nyaris berdiri dari kursi empuknya. "Gangguan teknis? Di gedung sekelas ini? Itu tidak masuk akal, Aska! Aku yakin ada yang sengaja merusak sistemnya!"
"Dunia ini memang sering kali tidak masuk akal, Vanya," potong Aska dengan nada bicara yang sangat dingin dan final.
Matanya menatap Vanya dengan peringatan yang sangat nyata, sebuah tatapan yang seolah mengatakan bahwa jika Vanya menggali lebih dalam, maka Vanya sendirilah yang akan terkubur. "Sama tidak masuk akalnya dengan seorang pria yang bisa menyelinap masuk ke kantor Stellar melalui lift barang tanpa diketahui orang dalam. Anggap saja ini peringatan dari semesta agar kau lebih berhati-hati dalam bertindak di masa depan."
Vanya terdiam seketika. Lidahnya kelu. Ia tahu persis apa yang dimaksud Aska. Aska sedang memberikan "pertukaran". Aska menutup mata atas tindakan Nana yang menampar Vanya, asalkan Vanya juga tidak memperpanjang urusan tentang sabotase naskah yang melibatkan Tris.
Sebagai seorang pengacara, Vanya tahu dia telah kalah posisi. Tanpa bukti CCTV, dia tidak bisa menuduh siapa pun tanpa mempermalukan dirinya sendiri.
Setelah urusan notaris selesai, Aska berjalan keluar dengan langkah lebar, diikuti oleh Nana di belakangnya. Di lobi yang luas, Aska berhenti mendadak dan berbalik.
"Ikut ke mobilku. Kita perlu bicara soal penyesuaian jadwal syuting yang sempat tertunda kemarin," perintah Aska tanpa memberi ruang untuk menolak.
Di dalam mobil sedan mewah itu, suasana kembali sunyi. Aska menyetir sendiri, menolak bantuan supir untuk pagi ini. Ia mengarahkan mobil menuju kantor pusat firma hukumnya.
"Salepnya bekerja dengan baik," ujar Aska tiba-tiba, memecah keheningan tanpa menoleh sedikit pun dari jalanan di depannya.
"Terima kasih, Bang. Dan ... terima kasih sudah menutupi kejadian di parkiran semalam," sahut Nana pelan, merasa sedikit lega.
Aska menghentikan mobilnya karena lampu merah. Ia lalu menoleh ke arah Nana, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Jangan pernah lakukan itu lagi. Menampar wanita seperti Vanya di tempat umum, meskipun dia pantas mendapatkannya, adalah kecerobohan tingkat tinggi. Kau hanya beruntung karena aku yang memegang kendali atas sistem keamanan gedung itu kemarin."
"Aku hanya tidak tahan, Bang. Dia bilang martabat tidak ada gunanya tanpa kekuasaan. Dia seolah ingin menginjak-injak harga diriku hanya karena dia punya koneksi," Nana membela diri, suaranya sedikit meninggi karena emosi yang kembali tersulut.
Aska terdiam sejenak sebelum menjalankan mobilnya kembali saat lampu berubah hijau. "Dia salah besar. Martabat adalah satu-satunya hal yang tetap tinggal di dalam dirimu saat kekuasaan dan harta hilang. Itulah kenapa aku mengirim Tris ke penjara. Karena bagi aku, membiarkan pencuri tetap bebas hanya karena dia saudaraku adalah bentuk penghinaan terhadap martabatku sendiri."
Nana menatap profil samping Aska yang tegas. "Lalu kenapa Abang melepaskan Vanya? Dia yang menghasut Tris. Dia dalangnya."
Aska menarik napas panjang, ada beban berat yang tersirat dalam hembusan napas itu. "Ayah Vanya, Pak Leksana, adalah pembimbing waktu aku kuliah dan magang."
"Hanya karena itu? Aku pikir pembelaan dengan alasan seperti itu tidak etis."
"Tidak hanya itu. Bukti yang melibatkan Vanya juga tidak ada. Ya sudah, anggap saja aku menutup mata atas keterlibatan Vanya. Lagian aku tidak bisa menghancurkan putrinya begitu saja tanpa melukai orang yang sudah berjasa besar padaku. Belajarlah tentang utang budi, Nana. Terkadang, itu adalah borgol yang lebih berat daripada besi penjara."
Nana terdiam. Ia mulai mengerti bahwa hidup Aska bukanlah hitam dan putih seperti naskah komiknya. Pria ini terjebak dalam jaring-jaring tanggung jawab dan masa lalu yang rumit.
"Bang..." panggil Nana lembut. "Bapak mengirim pesan tadi. Dia bertanya kenapa aku tidak meminta uang lagi bulan ini. Dia mengira aku masih menempel pada Tris."
Aska melirik ponsel Nana yang tergeletak di dasbor. "Kenapa kau tidak memberitahu dia yang sebenarnya?"
"Karena aku ingin membuktikan dulu bahwa aku bisa sukses dengan usahaku sendiri. Aku ingin memberinya kejutan saat filmnya rilis nanti. Aku tidak ingin dia tahu bahwa putrinya sering dimarahi oleh pengacara dingin sepertimu," canda Nana, mencoba mencairkan suasana.
Aska menarik sedikit sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang sangat langka dan hampir tidak terlihat. "Beritahu dia setelah satu tahun ini berakhir. Beritahu dia bahwa putrinya berhasil bertahan menghadapi pengacara paling keras kepala di kota ini. Dan beritahu dia ... bahwa kau baik-baik saja."
Nana tertawa kecil, merasakan kehangatan yang merambat di dadanya.
Bersambung....