Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Ki Ageng Gumboro
Hari-hari berlalu bagi Mirasih layaknya barisan angka yang tak bermakna. Sejak malam jahanam di bawah pohon randu alas itu, waktu seolah berhenti berputar. Ia tidak lagi peduli pada matahari yang terbit atau bulan yang menggantung di langit. Baginya, setiap detik adalah siksaan, dan setiap napas adalah beban. Kehampaan yang luar biasa telah menyedot seluruh energinya, menyisakan sebuah raga yang kian hari kian rapuh.
Mirasih merasa dirinya bukan lagi manusia. Ia merasa seperti sebuah wadah yang telah retak, ternoda oleh sesuatu yang tak kasat mata namun terasa sangat nyata merusak setiap inci harga dirinya. Rasa jijik pada diri sendiri membuat nafsu makannya hilang total. Sudah empat hari ia tidak menyentuh makanan yang diletakkan Bibi Sumi di depan pintunya. Nasi itu mengering, ayam itu membusuk, namun Mirasih tetap bergeming di atas dipan bambunya.
Tubuhnya kini benar-benar lemas. Kepalanya terasa sangat berat, dan untuk sekadar menggerakkan jari tangan pun ia harus mengerahkan sisa-sisa kekuatannya. Kulitnya pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Ia sakit—sakit batin yang menjalar menjadi sakit fisik yang membakar suhu tubuhnya. Ia menggigil dalam panas, terbaring lemah di atas kasur kapuk tipis yang sudah tidak empuk lagi.
Hingga akhirnya, malam Selasa Kliwon kembali menyapa.
Malam itu, hujan tidak turun, namun udara terasa sangat mencekam. Angin bertiup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di belakang rumah dengan suara menderu yang menyeramkan. Di ruang tengah, Paman Broto dan Bibi Sumi sama sekali tidak menyadari keadaan keponakan mereka. Mereka sedang asyik di depan televisi baru yang besar, sambil sesekali menghitung kepingan emas yang mereka simpan di dalam kotak kayu jati. Mereka terlalu mabuk oleh kekayaan hingga lupa bahwa "sumber" kekayaan itu sedang meregang nyawa di kamar belakang.
Tiba-tiba, lampu di ruang tengah berkedip-kedip lalu mati total.
"Loh, Pak? Kenapa lampunya mati? Kan kita sudah bayar listrik?" tanya Bibi Sumi heran di kegelapan.
Belum sempat Broto menjawab, sebuah bau yang sangat menyengat memenuhi ruangan. Bau singkong bakar yang sangat tajam bercampur aroma tanah kuburan yang lembap. Udara di dalam rumah mendadak turun drastis, membuat napas mereka mengeluarkan uap dingin.
Di kamar belakang, Mirasih merasakan kehadiran itu.
Srak... srak...
Suara gesekan bulu kasar di dinding kayu terdengar jelas. Tak lama kemudian, sesosok pria tampan dengan pakaian bangsawan kuno muncul di ambang pintu kamar Mirasih yang sempit. Ki Ageng Gumboro datang untuk menagih haknya. Namun, langkah mahluk itu terhenti. Mata manusianya yang tajam menyapu seisi kamar yang kumuh itu.
Ia melihat Mirasih yang tergolek lemah, nyaris tidak bernapas. Tidak ada aroma bunga setaman yang ia sukai. Tidak ada pakaian bagus yang membungkus tubuh sang pengantin. Yang ada hanyalah bau keringat dingin, bau debu dari kamar yang tak terurus, dan pemandangan mengenaskan dari seorang gadis yang sedang di ambang kematian.
Mirasih membuka matanya sedikit. Ia melihat sosok tampan itu berdiri di sana. Dengan bibir yang pecah-pecah dan suara yang nyaris tidak terdengar, Mirasih tersenyum mengejek.
"Kenapa... kau datang?" bisik Mirasih, matanya menatap tajam ke arah mahluk itu. "Lihatlah... aku sudah hampir mati. Apakah kau masih bernafsu... pada mayat sepertiku?"
Geraman rendah keluar dari tenggorokan Ki Ageng Gumboro. Wujud tampannya bergetar, bayangan raksasa berbulu hitam setinggi tiga meter seolah tumpang tindih dengan wujud manusianya. Ia sangat marah. Bukan marah kepada Mirasih, melainkan marah kepada manusia-manusia serakah yang telah menyia-nyiakan persembahan untuknya.
DUM!
Rumah itu bergetar hebat seolah diguncang gempa bumi. Gelas-gelas di atas meja pecah berantakan. Paman Broto dan Bibi Sumi menjerit ketakutan di ruang tengah.
"BROTOOO!" sebuah suara yang bukan suara manusia, melainkan getaran yang memecahkan telinga, bergema di seluruh rumah.
Paman Broto mencoba lari keluar, namun sebuah kekuatan ghaib menyeretnya kembali ke dalam dan membanting tubuhnya ke lantai dapur. Belum sempat ia berdiri, sebuah tangan besar yang tak kasat mata namun terasa sangat nyata mencekik lehernya. Tubuh Broto terangkat ke udara, kakinya menendang-nendang kosong.
"Uhukk... ughhh..." Broto tercekik hebat. Wajahnya membiru, matanya membelalak ketakutan.
Bibi Sumi bersujud di lantai sambil menangis histeris. "Ampun, Gusti! Ampun! Salah apa kami?"
Tiba-tiba, sosok Ki Ageng Gumboro menampakkan diri di depan mereka dalam wujud setengah raksasa yang mengerikan. Matanya merah menyala seperti bara api yang siap membakar apa saja.
"Manusia serakah!" geram sang Genderuwo, suaranya membuat dinding rumah berderit seolah akan runtuh. "Kalian memakan emas dariku, tapi kalian membiarkan istriku membusuk di kamar kumuh? Kalian membiarkan istriku kurus kering dan sakit?"
Broto berusaha bicara di sela cekikan yang mencekam lehernya. "Ma-maaf... Tu-tuan... saya... saya pikir dia baik-baik saja..."
"Bohong!" Ki Ageng mempererat cekikannya. "Aku menuntut dia wangi! Aku menuntut dia segar! Aku ingin dia tinggal di tempat yang layak bagi seorang permaisuri penguasa hutan! Jika Selasa depan aku melihatnya masih dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan memberimu emas, melainkan akan kuseret nyawamu dan istrimu ke dasar jurang!"
Siska yang mengintip dari balik pintu kamarnya, gemetar hebat namun di sisi lain, keserakahannya mulai mengalahkan rasa takutnya. Ia melihat betapa saktinya mahluk itu. Ia berpikir, jika Mirasih mati, maka dialah yang akan menjadi penggantinya dan ia akan menjadi jauh lebih kaya daripada sekarang.
"Tuan..." Siska memberanikan diri berbisik, meskipun suaranya bergetar. "Kalau Mirasih tidak sanggup... saya bersedia menggantikannya. Saya lebih segar, saya bisa melayani Tuan lebih baik..."
Ki Ageng Gumboro menoleh ke arah Siska. Tatapan merahnya yang dingin membuat Siska langsung membeku. "Kau? Kau hanyalah sampah yang tertutup bedak tebal. Jangan pernah tawarkan dirimu padaku, atau akan kuhisap darahmu sampai kering malam ini juga!"
Siska langsung jatuh pingsan karena ketakutan.
Ki Ageng membanting tubuh Broto ke lantai hingga paman malang itu terbatuk-batuk mencari oksigen. "Rawat dia! Berikan dia kamar terbaik di rumah ini! Berikan dia makanan terbaik! Jika dia sedih atau sakit lagi, kalian yang akan membayar harganya dengan nyawa!"
Setelah memberikan ancaman itu, mahluk tersebut menghilang dalam kepulan asap hitam yang berbau belerang. Lampu kembali menyala, namun suasana tetap mencekam.
Paman Broto memegangi lehernya yang lebam bekas cekikan. Ia menatap istrinya dengan ketakutan yang luar biasa. "Bu... kita salah. Kita hampir mati."
"I-iya, Pak. Cepat... cepat kita pindahkan Mirasih ke kamar depan! Kamar Siska yang bagus itu, kasih buat Mirasih!" perintah Sumi dengan panik.
Mereka berdua lari ke kamar belakang. Mereka menemukan Mirasih yang masih terbaring lemah. Paman Broto mengangkat tubuh Mirasih dengan hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang benda keramik yang bisa pecah kapan saja.
"Nduk... Mirasih, maafkan Paman ya. Paman akan pindahkan kamu ke kamar depan yang ada kasur empuknya. Kamu mau apa? Paman belikan sekarang juga," ucap Broto dengan suara yang manis namun penuh ketakutan.
Mirasih, yang dipindahkan dalam dekapan pamannya, hanya tersenyum dingin. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan yang kosong namun tajam. Ia mendengar semua ancaman mahluk itu tadi. Ia sadar, sekarang dialah yang memegang kendali atas nasib paman dan bibinya. Nyawa mereka kini bergantung pada kesehatannya.
Kalian takut, kan? batin Mirasih. Sekarang kalian akan merawatku bukan karena sayang, tapi karena kalian takut mati. Bagus... mari kita lihat seberapa lama kalian bisa bertahan dalam ketakutan ini.
Mirasih tidak merasa senang, namun ia merasa sebuah kekuatan baru muncul dari rasa sakitnya. Ia tidak lagi ingin mati begitu saja. Jika ia harus menanggung penderitaan ini setiap Selasa, maka ia akan memastikan bahwa paman dan bibinya juga hidup dalam neraka kecemasan yang sama.
Malam itu, Mirasih diletakkan di kamar paling bagus di rumah itu. Kasurnya empuk, selimutnya halus, dan Bibi Sumi mulai sibuk menyalakan kipas angin dan menyiapkan bubur hangat. Namun, bagi Mirasih, kamar ini tetaplah sebuah sangkar. Hanya saja, sangkarnya sekarang lebih luas dan lebih mewah, namun jerujinya tetaplah terbuat dari bayangan mahluk ghaib yang akan selalu menghantuinya.
Dari balik jendela kamar barunya, Mirasih menatap hutan larangan di kejauhan. Di sana, ia tahu sang Genderuwo sedang mengawasinya. Dan jauh di Jakarta, ia berharap Aditya tidak pernah tahu bahwa gadis yang dicintainya kini telah menjadi "permaisuri" yang dipuja oleh mahluk dari kegelapan.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk